Category: Premium

  • Yang Saya Perhatikan Ketika Invest di Startup

    Yang Saya Perhatikan Ketika Invest di Startup

    #BBCNote5

    Suatu saat, saya akan nulis tentang investasi di bursa saham, but not today. Di note kali ini, saya mau nulis tentang apa yang ada di benak saya dan apa yang saya perhatikan sebelum saya mengambil keputusan untuk invest di sebuah perusahaan startup berbasis digital/technology.

    Perusahaan startup digital pertama saya: GDILab, perusahaan yang awalnya bergerak di social media analytic. GDILab lahir tanggal 1 Desember 2013. Sejak GDILab, saya ngga cuma tertarik, malah sampe passionate di digital technology. Fast forward ke hari ini, perusahan-perusahaan startup yang saya terlibat di dalamnya: topkarir.com (career platform), bizhare.id (equity crowd funding platform), dan maingame.com (game platform). Young On Top pun, yang awalnya adalah perusahaan yang fokusnya untuk pengembangan karakter anak-anak muda Indonesia secara offline, sejak umurnya memasuki dekade kedua, sudah fokus ke digital, YOT2.0.

    Pertanyaannya, apa yang ada di benak saya ketika saya memutuskan mau terlibat dan invest di perusahaan-perusahaan tersebut?

    1. Startupnya harus bisa menguatkan ekosistem YOT. Karena purpose YOT: to create stronger next generations of Indonesia, maka startup yang saya lirik haruslah startup yang peduli dan diharapkan mampu untuk mengempower anak-anak muda Indonesia. Trus, maingame.com kan perusahaan game, bisa mengempower kayak gimana? Makanya, cobain main game-gamenya maingame.com dong, di situ sudah ‘disuntik’ value-value YOT: ajakan untuk ngga gampang give up, dst. Dan, kalau mau diperhatikan, main game itu sebenernya ngajak pemainnya untuk berpikir kreatif, untuk ngga gampang give up dan persistent. Coba lagi, coba lagi, sampai berhasil.
    2. Foundernya harus punya kesamaan value dengan saya (value-valuenya YOT), diantaranya: mau belajar, ngga sok tahu, humble, punya purpose yang jelas kenapa dia mendirikan perusahaannya, dan bisa respect semua orang. Kenapa value-value ini penting? Karena saya percaya, orang yang sukses bukan orang yang pinter doang, tapi orang yang punya karakter baik.

    Kedepannya, apakah saya akan terus investasi di dunia digital? Untuk sementara waktu ke depan, kemungkinan tidak. Saya harus memastikan perusahaan-perusahaan yang ada di dalam ekosistem YOT harus bisa berkembang dan bermanfaat untuk banyak orang. Selain juga karena kesibukan saya sebagai Advisor Bank BRI saat ini. Tapi, apakah perusahaan-perusahaan yang ada di ekosistem YOT akan invest di perusahaan startup lainnya? Why not? Kalau bisa menguatkan ekosistem YOT, saya pasti merestui. Tapi, meski saya pribadi ngga lagi jadi Angel Investor kedepannya, saya akan tetap memantau dan melirik perusahaan-perusahaan startup yang akan bisa punya impact positif yang masif bagi bangsa.

    Startup apa yang saya akan pantau dan lirik mulai saat ini? Startup yang menguatkan startup B2C. Bingung? Ngga apa, suatu hari akan saya jelasin apa maksudnya. For the time being, kalau mau invest, inget sama 2 poin di atas ya: 1) yang sesuai sama purpose/passion kamu dan 2) yang foundernya punya purpose yang jelas dan karakter baik.

    See You On Top!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    25/4/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

  • Inilah Daftar Channel-channel Youtube Tempat Saya Belajar

    Inilah Daftar Channel-channel Youtube Tempat Saya Belajar

    #BBCNote3

    Belajar bisa dari mana aja. Termasuk dari Youtube.

    Kalau saya perhatiin jumlah view video-video di Youtube, saya notice bahwa video-video yang serius kayak berita (news) maupun edukasi (motivation, seminar, interview/talkshow, presentasi) … jumlah viewnya ‘ngga ada yang banyak’.

    “Ah kata siapa, mas Billy? TedTalk banyak tuh yg nonton, sampe jutaan.”

    Jutaan banyak ngga? Yes, banyak TAPI … untuk jumlah pengguna Youtube yang miliaran, 3 juta, 5 juta, 10 juta view itu sedikit sekali. Bandingkan sama video musik deh. Videonya Justin Bieber bisa ditonton sampai lebih dari 1 miliar. Video lagu “Gangnam Style” menjadi video di Youtube yang tembus angka view 1 miliar untuk kali pertama di tahun lagu tersebut diluncurkan.

    Saya ngga heran kenapa video-video serius ngga banyak yang nonton, ya karena emang secara kenyataan, meskipun semua orang kalau ditanya, “Mau sukses ngga?”, jawabannya pasti “Mau”, tapi sesungguhnya, yang bener-bener mau sukses hanya sedikit sekali. Menurut saya, di dunia ini hanya ada sekitar kurang dari 2% orang yang sukses. Merekalah orang-orang yang bilang mau sukses dan bener-bener belajar dan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa sukses di dalam hidupnya (apapun arti sukses bagi orang tersebut, ngga melulu soal uang loh ya).

    Anyway, berikut channel/video Youtube tempat saya belajar di Youtube:

    • Alux.com. Video-videonya menarik, seputar mindset sukses di bisnis.
    • TedTalk.
    • Video-videonya tentang presentasi/interview: Simon Sinek (penulis buku “Starts With Why”), Bob Iger (Chairman Disney), Chamath Palihapitiya (Founder & CEO Social Capital)
    • Bloomberg Technology untuk tau update/perkembangan dunia bisnis dan technology dari Silicon Valley, juga “Studio 1.0” with Emily Chang dimana dia menginterview CEO super sukses dunia.
    • “High Flyers” with Haslinda Halim
    • “Managing Asia” with Christine Tan
    • dan berbagai talkshow orang-orang sukses di berbagai forum seminar internasional

    Saya punya hobi masak, jadi saya sering banget nonton video-video masak di Youtube, diantaranya:

    • Guga Food. Fokusnya untuk masak steak. Yummy, my favorite.
    • William Gozali. Chef asal Indonesia yang banyak demoin masak makanan-makan favorit saya.
    • “Worth It” by Buzzfeed
    • dan masih banyak lagi. Duh kok jadi laper ya?

    Yang saya mau sampein di sini, belajar itu ngga cuma untuk hal-hal serius doang kok. Buktinya, saya juga nonton video masak, dan saya belajar dari situ. Udah ngga kehitung berapa masakan yang saya coba setelah saya nonton video masak di Youtube.

    Dan, saya juga manusia kok. Saya nonton Youtube ngga 100% untuk belajar doang. Saya juga nonton programnya: Jimmy Fallon, Jimmy Kimmel, Ellen deGeneres, Stephen Colbert, Trevor Noah, termasuk stand up comedy, juga traveling video (untuk menyegarkan mata, apalagi sekarang terkurung di rumah ngga bisa kemana-mana), dan video-video tentang renovasi rumah. Yang terakhir ini, saya nontonnya berdua wifey, sambil diskusi kalau nanti beli/bangun rumah dan vila bakal kayak gimana living-dining-kitchen areanya, master bedroomnya, dst. Eh tanpa disadari, jadi belajar juga tentang design rumah. 🙂

    Kita bisa belajar dari mana aja, termasuk dari Youtube. Kata kuncinya: Asalkan kita mau.

    See you On Top!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    21/4/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBClubNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

  • Bisnis Masa Kipan

    Bisnis Masa Kipan

    #BBCNote2

    Sejak 2015, ketika kali pertama saya melakukan “Big Tech Safari” (kunjungi perusahaan-perusahaan teknologi besar di Silicon Valley), saya tertarik untuk tau akan 1 hal. Saya selalu nanya ke host yg menerima saya di Google, Apple, Twitter, Uber, Facebook, Instagram: “Gimana kerja di sini? Apakah ada sistem absensi? Gimana cara atasan mensupervisi kerjaan timnya? KPInya akan dibuat setiap hari? Apakah setiap hari tim harus bikin laporan? Apakah harus ngantor?”

    Sejak saat itupula, saya pengen banget menerapkan sistem kerja seperti perusahaan-perusahaan teknologi besar itu. Bulan Oktober 2018, saya whatsapp CEO Microsoft Indonesia, mas Haris Izmee, dan menanyakan hal yang sama. Dan semua keinginan saya utk menjalankan “Kerja Dari Mana Aja” akhirnya menjadi kenyataan karena pandemi Covid19. Istilah “WFH” pun sudah akrab di telinga kita, karena mayoritas dari kita sudah dipaksa untuk ini.

    Untuk bisnis, apa artinya? Saya ngga perlu jelaskan apa-apa saja bisnis yang turun salesnya, atau bahkan hancur salesnya. Detik ini note ini ditulis, mayoritas pengusaha sedang galau. Ngga ada satupun orang yang tahu kapan virus ini akan hilang dari muka bumi. PHK sudah banyak banget, dan bukan hanya di Indonesia. Di Amerika dalam 1 bulan terakhir sudah ada tambahan pengangguran sebanyak 17 juta orang!

    Jadi, untuk para pebisnis harus gimana? Dunia sudah mulai berubah karena pandemi ini. Kalau kamu adalah karyawan, ambil intisari dari yang saya sharing di sini ya, kali aja kamu bisa dapet opportunity kerja baru atau malah banting setir jadi entrepreneur.

    Bisnis Masa Kini-Depan (Kipan) yang cemerlang:

    1. Bisnis yang fokusnya digital atau yang menggunakan teknologi sebagai basis jualannya. Di era sosmed booming, semua perusahaan ngerasa bahwa kalau sudah punya akun facebook, instagram, twitter,.. perusahaannya sudah menggunakan digital. Helllooooo? Harus lebih dari itu. Bisnis Kipan harus bisa mikir secara matang gimana differentiate bisnisnya dari kompetitor. Kalau dulu kompetitor kamu adalah sesama bisnis online, sekarang, kompetitor kamu adalah sesama bisnis online dan semua bisnis offline yang karena omsetnya turun, mereka masuk ke bisnis online. Kamu harus effort kerjanya double, triple kalau perlu.
    2. Bisnis yang mampu untuk berevolusi. Kalau bisnis kamu sebelumnya total offline, harus putar otak sedemikian rupa untuk bisa pake teknologi. Kenapa teknologi? Karena teknologi:
      • bisa diakses kapan aja.
      • tidak mengenal batasan geografis (bisa di mana aja), dengan demikian, jumlah potensial konsumen tidak lagi hanya di sebuah area, tapi sudah bisa di seluruh Nusantara, bahkan dunia.
    3. Contoh industri yang bagus kedepannya:
      • Online streaming (Netflix) – bisa dinikmati di rumah, kapan aja.
      • Online game (maingame.com) – bisa dinikmati di mana aja, kapan aja, via hape, tanpa harus download (ngga makan memori).
      • Online fitness – ngajak orang-orang untuk olah raga dari rumah.
      • Jualan alat-alat olah raga – karena saat ini gym harus tutup, semua orang yg peduli kesehatan tetap mau olah raga di rumahnya. Penjualan treadmil, spinning bike, barbel, yoga mat naik. Ketika pandemi seletai, kemungkinan membership gym akan turun karena lifestylenya berubah, orang-orang sudah biasa untuk olah raga sendiri di rumah meski cuma 10-15 menit/hari. Mereka akan sadar betapa nyamannya olah raga di rumah, ngga usah bersiap-siap, ngga usah macet-macetan untuk ke gym, dst.
      • E-Learning – seminar online (live/taping) dan audio podcast. Keduanya bisa dinikmati di mana aja, kapan aja.
      • Food delivery – restoran bukan lagi mengirimkan makanan matang, tapi juga resep beserta bahan baku dari suatu masakan yang dikemas dan dikirim ke konsumen untuk kemudian mereka sendiri yang masak di rumah.

    Saya kasih contoh dari Poin 2 di atas ya.

    Young On Top itu selama ini revenuenya terfokus dari sponsorship event yang dilakukan. Untungnya, sejak merayakan YOT 1 dekade di April 2019 lalu, saya sudah bilang bahwa YOT memasuki era baru: YOT2.0, yes, YOT masuk ke digital. Makanya sejak tahun lalu, YOT sudah mulai mendevelop mobile app yang akan digunakan untuk menyatukan seluruh generasi muda di Indonesia, namanya: SocialConnext (akan ada di Playstore dan Appstore).

    Sejak pertengahan Maret 2020, semua WFH. Semua event YOT tahun ini: YOT National Conference dan 10 Connext Conference di 10 kota terancam gagal terselenggara. Saya dan tim YOT langsung keluar dengan sebuah ide: “inspira webinar”. Hanya dalam kurun waktu 2 minggu, inspira webinar pertama terlaksana, Per hari ini, sudah 3 inspira webinar yang terlaksana. Karena ini online, maka YOT tidak perlu harus menyewa tempat event, persiapannya pun ngga seheboh event offline. Kalau event offline, per tahun YOT hanya bisa buat sekitar 11 event, dari April hingga Desember 2020, inspira webinar direncanakan untuk diadakan puluhan kali. Sementara banyak perusahaan dan komunitas melakukan hal yang sama, YOT sudah memulai dengan beberapa partner bisnis yang mau mensponsori program baru dari YOT ini. Siapa aja? Saya belum bisa kasih tau, kecuali by.U (Telkomsel) yang sudah mensponsori sejak inspira webinar 18 April kemarin.

    Semoga apa yang saya share di sini, bisa bermanfaat. Kini saatnya untuk muter otak supaya kamu ngga cuma survive tapi cemerlang di masa Kipan.

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    19/4/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBClubNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

  • The New Normal Karena Covid19

    The New Normal Karena Covid19

    #BBCNote1

    Selamat datang BFs di sebuah digital club premium yang saya bikin khusus bagi member BB Club untuk bisa dapetin seluruh pemikiran saya dan diskusi sama saya.

    Per detik ini, tanggal 18 April 2020, tidak ada satupun orang di dunia yang tau kapan pandemi Covid-19 akan berakhir. Ada yang berharap ini semua berakhir satu bulan lagi, ada yang bilang bumi akan sembuh di Juni, di Oktober, di Desember 2020, dan juga ada yang bilang masih 12 bulan kedepan alias April 2021. Mana yang benar? Saya ngga tau. Tapi…

    Justru karena ketidakpastian ini, kita harus mampu untuk berpikir dan beradaptasi semaksimal mungkin. Selalu keluarkan perkataan berikut di dalam otak kita: “Kalau pandemi ini berakhirnya baru 5 tahun kedepan, saya mesti gimana?” Dengan berpikir the worst scenario that can happpen, secara langsung, kita memaksa otak kita untuk berpikir: “Apa yang harus kita lakukan untuk bisa tetap bertahan (dan berkembang/sukses)?”

    Sekolah dan kuliah, sekarang belajarnya dipaksa untuk online. Kerja, sekarang dipaksa untuk work from home. Sementara bisnis, dipaksa untuk bisa berevolusi untuk ‘fokus digital’ baik secara keseluruhan maupun sebagian. Intinya, harus bisa leverage technology dengan semaksimal mungkin. Yang tadinya jualan offline, harus mulai jualan online. Yang sudah jualan online, harus berpikir untuk menguatkan brandnya sehingga existing customernya ngga pindah ke pemain online baru. Yang tadinya bikin event offline, harus mulai bikin event online. Yang tadinya semua meeting internal dan external harus ketemuan fisik, sekarang harus gunain video conference digital platform.

    Apa keuntungan dari The New Normal ini?

    Untuk yang sekolah/kuliah, ngga buang waktu di jalan untuk ke sekolah/kampus. Punya lebih banyak waktu untuk belajar, untuk bersama keluarga.

    Untuk yang kerja, ngga buang waktu di jalan untuk ke kantor. Hemat transportasi. Lebih bebas dari segi mengatur waktu kerjanya. Yes, untuk bisa sukses di era The New Normal ini, seorang karyawan harus bisa disiplin dan kerja lebih giat lagi supaya apa yang dihasilkan lebih baik, lebih banyak, lebih akurat, lebih bermanfaat dibanding rekan-rekan kerjanya.

    Untuk yang bisnis, bisa melakukan penghematan sewa kantor. Ngga perlu buang waktu dan hemat biaya perjalanan ke kantor. Waktunya jadi lebih banyak untuk bisa bareng keluarga, untuk dipakai yang produktif dibandingkan harus macet-macetan ke kantor. Kunci suksesnya pengusaha di era The New Normal ini adalah gimana untuk bisa punya top manajemen atau yang saya sebut Leadership Team yang baik. Maksudnya ‘yang baik’ tuh yang gimana? Yang punya sense of belonging besar terhadap perusahaan, apa yang menjadi purpose/visi perusahaan, apa yang menjadi target perusahaan yang ingin dicapai, peduli dengan keberhasilan (bukan cuma survival) perusahaan, dan peduli dengan penciptaan kultur dan KPI baru seluruh tim yang ada di perusahaan.

    Di #BBCNote2, saya akan share tentang bisnis-bisnis apa yang punya masa depan, dan apa aja yang harus berevolusi supaya bisa tetap relevan di The New Normal era ini.

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    18/4/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBClubNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

  • Daftar Buku Favorit Saya

    Daftar Buku Favorit Saya

    #BBCNote4

    Jenis buku apa yang saya suka? Saya paling tertarik untuk baca buku-buku biografi orang sukses, perjalanan perusahaan-perusahaan sukses, dan leadership.

    Berikut buku-buku yang saya suka, ngga berdasarkan urutan ya:

    • Rich Dad, Poor Dad. Penulis: Robert Kiyosaki
    • Starts With Why. Penulis: Simon Sinek
    • Zero to One: Penulis: Peter Thiel (co-founder PayPal)
    • Elon Musk: Tesla, Space X, and The Quest for a Fantastic Future. Penulis: Ashlee Vance
    • Alibaba: The House that Jack Ma Built. Penulis: Duncan Clark
    • The Everything Store: Jeff Bezos and the Age of Amazon. Penulis: Brad Stone
    • The Ride of a Lifetime. Penulis: Robert Iger (Chairman / Ex CEO Disney)
    • Hit Refresh. Penulis: Satya Nadella (CEO Microsoft)
    • Shoe Dog. Penulis: Phil Knight (CEO Nike)
    • Winning. Penulis: Jack Welch (ex CEO General Electric)
    • Direct From Dell. Penulis: Michael Dell (CEO Dell)
    • The Leader Who Had No Title. Penulis: Robin Sharma
    • The Google Story. Penulis: David A. Vise
    • Start Something That Matters. Penulis: Blake Mycoskie
    • Focus. Penulis: Daniel Goldman
    • The Monk Who Sold His Ferrari. Penulis: Robin Sharma
    • Where Has All The Leaders Gone. Penulis: Lee Iacocca (ex President Ford Motor Co.)
    • How to Talk to Anyone, Anytime, Anywhere. Penulis: Larry King
    • Dreams From My Father. Penulis: Barack Obama
    • The HP Way. Penulis: David Packard (Founder Hewlett Packard)
    • How Starbucks Saved My Life. Penulis: Michael Gates Gill
    • Minecraft. Penulis: Danield Goldberg & Linus Larsson
    • Inside Coca-Cola. Penulis: Neville Isdel & David Beasley
    • Screw It, Let’s Do It. Penulis: Richard Branson

    Saya belajar banyak banget dari buku-buku di atas. Tentang purpose, tentang kegigihan, tentang kepemimpinan, tentang empathy, tentang negosiasi, tentang kesabaran, dan masih banyak lagi.

    Untuk BFs yang mau belajar tentang hal-hal tersebut, saya sangat menyarankan untuk baca buku-buku tersebut ditambah kedua buku saya: Young On Top Updated (terbit 2017) dan buku Y (terbit 2019). Kedua buku ini saling nyambung, ngga ada urutan mana yang harus dibaca duluan, karena buku Y lebih tentang cerita behind the scene perjalanan saya sebagai seorang entrepreneur, setelah ngebikin YOT.

    Kalau ada yang sadar sama kejanggalan tulisan ini (coba apa hayo?), tulis di kolom komentar ya. Saya pengen tau, ada berapa BFs yang teliti (detail oriented). Ini salah satu kunci sukses loh.

    See You On Top!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    Edited: 21/4/2020