Blog

  • UNCUT eps.2 bareng Yance Muchtar

    UNCUT eps.2 bareng Yance Muchtar

    Mas Yance ini adalah sahabat saya sejak 2001, kenal ketika saya masih kerja di Nike. Waktu itu mas Yance sudah jadi Station Manager Kis 95.1 Fm, Jakarta. Jadi udah 19 tahun kita bersahabat. Dia yang ngajarin saya kalau berteman itu harus TULUS. Sekarang dia adalah Advisor/Partner saya di YOT Holding, dan bareng saya bikin Ternak Kambing Indonesia.

    ENJOY!

    Kalau mau dapetin pemikiran saya lebih banyak, silahkan join Billy Boen Club (BBC) sekarang. 🙂

  • My Audiocast is Finally Here!

    My Audiocast is Finally Here!

    Kenapa nama audiocastnya: “UNCUT”? Dengerin sendiri penjelasan saya ya.

    Be Inspired, I’ll see you ON TOP!
    Billy Boen

     

  • Bukan Saatnya Memulai Bisnis

    Bukan Saatnya Memulai Bisnis

    #BBCNote16

    Kemungkinan besar semua orang akan bilang: “Saatnya berbisnis adalah hari ini. Yang penting mulai aja dulu. Ambil langkah pertama, jangan takut.”

    Tapi, kata-kata motivasi seperti itu, apakah masih relevan di era covid yang belum membaik ini? Apakah memulai bisnis di saat sebelum covid dengan di saat covid memiliki kesempatan sukses (dan kesempatan gagal) yang sama? Menurut saya jawabannya: Beda!

    Saya ngga mau dan memang bukan motivator. Saya ngga mau mencoba memotivasi kalian untuk memulai bisnis sekarang, karena memang menurut saya, sekarang bukan saat yang paling tepat untuk memulai bisnis. Kenapa?

    Memang, di setiap masalah, pasti ada kesempatan. Dan memang, bukan berarti kalau bikin perusahaan sekarang yang didirikan di atas fondasi yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan era covid ngga akan bisa sukses. Mungkin bisa. Apakah chancenya besar? I dont think so.

    Kalau mau jujur… saya melihat bahwa sekarang ini perusahaan yang malah menjadi lebih baik di era covid BUKANLAH perusahaan-perusahaan yang baru lahir di era covid. Saya kasih beberapa contoh nyata:

    • Zoom. Ini platform untuk digital meeting yang mendadak sangat terkenal, jumlah usernya meningkat tajam, revenuenya juga, stok dan nilai market valuationnya juga meningkat gila-gilaan sejak covid. Apakah ini perusahaan yang dibuat di era covid? TIDAK! Ini perusahaan yang sudah berdiri bertahun-tahun, dan sejak 2019 sudah IPO. Dengan kata lain, pas covid jadi pandemi, perusahaan ini sudah bukan baru punya ide, bukan cuma punya beta version, tapi sudah punya produk yang jalan dan dan digunakan oleh jutaan orang.
    • Online Gaming. Sejak covid juga meledak jumlah gamersnya. Apakah perusahaan-perusahaan online game yang sekarang jadi semakin besar ini diciptakan di era covid atau persis sebelum covid? TIDAK. Semuanya merupakan perusahaan-perusahaan yang sudah berdiri tegar dari sebelum covid.
    • Netflix, Amazon, Microsoft, Google… stok mereka terbang semua sejak covid. Sempet turun, tapi langsung rebound dan terbang tinggi banget. Mereka bukan perusahaan ‘kemaren sore’. Manajemennya sudah kuat, produknya sudah terbukti.

    Di Indonesia juga sama. SiCepat, perusahaan last mile delivery yang sekarang pengirimannya 1 juta per hari. Apakah ini perusahaan baru? Bukan, ini perusahaan yang sudah berdiri cukup lama. Gimana dengan perusahaan startup yang berhubungan dengan groceries kayak SayurBox, Happy Fresh? Mereka juga umurnya udah beberapa tahun, bukan baru dibikin di era covid.

    Dari segi investasi gimana? Sama juga: Venture Capitals ngga nyari perusahaan-perusahaan startup yang detik ini baru bikin powerpoint presentation, atau yang baru berdiri beberapa bulan (sebelum covid atau di era covid). VC carinya startup yang sudah established, dan yang bisa bertahan selama covid menyerang Indonesia di Maret hingga sekarang. Banyak VC yang punya duit, tapi belum mau taro duitnya di startup meski startup tersebut punya produk yang baik. Kenapa? Karena VC ingin melihat seleksi alam. Bagi founder dan manajemen yang ngga kuat, yang ngga bisa beradaptasi, berinovasi, kreatif dalam menghadapai covid, startupnya akan mati. VC ngga mau kasih infus ke startup untuk bisa bertahan hidup. VC mau kasih suntikan dana (“vitamin”) untuk startup-startup yang memang ngga masuk ke “rumah sakit”, sehingga suntikan dananya bukan untuk memperpanjang nafas saja tapi untuk scaling up.

    Jadi, memang secara faktanya, sekarang bukan saatnya untuk memulai bisnis baru. Apa dong yang harus kita lakuin sekarang? Menurut saya, prioritasnya adalah bertahan hidup dan memperluas wawawasan. Cari potensi, ambil ancang-ancang. Kalau ada opportunity yang memang kamu yakin banget harus dijalankan sekarang, silahkan. Do it! Pastikan bisnis yang kamu rintis bisa bertahan hingga 24 bulan kedepan tanpa mengharapkan suntikan dana dari VC. Kalau menurut kamu ini bisa kamu lakuin, Do it!

    Good luck!

    See you ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    14/7/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

  • 6 Industri Trending di Indonesia

    6 Industri Trending di Indonesia

    #BBCNote15

    Untuk yang mau sukses, pelajari secepat-cepatnya, dan masuklah ke 6 industri ini. Kapan? Sekarang!

    Sejak WFH pertengahan Maret 2020, saya habiskan waktu saya untuk belajar sebanyak-banyaknya, perluas wawasan saya semaksimal mungkin. Di bidang apa? Di area stock investing, startup investing, dan property. Saya selalu ada di depan Tv untuk nonton ‘semua video’ tentang ketiga area tersebut di youtube. Saya juga baca sebanyak-banyaknya artikel di google tentang ketiga hal tersebut. Saya juga baca bukunya Ray Dalio (founder & CEO/Co-CIO Bridgewater Associates, biggest Hedge Fund in the world dengan AUM $150 billions).

    So anyway.. apa aja industri yang rising? Antara global dan Indonesia, sama jenis industrinya. Yang membedakan adalah waktunya.

    1. Clean Technology. Karena global warming yang sudah kita dengar sejak awal tahun 2000-an (mantan Wakil Presiden Amerika Al-Gore ikut memopulerkan terms: “global warming”), lebih banyak orang yang berpikir akan perlunya energi terbarukan (renewable energy): solar, wind.. untuk menggantikan minyak (oil), dan batu bara (coal). Itulah kenapa salah satu inventor dan entrepreneur terbaik dunia, Elon Musk, ketika jual PayPal ke E-Bay, dia invest di Tesla untuk mendistrupt industri otomotif dan Solar City untuk mendistrupt industri solar pannel (yang akhirnya dibeli dan menjadi bagian dari Tesla untuk produksi batere). Di Amerika dan China, CleanTech sudah berjalan dan akan terus berkembang. Bagaimana dengan Indonesia? Menurut prediksi saya, dalam 5 tahun kedepan, kita akan mulai melihat CleanTech berkembang secara cepat. Kalau 5 tahun terakhir semua melirik FinTech yang sudah mulai terlalu ramai, kita akan segera melihat CleanTech. Jumlahnya ngga akan sebesar FinTech, karena CleanTech butuh modal yang lebih besar (hardware), bukan sebatas software.
    2. Agriculture Technology. Ini yang akan lebih keliatan cepat berkembang di Indonesia dalam 2-3 tahun kedepan. In other words, it’s here, tinggal tunggu meledaknya aja. Kenapa? Karena Indonesia negara agrikultur dan logistik/supply chain sudah jauh membaik dibanding 5-10 tahun lalu, dan kita masih tau problem yang dihadapi petani: prediksi akan cuaca, tengkulak, middle man, permainan harga oleh mafia. AgriTech diharapkan bisa memangkas semua ini dengan software yang transparan, real time, dan bisa dinikmati sama semua stakeholders: dari petani hingga produknya disajikan di dapur konsumen.
    3. Supply Chain. Ini sudah sedang berkembang. Ini bisnis konvensional yang sudah terasa disrupsinya oleh new supply chain/logistic companies berbasis technology dan dibacked up oleh pemikiran dan mentalilty-nya VC. SiCepat salah satu perusahaan yang 5 tahun lalu belum terdengar namanya, sekarang Top 3, bareng JNE dan J&T. Industri last mile delivery, same day delivery, trucking, trending positif.
    4. Commerce Empowerment. Kalau dunia sudah ada Alibaba dan Amazon yang mendisrupt industri ini. Untuk Indonesia, ada Tokopedia dan Bukalapak yang sudah secara nyata bantu puluhan juta usaha mikro dan kecil dunia digital. Tapi yang saya mau bahas di sini lebih kepada industri mikro dan kecil yang masih non-digital. Karena ecommerce masih cuma 2-3% dari total transaksi yang ada saat ini. Diprediksi mereka akan berkembang sampai 20%. Gimana dengan 80% lainnya? Ini yang harus kita bantu. Ini industri yang rising. Mendigitalisasi warung, rumah makan, warteg, toko kelontong, dan yang memudahkany puluhan juta orang yang tidak punya rekening bank di desa-desa.
    5. Education Technology. Ini masih akan semakin berkembang, “thanks” to Covid19.
    6. Health Technology. Di dunia ini sudah diberkembang pesat, di Indonesia sudah mulai banyak yang melirik. HaloDoc masih jauh dari apa yang Indonesia butuhkan. Industri ini berada di stage yang mirip dengan AgriTech, Commerce Empowerment, dan EduTech.

    Berikut adalah industri berbasis teknologi yang masih jauh untuk masuk ke Indonesia tapi sudah sedang dikembangkan oleh negara-negara maju: Artificial Intelligence, Wearable, Virtual Reality, Robotic, dan Autonomous Driving. Ngga usah fokus ke empat ini, fokus aja ke 6 industri yang saya sebutkan di atas kalau mau jadi sukses dan kaya di Indonesia, juga bermanfaat bagi puluhan dan ratujan juta penduduk Indonesia pada saat yang bersamaan.

    Silahkan kalau ada yang mau ditanyakan.

    See you ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    11/7/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

  • Kekuatan dan Jebakan Brand

    Kekuatan dan Jebakan Brand

    #BBCNote14 Sebelum saya nulis tentang kekuatan dan jebakan brand, dislcaimer dulu: Saya passionnya brand management sejak kecil. Saya kuliah S2 (MBA) fokusnya ke brand management. Sepanjang karir profesional saya handle Nike, Umbro, League, Oakley, Hard Rock Cafe, dan Haagen Dazs. Dan sekarang saya handle my own brands: YOT, TopKarir, Maingame, dll. Boleh ya, saya nulis pandangan saya soal brand? Here it is…

    1. Brand itu yang bikin sebuah produk, jasa, dan organisasi dianggep keren sama orang-orang.
    2. Brand itu yang bikin orang-orang mau terlibat, mau terasosiasikan sama sebuah produk, jasa, atau organisasi karena alasan psikologis.
    3. Brand itu yang bikin sebuah produk dan jasa harganya jadi lebih mahal daripada fungsi dasarnya.

    Itu kekuatan brand. Di mata saya, jangan pernah bikin produk, jasa, gerakan yang cuma mengedepankan fungsinya. Ciptain brandnya! Jelasin ke orang-orang, kenapa brand itu kamu ciptain, purposenya apa, kenapa kamu kepikiran bikin brand itu, baru fungsi-fungsi dasarnya dari produk, jasa, atau gerakan yang kamu bikin. Kebanyakan orang, mulainya dari apa yang mereka mau lakuin (fungsi dasar), trus langsung jualan. Kalau ini yang kamu lakuin, maka produk dan jasa yang kamu ciptain hanya akan jadi sebuah komoditas. Harga yang bisa kamu pasang, ya cuma sepadan dengan fungsinya.

    Contoh: Baju fungsinya untuk menutupi tubuh. Sebuah kaos tanpa brand kalo dijual sebagai kaos, mungkin harganya bisa cuma Rp10,000 (biaya produksi misal Rp8,000, untungnya Rp2,000). Tapi, kalau Nike jual kaosnya, bisa dihargain sampe Rp500,000, padahal biaya produksinya mungkin cuma Rp100,000. Ngerti ya?

    Nah, dari ketiga poin kekuatan brand di atas, semua brand itu pengen bisa capai poin nomer 2. Mereka pengen banget kalau orang-orang pengen terasosiasikan dengan brandnya secara psikologis. Ini yang saya sebut jebakan brand. “Kalau saya nyetir BMW, saya berasa lebih pede”, “Kalau saya lagi pake jam tangan Rolex, saya berasa keren”, “Kalau saya pake iPhone, saya ngerasa keren”, “Kalau saya ikut kegiatan YOT, saya hepi dan ngerasa keren”, dan seterusnya.

    Apakah yang saya sebut sebagai jebakan brand ini karena ada kata “jebakan” maka otomatis jelek? Tergantung dari sudut pandangnya. Ngga selalu jelek. Sah-sah aja untuk punya emotional enggagement (keterikatan) terhadap sebuah brand. Saya juga kok, paling suka kalau pake kaos Nike dan kaos YOT. Suka aja. Ngga bisa dijelasin kenapanya. Bangga rasanya.

    Nah, yang saya mau tekankan di sini adalah: JANGAN baru pede dan ngerasa keren kalau lagi pake brand tertentu. Kalau kamu masih ngerasain hal ini, berarti kamu belum pede sama diri kamu sendiri. Masa untuk ngerasa keren, harus pake tas LV, pake Patek Philippe, nyetir BMW, pake minyak wangi Hugo Boss, pake sepatu Bally? Trus kalau lagi ngga pake itu, kamu ngga punya rasa percaya diri? Kamu hanya kumpulan daging dan tulang doang?

    Saya ngga ngerasa minder kalau saya selalu pake jam tangan amazfit (smart watch) yang saya beli 3 tahun lalu seharga Rp1.6juta. Temen-temen saya pada pake apple watch yang harganya 3-4x di atas itu. Saya minder ke mereka? Ngga sama sekali.

    Dua mobil yang saya punya, dua-duanya mobil bekas. Yang satu tahun 2013 (Nissan Teana), yang satu tahun 2015 (Grand Livina). Malu? Ngga sama sekali. Apakah suatu hari saya akan beli mobil sport (saya suka mobil sport dan saya suka nyetir)? Yes, tapi bukan untuk nambah pede saya, untuk dipamerin, untuk naikin pede saya, tapi untuk saya setir setir di akhir minggu berdua istri, breakfast di Puncak Pass (lewatin tol jagorawi) atau ke Anyer.

    Nah, gimana supaya kamu bisa ngga kena jebakan brand?

    1. Bener2 kenalin diri sendiri. Apa kelebihan kamu, apa kekurangan kamu. Apa purpose hidup kamu. Apa passion kamu. Apa hobi kamu.
    2. Perluas wawasan kamu. Jangan jadi katak dalam tempurung. Jadi kalau ketemu orang, mau diajak ngobrol tentang apapun, kamu bisa nyambung.
    3. Perbanyak karya yang kamu ciptain. Semakin banyak accomplishment yang kamu punya, kamu akan semakin pede. Proven track records adalah kuncinya.

    Kalau kamu bisa lakuin 3 hal ini, kamu ngga akan kena jebakan brand. Mungkin kamu akan tetep beli brand-brand keren, tapi bukan lagi untuk dipamerin atau untuk gengsi, tapi untuk kamu NIKMATIN fungsi dan kualitasnya.

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    4/7/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.