#BBCNote20

Saya masih ingat betul, di tahun 2009-2010, Pemerintah lagi giat-giatnya galakin UMKM. Pemerintah sadar kalo jumlah entrepreneur di Indonesia itu sangat jauh tertinggal dibanding negara-negara lain. Kalau ngga salah, waktu itu angkanya menurut Bappenas: 0.18% = ngga sampe seperempat persen. Sementara Singapore, Thailand, Malaysia udah di 3-5%.

Waktu itu, infrastruktur teknologi belum semaju sekarang, jadi waktu itu yang dipromosiin sama Pemerintah: UMKM. Semua berubah ketika di tahun 2013-2014, mendadak dunia startup muncul karena berita Tokopedia dapet pendanaan $100juta = Rp1.3T saat itu. Ditambah Gojek yang juga meledak popularitasnya. ‘Sekejap’, dunia wirausaha naik daun. Tapi yang naik daun: startup, bukan UMKM. Anak-anak muda langsung berharap bisa kayak William Tanuwijaya, tajir melintir.

Meski akhirnya ratusan atau bahkan ribuan startup yang lahir di tahun 2015-2015 banyak yang berguguran dan menyadarkan para founder startup bahwa bikin usaha itu ngga gampang (bukan cuma bermodalkan powerpoint presentation dan dapetin modal usaha dari angel investor dan VC). VC yang berjamuran di tahun itu juga mulai sadar bahwa bikin VC itu bukan soal keren-kerenan, dan ngga bisa invest di startup yang pake strategi hyper growth untuk penetrasi pasar secepat-cepatnya (mungkin lebih dikenal dengan ‘bakar duit’).

Nah, jadi apa bedanya startup dan UMKM?

Pada dasarnya, startup itu adalah perusahaan baru. Tapi startup memang dibuat dengan tambahan arti disamping hanya sebagai perusahaan baru: bergerak di teknologi dan (hyper) growth adalah faktor yang sangat penting bukan sekedar untuk profitable atau bertahan.

Jadi kalau ada pengusaha yang jualan baju secara online, itu bukan startup. Itu UMKM yang sudah go-online. Kalau ada pengusaha yang bikin platform (marketplace) untuk para pengusaha fashion jualan baju di platformnya, nah itu bisa dikategorikan sebagai startup.

Jenis investor seperti apa yang suka dengan startup dan UMKM? Venture Capital (VC) pada umumnya suka sama startup, yang bisa dapetin return on investment (ROI)nya berkali-kali lipat. Kalau Private Equity, biasanya suka sama perusahaan (baik itu startup maupun UMKM) yang punya potensial ROI-nya bagus; ngga mesti berkali-kali lipat. PE juga biasanya fokus untuk benerin manajemennya sehingga valuasi perusahaan yang diinvestnya jadi lebih baik karena kinerjanya jadi lebih baik. VC juga ada yang kayak gitu, namanya Active VC (seperti Kejora-SBI Orbit yang saya pimpin saat ini). Active VC ngga cuma taro duit trus ngarep/berdoa. Active VC bantu para founder dan manajemennya bikin kinerja startupnya jadi lebih baik.

Nah, sekarang kamu udah tau apa bedanya startup dan UMKM, kalo pengen bikin usaha, pilih yang mana? Apakah sudah siap ngadepin kenyataan setelah covid? Nih baca tulisan sy: “Life After Covid”

See You ON TOP!
Billy Boen

Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

4/10/2020

***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.