Tag: entrepreneur

  • Yang Harus Kamu Tau Sebelum Umur 25

    Yang Harus Kamu Tau Sebelum Umur 25

    #BBNote64

    Sebelum saya kasih tau apa yang harus kamu sebelum umur 25 tahun, saya kasih tau konteksnya dulu dari pov saya ya.

    1. Dari kecil saya udah tau passion saya: Brand Management. Meski bukan spesifik seperti itu, intinya saya selalu penasaran dan seneng anything yang related dengan brand, branding, dll.
    2. Karena terinspirasi oleh my Dad yang sebagai profesional dia tergolong sukses karena jabatannya Direktur dan Country Manager perusahaan besar dari Amerika, maka sayapun tau apa yang menjadi cita-cita saya, yaitu: Untuk jadi CEO / orang nomor satu di perusahaan tempat saya bekerja. Karena memang dari kecil wejangan orang tua saya adalah untuk sekolah yang bener, kuliah yang bagus, supaya bisa dapet kerjaan yang bagus.
    3. Jadi, ketika di umur 26 tahun saya berhasil jadi orang nomor satunya Oakley di Indonesia, cita-cita kecil saya terwujud dan gimana saya ngga hepi? Saya memimpin brand keren asal Amerika. In short, saya berhasil menggabungkan cita-cita dan passion.

    Jadi menurut saya, yang harus kamu tau sebelum umur 25 tahun adalah: tujuan kamu mau kemana dan passion kamu apa. TAPI, bukan cuma itu…

    Nah balik kalo ke perjalanan karir saya; di umur 30 tahun saya nulis buku “Young On Top”, jadi best seller dan kemudian akhirnya saya jadi tau apa Purpose hidup saya, dan saya bantin setir ngga lagi jadi profesional kerja di perusahaan tapi malah menjadi entrepreneur dan sekarang juga menjadi investor.

    Jadi berdasarkan apa yang saya lalui ini, saya cuma bisa bilang: Andai saya tau apa Purpose hidup saya sebelum umur 25 tahun, andai saya juga tau bahwa saya punya potensi sebagai entrepreneur dan investor.

    Untuk kamu yang relate dengan tulisan ini, “tujuan kamu mau kemana” tuh harus bener-bener tujuan akhir yang kamu mau capai. Ibaratnya kalau kamu tinggal di Jakarta dan tujuan akhirnya ke Bali, kamu harus bener-bener tau bahwa tujuan akhir kamu itu ke Bali, bukan ke Surabaya (contoh). Percaya deh, kalau kamu tau tujuan akhir kamu adalah ke Bali vs. kamu “hanya tau” tujuan kamu adalah ke Surabaya, mindset dan action yang kamu akan ambil beda, meskipun mungkin jalan yang kamu ambil menuju Bali adalah dengan melewati Surabaya. But trust me, pasti ada bedanya, mungkin kamu akan mengambil langkah-langkah yang lebih efektif dan efisien, tau harus berhemat dan ngga bikin duit dan tenaga kamu total habis di Surabaya (karena masih ada perjalanan menuju Bali). Ngerti ya?

    Good luck! See you ON TOP!
    Billy Boen

    X/Youtube: @billyboen, IG/Thread: @billyboenYOT, Linkedin: Billy Boen

  • Work-Life Balance, Mimpi?

    Work-Life Balance, Mimpi?

    #BBNote63

    Ini adalah hal yang selalu menjadi perdebatan, dari dulu dan sampe kapanpun. Ada yang bilang ini perlu, ada yang bilang ini ngga mungkin bisa dicapai. Saya termasuk yang mana?

    Ibaratnya ada angka -5, -4, -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3, 4, 5. Angka -5 adalah waktu bareng family dan friends (diluar kerjaan), 0 adalah “balance”, dan 5 adalah waktu kerja/bisnis. Apakah mungkin kita untuk selalu bisa mencapai 0 terus-terusan, atau: Apakah angka 0 yang kita mau targetin selalu setiap saat?

    Menurut saya, ngga masuk akal karena.

    • Kalau kita mau sukses di karir/bisnis, ada kalanya kita harus jungkir balik mati-matian ngusahain supaya project/program yang kita lagi jalanin sukses. Apakah itu artinya kita harus pulang jam 12 malam berhari-hari demi mempersiapkan presentasi ke klien, supaya klien pilih kita? Mungkin kita malah harus keliling keluar kota atau bahkan keluar negeri selama berminggu-minggu demi supaya project kita berhasil.
    • Tapi, apakah saya bilang bahwa family dan friends selalu harus “dikalahkan” oleh kepentingan kerjaan/bisnis? Ngga. Kalau keluarga kita membutuhkan kita banget, saya rasa wajar kalau kita ngomong baik-baik dan minta ijin ke atasan. Asalkan masuk akal dan ngga sering-sering, saya rasa atasan kita ngga akan keberatan. Kalau kita sebagai pemilik bisnis, kita yang mutusin waktu kita mau dipake buat apa. Komunikasiin sama rekan bisnis kalau emang kita harus spend waktu sama keluarga. Komunikasiin sama keluarga kalau emang kita harus fokus ke project yang lagi digarap yang sifatnya sangat penting.
    • Saya sering liat banyak orang yang ketika jam kerja santai-santai, becanda-canda sama rekan kerjanya. Trus giliran sudah waktunya pulang, karena kerjaannya belum selesai, dia harus lembur. Kemudian dia complain karena jadi ngga work-life balance, harus spend more time di kantor. Yes, yang kayak gini banyak banget. Aneh? Yes, tapi nyata.

    Di kerjaan pertama saya, ketika saya umur 21-25 tahun, prioritas saya waktu itu adalah untuk mengejar karir yang bagus dan memperluas network. Ketika umur 26-29, fokus saya waktu itu adalah membuktikan bahwa saya sebagai General Manager Oakley termuda di dunia, saya bukan cuma sanggup menjalankan role saya itu tapi bisa bikin perusahaan yang saya pimpin “terbang berkali-kali lipat” dalam kurun waktu yang singkat. Di umur 30-37 tahun, fokus saya untuk memulai dan mengembangkan Young On Top. Dan di 10 tahun terakhir, fokus saya untuk keluarga saya. If you see my IG, i’m sure you can see that, meskipun saya masih mikirin bisnis-bisnis saya “24-7-365”. Tapi, di setiap ada kesempatan sekecil apapun, saya selalu whatsapp my wifey, ngajak my wifey lunch even di weekdays, dan maksain untuk bisa cari waktu ngedate my wifey, nraktir my son dan my mom sesering mungkin.

    One last thing: Kalau kamu pilih angka 0, jangan kaget kalau family quality yang kamu punya setengah-setengah (ngga maksimal, ngga akan pernah capai angka -5), begitu pula dengan kerjaan dan bisnis kamu… juga setengah-setengah hasilnya (ngga maksimal, ngga akan pernah capai angka 5).

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    X/Youtube: @billyboen, IG/Thread: @billyboenYOT, Linkedin: Billy Boen

     

  • Menjadi Karyawan Tidak Aman

    Menjadi Karyawan Tidak Aman

    #BBNote46

    Banyak orang yang memilih untuk menjalani karir profesional dibandingkan menjadi entrepreneur (pengusaha) dengan pemikiran bahwa menjadi karyawan itu lebih aman. Setiap tanggal 25 terima gaji. Penjualan naik turun, gaji yang diterima ngga naik turun (ini diatur oleh Undang-Undang Ketenagakerjaan).

    Apakah artinya, menjadi karyawan itu aman?

    Menurut saya: Ngga. Kok gitu?

    Setelah saya lulus kuliah, saya kerja sebagai karyawan, dan saya berusaha mendaki karir di korporasi selama 9 tahun sebelum akhirnya saya memutuskan diri untuk banting setir menjadi seorang entrepreneur. Let me explain kenapa menurut saya jadi karyawanpun ngga aman.

    1. Perusahaan yang kesulitan keuangan apalagi bangkrut ya mau ngga mau harus mem-PHK karyawannya.
    2. Karyawan bisa di-PHK apabila tidak perform, atau tidak lagi dibutuhkan oleh perusahaan.

    Oh kalo gitu kerja di perusahaan besar aja, aman. Ngga juga. Coba aja google, banyak kok perusahaan raksasa kelas duniapun merumahkan karyawannya ketika lagi kesulitan keuangan, atau ketika mau merampingkan struktur organisasinya supaya lebih termonitor dan performanya lebih baik.

    Jadi sebenarnya, ukurannya bukan soal jadi karyawan atau jadi pengusaha yang aman. Yang terpenting itu: apapun karir yang kamu pilih, lakuin yang terbaik, berusaha untuk supaya keberadaan kamu itu dibutuhkan oleh lingkungan kerja. Bikin sampe kalau kamu lagi cuti, atasan kamu dan rekan kamu itu bisa kangen dan kehilangan kamu. Kalau pas kamu cuti, atasan dan rekan kerja kamu tenang-tenang aja, artinya ya ada kamu atau ngga ada kamu, sama aja.

    Udah baca tulisan-tulisan saya yang lain? Nih linknya, tinggal browse aja: billyboen.com/inspiration

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen | Youtube: Billy Boen TV

    1/7/2021

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun

  • Berapa Dana Darurat yang Harus Kita Siapkan?

    Berapa Dana Darurat yang Harus Kita Siapkan?

    #BBCNote10

    Saya pertama kali dengar istilah “Dana Darurat” dari Financial Planner/Expert. Orang tua saya ngga pernah ngajarin saya pentingnya punya dana darurat. Yang ditekankan ke saya sejak saya kecil: Harus kerja keras. Kalau mau punya uang lebih, kerja lebih keras lagi.

    My Dad malah bilang: “Ketika gaji kamu masih kecil, nikmatin aja. Kamu nabung 50%, ngirit-ngirit, Rupiah yang ditabung dikit. Mending dinikmatin aja, sambil kerja keras. Kalau gaji kamu udah agak gede, kalau kamu nabung 20% aja, Rupiah yang ditabung udah besar.”

    Jadi, saya sempat ngga pernah nabung sama sekali meskipun jabatan dan gaji saya tinggi ketika dulu sebagai profesional kerja di korporasi. Yang ada di benak saya, persis seperti ajaran my Dad: “Kerja untuk bisa dapetin lebih terus. Nabung, nanti aja.”

    Tapi semakin ke sini, saya juga ikutin ajaran my Dad sih… dan bener banget, ketika penghasilan kita makin gede, nabung secara prosentase kecil aja, Rupiah yg ditabung lumayan.

    Apakah saya setuju dengan ajaran my Dad? Well, kalau saya bisa sarankan kalian… nabung sejak kalian penghasilannya kecil ngga apa-apa. Malah bagus, karena nabung itu soal disiplin. Kalau sejak penghasilan kamu kecil, kamu sudah terbiasa nabung, maka ketika penghasilan kamu besar nanti, kamu sudah terbiasa nabung.

    Nah, now let’s talk about “Dana Darurat”. Berapa dana darurat yang perlu kita siapkan?

    Banyak Financial Planner/Expert bilang: Dana Darurat harus sebesar 3-4 bulan biaya hidup kita. Jadi kalau misal setiap bulan untuk kita bayar sewa rumah, biaya bensin, biaya makan Rp10juta, artinya Dana Darurat yang harus kita siapkan minimum sebesar Rp30-40juta. Tolong “3-4 bulan” ini jangan dijadikan patokan dan ditelan mentah-mentah bahwa kita harus siapkan 3-4 bulan.

    Saya di twitter baru-baru ini bilang, siapkan Dana Darurat 12 bulan. Ditanya, “Kok 12 bulan? Bukan 3-4 bulan?” Inilah yang menginspirasi saya untuk nulis BBCNote ini.

    Jadi gini, dasar pemikiran Dana Darurat adalah dana yang disiapkan untuk kalau kita di-PHK atau ngga punya lagi penghasilan. Nah berapa yang mau disiapkan, tergantung masing-masing orang. Di jaman normal dulu (sebelum Covid19), kenapa banyak Financial Planner/Expert yang menganjurkan 3-4 bulan? Pertimbangannya, kalau kamu dipecat, masa sih dalam 3-4 bulan kamu ngga bisa dapet kerjaan baru? Itu dasarnya.

    Kenapa saya menganjurkan 12 bulan? Karena di era Covid19 ini, apakah kamu yakin, kalau kamu di-PHK hari ini, kamu akan bisa dapetin kerjaan baru dalam 3-4 bulan kedepan? Pengangguran lagi gede-gedenya, banyak banget yang kena PHK, dan lulusan universitas dan SMK juga nambah terus setiap tahun, artinya: yang cari kerja lagi banyak-banyaknya, sementara perusahaan lagi ngga ada yang buka lowongan kerja saat ini. Semua perusahaan lagi berusaha seefisien mungkin. Jadi, bersiaplah untuk 12 bulan kedepan kamu ngga ada penghasilan. That’s why saya menyarankan Dana Daruratnya 12 bulan.

    Ngerti ya?

    Kalau untuk entrepreneur gimana? Sama aja dasar pemikirannya: Berapa Rupiah yang kamu butuhkan untuk bertahan hidup (termasuk biaya hidup keluarga, kalau kamu sudah berkeluarga; atau kalau kamu menyokong kehidupan orang tua) DIKALIKAN berapa bulan sampe kamu yakin kamu bisa punya penghasilan lagi. Kalau kamu yakinnya 6 bulan lagi baru usaha kamu bisa kembali, ya Dana Daruratnya 8 bulan, kalau kamu mengira-ngira bisa balik lagi usaha kamunya 12 bulan lagi, ya siapin Dana Daruratnya 14 bulan. Kasih cadangan 2 bulan kalau perlu, biar aman. Anyway, yang mau jadi pengusaha, silahkan baca kedua tulisan ini: “Entrepreneurs Bisa Kaya” dan “5 Kendala Entreprenerus”.

    Good luck! Semoga kita semua baik-baik aja, secara kesehatan, dan juga secara finansial. Amin.

    See you On Top!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    28/5/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

  • 5 Kendala yang Dihadapi Entrepreneur

    5 Kendala yang Dihadapi Entrepreneur

    #BBCNote7

    Banyak banget yang pengen jadi entrepreneur. Jadi entrepreneur itu erat dengan image: sukses, kaya, keren, dan bebas waktunya. Kenapa image ini yang melekat di otak kita? Karena memang ketika kita lihat entrepeneur sukses, mereka itu kaya, keren, dan waktunya terlibat bebas (bisa liburan kapan aja, ngga usah nunggu liburan Lebaran dan Natal/Tahun Baru). Tapi kata kunci dari kalimat saya barusan: sukses. Artinya, entrepreneur harus sukses dulu untuk bisa ngerasain itu semua. Dan kita semua tau bahwa sukses itu ngga ada yang instan. Butuh waktu, butuh perjuangan. Nah, yang ngga keliatan sama orang-orang itu adalah perjalanan dan perjuangan yang harus dilaluin oleh entrepreneur, sampai dia meraih sukses. Begitu sukses, baru deh kita bisa baca kisahnya dimana-mana.

    (Baca tulisan saya: Kenapa Entrepreneurs Bisa Kaya)

    Sama persis dengan atlet. Pelari sprint 100 meter di Olimipiade, kita semua lihat mereka beraksi di tv selama 10 detik. Trus kita bilang, wah hebat ya, dia dapet medali emas, perak, dan perunggu. Hebat ya mereka bisa lari dibawah 10 detik. Kita hanya ngeliat suksesnya doang. Kita ngga tau bahwa selama 4 tahun mereka latihan setiap hari, dan latihannya bukan cuma latihan lari, tapi latihan macem-macem, termasuk jaga makan. Mereka ngga bisa tuh makan nasi goreng, bakmi, gorengan, mi instan, KFC, McDonald, dan semua makanan yang sering kita makan setiap hari. Inilah perjuangan seorang atlet yang kita ngga tau.

    Jadi, apakah bener, jadi entrepreneur itu enak? Kendala apa aja yang hampir pasti dihadapi sama entrepreneur yang masih berjuang untuk meraih sukses?

    • Memilih partner bisnis yang tepat itu kayak nyari jodoh. Gampang-gampang susah. Untuk dapetin partner bisnis mah gampang, tinggal tunjuk jadi. Tapi apakah nyari yang tepat yang susah. Beneran deh, persis banget kayak cari pasangan hidup. Yang pasti, harus ada chemistrynya, punya value yang sama, dan punya purpose mendirikan bisnisnya sama. Jangan misal kamu maunya bisnis yang kamu dirikan untuk supaya bisa bantu banyak orang, sementara partner kamu mikirnya cuma duit doang. Ini pasti berantem di tengah jalan, dan bubar.
    • Ngga ada tuh kerja ‘hanya’ Senin-Jumat, jam 8-5 sore. Semua entrepreneur yang masih merintis bisnisnya diwajibkan untuk muterin otaknya 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 365 hari setahun. Ngga kenal weekdays dan weekends. Ngga kenal liburan. Kalaupun di akhir tahun maksain liburan sama keluarga, otaknya tetap nempel sama bisnisnya.
    • Bayar gaji karyawan dan THR seringkali jadi kendala yang hampir wajib ditemuin sama semua entrepreneur baru. Saya pernah ngerasain bangun tengah malam, keringetan dan dalam keadaan air mata sudah mengalir ke pipi saya. Saya pernah ngerasain stres ngga bisa bayar gaji karyawan saya, di masa saya sendiri belum gajian selama berbulan-bulan dan kartu kredit saya sudah mentok untuk nalangin gaji karyawan.
    • Belum dipercaya sama klien, belum bisa dapetin sales yang cukup untuk nutupin biaya operasional kantor. Ketika bisnis baru dibuat, susah banget dapetin klien. Karena kita pasti harus bersaing sama produk yang sudah duluan ada di pasar, apalagi kalau produk-produknya itu sudah lama di pasaran, artinya mereka sudah punya banyak klien, sudah dapetin trust dari pasar.
    • Perjuangan bisnis baru itu bukan cuma hitungan hari atau bulan. Kebayang ngga kalau kamu harus berjuang setiap hari selama 7 tahun non stop dan ngga boleh nyerah? Itu yang saya hadapi ketika membangun YOT dari nol. Selama 7 tahun keuangan YOT minus, dan keuangan saya pribadi juga minus. Gimana supaya ngga give up, dan untuk bisa terus memotivasi diri sendiri itu juga yang jadi kendala besar yang harus dihadapi. Salah satu tricknya: berteman dan bertukar cerita susah/sukses sama entrepreneur lain (harus jujur, jangan jaga image), baca buku-buku orang sukses (karena semua bercerita tentang kegagalan mereka yang seringkali malah lebih besar daripada yang kita sedang hadapi), nonton video-video tips sukses di youtube.

    Susah? Iya,.. tapi kalau kamu bisa lewatin ini semua, the reward is amazing. Sekarang pertanyaannya: Apakah kamu mau jadi entrepreneur? Siap mentalnya?

    See you On Top!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    30/4/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.