Tag: venture capital

  • Bukan Saatnya Memulai Bisnis

    Bukan Saatnya Memulai Bisnis

    #BBCNote16

    Kemungkinan besar semua orang akan bilang: “Saatnya berbisnis adalah hari ini. Yang penting mulai aja dulu. Ambil langkah pertama, jangan takut.”

    Tapi, kata-kata motivasi seperti itu, apakah masih relevan di era covid yang belum membaik ini? Apakah memulai bisnis di saat sebelum covid dengan di saat covid memiliki kesempatan sukses (dan kesempatan gagal) yang sama? Menurut saya jawabannya: Beda!

    Saya ngga mau dan memang bukan motivator. Saya ngga mau mencoba memotivasi kalian untuk memulai bisnis sekarang, karena memang menurut saya, sekarang bukan saat yang paling tepat untuk memulai bisnis. Kenapa?

    Memang, di setiap masalah, pasti ada kesempatan. Dan memang, bukan berarti kalau bikin perusahaan sekarang yang didirikan di atas fondasi yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan era covid ngga akan bisa sukses. Mungkin bisa. Apakah chancenya besar? I dont think so.

    Kalau mau jujur… saya melihat bahwa sekarang ini perusahaan yang malah menjadi lebih baik di era covid BUKANLAH perusahaan-perusahaan yang baru lahir di era covid. Saya kasih beberapa contoh nyata:

    • Zoom. Ini platform untuk digital meeting yang mendadak sangat terkenal, jumlah usernya meningkat tajam, revenuenya juga, stok dan nilai market valuationnya juga meningkat gila-gilaan sejak covid. Apakah ini perusahaan yang dibuat di era covid? TIDAK! Ini perusahaan yang sudah berdiri bertahun-tahun, dan sejak 2019 sudah IPO. Dengan kata lain, pas covid jadi pandemi, perusahaan ini sudah bukan baru punya ide, bukan cuma punya beta version, tapi sudah punya produk yang jalan dan dan digunakan oleh jutaan orang.
    • Online Gaming. Sejak covid juga meledak jumlah gamersnya. Apakah perusahaan-perusahaan online game yang sekarang jadi semakin besar ini diciptakan di era covid atau persis sebelum covid? TIDAK. Semuanya merupakan perusahaan-perusahaan yang sudah berdiri tegar dari sebelum covid.
    • Netflix, Amazon, Microsoft, Google… stok mereka terbang semua sejak covid. Sempet turun, tapi langsung rebound dan terbang tinggi banget. Mereka bukan perusahaan ‘kemaren sore’. Manajemennya sudah kuat, produknya sudah terbukti.

    Di Indonesia juga sama. SiCepat, perusahaan last mile delivery yang sekarang pengirimannya 1 juta per hari. Apakah ini perusahaan baru? Bukan, ini perusahaan yang sudah berdiri cukup lama. Gimana dengan perusahaan startup yang berhubungan dengan groceries kayak SayurBox, Happy Fresh? Mereka juga umurnya udah beberapa tahun, bukan baru dibikin di era covid.

    Dari segi investasi gimana? Sama juga: Venture Capitals ngga nyari perusahaan-perusahaan startup yang detik ini baru bikin powerpoint presentation, atau yang baru berdiri beberapa bulan (sebelum covid atau di era covid). VC carinya startup yang sudah established, dan yang bisa bertahan selama covid menyerang Indonesia di Maret hingga sekarang. Banyak VC yang punya duit, tapi belum mau taro duitnya di startup meski startup tersebut punya produk yang baik. Kenapa? Karena VC ingin melihat seleksi alam. Bagi founder dan manajemen yang ngga kuat, yang ngga bisa beradaptasi, berinovasi, kreatif dalam menghadapai covid, startupnya akan mati. VC ngga mau kasih infus ke startup untuk bisa bertahan hidup. VC mau kasih suntikan dana (“vitamin”) untuk startup-startup yang memang ngga masuk ke “rumah sakit”, sehingga suntikan dananya bukan untuk memperpanjang nafas saja tapi untuk scaling up.

    Jadi, memang secara faktanya, sekarang bukan saatnya untuk memulai bisnis baru. Apa dong yang harus kita lakuin sekarang? Menurut saya, prioritasnya adalah bertahan hidup dan memperluas wawawasan. Cari potensi, ambil ancang-ancang. Kalau ada opportunity yang memang kamu yakin banget harus dijalankan sekarang, silahkan. Do it! Pastikan bisnis yang kamu rintis bisa bertahan hingga 24 bulan kedepan tanpa mengharapkan suntikan dana dari VC. Kalau menurut kamu ini bisa kamu lakuin, Do it!

    Good luck!

    See you ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    14/7/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

  • My New Path as a Venture Capitalist

    My New Path as a Venture Capitalist

    3 Juni 2020, akhirnya diannounced juga role baru saya sebagai Director Orbit Fund, sebuah pendanaan sebesar $30 juta atau setara dengan Rp435,000,000,000 (kurs Rp14,500) yang disiapkan untuk early-stage digital startup yang diinisiasi oleh Kejora Capital dan SBI (Jepang).

    Teman-teman saya pun langsung memberikan selamat, tapi ada juga yang nanya: “Hah, elu sekarang kerja di Kejora?”

    Satu hal yang pasti, saya ngga kemana-mana, ekosistem Young On Top yang menaungi 5 perusahaan (YOT, GDILab, TopKarir, Bizhare, dan Maingame) akan tetap saya supervisi. After all, I’m still the CEO of the YOT Group (Holding). Semua anak perusahaan YOT sudah punya Jendral yang ngga saya ragukan kemampuan memimpinnya. Dan mereka semua punya akses langsung ke hape saya, setiap saat.

    So, kenapa saya mau jadi Venture Capitalist?

    Di tahun 2012-2013, anak-anak muda banyak yang bikin startup. Sementara temen-temen saya, banyak yang bikin VC. Apakah saya kepikiran untuk bikin VC? Ngga sama sekali. Secara finansial, saya masih ‘berdarah-darah’ mempertahankan YOT untuk bisa tetep survive.

    Sejak tahun 2017, ketika YOT sudah cukup mapan, saya mulai tertarik untuk ngebantu startup yang punya hubungan langsung dengan mengempower generasi muda Indonesia. Saya pun mulai ketemu banyak startup, dan yang bagus, saya mentorin dan saya invest (sebagai Angel Investor). Setidaknya ada 3 perusahaan startup yang sudah tutup. Sisanya, ya yang ada di bawah naungan YOT Group.

    Pikiran bikin VC sendiri pun terlintas di otak saya. Selama 2 tahun saya corat-coret, dan baca sana sini, coba pelajarin VC itu gimana sih cara kerjanya. Meskipun beberapa teman dekat saya bilang, “Bill, lo bikin VC dong?”, akhirnya di pertengahan tahun lalu saya memutuskan untuk ngga bikin VC. Yang ada di benak saya: “Saya lebih prefer untuk join/bermitra dengan VC yang sudah ada, VC yang sama valuenya sama saya, dan punya reputasi bagus.”

    Hampir semua VC di Indonesia, saya kenal. Ada yang kenal baik, ada yang cuma kenal gitu aja. Dan dari segitu banyak VC yang saya kenal, cuma ada 2 VC yang saya bilang ke dalam diri saya, “Kalo saya sampe bikin VC, saya maunya sama Kejora Capital dan XXX (saya ngga akan sebut).” Kenapa Kejora Capital? Waktu itu saya ngga tau banyak dalemnya Kejora Capital, tapi…

    Saya kenal salah satu Founding Partnernya: Andy Zain sejak 2003. “Ribuan” teman saya di berbagai industri, ngga ada satupun yang ngomongin hal jelek soal Andy. Saya juga tahu dia banyak bikin program untuk bantu anak muda di dunia startup maupun di lingkungan Gereja. Dia adalah pemrakarsa Founder Institute Indonesia, dan dia lakuin FI ini selama 9 tahun. Mirip sama YOT, tapi fokus untuk membangun ekosistem digital di Indonesia. Saya pun jadi Mentor di sana bersama Who’s Who-nya dunia teknologi di Indonesia, diantaranya: William Tanuwijaya (tokopedia), Achmad Zaky (bukalapak), Martin Hartono (GDP Ventures), dan bisnis-bisnis partner saya: Ariadi Anaya (TopKarir), Anton Soeharyo (Maingame), dan masih banyak lagi.

    Saya ngga pernah bilang ke Andy, niatan saya untuk jadi Venture Capitalist, apalagi untuk gabung jalanin bareng Kejora. Nope.

    Ngga ada yang kebetulan, semua bermula dari April 2019, Andy minta saya ikutan di UnionSpace. Saya tolak berkali-kali, karena saya lagi sibuk-sibuknya ngurusin YOT, baru invest dan jadi Advisor di Bizhare, dan lagi jajakin invest di Maingame; belum lagi, saat itu saya masih sangat involved di operasional YOT. Bukan Andy Zain kalau ngga persistent. Meeting berkali-kali, dengan topik ngajak meetingnya yang bervariasi… akhirnya di Agustus 2019 saya bilang “OK”. Sayangnya, ketika saya mengambil alih pimpinan UnionSpace di Maret, cuma selang 2 minggu, PSBB karena Covid, dan semua rencana yang saya buat berantakan. Saya masih sempat terlibat membuat contigency plan untuk UnionSpace.

    Long story short, akhirnya Andy ngajak saya untuk terlibat di Orbit Fund yang lagi disiapin sama Kejora Capital dan SBI. Meski seperti dream comes true, saya ngga langsung iyain. Saya mikir panjang, diskusi bolak balik sama Andy yang sangat sabar mau kasih saya pemahaman akan ekspektasinya, tanggung jawabnya, pro dan kontranya saya sebagai seorang Venture Capitalist.

    Setelah semuanya jelas, dan setelah saya berdiskusi panjang sama my wifey, akhirnya saya bilang ke Andy, “OK, let’s do this”.


    Foto (Ki-Ka): Sebastian Togelang, Andreas Surya, Yudi, Billy, Andy Zain, Richie Wirjan, Sunichi Keida

    Strategy VC yang di early-stage beda-beda. Ada yang spray and pray, ada yang picky dan mentorin startup yang diinvestnya. Strategi Kejora yang kedua. Dan saya sangat ngerasa cocok dengan approach ini. Kenapa? Ya sampe sekarang YOT Group punya 5 anak perusahaan, approach yang saya lakukan bukan taro duit trus saya cuekin. Saya pasti involve dan sharing my knowledge, leadership dan management experience yg saya punya dari mimpin global brand dunia di Indonesia dan bangun beberapa perusahaan dari nol, ke perusahaan yang saya invest: GDILab, TopKarir, Bizhare, dan Maingame.

    Kejora juga believe dengan pentingnya sinergi antar ekosistem. Saya juga. Semua Leadership Team di ekosistem YOT dekat banget dan kompak banget.

    Jadi, memang apa yang dilakukan sama Kejora Capital selama ini, cocok dengan apa yang selama ini Billy Boen lakukan. Yang beda, Kejora selama ini invest ratusan miliar hingga triliunan Rupiah sepanjang mereka berdiri, 6 tahun lalu. Sementara saya.. jelas ngga bisa ngucurin duit segitu, karena duit saya terbatas.

    So,… now, I’m ready to give a bigger impact untuk generasi muda Indonesia yang pengen berkarya dan berimpact luas ke masyarakat dengan menggunakan digital technology. Kalau kamu punya startup yang lagi perlu pendanaan early stage hingga Seri A ($200k – $3juta), atau kalau kamu punya temen yang punya startup yang perlu pendanaan segitu dan menurut kamu startupnya bagus, kirim aja decknya ke pitch@orbitvc.co ya. Semua deck yang masuk, pasti akan direview sama tim Investment-nya Orbit. Sistem yang sangat terstruktur yang sudah dibuat oleh Kejora Capital mengharuskan proses tersebut. So, tunggu apa lagi? Send your deck, or let your founder friends know.

    Cheers! Kalau ada yang mau ditanyain, silahkan tulis di komen di bawah note ini ya.

    Together with Orbit Team, I wanna bring Indonesian startups yang punya mimpi mau berkarya dan bermanfaat untuk Indonesia (dan dunia) to the ORBIT. Let’s FLY!


    Foto: Richie Wirjan, VP Investment Orbit (kiri), Sunichi Keida, SBI (kanan)

    Billy Boen
    Director, Orbit Fund
    a partnership of Kejora Capital – SBI (Japan)

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    6/6/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari yang saya tulis untuk diposting di manapun tanpa ijin tertulis dari saya.