“The Last Dance”

#BBCNote8

Saya sedang nonton dan sangat terinspirasi sama documented series “The Last Dance” tentang masa emasnya Chicago Bulls dan Michael Jordan yg diproduksi sama ESPN dan Netlix.

Di series ini, diceritain tentang semua yang terjadi di belakang layar dari kesuksesan Bulls dan Jordan, both kesuksesan mereka dan kegagalan mereka. Kalau di lapangan, kita bisa nonton di tv kala itu. Menarik ketika bagaimana cara Jordan sebagai rookie (pemain yang baru gabung di NBA) untuk dapetin respect dan trust dari pelatihnya dan temen-temen satu klubnya. Jordan jadi pemain yang ngga minum-minum/party, dia yang paling rajin latihan. Sampai akhirnya dia ditunjuk jadi Kapten dan bantuin Phil Jackson sang pelatih untuk mengkoordinir semua temen-temennya di Bulls.

Jordan bisa menjadi Legend, karena dia sangat kompetitif. Kalau ada yang komentator tv yg bilang si A itu sama jagonya atau mirip sama Jordan, maka Jordan akan mati-matian berusaha untuk ngebuktiin (bukan dengan omongan) di lapangan bahwa kemampuan si A itu ngga ada apa-apanya dibanding dia. Bulls ngga selalu menang. Ketika mereka kalah, ini bener-bener jadi motivasi Jordan untuk latihan lebih keras lagi dan untuk bawa timnya menang next time ketemu tim yang ngalahin mereka itu.

Apakah yang bikin Bulls menjadi satu-satunya tim NBA yang bisa juara NBA 3x berturut itu kehebatan Jordan seorang diri di lapangan? Ngga! Yang bikin Bulls itu hebat adalah teamworknya! Yes, Jordan sangat sangat sangat hebat di lapangan. Tapi, Dennis Rodman jadi yang paling hebat rebound (rebut bola), Scottie Pipen jadi orang yang paling hebat assist (memberikan bola ke yg bakal ngeskor), Steve Kerr jadi orang yang jago three pointer. It’s all about teamwork. Jadi kalau dari nonton series ini, saya lihat sumbangsih Jordan itu yg terbesar bukan cuma di lapangan, tapi di luar lapangan, ketika dia menjadi “assistent coach”, jadi leader buat temen-temennya. Dia yang paling sering ngomel-ngomel ketika liat temen-temennya ngga berikan yang terbaik ketika latihan. Secara konsisten, dia berusaha untuk naikin kemampuan dan mental temen-temennya di Bulls.

Yes, yang sering saya bilang, “Leader itu ngga akan pernah nurunin standarnya supaya sama dengan timnya. Leader itu akan selalu berusaha ngangkat timnya supaya sama levelnya sama dia.” That’s what Jordan did for Bulls.

Tau ngga kalau Jordan itu dulunya sukanya Adidas? Dia ketika diundang ke Nike, dia ngga mau dateng. Akhirnya dateng karena diomongin sama kedua orang tuanya, nothing to lose… explore aja, liat aja apa yang Nike bakal tawarin. That one decision dia dateng ke Nike Campus dan tanda tangan deal dengan Nike yang buat dia menjadi satu-satunya atlet yang Net Worth kekayaannya melebihi $1 miliar dollar. Saat note ini saya tulis, kekayaan dia $2.1 miliar! Untuk perbandingan, Tiger Woods, Roger Federer, Christiano Ronaldo, Lionel Messi, ngga ada yang nyampe $1 miliar Net Worthnya.

Explore. Try new things. Jangan pernah nutup opportunity di depan mata sampai kita tau 100% apa yang ada di depan mata. Seringkali saya ketemu anak muda yang dari awal kayak Jordan di awal: udah bilang ngga mau duluan. Kita ngga pernah tau, di depan kita itu kayak gimana. Selagi masih ada waktu, selagi masih ada tenaga, coba aja. It may be your billion dollar thing.

Wanna be like Mike?

See you On Top!
Billy Boen

Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

2/5/2020

***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.