Kenapa Entrepreneur (bisa) Kaya?

#BBCNote 6

Dulu ketika baru lulus kuliah, karena dari kecil saya ngga pernah disuruh jadi pengusaha sama orang tua, saya berpikirnya: pengen jadi CEO biar gajinya gede. Beruntung di kerjaan pertama saya handle brand Nike, saya jadi satu-satunya karyawan yang dipromosiin jatabannya setiap tahun, selama 4 tahun berturut-turut. Setiap promosi jabatan, of course, gaji naik. Setelah itu saya pindah ke Oakley, gaji saya naik lagi. Ketika saya gabung di MRA Group, gaji saya naik lagi. Yang ada di benak saya saat itu: gaji bulanan dan bonus harus naik terus setiap tahun.

Sekarang gimana? Udah 11 tahun saya jadi entrepreneur.

Anehnya, saya malah udah ngga ‘semata-duitan’ dulu. “Ah masa sih, mas Bill? Buktinya apa?”

Selama 7 tahun pertama saya bangun Young On Top dari nol, finansial pribadi saya selalu minus. Sampe harus berhutang ke temen-temen udah jadi hal yang biasa. Rasa malu, harus ditelen demi YOT bisa terus ada dan berkembang. Itu dulu… sekarang? Yang pasti, kerja keras ngga akan pernah sia-sia. 🙂

Jadi, sebenernya, gimana income di mata entrepreneur? Kok mereka bisa kaya?

Mungkin ngga semua entrepreneur sama loh ya pemikirannya sama saya. Tapi, yang menjadi prioritas utama bagi seorang entrepreneur itu adalah kelangsungan dan perkembangan perusahaan. Kenapa? Apakah supaya si entrepreneur bisa dapet gaji gede? Itu iya, tapi bukan jadi yang prioritas. Entrepreneur yang baik akan selalu mikir jangka panjang: seberapa besar dampak positif yang bisa diberikan oleh perusahaan kepada masyarakat. Kenapa? Karena semakin besar dampaknya, semakin besar pula nilai perusahaannya secara Rupiah. Contoh: Kenapa Google bisa segede hari ini? Karena mayoritas penduduk dunia yang ada lebih dari 7 miliar orang, gunain jasanya Google. Jadi jangan heran kalau Google jadi salah satu perusahaan terbesar di dunia.

Dengan kata lain, entrepreneur lebih mengedepankan nilai perusahaan dibandingkan pendapatan pribadinya.

Pernah denger High Net Worth Individuals? Kalau dibahasa Indonesiainnya: Orang Tajir Melintir. Nah mereka yang dianggap super atau ultra rich ini, dasar perhitungannya bukan sebatas pendapatan mereka (gaji dan bonus), tapi lebih kepada nilai kekayaan (aset) yang mereka punya, termasuk nilai perusahaan yang mereka miliki.

Lalu, apakah income ngga penting bagi entrepreneur? Jelas, penting! Trus gimana cara pandang entrepreneur terhadap pendapatan? Gimana cara entrepreneur memperkaya diri sendirinya (sambil membesarkan perusahaannya)?

Mereka melakukannya dengan memiliki multiple sources of income. Yes, rata-rata, entrepreneur itu pendapatannya ngga cuma dari satu sumber. Kalau karyawan biasanya sumber pendapatannya ya dari gaji yang diterima setiap bulan, kalau entrepreneur ngga.

Ketika saya banting setir jadi entrepreneur fokus ngebangun YOT, dan YOT-nya minus setiap tahun, gimana cara saya hidup selain sampai harus berhutang sana sini? Saya dapet royalti dari hasil penjualan buku YOT meski (dapet duit), saya sharing pengalaman bekerja dan berbisnis di berbagai seminar (dapet duit), saya jadi Host program mingguan di Metro Tv: “Young On Top” selama 2 tahun (dapet duit), saya jadi Produser dan Host di program talkshow radio mingguan di Kis fm, kemudian pindah ke Sindo Trijaya, Global, dan terakhir di Smart Fm (dapet duit dari sponsor). Ini contoh nyata yang saya lakukan untuk bisa punya multiple income sources.

Apakah jadi karyawan bisa kaya? Bisa, dengan catatan, kamu harus punya pendapatan lain dari gaji yang kamu dapet setiap bulan. Gaji itu active income alias uang yang kamu dapat dari waktu dan kontribusi yang kamu hasilkan. Kalau kamu hanya ngarep kaya dari gaji, sah-sah aja, tapi ini kayak kamu mimpi di tengah siang bolong. “Mas Bill, kalau punya gaji Rp200juta sebulan, bisa kaya juga kan?” Tergantung kamu mengartikan kaya itu dengan punya berapa duit. Rp200juta per bulan, artinya Rp2.4M per tahun. Dikali 10 tahun = Rp24M. Itu kalau kamu ngga makan sama sekali, ngga beli barang sama sekali. Anggaplah kamu irit orangnya, di akhir 10 tahun, yang berhasil kamu tabung Rp15M. Apakah kamu kaya? Balik lagi, tergantung seberapa kamu mengartikan kata “kaya”.

Tapi gini… poin yang saya mau tekankan: Bayangkan kalau gaji kamu Rp200juta per bulan, dan sebagiannya kamu investasiin. Yes, ada investasi yang gagal, ada yang berhasil. Ini juga tergantung dari kepinteran kamu milih duitnya kamu mau puterin kemana. Tapi kalau ini yang kamu lakukan dengan awalnya sedikit-dikit, dan tentunya dengan hati-hati dan tidak rakus, saya cukup yakin di akhir 10 tahun, nilai kekayaan kamu akan jauh di atas Rp15M, bisa Rp50M, mungkin Rp100M? Nah ini baru kaya.

Jadi, di mata entrepreneur, income itu penting, tapi bukan yang terpenting. Dan entrepreneur, biasanya punya lebih dari satu sumber penghasilan.

Ada berapa sumber penghasilanmu saat ini?

See you On Top!
Billy Boen

Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

26/4/2020

***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.