Tag: yot

  • Work-Life Balance, Mimpi?

    Work-Life Balance, Mimpi?

    #BBNote63

    Ini adalah hal yang selalu menjadi perdebatan, dari dulu dan sampe kapanpun. Ada yang bilang ini perlu, ada yang bilang ini ngga mungkin bisa dicapai. Saya termasuk yang mana?

    Ibaratnya ada angka -5, -4, -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3, 4, 5. Angka -5 adalah waktu bareng family dan friends (diluar kerjaan), 0 adalah “balance”, dan 5 adalah waktu kerja/bisnis. Apakah mungkin kita untuk selalu bisa mencapai 0 terus-terusan, atau: Apakah angka 0 yang kita mau targetin selalu setiap saat?

    Menurut saya, ngga masuk akal karena.

    • Kalau kita mau sukses di karir/bisnis, ada kalanya kita harus jungkir balik mati-matian ngusahain supaya project/program yang kita lagi jalanin sukses. Apakah itu artinya kita harus pulang jam 12 malam berhari-hari demi mempersiapkan presentasi ke klien, supaya klien pilih kita? Mungkin kita malah harus keliling keluar kota atau bahkan keluar negeri selama berminggu-minggu demi supaya project kita berhasil.
    • Tapi, apakah saya bilang bahwa family dan friends selalu harus “dikalahkan” oleh kepentingan kerjaan/bisnis? Ngga. Kalau keluarga kita membutuhkan kita banget, saya rasa wajar kalau kita ngomong baik-baik dan minta ijin ke atasan. Asalkan masuk akal dan ngga sering-sering, saya rasa atasan kita ngga akan keberatan. Kalau kita sebagai pemilik bisnis, kita yang mutusin waktu kita mau dipake buat apa. Komunikasiin sama rekan bisnis kalau emang kita harus spend waktu sama keluarga. Komunikasiin sama keluarga kalau emang kita harus fokus ke project yang lagi digarap yang sifatnya sangat penting.
    • Saya sering liat banyak orang yang ketika jam kerja santai-santai, becanda-canda sama rekan kerjanya. Trus giliran sudah waktunya pulang, karena kerjaannya belum selesai, dia harus lembur. Kemudian dia complain karena jadi ngga work-life balance, harus spend more time di kantor. Yes, yang kayak gini banyak banget. Aneh? Yes, tapi nyata.

    Di kerjaan pertama saya, ketika saya umur 21-25 tahun, prioritas saya waktu itu adalah untuk mengejar karir yang bagus dan memperluas network. Ketika umur 26-29, fokus saya waktu itu adalah membuktikan bahwa saya sebagai General Manager Oakley termuda di dunia, saya bukan cuma sanggup menjalankan role saya itu tapi bisa bikin perusahaan yang saya pimpin “terbang berkali-kali lipat” dalam kurun waktu yang singkat. Di umur 30-37 tahun, fokus saya untuk memulai dan mengembangkan Young On Top. Dan di 10 tahun terakhir, fokus saya untuk keluarga saya. If you see my IG, i’m sure you can see that, meskipun saya masih mikirin bisnis-bisnis saya “24-7-365”. Tapi, di setiap ada kesempatan sekecil apapun, saya selalu whatsapp my wifey, ngajak my wifey lunch even di weekdays, dan maksain untuk bisa cari waktu ngedate my wifey, nraktir my son dan my mom sesering mungkin.

    One last thing: Kalau kamu pilih angka 0, jangan kaget kalau family quality yang kamu punya setengah-setengah (ngga maksimal, ngga akan pernah capai angka -5), begitu pula dengan kerjaan dan bisnis kamu… juga setengah-setengah hasilnya (ngga maksimal, ngga akan pernah capai angka 5).

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    X/Youtube: @billyboen, IG/Thread: @billyboenYOT, Linkedin: Billy Boen

     

  • Cara Bangun Bisnis “Tanpa” Modal

    Cara Bangun Bisnis “Tanpa” Modal

    #BBCNote61

    Apakah bisa bangun bisnis tanpa modal? Kalau tanpa modal sama sekali, jawabannya “ngga mungkin”. Modal yang saya maksud di sini bukan semata soal uang loh ya. Kebanyakan orang memang mikirnya bangun bisnis harus punya uang dulu. Kalau pemikirannya gitu, salah. Kok bisa? Karena banyak orang yang bisa bangun bisnis meski dia ngga punya uang. Gimana caranya? Dengan mencari investor yang mau modalin uang dari awal.

    Apa ada yang mau modalin bisnis kita dari nol? Ada. Siapa? Nah, banyak orang yang mau langsung dimodalin sama Venture Capital (VC), dan langsung minta duitnya ngga tanggung-tanggung, miliaran bahkan belasan miliar Rupiah. Salah ngga? Ngga. Ya kalo sampe bisa dapetin VC yang mau modalin, ya bagus. Tapi chancenya memang kecil.

    Jadi mesti gimana kalau mau bangun bisnis tapi ngga punya uang?

    1. Pastikan bisnis yang kamu mau bangun itu yang menjawab keresahan kamu (passionate) dan kamu setidaknya punya pengetahuan dan skill yang memadai alias jangan cuma karena ikut-ikutan aja.
    2. Jangan langsung mikir mau bisnisnya gede dari “Day 1”, jadi langsung maunya dapet modal/investasi dari VC dalam jumlah yang besar.
    3. Hitung sekecil-kecilnya modal yang diperluin untuk bisa kick start tuh bisnis. Yes sekecil-kecilnya. Contoh: kalau mau bikin bisnis catering, modalnya cuma untuk beli bahan baku untuk misal 5 box dulu. Modalnya ngga perlu harus untuk 1,000 box dan mempekerjakan 10 orang. Yang belanja ke pasar bisa kamu, yang masak bisa kamu, yang memperkenalkan di sosmed (IG, X, TikTok, facebook, dll) bisa kamu, yang fotoin makanannya bisa kamu. Yes, semuanya kamu dulu. Modal hanya untuk belanja bahan bakunya.
    4. Setiap keuntungan penjualan, diputer lagi untuk beli bahan baku. Dari yang tadinya mulai 5 box, keuntungannya bisa mulai bisa belanja bahan baku untuk 7 box (misal), kemudian diputerin terus… sampai misal bisa untuk memenuhi pesanan sebanyak 20 box / hari.
    5. Ketika bisnisnya udah mulai jalan, keliatan growthnya bagus, kamu sudah mulai bisa coba cari investor atau cari pinjaman. Ke VC? Jangan. Ke orang-orang terdekat. Bisa ngajak mereka untuk setor modal dan ikut memiliki saham di bisnis kamu, atau pinjam uang dengan bunga.
    6. Berapa setoran modal atau pinjaman yang kamu minta di tahap ini? Jangan banyak-banyak. Tergantung dari misal kemampuan kamu saat itu hanya untuk bisa 30 box / hari, tapi permintaan misal sudah menyentuh angka 50 box / hari. Ya fundraisingnya cukup untuk tambahan 20 box kekurangannya aja. Oke lah, kalau mau fundraisingnya misal untuk tambahan 50 – 70 box / hari, jadi kalau kamu berhasil fundraisingnya, kamu sudah bisa memenuhi 80 -100 box / hari.

    Dari 7 step di atas, jelas ya bahwa bangun bisnis tuh bisa “tanpa” modal. Poin 1 – 4, modal kamu itu untuk cuma 5 box dan waktu serta keahlian kamu. Saran saya, sebaiknya di awal, jangan langsung minta investasi. Sebaiknya kamu juga ikut taro modal, biar kamu ada motivasi untuk bisnis ini harus jalan. Saya sudah ketemu banyak orang yang memulai usaha tanpa taro uang personalnya sama seklai alias dari awal sudah langsung minta duit investor. Pas bisnisnya ditengah jalan susah, gampang banget nyerahnya. Yes, yang rugi ya yang taro duit kasih modal di awal alias si investor. Kasian si investor, dan ini ngga fair.

    Good luck! See You ON TOP!

    Billy Boen

    X/Youtube: @billyboen, IG/Thread: @billyboenYOT, Linkedin: Billy Boen

     

  • Saya Pilih Stealth Wealth

    Saya Pilih Stealth Wealth

    #BBCNote60

    Media sosial mempopulerkan kata “flexing”. Bukan cuma kata itu yg jadi ngetop, tapi kultur kita pun berubah. Rasanya belum kaya kalau belum flexing di medsos. Orang-orang pun berlomba-lomba untuk ngasih tau seberapa kayanya, seberapa asiknya hidup yang mereka miliki. Banyak hal yang diposting di medsos, mulai dari rumahnya yang besar, mobil-mobil mahalnya, makanan-makanan yang diorder di restoran-restoran mahal, dan liburan-liburan mewahnya.

    Kenapa flexing jadi kultur saat ini?

    Karena postingan-postingan itu dapet “Like” banyak, komen-komennya pun banyak mengelu-elukan. Kadang flexing di-justifikasi oleh yang memposting sebagai: Berbagi Inspirasi; supaya yang ngeliat menjadi termotivasi untuk bisa seperti mereka. Yeah rite. That’s simply B.S. Deep inside, memang pengen dapet “Like” dan pengakuan aja sebenernya.

    Saya pun pernah seperti itu. Tapi umur semakin tua, (hopefully) saya semakin wise. Saya sekarang entah kenapa lebih pengen ke arah “Stealth Wealth”. Apa tuh?

    Intinya: Orang ngga perlu tau seberapa sukses, seberapa kaya saya, kemana aja atau dimana aja tempat-tempat liburan/makan yang saya datangin. Saya juga ngga pengen orang-orang tau rumah saya seberapa besar dan alamatnya di mana, mobil saya ada berapa banyak dan merek apa aja.

    Saya ngga pengen orang tau kehidupan privat saya. Titik.

    Jadi medsos saya isinya apa dong? Saya masih akan tetap posting dan menggunakan medsos untuk berbagi berbagai pemikiran dan value-value yang saya miliki. Seputar apa? Seputar ajakan untuk terus mencintai orang tua kita, untuk selalu meluangkan waktu untuk orang-orang yang kita cintai dan teman-teman kita, untuk hidup sederhana (bukan pelit), untuk nikmati hidup yang indah ini, dan untuk #bersyukurterus. Boring? Ya ngga apa-apa. Ini pilihan saya, semoga bermanfaat.

    Mau flexing, mau stealth wealth,… terserah. Ini pilihan hidup masing-masing. Ngga ada yang salah. Silahkan. Yang jangan tuh: sombong/belagu, ngerugiin orang lain, apalagi jahat sama orang lain. Oke?

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    X/Youtube: @billyboen, IG/Thread: @billyboenYOT, Linkedin: Billy Boen

  • Indonesia Emas vs. Indonesia Cemas 2045

    Indonesia Emas vs. Indonesia Cemas 2045

    #BBCNote59

    Istilah “Indonesia Cemas 2045” kali pertama saya dengar di panggung YOT National Conference 2024 lalu, di sesi Big Circle Reunion bareng Mas Andy Noya, Mbak Lisa Luhur, Mbak Veronica Colondam, Mas Yoris, Mas Arto Biantoro, dan Mbak Anggit Hernowo. Sebelum hari itu, dan yang ngetop emang istilah “Indonesia Emas 2045” yang sudah digaungin sama Pemerintahan Presiden Jokowi.

    Saya meskipun ngga ada di dalam Pemerintahan, saya via Young On Top, mendukung penuh untuk pencapaian Indonesia Emas 2045. Trus kenapa istilah Indonesia Cemas 2045 bisa muncul ke permukaan?

    Pada dasarnya, menurut banyak pengamat ekonomi, kita cuma punya waktu sampai 2030 untuk bener2 punya fondasi untuk pencapaian Indonesia Emas 2045. Yes, kita punya populasi penduduk muda; tapi dari 2025 sekarang ini hingga 5 tahun kedepan, crucial banget. Apakah SDM kita bisa punya kualitas hidup (kesehatan, mindset, mental, IQ, dll) yang lebih baik dibanding generasi sebelumnya?

    Pemerintah sudah sedang memberikan Makan Bergizi Gratis; ini tentunya bagian dari Indonesia Emas 2045. Kementerian Kesehatan juga banyak melakukan gebrakan-gebrakan untuk memastikan generasi muda Indonesia selanjutnya lebih baik segala-galanya dibandingkan dengan generasi sebelumnya. In other words, Pemerintahan Prabowo-Gibran sudah mulai melakukan hal-hal yang merupakan fondasi untuk membuat Indonesia masuk ke kategori negara maju di 2045.

    Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk ngebantu pencapaian Indonesia Emas 2045 ini? Banyak. Mulai dari diri sendiri. Tauin apa kelebihan dan kekurangan kamu. Dimana passion kamu, dimana kamu mau dan bisa berkontribusi nyata untuk lingkungan sekitar dulu. Sebagai contoh, kalau saya pribadi, akan terus memastikan Young On Top bisa berkontribusi nyata untuk membuat generasi-generasi berikutnya menjadi lebih kuat, dengan menjadi wadah bagi generasi muda berkarya, di 6 pilar: pendidikan, kesehatan, lingkungan, sosial, UMKM, dan teknologi. Saya juga sebagai investor akan selalu berusaha untuk investasi dan membantu startup/umkm di Indonesia agar mereka bisa lebih berkembang, disamping juga berusaha membawa investor-investor dari luar negeri untuk berinvestasi di Indonesia; membawa their knowledge-expertise dan sharing ke kita di Indonesia biar kita bisa makin pinter.

    Again… i want you to think: How can you contribute untuk pencapaian Indonesia Emas 2045. Lets go!

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    X/Youtube: @billyboen, IG/Thread: @billyboenYOT, Linkedin: Billy Boen

  • Wait and See

    Wait and See

    #BBCNote58

    Sejak pertengahan tahun 2023, hampir semua bisnis “wait and see” karena Indonesia sudah bersiap untuk Pilpres yang akan diselenggarakan di Februari 2024. Dan setelah Pilpres satu putaran yang dimenangkan pasangan Pak Prabowo dan Mas Gibran, semua bisnis masih tetap “wait and see” karena sebelum melakukan investasi dan menentukan strategi operasional, semua bisnis mau tau dulu gimana nanti kabinet yang akan dibentuk oleh Presiden dan Wapres terpilih.

    Saya menulis ini di penghujung 2024, artinya pelantikan Presiden dan Wapres sudah dilaksanakan 2 bulan lalu. Seharusnya semua bisnis sudah bergerak penuh, tapi kenyataannya,… belum. Masih banyak yang dipertimbangkan, sehingga istilah “wait and see” masih juga diterapkan oleh banyak bisnis di Indonesia. Kenapa? Padahal kabinet kan sudah dibentuk? Karena ternyata beberapa kementerian yang baru dibentuk baru bisa benar-benar bekerja penuh kalau sudah disupport oleh Undang-Undang; dan ini efeknya kemana-mana.

    Tapi yang saya tulis di atas boleh dibilang ngga berlaku untuk umkm dan startup. “Wait and see” berlaku untuk perusahaan-perusahaan besar, meskipun efeknya dirasakan oleh umkm dan startup yang memiliki hubungan bisnis dengan perusahaan-perusahaan besar tersebut.

    Sebagai entrepreneur dan investor, saya berusaha semaksimal mungkin untuk ngga “wait and see”. Roda bisnis harus terus bergerak, gaji karyawan harus dibayarkan setiap akhir bulan. Seluruh tim di kantor harus semaksimal mungkin jalanin semua target operasional yang sudah diset. Perusahaan-perusahaan saya ngga punya kemewahan untuk “wait and see”. Semua harus jungkir balik untuk supaya perusahaan bisa tetap survive, dan supaya ngga perlu PHK karyawan.

    Apakah 2025 akan menjadi lebih baik? Harapan saya: Iya.

    “Orang yang lebih siap akan mendapatkan lebih banyak kesempatan baik”. Jadi harus gimana menghadapi 2025 yang kata banyak orang akan lebih susah dibanding 2024? Jawaban saya: Harus jungkir balik = kerja semaksimal mungkin.

    Good luck. See you ON TOP!

    Billy Boen