Category: Notes

  • Lebih Baik Mana: Jadi Spesialis Atau Generalis

    Lebih Baik Mana: Jadi Spesialis Atau Generalis

    #BBNote50

    Kalau dilihat dari berbagai sumber, yang jadi CEO kebanyakan memang dari lulusan Manajemen dan Marketing. Tapi jaman sudah berubah, sekarang dan kedepannya banyak juga lulusan Computer Science yang jadi CEO. Trus, gimana dengan jurusan lain? Apakah hanya tiga jurusan ini yang pantas untuk punya karir cemerlang dan memimpin perusahaan?

    Pertama-tama, kita harus tau dulu kenapa jurusan Management banyak yang bisa jadi CEO? Karena di kuliah, diajarin gimana caranya memanage dan memimpin tim. Seperti yang kita tau, bahwa suksesnya sebuah perusahaan itu bukan karena satu atau dua orang, tapi karena kerjasama seluruh tim yang ada. Semakin timnya harmonis, ngerti kerjaan satu sama lain, saling membantu, dan tau tujuan yang ingin dicapai perusahaan, semakin besar kemungkinan perusahaannya akan bisa berkembang.

    Trus, kenapa jurusan Marketing bisa ngelahirin banyak CEO? Karena biasanya perusahaan itu kan ngejual produk atau jasa. Sebelum perusahaan mikirin Divisi Human Resources (HR), yang paling utama dipikirin sama perusahaan setelah nentuin produk dan jasa seperti apa yang ingin dijual adalah gimana cara marketinginnya supaya banyak orang tau dan ujung-ujungnya beli produk dan jasa yang ditawarin tersebut.

    Kalau sekarang semakin banyak lulusan Computer Science (CS) yang jadi CEO, karena di era digital sekarang ini, banyak produk dan jasa yang diciptakan oleh para lulusan CS ini. Mereka melihat masalah yang ada di masyarakat, kemudian mereka ciptakan teknologinya untuk bisa membantu menyelesaikan masalah tersebut, merekapun menjadi Founder/CEO di perusahaan yang mereka buat itu. Dua perusahaan besar dunia, Google dan Microsoft… CEOnya saat ini dipegang oleh dua orang yang lulusan dari Computer Science: Sundar Pichai (Google/Alphabet) dan Satya Nadela (Microsoft).

    Nah, jadi, mendingan jadi Spesialis atau Generalis? Menurut saya, balik dulu ke karakter kita masing-masing. Kalo kamu passionate banget sama misalnya Psychology, ya ngga apa juga jadi Spesialis. Jangan maksain untuk jadi Generalis. Kalau kamu sudah tau kalo kamu bukan orang yang passionate terhadap suatu area, ada baiknya kamu pelajarin berbagai area yang bisa menunjang karir kamu.

    Saya passionatenya sama Brand Management. Saya lulusan MBA dengan fokus ke area tersebut. Saya dari kecil bercita-cita untuk pegang brand keren. Suka aja bikin strategi brand, dari brand yang ngga ngetop jadi ngetop, dari brand yang sudah ngetop bikin biar brandnya tetep ngetop, dst. Saya yang tadinya “Spesialis Brand”, akhirnya bisa juga tuh jadi orang nomer satu di perusahaan.

    Apapun pilihan kamu, ngga ada benar salahnya. Kamu baru akan tau benar atau salahnya ketika kamu sudah nyemplung di karir/bisnis. Trus, kalo kamu tau ternyata pilihan kamu untuk jadi Spesialis atau Generalis salah, lantas harus gimana? Ya belajarin ilmu atau area yang kamu belum ngerti. Bisa juga dengan perkuat tim kamu sehingga tim kamu bisa ngebantuin kamu di area-area yang memang tidak kamu kuasai.

    Semua perusahaan saya berbasis teknologi. Saya bukan lulusan Computer Science. Saya ngga ngerti programming. Trus kok bisa? Ya dengan merekrut orang-orang yang memang hebat di programming. As simple as that.

    Untuk yang mau baca tulisan-tulisan saya lainnya, tinggal browsing aja judul-judulnya di sini.

    See You ON TOP!

    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    8/9/2021

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

  • Hal Paling Penting Sejak 2020

    Hal Paling Penting Sejak 2020

    #BBCNote44

    Siapa yang bilang uang ngga penting?

    Siapa yang bilang karir ngga penting?

    Tapi apakah itu beneran yang terpenting?

    Semua orang tau bahwa kita bisa punya karir yang bagus, bisnis yang sukses, dan uang yang banyak kalau kita sehat jasmani dan rohani. Secara mental kita sehat (bisa berpikir positif, ngga gampang nyerah, terus belajar dan berusaha, dst) dan juga secara fisik kita sehat (ngga sakit-sakitan). Kalau salah satunya ngga sehat, akan sangat sulit banget untuk kita bisa sukses.

    Dunia diingatkan dengan kedatangan covid19 di bumi. Kalau dulu ucapan kita ke teman seringkali, “Sukses terus ya bro/sis”, sekarang kita lebih sering ngomong, “Sehat terus ya bro/sis”.

    Yes, dunia disadarkan bahwa kesehatanlah yang terpenting di dalam hidup ini. Kita semua berlomba untuk jaga agar kita ngga jatuh sakit. Dulu ketika kita pilek atau deman, kita masih ‘santai’,… ah palingan abis minum obat dan tidur, besok juga udah sembuh. Sekarang? Kita batuk, demam dikit aja udah langsung parno kena covid.

    Yuk kita bukan cuma sadar aja bahwa sehat itu penting, tapi kita lakuin. Minum vitamin, tidur cukup, dan sempatkan olahraga setiap hari. Kalo lagi sibuk banget, bikin badan keringetan dikitlah dengan squad 100, push up 50, sambil lompat2 (jumping jack) 50, sebelum mandi. Paling total 10 menit doang kok.

    Pertanyaan selanjutnya, kalau udah sehat: Pilih Bahagia atau Tenang? Kalo menurut saya… (klik di sini)

    Stay Healthy!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    8/6/2021

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun

  • Kekayaan Bukan Ilusi

    Kekayaan Bukan Ilusi

    #BBCNote42

    Banyak orang yang ngga suka ngomongin soal uang karena takut kesannya dianggap mata duitan, mendewakan uang, dan seterusnya. Tapi, dalam hati mereka tau dan sadar bahwa uang itu penting. Dan biasanya, mereka adalah orang-orang yang ngerasain masalah dengan uang di dalam kehidupan sehari-harinya.

    Sementara, di luar sana ada orang-orang yang ngga malu untuk ngebahas soal uang, tapi bukan soal cara ngabisinnya, tapi lebih kepada gimana menambah kekayaannya. Mereka inilah yang biasanya ngga punya masalah dengan keuangan. Kok bisa?

    It’s all about YOUR MINDSET.

    Kalau kamu dari kecil diajarin sama orang tua kamu kalau uang itu “jahat” dan jangan jadi mata duitan, kemungkinan besar perspektif kamu soal uang akan ada unsur negatifnya. Jadi, secara ngga sadar, apa yang kamu lakuin setiap haripun bukan untuk growing your wealth. Di alam bawah sadar kamu, kamu “takut” kaya.

    Orang-orang kaya ngajarin anak-anaknya: Uang itu penting, dan semakin kamu kaya, kamu akan semakin bebas. Kamu akan bisa ngelakuin banyak hal, its okay untuk gagal, dan kamu bisa ngelakuin banyak kebaikan dengan meluangkan waktu kamu dan menyumbang banyak uang. Bayangin, kalau dari kecil kamu udah dijejelin mindset seperti ini? Chancenya, ketika kamu dewasa, kamu akan ngelakuin hal-hal yang bisa bikin kamu kaya, yang bikin kekayaan kamu semakin bertambah.

    Uang ngga bisa beli kebahagiaan. True. Tapi kekayaan bisa “beli” kebebasan (bebas ngelakuin apa aja, kapan aja, berapapun harganya).

    Mau kaya? Benerin dulu mindset kamu…

    Sosial dulu atau jadi kaya dulu? Jawabannya ada di tulisan ini.

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    4/6/2021

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun

  • Ini List Pusingnya CEO

    Ini List Pusingnya CEO

    #BBNote38

    Punya jabatan CEO memang keren, makanya banyak banget anak muda yang punya aspirasi untuk bisa punya jabatan CEO. Dengan perkembangan teknologi, umur 20-an tahun sekarang juga sudah bisa jadi CEO. Bikin perusahaan (jadi founder), dan tinggal kasih jabatan CEO untuk dirinya sendiri. As easy as that. Beda sama puluhan tahun lalu yang kalau mau jadi CEO, either harus dari keluarga kaya yang langsung nempatin si anak jadi CEO atau ngebikinin perusahaan buat si anak biar dia langsung jadi CEO atau mendaki karir, kerja di perusahaan belasan bahkan puluhan tahun untuk bisa jadi CEO.

    Tapi, apakah jabatan CEO segitu kerennya dan cocok untuk semua orang? Ngga.

    Buat saya, jabatan CEO itu bukan jabatan yang untuk disombongin. Ini adalah sebuah amanah. CEO itu punya tanggung jawab yang sangat besar. Kelangsungan perusahaan, kehidupan karyawan semuanya ada di tangan kepemimpinan si CEO. Kalau si CEO ngga punya visi dan purpose yang jelas untuk perusahaannya, ngga sanggup menyampaikan visi dan purposenya tersebut ke seluruh karyawan, dan ngga sanggup untuk memimpin timnya dengan baik, maka hampir dapat dipastikan perusahaannya akan bangkrut.

    Jadi, kenapa CEO itu gajinya (biasanya) paling tinggi di perusahaan? Ya karena pusingnya CEO itu paling banyak. Seorang Sales pusingnya mikirin sales perusahaan. CEO itu harus mikirin sales perusahaan, brandingnya juga, distribusi, partnership, strategi manajemen, HR, keuangan, pengembangan perusahaan, dan seterusnya. Itu dia list pusingnya CEO.

    Pengen punya jabatan keren dengan gaji 10-50x gaji terendah karyawan di perusahaan? Ya jadilah CEO. Tapi, sanggup ngga ngadepin list pusingnya CEO? Silahkan direnungin.

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    14/4/2021

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun

  • Big Fish atau Small Fish

    Big Fish atau Small Fish

    #BBCNote37

    Pernah ngga nanya ke diri sendiri: “Mending tinggal di rumah kecil di antara orang-orang kaya atau di rumah besar di antara orang-orang miskin?” atau “Mending jadi staff di perusahaan besar atau jadi manajer di perusahaan kecil?”

    Ini yang seringkali digambarkan dalam ilustrasi “Ikan kecil di kolam besar dan ikan besar di kolam kecil” dan “Mending jadi kepala ayam atau jadi buntut naga?”

    Pilih mana?

    Ngga ada satu orangpun yang berhak untuk bilang pilihan kamu benar atau salah. Namanya juga pilihan, setiap orang bebas nentuin mau jadi yang mana. Kalau saya pilih yang mana?

    Saya pilih punya rumah kecil di lingkungan orang-orang kaya, karena pasti dari segi keamanan, akses, dan fasilitasnya bagus.

    Saya pilih jadi manajer di perusahan kecil, karena kinerja saya pasti akan bisa langsung kelihatan jelas oleh pemilik perusahaan.

    Di sini sengaja saya mau jelasin bahwa jadi “ikan kecil di kolam besar dan ikan besar di kolam kecil” itu ngga bisa digeneralisir di setiap pilihan situasi. Jawaban kita tergantung dari apa konteksnya.

    Untuk kamu renungin nih: “Mending jadi pengusaha yang jalanin usaha kecil atau mending jadi staff di perusahaan besar?”

    Kalau mau baca tulisan-tulisan saya yang lain, klik di sini.

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    4/4/2021

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun