Category: Notes

  • Kesempatan Belajar Gratis

    Kesempatan Belajar Gratis

    #BBCNote23

    Saya baru bilang ke my wifey, “Andai saya tau apa yang saya tau sekarang dan ngerasain apa yang saya rasain sekarang pas dulu masih kuliah, pasti saya akan belajar gila-gilaan dan nilai saya akan jauh lebih baik daripada yang saya raih.” Penasaran apa yang saya tau dan rasain sekarang?

    Saya sadar dan ngerasa:

    • Untuk bisa bahagia itu, perlu tau apa purpose hidup kita. Kita dilahirin di dunia ini untuk ngelakuin dan solving problem apa sih? Kemiskinan? Masalah kesehatan? Kesetaraan gender? Pendidikan?
    • Untuk sukses, kita harus terus belajar. Dan kita ngga perlu belajarin dan berusaha jago di semua bidang. Cukup beberapa bidang saja yang kita sangat sangat sangat kuasai; yang sesuai dengan passion kita (apa yang kita cintai). Tapi bukan berarti kita ngga perlu tau hal-hal yang diluar bidang yang kita kuasai tersebut.
    • Kita harus bisa ngebentuk kebiasaan untuk terus punya rasa penasaran. Gimana caranya? Sadar bahwa ada “miliiaran” hal di dunia ini yang kita belum tau. Be humble. Ngga perlu ngerasa udah pinter dan udah tau segalanya. Ada pepatah yang kurang lebih bilang: “Orang bodoh ngerasa udah tau segalanya, sementara orang pintar justru ngerasa taunya baru sedikit.”

    Respond dari my wifey, “It’s good, dan ngga ada kata terlambat kok untuk terus belajar”. Mau tau apa yang saya lakuin sekarang ini?

    Saya paling sering buka youtube dan cari topik-topik yang ingin saya pelajari. Karena youtube adalah user generated content, artinya: ngga semua yang ada di youtube itu pasti bener, pasti akurat, maka cara saya milih video mana yang saya tonton: channel kredibel, orang sukses yang sudah terkenal, dan dari “ratusan” video lainnya yang saya olah dulu di otak saya untuk saya bandingkan dan pilah dari sisi kebenaran dan akurasinya.

    Kesempatan belajar gratis itu sekarang banyak. Sekarang pertanyaannya, kamu mau belajar tao ngga?

    Dalam konteks ini, saya mau promosiin kesempatan belajar gratis yang untuk kali pertama dilakukan oleh YOT. Selama 10 tahun, YOT bikin YOT National Conference setiap tahunnya, dan berbayar. Di tahun pertama diikuti 450 anak muda Jakarta, dan di tahun 2019 lalu diikuti 4,000 anak muda dari banyak daerah di Indonesia.

    Tahun ini, YOTNC2020 yang rencananya diadakan di awal April, diundur karena covid. Dan karena covid masih merajalela hingga sekarang, maka YOT memutuskan untuk membuat #YOTNCfromhome. Eventnya diadakan di sebuah tempat (offline), tanpa audience sama sekali, dan disiarkan secara live di seluruh platform YOT dan partnernya YOT. #YOTNCfromhome tahun ini diset GRATIS. Kenapa? Karena YOT sadar bahwa sekarang ini banyak yang lagi susah, kami mau kalian, generasi muda Indonesia yang punya keinginan untuk sukses tetap bisa belajar. Belajar dari siapa?

    Ada CEO Mahaka Media Group, ada Direktur Bank BRI, Rico Huang, Edho Zell, CEO hipwee, CEO bizhare, dan masih banyak lagi… dan juga ada saya. Apa talking poin yang akan saya sampaikan? Saya akan bahas seputar: wawasan global dan lokal yang kalian harus tau, diantaranya teknologi, investasi, dan UMKM. Saya berharap dari apa yang saya sampaikan, kalian jadi tau harus mulai ngelakuin apa untuk bisa tetap relevan dan bisa sukses di era covid dan era setelah covid.

    Jangan sia-siakan kesempatan belajar gratis ini, daftar: youngontop.com/yotnc sekarang juga.

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    17/10/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

  • Dont Save. Invest.

    Dont Save. Invest.

    #BBCNote19

    Ketika saya baru mulai kerja, saya diajarin sama my Dad:

    1. Kalau kamu mau beli sesuatu, ngga perlu nabung. Coba kerja extra biar bisa belinya lebih cepat.
    2. Selagi gaji kamu masih kecil, ngga usah nabung. Enjoy aja. Pake uang kamu untuk nambah temen (network). Kalau gaji kamu udah mulai gede, baru mulai nabung.

    Ajaran yang aneh. Poin yg mau disampaikan oleh my Dad:

    1. Dari Poin 1 di atas, ilustrasinya gini: Kalau kamu mau beli hape Rp5juta. Gaji kamu Rp5juta, dan kamu hanya bisa nabung Rp1juta/bulan. Berarti kamu baru bisa beli hape itu di bulan ke-5. Nah, my Dad menyarankan saya untuk kreatif dan kerja extra, cari tambahan penghasilan untuk cari tuh Rp5juta, syukur-syukur bisa dapet tuh duit di bulan ke-2. Ngerti ya?
    2. Dari Poin 2 di atas, ilustrasinya gini: Kalau gaji kamu Rp5juta, kamu masih harus bayar kos-kosan, cicil motor, makan, hangout sama temen-temen, dan nabung. Let’s say kamu maksain untuk nabung Rp2juta, itu sama dengan 40%. Menurut my Dad, daripada nabung 40% dan yang ketabung cuma Rp2juta, mending tuh Rp2juta dipake enjoy aja, untuk hangout nambah temen/network. Kalau kamu gajinya sudah Rp20juta, kalau kamu nabung 25% aja, yang kamu tabung itu udsah Rp5juta. Kamu ngga perlu mengorbankan apapun untuk nabung Rp5juta per bulan tsb. Ngerti ya?

    Nah, apakah ajaran my Dad ini bagus? Iya dan tidak.

    Bagusnya, alam bawah sadar saya membuat saya hingga detik ini untuk selalu kreatif dan berpikir: “Apa lagi yang bisa saya perbuat?” Saya ngga jadi tipe orang yang pasrah dan menunggu. Kalau saya mau sesuatu, ya saya harus kreatif mikir hal apa yang bisa saya lakukan lagi, dan saya harus kerja keras. Itu hasil dari ajaran my Dad.

    Tapi, untuk soal jangan nabung ketika penghasilan masih kecil, saya setuju dan ngga setuju pada saat yang bersamaan. Setujunya, karena memang kalau pakai hitung-hitungan matematika, yang dia sampein bener: ngga worth it untuk nabung Rp2juta yang merupakan 20% dari penghasilan. Tapi, yang saya ngga setuju adalah: kebiasaan menabung itu bagus. Karena ajaran my Dad, saya jadi ngga pernah nabung. Kalau saya mau sesuatu, ya saya cari semaksimal mungkin untuk bisa saya dapetin. Soal tabungan? Saya pernah ngga bisa ngambil 1 lembar uang dari ATM (karena jumlah uang di rekening lebih kecil daripada pecahan uang Rp50,000). Gila kan?

    Jadi, apa yang ingin saya sarankan ke kalian? Don’t Save. Invest. Apa maksudnya?

    Kalian harus sisihkan uang dari penghasilan kalian. Yes, “ditabung”, tapi nabungnya cukup hingga sampe terpenuhi target Dana Darurat yang kamu rasa perlu dan asuransi kesehatan (dan kematian untuk kepala keluarga). Silahkan baca tentang Dana Darurat yang perlu kamu miliki. Setelah itu semua terpenuhi, ngga perlu nabung lagi… sebaiknya uang yang biasanya kamu tabung, kamu pakai untuk investasi. Kenapa? Karena kalau kamu taro uang kamu di bank, uang kamu tergerus sama inflasi yang ada.

    Investasi di mana? Tergantung dari karakter kamu… kalau kamu risk taker (berani ambil resiko), mungkin cocok untuk di bursa saham, invest di startup, bikin perusahaan. Kalau kamu risk averse (tidak berani ambil resiko), kamu cocok untuk invest di emas, reksadana, obligasi pemerintah, dan properti. “Tapi mas Bill, yang saya bisa investasiin itu ngga banyak.” Lah, siapa juga yang nyaranin untuk invest banyak-banyak? Kalau baru pertama kali mau invest, ya investnya sedikit dulu aja.

    Pernah dengar startup namanya bizhare.id? Ini salah satu perusahaan yang saya invest dan mentorin para foundernya. Ini adalah equity crowd funding, di situ kalian bisa invest dengan uang kurang dari Rp1juta untuk bisa ikut memiliki outlet franchise makanan, barbershop, alfamart, sampai ke peternakan kambing milik saya: Ternak Kambing Indonesia (Teki) yang menjanjikan fixed return 9%/tahun. Ini 2x lipat lebih besar daripada bunga deposito bank. Bisa dipercaya ato ngga naro duit di Teki? I think, my reputation should speak for itself.

    Yuk, penuhin Dana Darurat kamu, miliki asuransi kesehatan, dan invest! Mau kan bisa ngerasain financial freedom (ngga perlu kerja lagi, karena pasif incomenya ngelebihin dari kebutuhan kamu hidup bulanan)? Cuma dengan invest, ini bisa terjadi.

    PS: Happy birthday, Dad.. be happy up there. I miss you. (I know you can read this)

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    3/10/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

  • My New Path as a Venture Capitalist

    My New Path as a Venture Capitalist

    3 Juni 2020, akhirnya diannounced juga role baru saya sebagai Director Orbit Fund, sebuah pendanaan sebesar $30 juta atau setara dengan Rp435,000,000,000 (kurs Rp14,500) yang disiapkan untuk early-stage digital startup yang diinisiasi oleh Kejora Capital dan SBI (Jepang).

    Teman-teman saya pun langsung memberikan selamat, tapi ada juga yang nanya: “Hah, elu sekarang kerja di Kejora?”

    Satu hal yang pasti, saya ngga kemana-mana, ekosistem Young On Top yang menaungi 5 perusahaan (YOT, GDILab, TopKarir, Bizhare, dan Maingame) akan tetap saya supervisi. After all, I’m still the CEO of the YOT Group (Holding). Semua anak perusahaan YOT sudah punya Jendral yang ngga saya ragukan kemampuan memimpinnya. Dan mereka semua punya akses langsung ke hape saya, setiap saat.

    So, kenapa saya mau jadi Venture Capitalist?

    Di tahun 2012-2013, anak-anak muda banyak yang bikin startup. Sementara temen-temen saya, banyak yang bikin VC. Apakah saya kepikiran untuk bikin VC? Ngga sama sekali. Secara finansial, saya masih ‘berdarah-darah’ mempertahankan YOT untuk bisa tetep survive.

    Sejak tahun 2017, ketika YOT sudah cukup mapan, saya mulai tertarik untuk ngebantu startup yang punya hubungan langsung dengan mengempower generasi muda Indonesia. Saya pun mulai ketemu banyak startup, dan yang bagus, saya mentorin dan saya invest (sebagai Angel Investor). Setidaknya ada 3 perusahaan startup yang sudah tutup. Sisanya, ya yang ada di bawah naungan YOT Group.

    Pikiran bikin VC sendiri pun terlintas di otak saya. Selama 2 tahun saya corat-coret, dan baca sana sini, coba pelajarin VC itu gimana sih cara kerjanya. Meskipun beberapa teman dekat saya bilang, “Bill, lo bikin VC dong?”, akhirnya di pertengahan tahun lalu saya memutuskan untuk ngga bikin VC. Yang ada di benak saya: “Saya lebih prefer untuk join/bermitra dengan VC yang sudah ada, VC yang sama valuenya sama saya, dan punya reputasi bagus.”

    Hampir semua VC di Indonesia, saya kenal. Ada yang kenal baik, ada yang cuma kenal gitu aja. Dan dari segitu banyak VC yang saya kenal, cuma ada 2 VC yang saya bilang ke dalam diri saya, “Kalo saya sampe bikin VC, saya maunya sama Kejora Capital dan XXX (saya ngga akan sebut).” Kenapa Kejora Capital? Waktu itu saya ngga tau banyak dalemnya Kejora Capital, tapi…

    Saya kenal salah satu Founding Partnernya: Andy Zain sejak 2003. “Ribuan” teman saya di berbagai industri, ngga ada satupun yang ngomongin hal jelek soal Andy. Saya juga tahu dia banyak bikin program untuk bantu anak muda di dunia startup maupun di lingkungan Gereja. Dia adalah pemrakarsa Founder Institute Indonesia, dan dia lakuin FI ini selama 9 tahun. Mirip sama YOT, tapi fokus untuk membangun ekosistem digital di Indonesia. Saya pun jadi Mentor di sana bersama Who’s Who-nya dunia teknologi di Indonesia, diantaranya: William Tanuwijaya (tokopedia), Achmad Zaky (bukalapak), Martin Hartono (GDP Ventures), dan bisnis-bisnis partner saya: Ariadi Anaya (TopKarir), Anton Soeharyo (Maingame), dan masih banyak lagi.

    Saya ngga pernah bilang ke Andy, niatan saya untuk jadi Venture Capitalist, apalagi untuk gabung jalanin bareng Kejora. Nope.

    Ngga ada yang kebetulan, semua bermula dari April 2019, Andy minta saya ikutan di UnionSpace. Saya tolak berkali-kali, karena saya lagi sibuk-sibuknya ngurusin YOT, baru invest dan jadi Advisor di Bizhare, dan lagi jajakin invest di Maingame; belum lagi, saat itu saya masih sangat involved di operasional YOT. Bukan Andy Zain kalau ngga persistent. Meeting berkali-kali, dengan topik ngajak meetingnya yang bervariasi… akhirnya di Agustus 2019 saya bilang “OK”. Sayangnya, ketika saya mengambil alih pimpinan UnionSpace di Maret, cuma selang 2 minggu, PSBB karena Covid, dan semua rencana yang saya buat berantakan. Saya masih sempat terlibat membuat contigency plan untuk UnionSpace.

    Long story short, akhirnya Andy ngajak saya untuk terlibat di Orbit Fund yang lagi disiapin sama Kejora Capital dan SBI. Meski seperti dream comes true, saya ngga langsung iyain. Saya mikir panjang, diskusi bolak balik sama Andy yang sangat sabar mau kasih saya pemahaman akan ekspektasinya, tanggung jawabnya, pro dan kontranya saya sebagai seorang Venture Capitalist.

    Setelah semuanya jelas, dan setelah saya berdiskusi panjang sama my wifey, akhirnya saya bilang ke Andy, “OK, let’s do this”.


    Foto (Ki-Ka): Sebastian Togelang, Andreas Surya, Yudi, Billy, Andy Zain, Richie Wirjan, Sunichi Keida

    Strategy VC yang di early-stage beda-beda. Ada yang spray and pray, ada yang picky dan mentorin startup yang diinvestnya. Strategi Kejora yang kedua. Dan saya sangat ngerasa cocok dengan approach ini. Kenapa? Ya sampe sekarang YOT Group punya 5 anak perusahaan, approach yang saya lakukan bukan taro duit trus saya cuekin. Saya pasti involve dan sharing my knowledge, leadership dan management experience yg saya punya dari mimpin global brand dunia di Indonesia dan bangun beberapa perusahaan dari nol, ke perusahaan yang saya invest: GDILab, TopKarir, Bizhare, dan Maingame.

    Kejora juga believe dengan pentingnya sinergi antar ekosistem. Saya juga. Semua Leadership Team di ekosistem YOT dekat banget dan kompak banget.

    Jadi, memang apa yang dilakukan sama Kejora Capital selama ini, cocok dengan apa yang selama ini Billy Boen lakukan. Yang beda, Kejora selama ini invest ratusan miliar hingga triliunan Rupiah sepanjang mereka berdiri, 6 tahun lalu. Sementara saya.. jelas ngga bisa ngucurin duit segitu, karena duit saya terbatas.

    So,… now, I’m ready to give a bigger impact untuk generasi muda Indonesia yang pengen berkarya dan berimpact luas ke masyarakat dengan menggunakan digital technology. Kalau kamu punya startup yang lagi perlu pendanaan early stage hingga Seri A ($200k – $3juta), atau kalau kamu punya temen yang punya startup yang perlu pendanaan segitu dan menurut kamu startupnya bagus, kirim aja decknya ke pitch@orbitvc.co ya. Semua deck yang masuk, pasti akan direview sama tim Investment-nya Orbit. Sistem yang sangat terstruktur yang sudah dibuat oleh Kejora Capital mengharuskan proses tersebut. So, tunggu apa lagi? Send your deck, or let your founder friends know.

    Cheers! Kalau ada yang mau ditanyain, silahkan tulis di komen di bawah note ini ya.

    Together with Orbit Team, I wanna bring Indonesian startups yang punya mimpi mau berkarya dan bermanfaat untuk Indonesia (dan dunia) to the ORBIT. Let’s FLY!


    Foto: Richie Wirjan, VP Investment Orbit (kiri), Sunichi Keida, SBI (kanan)

    Billy Boen
    Director, Orbit Fund
    a partnership of Kejora Capital – SBI (Japan)

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    6/6/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari yang saya tulis untuk diposting di manapun tanpa ijin tertulis dari saya.

     

  • “Berpuasalah” Untuk Menang

    “Berpuasalah” Untuk Menang

    Pertama-tama, saya ucapkan Selamat Idul Fitri untuk semua teman-teman Muslim. Semoga semua amal ibadah teman-teman selama Bulan Suci Ramadhan, diterima olehNYA.

    Saya seorang Katolik. Apa yang saya tahu soal berpuasa?

    Di Katolik, selama 40 hari sebelum Paskah (Kebangkitan Yesus), ada masa Pra-Paskah. Selama inilah, Umat Katolik di seluruh dunia diminta untuk berpuasa dan berpantang. Karena saya bukan seorang Muslim, maka saya tidak akan membahas arti berpuasa di Agama Islam. Tapi kalau dari yang saya tahu, maksud dan tujuan utama berpuasa di Katolik adalah untuk kita menahan nafsu, untuk kita menjalankan kontrol terhadap diri sendiri.

    Dulu, saya puasanya bolong-bolong, dengan berjuta alasan. Tapi, sudah beberapa tahun terakhir, saya bukan saja berusaha untuk memenuhi kewajiban berpuasa dan berpantang yang diminta oleh Gereja, tapi saya melakukan hal “extra mile”, alias saya berpuasa dan berpantang selama 40 hari penuh. Kenapa? Karena saya ingin menantang diri saya: Apakah saya bisa untuk mengontrol diri saya sendiri? Selain hanya makan kenyang 1x selama setiap 24 jam, saya juga berpantang makan segala jenis daging dan berpantang membuka media sosial.

    Susah? Sebelum saya melakukannya, saya sempat berpikir bahwa berpantang media sosial akan sangat sulit karena saya kan biasanya harus posting untuk menginspirasi orang lain, saya juga harus posting promosi-promosi event dan program-programnya YOT. Tapi, ternyata, sejak hari pertama saya lakukan puasa dan pantang (pada Hari Rabu Abu), saya ngga ngerasa susah sama sekali.

    Kalau niatnya jelas dari awal, semua hal bisa kita lakukan. Saya malah merasa lebih punya banyak waktu untuk melakukan hal lain, diantaranya menulis notes di youngontop.com, dan juga akhirnya berlanjut di billyboen.com ini. Saya juga berhasil membaca beberapa buku. Saya juga merasa punya waktu lebih banyak untuk mencari berita lewat google. Saya jadi punya banyak waktu untuk ngobrol dan menghabiskan waktu bersama wifey.

    Paskah untuk Umat Katolik sama dengan Idul Fitri untuk Umat Muslim; sama-sama dirayakan sebagai Hari Kemenangan, dan menjadi akhir dari masa berpuasa.

    Apa maksud judul tulisan saya ini?

    Dulu, ketika saya masih ngga berpuasa dan berpantang, ketika Paskah, saya ngerasa biasa aja. Ngga ada yang istimewa. Ke Gereja, ya gitu deh rasanya: hampa. Ngga ngerasa ada arti khusus.

    Tapi, sejak saya berpuasa dan berpantang melebihi dari apa yang Gereja Katolik wajibkan, saya benar-benar merasa hepi dan bisa merayakan Hari Kemenangan dengan penuh rasa syukur. Paskah menjadi hari yang saya tunggu-tunggu. Ketika Paskah, saya hepi banget dan merasa lega. Saya yakin, teman-teman Muslim juga pasti merasakan hal yang kira-kira sama. Rasa hampa bagi mereka yang puasanya asal-asalan, tapi rasa syukur dan bahagia pasti menyelimuti mereka yang berpuasa penuh selama Bulan Suci Ramadhan.

    Saya percaya, melatih diri untuk bisa mengontrol diri sendiri sangatlah penting. Tau ngga kalau semua orang sukses itu punya kemampuan yang luar biasa dalam mengontrol dirinya. Mereka biasanya mampu untuk menahan diri, bersabar, dan bersyukur. Hmmm… Mau sukses? Baca tulisan saya “Kenapa Entrepreneur (bisa) Kaya”.

    “Berpuasalah”, untuk menang.

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    24/5/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

  • Honoring a Great Man

    Honoring a Great Man

    – Tulisan ini saya dedikasikan untuk Henry Boen, my Dad (3 Oktober 1944 – 16 Mei 2020) –

    Ada jutaan hal yang bisa saya tulis, yang saya pelajari dari my Dad. Saya akan tuangkan dalam sebuah buku… suatu hari nanti.

    My Dad kembali ke RumahNYA 16 Mei 2020 lalu, setelah masuk ICU selama 2 minggu, bermula dari sakit prostat hingga terdeteksi macem-macem sakitnya. Puji Tuhan, ketika ditest covid19, hasilnya negatif, sehingga 1 minggu terakhir di ICU, keluarga bisa ngunjungin my Dad, dan di hari terakhirnya, semua bisa ngumpul dan said “I love you, Dad/Opa”.

    Sekeluarga tau banget kalau my Dad itu orang yang paling ngga mau nyusahin/ngerepotin orang lain. Dia dinyatakan meninggal pukul 15.47, kemudian jam 21.00 ditransfer ke rumah duka. Besokannya jam 14.00 sudah dikremasi, jam 16.00 selesai proses kremasinya. Kami cuma bikin 1x Misa untuk my Dad. Super simple, super fast. Sampe saya nanya dan bahas sama Mom dan kakak-adik, “Prosesnya cepet dan simple banget ya? Kita tetep hormatin Dad kan ya?” Kakak saya bilang, “Iya, kan memang setiap tindakan sepanjang proses, kita selalu berpikir apa yang Dad mau.”

    FYI, my Dad paling ngga mau dinyanyiin “Happy Birthday” kalau ngerayain ultahnya di restoran. Segitunya. Ngga pengen rame-rame, ngga pengen yang ribet-ribet. Makanya di rumah duka ngga perlu nunggu temen-temennya dateng. Yang penting untuk keluarga inti (ngga nunggu sodara-sodara juga) bisa berdoa dan melepas dia dengan cinta dan hormat.

    Anyway,… hingga detik ini, saya ngga merasa berduka. Semua orang bingung. Kremasi hari Minggu, hari Seninnya saya full zoom meeting dari pagi, siangnya taping UNLOCK with Billy Boen di Metro Tv, dan malamnya sampai jam 21.00 meeting bareng shareholder maingame.com. Selasa banyak meeting, Rabu juga sama. Dan di Hari Kamis pagi ini, saya nulis note ini, to honor my Dad. Kenapa saya ngga berduka, kok malah bersuka cita?

    1. Saya dari dulu sering denger ada orang yang penuh penyesalan; “Andai saya lebih care ke orang tua”, “Andai saya bilang i love you ke orang tua”, “Andai… andai… andai”, dan penyesalan itu terjadi ketika orang yang kita cintai sudah pergi meninggalkan kita selamanya. PERCUMA. Oleh karena itu, dari dulu, saya sering banget untuk kasih tau ke orang-orang yang saya cintai bahwa saya mencintai mereka: dengan tindakan dan dengan perkataan. Yes, i said “I love you, Dad” jutaan kali selama hidup saya, dan saya katakan “I love you, Dad. Thank you so much for everything” puluhan kali di 1 minggu terakhir hidupnya.
    2. Saya percaya bahwa orang yang meninggal itu, akan berada di tempat yang lebih baik. I trully believe that. Jadi, ketika my Dad sudah di ICU, doa saya (dan keluarga) bukan untuk memohon Tuhan untuk menyembuhkan my Dad, tapi berserah pada Tuhan, silahkan Tuhan yang memutuskan apakah my Dad akan dipanggil ke RumahNYA atau diperbolehkan pulang ke rumah my Mom Dad untuk ditake care sama kami sekeluarga. Jadi, ketika Tuhan memanggil my Dad ke RumahNYA, kami semua ikhlas dan bersuka cita.
    3. Saya tau kalau my Dad had lived his fullest life. Sebagai seseorang yang merantau dari Pontianak ke Jakarta untuk kuliah di UI dengan modal 1 koper baju, sampai bisa menjadi Direktur di beberapa perusahaan besar dan menjadi Country Manager sebuah brand asal Amerika (Polaroid), punya rumah 1,200 sqm dengan kolam renang dan “pool house”, modalin my Mom bisnis Doggie, dan nyekolahin 3 anaknya hingga semuanya lulus MBA (S2) dari Amerika tanpa beasiswa… yes, he has accomplished A LOT.

    Di tahun 1998, ketika Indonesia lagi mencekam, my Dad bilang ke kami sekeluarga, “Kita ngga akan kabur dari Indonesia. Kita lahir di Indonesia, kita akan mati di Indonesia” (meski kita WNI keturunan Cina). My Dad dan my Mom telah berhasil menanamkan nilai keberagaman dalam keluarga kami. My Dad akhirnya dibabtis Katolik, My Mom Katolik, saya dan James Katolik, istri saya Budha, Kakak saya beserta istri dan anak-anaknya Muslim, adik saya beserta suami dan anak-anaknya Kristen. Setiap Natal kami berkumpul, setiap Lebaran kami berkumpul dan merayakan. Istri saya orang Thailand. Kakak ipar saya keturunan Dayak. Adik ipar saya Batak. Jangan heran kalau saya bisa menjadi individu yang sangat berpikiran terbuka dan bisa menerima perbedaan dengan tulus. Jangan heran kalau YOT seperti ini dan berniat untuk bisa terus ada untuk ambil andil terus Menyatukan Indonesia. Benihnya, dari my Dad.

    Sampai napas terakhirnya, dia telah menjadi role model buat kami semua yang kenal dia.

    He loved my Mom. He loved his family so much. Dia sumbang sana sini, dia sekolahin entah berapa anak. Dan khusus untuk saya, dia selalu ada di setiap saya mencapai milestone dalam hidup saya. Dia yang nganterin saya interview di Nike (Feb 2001), dia berikan speech di peluncuran buku “Young On Top” (April 2009), dia dengerin YOT radio talkshow di Kis Fm (Nov 2009), dia dateng setiap tahun ke YOT National Conference (2011-2019), dia dateng ke peluncuran buku “Y” (2019), dia nonton YOT Metro Tv (2012), dia nonton UNLOCK with Billy Boen (2019), dan dia selalu excited ketika saya cerita perkembangan bisnis-bisnis saya: YOT, GDILab, TopKarir, Bizhare, Maingame, dan Ternak Kambing. Saya sempat infokan bahwa saya ditunjuk jadi Advisor Bank BRI, dan i could see how proud he was.

    So, Dad, i know you can read this… once again:

    “I LOVE YOU, THANK YOU SO MUCH FOR EVERYTHING. I HOPE I HAVE MADE YOU PROUD. I AM LUCKY, PROUD, AND HONORED TO BE YOUR SON. WITHOUT YOU, THERE’S NO YOUNG ON TOP. YOUR VALUES LIVE IN ME. I WILL KEEP SPREADING THEM FOR INDONESIA. YOUR LEGACY LIVES ON, DAD.”

    LOVE,

    “BILLY THE KID”

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    21/5/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.