Category: Premium

  • Sukses dan Kecepatan Pikiran

    Sukses dan Kecepatan Pikiran

    #BBCNote13 Saya sudah sedang membiasakan diri untuk meditasi ketika baru bangun tidur di pagi hari. Kenapa? Karena saya sadar bahwa selama hidup saya ini, saya selalu berada di ‘jalur cepat’. Di kuliah saya maunya lulus cepat, di karir saya maunya naik jabatan dan dapat kepercayaan yang lebih besar terus setiap tahun. Di bisnis, ngga ada hentinya saya berpikir: “Apa lagi yang bisa saya lakukan? Karya apa lagi yang bisa saya ciptakan? Saya bisa bermanfaat di mana lagi?”

    Meditasi membuat saya balik ke saat ini. Nah, ide topik menulis ini, jujur saya dapatkan ketika meditasi pagi ini. Saya berusaha untuk fokus ke nafas, melatih kepekaan saya terhadap apa yang saya rasakan dengan tubuh saya (gatel, pegal, dll). Di tengah meditasi, saya mendadak teringat situasi saat saya di Paris (karena saya ditemani suara hujan di video meditasinya). Kalau kata expert: “Ngga apa pikiran mendadak melayang jauh, yang penting, ketika sadar, langsung balikin ke tubuh, saat ini.”

    Nah di sini saya sadar, bahwa kalau ada yang bilang, “Yang tercepat di dunia ini adalah kecepatan cahaya”, saya ngga setuju. Karena menurut saya, yang tercepat itu adalah KECEPATAN PIKIRAN. Detik ini, pikiran kita bisa di sini, 0.5 detik kemudian, pikiran kita bisa di Amerika, di bulan, di manapun kita mau. Kata kuncinya: “di manapun kita mau”. Artinya apa? Artinya, kita bisa mengendalikan pikiran kita, asalkan kita mau.

    Inilah kunci orang-orang sukses. Mereka sadar bahwa mereka bisa mengendalikan pikiran mereka. Mereka juga sadar bahwa kecepatan pikiran mereka itu ngga ada batasnya, dan mereka gunain itu untuk mencapai sukses yang mereka inginkan. Sementara miliaran orang di dunia ini menyia-nyiakan kekuatan pikiran mereka, 2% orang di dunia ini bukan cuma menggunakan kekuatan pikiran mereka, tapi mereka gunain kecepatan pikiran mereka. Kenapa ini penting?

    Karena pikiran kita yang akan mendikte apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Semakin kita bisa berpikir secara cepat, semakin banyak hal yang akan kita bisa lakukan. Ilustrasinya gini: Si A mikirnya lambat, dia cuma bisa berpikir 10 hal dalam 1 hari, maka kemungkinan dia akan menyelesaikan 10 hal tersebut dalam 1 minggu. Kalau si B mikirnya cepat, dia bisa berpikir 50 hal dalam 1 hari, maka kemungkinan dia akan bisa menyelesaikan 50 hal tersebut dalam 1 minggu. Jelas ya, bahwa semakin banyak yang kita hasilkan, semakin karya kita bisa dirasakan manfaatnya untuk semakin banyak orang, maka kita akan semakin sukses.

    Seberapa cepat pikiran kamu? Apakah kamu mau gunain kekuatan pikiran kamu untuk mencapai kesuksesan? Apakah kamu siap untuk melakukan apa yang sudah kamu pikirkan? Atau kamu masih mau santai-santai aja, dan males gerak? Terserah. Pertanyaan-pertanyaan ini untuk kamu rengungkan.

    Let me know what you think di kolom komen ya. Kalau ada yang mau ditanyain, silahkan.

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    3/7/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

  • Kamu Pasti Bisa! That’s B.S.

    Kamu Pasti Bisa! That’s B.S.

    #BBCNote13

    Pasti pernah dong ya dengar kata-kata motivasi “Kamu pasti bisa!”? I think that’s bullshit. Saya prihatin sama orang-orang yang suka ‘dimotivasi’ dengan kalimat itu. Kenapa? Karena motivasi yang tumbuh di dalam dirinya bakal mati dalam hitungan detik, menit, jam, hari, minggu, dan bulan. Setelah mati, mereka pengen lagi dengar ada yang ‘memotivasi’ mereka dengan kalimat yang sama persis itu. That’s why i called that B.S.

    Pada kenyataannya, ngga semua orang bisa ngelakuin semua hal. Kalau ada motivator yang bilang, “Saya dulu miskin, saya belajar trading saham di bursa, sekarang saya kaya raya. Kalau saya bisa, kamu pasti bisa!” Yeah rite. Saya ngga bilang kamu pasti ngga bisa. Kemungkinan kamu bukan cuma sekedar bisa, tapi malah bisa lebih sukses dari si sang motivator, ada. Yang saya mau tekankan di sini, kata “pasti” ngga seharusnya ada di kalimat ini. Siapa kamu? Tuhan? Bisa tau masa depan? Kalau tujuannya untuk bakar semangat, kayaknya yang perlu juga ‘jual semangat’ deh. Saya ngerasa, orang yang sedang berjuang menuju sukses itu perlu dikasih inspirasi, caranya, dan juga segala kesulitan-kesulitannya, serta faktanya bahwa ngga semua orang bisa ngelakuinnya.

    Makanya saya ngga pernah bilang, “Kalau saya bisa bikin perusahaan, kamu pasti bisa”, saya juga ngga pernah bilang, “Kalau saya bisa jadi orang nomor 1 di sebuah perusahaan di umur 26 tahun, kamu juga pasti bisa.” Saya tahu di luar sana banyak yang sudah berusaha, tapi ngga bisa. Saya juga tahu di luar sana ada yang bahkan di umurnya yang masih muda atau lebih muda dari saya sudah jauh lebih sukses daripada saya.

    Inti dari tulisan ini, saya berharap kalian ngga menjadi orang-orang yang ‘perlu di motivasi’ dulu sama orang lain untuk gerak. Saya selalu bilang, “Motivasi yang sesungguhnya itu cuma ada di dalam diri sendiri”. Kita semua ngga perlu dimotivasi. Gimana caranya?

    1. Kenalin diri kamu. Apa kelebihan dan kekurangan kamu. Apa purpose hidup kamu. Apa passion kamu.
    2. Biasakan untuk punya habit/kebiasaan rutin yang positif: perluas wawasan (baca buku, baca berita, nonton youtube akan hal-hal yang bisa bikin kamu jadi lebih cerdas)
    3. Punya teman / network yang luas. Pastikan teman dan network kamu itu diisi sama orang-orang yang positif dan punya value yang sama (orang baik, yang punya integritas, yang suka nolong orang lain, dan bukan orang yang dipenuhi sama rasa iri, pikiran negatif, dan punya niat menghalalkan segala cara untuk sukses).

    Kalau ketiga hal ini sudah kamu lakuin, percaya deh, kamu udah jadi individu yang punya kesempatan sukses yang lebih besar dibanding mereka yang masih suka ‘dimotivasi’ dengan kata-kata bullshit: “Kamu pasti bisa!”

    Selamat mencoba. Kamu pasti bisa! 🙂

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    28/6/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari yang saya tulis untuk diposting di manapun tanpa ijin tertulis dari saya.

  • Yang Kaya Semakin Kaya. Kenapa?

    Yang Kaya Semakin Kaya. Kenapa?

    #BBCNote12

    Ada yang bilang: “Ngumpulin Rp1M pertama itu yang paling susah. Begitu udah punya Rp1M pertama, bikin jadi Rp10M itu udah lebih gampang.” Apakah benar? Kalau benar, kenapa? Kok bisa?

    Kalau dari yang saya amati, pernyataan di atas emang benar. Makanya orang yang kaya akan semakin kaya.

    Orang yang belum kaya, fokusnya ‘cuma satu’: bertahan hidup. Kalopun ada yang kedua: nabung dikit-dikit untuk biaya sekolah anak, bahagiain keluarga (traveling, belanja, nonton bioskop), dan siapin masa pensiun. Dan ini wajar, karena memang bertahan hidup adalah hal yang paling mendasar. Manusia butuh makan dan butuh tempat tinggal. Kalau kedua hal ini sudah bisa tercapai (meski tempat tinggal masih sewa), barulah hal-hal lain mulai dipikirkan.

    Tapi sadarkan ya kalau semua yang saya tulis di atas itu ngga ada hubungannya sama memultiplikasi uang yang dimiliki. Sementara, orang yang kaya, atau setidaknya yang sudah punya semua itu di atas, mikirnya sudah satu step lebih maju: Bagaimana membuat uang yang mereka sudah miliki menjadi lebih banyak lagi. Tujuannya macem-macem: biar bisa lebih banyak bersedekah, biar bisa makan lebih enak, biar bisa tinggal di rumah yang lebih besar/nyaman, biar bisa traveling ke manapun dan kapanpun mereka mau, dan supaya ngga perlu khawatir akan masa tua mereka.

    Jadi, apa yang mereka lakuin, yang bikin mereka yang sudah kaya menjadi semakin kaya?

    1. Punya multiple source of income. Oke, satu bisnis mereka berhasil. Apakah mereka puas? Apakah mereka hanya akan ambil gaji besar, ambil dividen besar, kemudian mereka foya-foya? Ngga! Mereka biasanya membuat bisnis baru.
    2. Uang yang mereka dapetin dari bisnis-bisnis yang mereka bikin itu kemudian mereka investasikan ke tempat lain: invest di startup, beli saham, beli properti (yang dalam jangka panjang nilainya pasti akan naik terus).
    3. Mereka menunda semua jenis ‘kebahagiaan’ yang dilakukan oleh banyak orang yang belum kaya. Kenapa mereka tunda? Apakah mereka ngga mau liburan dan senang-senang? Apakah mereka ngga mau punya rumah yang besar/nyaman? Mau. Tapi, mereka cerdas. Mereka akan keluarkan uang untuk liburan dan beli rumah yang megahnya bukan dari ‘hard-earned income’ (active income). Jerih payah yang mereka hasilkan dari keringat mereka, ditabung dan diinvestasikan. Nah hasil investasinya yang merupakan passive income (uang menghasilkan uang) yang mereka pake untuk liburan dan beli rumah megah, dan mereka investasikan lagi!

    Gaji ngga akan bisa bikin kamu kaya, seberapa besar gaji kamu saat ini. “Mas Bill, gaji saya Rp100 juta per bulan, saya bisa kaya.” Ya ya ya. 10 tahun dari sekarang, coba lihat uang yang ada di bank, saya jamin NGGA MUNGKIN Rp12 miliar (Rp100 juta x 12 bulan x 10 tahun). Ngga mungkin. Karena gaji kamukan pasti kepotong biaya untuk hidup. Kalau biaya hidup kamu Rp10 juta per bulan dan kamu hidupnya super irit, berarti biaya hidup kamu 10 tahun itu = Rp1.2M. Artinya, kekayaan kamu Rp10.8M. Apakah ini kaya? Tergantung penilaian kamu.

    Tapi, bayangkan kalau dari gaji kamu Rp100 juta per bulan, biaya hidup kamu Rp10 juta per bulan, 60-70%nya kamu tabung, dan 30-40%nya kamu investasikan. Jangan kaget kalau investasi yang kamu pilih tepat, setelah 10 tahun, kekayaan kamu bisa lebih dari Rp50M. Yes, kuncinya: berinvestasi di instrumen yang tepat. Saya akan bahas di tulisan lain di lain kesempatan. At least, you get my point ya.

    So, udah tau ya mindset orang-orang kaya gimana dan kenapa mereka bisa semakin kaya? Now, apakah kamu pengen jadi orang kaya? Atau pengennya gini-gini aja? Apapun pilihan kamu, ngga ada yang salah. That’s your life. Up to you.

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    20/6/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

  • Bedanya Orang Kaya dan yang Belum Kaya

    Bedanya Orang Kaya dan yang Belum Kaya

    #BBCNote12

    Meskipun ngga semua orang pengen kaya (katanya), di dalam hatinya, mereka pengen bisa hidup nyaman (berkecukupan), dan ini berhubungan sama uang yang dimilikinya. Kita hidup di dunia yang modern, bukan lagi di jaman barter kalau kita mau suatu barang, harus kita tukar dengan barang yang kita punya. Masih tukar menukar sih, tapi dengan alat pembayaran yang namanya uang. Ketika terjadi tukar menukar barang dengan uang, itulah yang kita sebut dengan transaksi.

    Jadi, pada dasarnya, saya percaya bahwa hampir semua orang sebenarnya sadar bahwa memiliki uang yang cukup itu penting. Betul, bahwa uang ngga bisa membeli kebahagiaan. Tapi, uang bisa membeli barang, uang bisa membuat kita lebih bebas (memilih), uang bisa membuat kita lebih banyak berbagi, dan ini bisa mengacu kepada kebahagiaan kita. Ada kebahagiaan yang sifatnya sementara, ada yang selamanya.

    Inilah list beberapa perbedaan orang kaya dengan orang yang belum kaya:

    • Perspektif orang kaya terhadap uang: positive. Orang yang belum kaya seringkali berpikir uang adalah sumber segala negatif (rakus, perang, kapitalisme yg menyebabkan kemiskinan, dst)
    • Orang kaya sudah mengajarkan anak-anaknya dari kecil dengan perspektif baik tentang uang, sehingga ketika mereka dewasa, mereka “bersahabat” dengan ide untuk dekat dengan uang yg membuat mereka kemudian menjadi kaya. Sementara orang yang belum kaya, jelas ngga bisa ngajarin anaknya tentang uang, karena mereka ngga punya uang atau masih berjuang untuk punya uang.
    • Orang kaya punya beberapa atau banyak sumber pendapatan. Orang yang belum kaya, biasanya cuma punya satu sumber pendapatan.
    • Orang kaya selalu bisa memotivasi dirinya sendiri. Orang yang belum kaya ngerasa perlu dimotivasi oleh motivator.
    • Orang kaya punya rasa penasaran yang sangat tinggi, dan kalau dia sudah penasaran, dia akan pelajari hal tersebut sesering mungkin dan dari sumber yang bermacam-macam sampai dia merasa ngerti. Meski sudah ngerasa ngertipun, dia akan terus belajar karena dia ngerasa ilmunya masih belum cukup. Orang yang belum kaya ngga punya rasa penasaran yang tinggi, dan memilih untuk terus berada di comfort zone, dengan pemikiran: “Saya udah nyaman di sini, ngapain harus pelajari hal baru, males ah.”
    • Orang kaya sadar bahwa punya teman yang banyak itu penting, karena baginya teman = network dan network bisa mendatangkan kesempatan baru. Orang yang belum kaya jumlah temannya ya segitu-segitu aja karena merasa ngga nyaman kalau harus kenalan sama orang baru, karena enakan ngobrol dan hangoutnya sama yang udah kenal aja.
    • Orang kaya ketika membeli barang, bukan lagi untuk gengsi tapi untuk fungsi dan emang beneran karena dia suka sama brand dan kualitas produknya. Orang yang belum kaya, beli barang mahal untuk dipamerin ke teman-temannya karena masih haus sama pujian.
    • Orang kaya makan makanan yang dia suka, yang sehat, bukan makan suatu mahakan karena mahalnya dan gengsinya. Kalau dia ke restoran mewah, karena memang suka sama suasananya, kualitas makanannya, dan kualitas pelayanannya. Kalau orang yang belum kaya, akan mengatakan bahwa mereka ngga ke restoran yang mahal, karena berbagai alasan… tapi sebenarnya karena dia ngga punya duit dan ngga sanggup untuk makan di resto mahal tersebut.
    • Orang kaya selalu menghargai waktu dan kesal sama orang yang ngga ngehargain waktu. Orang yang belum kaya, karena ngga punya karya, ngga punya perusahaan, dan masih kerja hanya kalau disuruh… ya jelas yang dia punya cuma waktu, dan karena ngerasa waktunya banyak, maka dia take it for granted. Seringkali mikirnya: “Ah telat-telat dikit okelah”, yang mana ini adalah hal tabu buat orang kaya. Kenapa? Karena orang kaya ngerasa satu-satunya hal yang terbatas dan ngga bisa di-rewind adalah waktu.
    • Pas resesi, orang kaya senang karena yang dia lihat adalah kesempatan untuk beli-beliin stok, sementara orang yang belum kaya akan fokus kehilangan nilai saham yang dia sudah beli sebelum resesi.

    Saya masih bisa kasih “sejuta list” lainnya yang membedakan orang kaya vs. orang yang belum kaya. Tapi semoga apa yang saya tulis ini, bisa ngebuka pikiran kalian semua. Untuk yang mau nambahin, silahkan tulis di kolom komen ya. Let’s share pemikiran kita untuk orang lain.

    See you On Top!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    16/6/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

  • Rahasia Tentang “Uang”

    Rahasia Tentang “Uang”

    #BBCNote11

    Mayoritas populasi dunia diajarin perspektif yang salah soal “uang” oleh orang tuanya. Termasuk saya.

    Dari kecil, saya disuruh sekolah yang benar, kuliah yang bagus, supaya begitu lulus bisa diterima kerja di perusahaan yang bagus, seperti my Dad. Supaya apa? Supaya bisa dapet gaji yang besar, dan ujung-ujungnya, untuk kaya; punya uang yang banyak.

    My Dad kuliah di UI, dan sejak saya kecil, yang saya ingat, dia kerja pakai dasi, punya supir, dan mobilnya Honda Accord saat itu. My Dad bisa beliin hadiah untuk anak-anaknya ketika kenaikan kelas, ngajak makan di restoran mahal di hotel berbintang lima, dan ngajak sekeluarga jalan-jalan ke luar kota setiap tahun. My Dad, sukses di mata saya. Dia adalah inspirasi saya, dari kecil hingga sekarang. Selamanya.

    Jadi, ketika dia (dan my Mom) suruh kakak, saya, dan adik untuk sekolah-kuliah yang benar supaya bisa dapat kerjaan yang bagus, meskipun saya anak yang tergolong bandel, saya lakukan itu. Yes, begitu saya lulus MBA dari Amerika di bulan Desember 2000, di Bulan April 2001, saya sudah mulai bekerja di PT Berca Sportindo (Distributor Tunggal Nike di Indonesia). Saya yakin, karir profesional saya yang boleh dikategorikan cukup bagus, sudah kamu sering dengar ceritanya.

    Trus, kenapa wejangan yang dikasih sama orang tua saya dan kebanyakan orang tua di dunia itu salah? Apa salahnya disuruh untuk kerja di perusahaan yang bagus, supaya bisa dapet gaji yang bagus pula? Kalau cuma sampai di situ argumentasinya, memang ngga ada yang salah. Tapi…

    Wejangan itu menjadi salah, kalau kita jadikan kerja itu sebagai cara kita untuk mengumpulkan kekayaan, untuk bisa menjadi kaya raya. Mungkin kamu bertanya, “Ha? Maksudnya apa? Emang kalau berkarir sampe bisa jadi CEO tetap ngga bisa kaya?” Bisa. Tapi…

    Yang saya mau jelaskan di sini adalah perspektif tentang “uang”-nya dulu yang kamu harus miliki secara tepat kalau kamu mau kaya.

    Orang yang berpikir: “Saya dibayar RpX juta per bulan”, ngga akan jadi orang kaya. Kenapa? Karena waktu itu terbatas. Kita semua cuma punya 24 jam per hari, 7 hari per minggu, dan 365 hari per tahun. Seorang CEO yang gajinya Rp100juta per bulanpun, untuk bisa punya kekayaan Rp50 miliar, dia harus kerja selama kurang lebih 40 tahun. Itupun belum dihitung dipotong pajak dan minus untuk biaya hidupnya selama 40 tahun.

    Orang yang masih berpikir bahwa dia akan menerima imbalan berdasarkan dari waktu kerjanya, ngga akan bisa kaya.

    Jadi, siapa yang bisa kaya? Yang bisa kaya adalah orang yang berpikir bahwa dia akan menerima imbalan dari solusi yang dia ciptakan untuk menyelesaikan sebuah masalah. Semakin besar masalah yang dia bisa selesaikan dengan karyanya, semakin besar imbalan yang dia akan dapatkan. Google menyelesaikan masalah miliaran orang di dunia, jadi jangan kaget kalau Larry Page dan Sergrey Brin (founders Google) bisa jadi salah satu orang-orang terkaya di dunia. Mereka ngga pernah mematok imbalan terhadap diri mereka berdasarkan berapa lama mereka bekerja, tapi dari seberapa besar masalah yang mereka selesaikan dengan Google-nya.

    Itulah kenapa, pengusaha bisa kaya banget. Sementara orang yang bekerja, jarang ada yang bisa kaya banget (kecuali mereka diberikan opsi untuk memiliki stok di perusahaan tempatnya bekerja, atau ketika mereka investasikan gajinya di instrumen investasi lain: stok, properti, dll).

    Jadi kalau mau kaya, ingat rahasia tentang “uang” berikut ini:

    • Selama kita mematok imbalan kita dari waktu yang kita sisihkan, kita ngga akan pernah kaya.
    • Kita baru bisa kaya kalau kita ciptain karya yang bisa menyelesaikan masalah yang ada; semakin besar masalah yang bisa diselesaikan, semakin besar kesempatan kita untuk kaya.
    • Uang bukan untuk dicari; uang pasti dateng sendiri, sepadan dengan seberapa besar manfaat dari karya yang kita ciptain.

    Seperti biasa, saya ngga suka teori. Apa yang saya share di sini, saya lakukan sendiri. Ketika mendirikan dan dalam proses membesarkan Young On Top, GDILab, TopKarir,.. ngga ada imbalan yang saya terima berdasarkan waktu kerja saya. Semua saya lakukan secara sukarela, dengan tujuan akhir yang jelas: mengempower generasi muda Indonesia untuk lebih baik. Kalau sekarang Grup YOT bisa seperti sekarang, Puji Tuhan, itulah imbalan yang saya terima; dan ingat, imbalan itu bukan dari berapa jam per hari, dan berapa hari yang saya sisihkan. Saya menerima imbalan atas karya yang dihasilkan oleh ketiga perusahaan tersebut, karya yang menyelesaikan masalah generasi muda Indonesia yang ada.

    Apa masalah yang kamu mau selesaikan? Karya apa yang kamu mau ciptain?

    See you On Top!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    15/6/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.