Blog

  • Indonesia Emas vs. Indonesia Cemas 2045

    Indonesia Emas vs. Indonesia Cemas 2045

    #BBCNote59

    Istilah “Indonesia Cemas 2045” kali pertama saya dengar di panggung YOT National Conference 2024 lalu, di sesi Big Circle Reunion bareng Mas Andy Noya, Mbak Lisa Luhur, Mbak Veronica Colondam, Mas Yoris, Mas Arto Biantoro, dan Mbak Anggit Hernowo. Sebelum hari itu, dan yang ngetop emang istilah “Indonesia Emas 2045” yang sudah digaungin sama Pemerintahan Presiden Jokowi.

    Saya meskipun ngga ada di dalam Pemerintahan, saya via Young On Top, mendukung penuh untuk pencapaian Indonesia Emas 2045. Trus kenapa istilah Indonesia Cemas 2045 bisa muncul ke permukaan?

    Pada dasarnya, menurut banyak pengamat ekonomi, kita cuma punya waktu sampai 2030 untuk bener2 punya fondasi untuk pencapaian Indonesia Emas 2045. Yes, kita punya populasi penduduk muda; tapi dari 2025 sekarang ini hingga 5 tahun kedepan, crucial banget. Apakah SDM kita bisa punya kualitas hidup (kesehatan, mindset, mental, IQ, dll) yang lebih baik dibanding generasi sebelumnya?

    Pemerintah sudah sedang memberikan Makan Bergizi Gratis; ini tentunya bagian dari Indonesia Emas 2045. Kementerian Kesehatan juga banyak melakukan gebrakan-gebrakan untuk memastikan generasi muda Indonesia selanjutnya lebih baik segala-galanya dibandingkan dengan generasi sebelumnya. In other words, Pemerintahan Prabowo-Gibran sudah mulai melakukan hal-hal yang merupakan fondasi untuk membuat Indonesia masuk ke kategori negara maju di 2045.

    Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk ngebantu pencapaian Indonesia Emas 2045 ini? Banyak. Mulai dari diri sendiri. Tauin apa kelebihan dan kekurangan kamu. Dimana passion kamu, dimana kamu mau dan bisa berkontribusi nyata untuk lingkungan sekitar dulu. Sebagai contoh, kalau saya pribadi, akan terus memastikan Young On Top bisa berkontribusi nyata untuk membuat generasi-generasi berikutnya menjadi lebih kuat, dengan menjadi wadah bagi generasi muda berkarya, di 6 pilar: pendidikan, kesehatan, lingkungan, sosial, UMKM, dan teknologi. Saya juga sebagai investor akan selalu berusaha untuk investasi dan membantu startup/umkm di Indonesia agar mereka bisa lebih berkembang, disamping juga berusaha membawa investor-investor dari luar negeri untuk berinvestasi di Indonesia; membawa their knowledge-expertise dan sharing ke kita di Indonesia biar kita bisa makin pinter.

    Again… i want you to think: How can you contribute untuk pencapaian Indonesia Emas 2045. Lets go!

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    X/Youtube: @billyboen, IG/Thread: @billyboenYOT, Linkedin: Billy Boen

  • Wait and See

    Wait and See

    #BBCNote58

    Sejak pertengahan tahun 2023, hampir semua bisnis “wait and see” karena Indonesia sudah bersiap untuk Pilpres yang akan diselenggarakan di Februari 2024. Dan setelah Pilpres satu putaran yang dimenangkan pasangan Pak Prabowo dan Mas Gibran, semua bisnis masih tetap “wait and see” karena sebelum melakukan investasi dan menentukan strategi operasional, semua bisnis mau tau dulu gimana nanti kabinet yang akan dibentuk oleh Presiden dan Wapres terpilih.

    Saya menulis ini di penghujung 2024, artinya pelantikan Presiden dan Wapres sudah dilaksanakan 2 bulan lalu. Seharusnya semua bisnis sudah bergerak penuh, tapi kenyataannya,… belum. Masih banyak yang dipertimbangkan, sehingga istilah “wait and see” masih juga diterapkan oleh banyak bisnis di Indonesia. Kenapa? Padahal kabinet kan sudah dibentuk? Karena ternyata beberapa kementerian yang baru dibentuk baru bisa benar-benar bekerja penuh kalau sudah disupport oleh Undang-Undang; dan ini efeknya kemana-mana.

    Tapi yang saya tulis di atas boleh dibilang ngga berlaku untuk umkm dan startup. “Wait and see” berlaku untuk perusahaan-perusahaan besar, meskipun efeknya dirasakan oleh umkm dan startup yang memiliki hubungan bisnis dengan perusahaan-perusahaan besar tersebut.

    Sebagai entrepreneur dan investor, saya berusaha semaksimal mungkin untuk ngga “wait and see”. Roda bisnis harus terus bergerak, gaji karyawan harus dibayarkan setiap akhir bulan. Seluruh tim di kantor harus semaksimal mungkin jalanin semua target operasional yang sudah diset. Perusahaan-perusahaan saya ngga punya kemewahan untuk “wait and see”. Semua harus jungkir balik untuk supaya perusahaan bisa tetap survive, dan supaya ngga perlu PHK karyawan.

    Apakah 2025 akan menjadi lebih baik? Harapan saya: Iya.

    “Orang yang lebih siap akan mendapatkan lebih banyak kesempatan baik”. Jadi harus gimana menghadapi 2025 yang kata banyak orang akan lebih susah dibanding 2024? Jawaban saya: Harus jungkir balik = kerja semaksimal mungkin.

    Good luck. See you ON TOP!

    Billy Boen

  • 2 Hottest Industries in 2023 (Indonesia)

    2 Hottest Industries in 2023 (Indonesia)

    #BBCNote57

    Dulu saya fokus ke dunia fashion, trus ke dunia f&b, kemudian sejak YOT lahir, saya fokusnya ke leadership, youth empowerment. dan teknologi Sejak saya jadi venture capitalist, saya jadi terekspos ke banyak industri: umkm, pertanian, pendidikan, logistik, motor listrik, kesehatan, dan lain-lain.

    Trus apa yang menurut saya 2 industri yang paling ‘hot’ dan sexy di Indonesia untuk kedepannya? Meskipun dunia umkm dan pendidikan di Indonesia masih perlu banget untuk di-disrupted dari status quo, sayangnya 2 industri ini bukan yang paling hot menurut saya. Banyak yang sudah berusaha untuk mendisrupt kedua industri ini, dan so far menurut saya masih baru permukaannya aja yang kesentuh. Terutama dunia umkm, banyak yang berusaha untuk ngebantu umkm kita untuk going digital dan gunain teknologi untuk bisa naik kelas, tapi tetep aja.. sampe saat ini, belum ada yang berhasil. Tokopedia sudah bersumbangsih banyak bikin umkm kita berkembang, tapi tau ngga jumlah ecommerce transaction cuma 2-5% dari total retail transaction di Indonesia?

    Menurut saya, 2 industri yang lagi ‘hot’ dan sexy: electric vehicle (mobil/motor listrik) dan kesehatan. Saya kebetulan terlibat langsung ketika Kejora Capital invest di swap.id (batere infrastruktur untuk motor listrik), smoot.id (motor listrik pintar), dan asa ren (DNA data company). Pemerintah Indonesia sudah jatahkan subsidi untuk 200,000 motor listrik di tahun 2023. Dari jumlah motor yang beredar di Indonesia yang berjumlah 133 juta motor, tentu ini masih sedikit banget. Tapi ngga apa-apa, ini permulaan yang baik menurut saya.

    Sementara di dunia kesehatan, Menteri Kesehatan kita sudah mencanangkan bahwa Indonesia harus punya ratusan ribu bahkan jutaan bio bank supaya ujung nantinya, pabrik obat bisa riset dan bikin obat-obatan yang cocok untuk orang-orang Indonesia berdasarkan DNA-nya (precision medicine). FYI, saat ini obat-obatan yang kita makan, hasil riset menggunakan DNA orang bule (Amerika/Eropa); jadi jangan kaget kalo kadang efeknya ngga maksimal untuk kita orang Indonesia.

    Ini dua industri yang paling ‘hot’, tapi bukan berarti industri lain seperti agritech dan supply chain ngga sexy loh ya. Indonesia itu belum jadi negara maju, artinya masih banyak banget yang harus dibenahin. And that’s why i love living and creating values di sini. Siapa yang punya wawasan luas, kreatif, ngga males gerak (alias ngga cuma omdo mau lakuin ini itu), dan yang punya grit… punya chance suksesnya lebih besar dibanding mereka yang ngga punya ambisi untuk berkembang dan berkarya.

    Kalo kamu punya pandangan lain, silahkan tulis di kolom komentar. Dan jangan lupa untuk refleksi ke diri sendiri, apakah kamu punya ide untuk solve masalah apa yang ada di Indonesia? Kalo iya, just do it; and good luck! Ngga harus di 2 ‘hottest’ industri yang saya sebut kok. I wish you all the best!

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Youtube: BBC | Linkedin: Billy Boen

    2/4/2023

    ***Silahkan register dan join BBC untuk baca seluruh tulisan saya di sini.

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

  • Feeling Rich Vs. Wealthy

    Feeling Rich Vs. Wealthy

    #BBCNote56

    Apa maksud dari judul tulisan ini? Kenapa bukan “Rich Vs. Wealthy”? Saya bukan orang yang suka membahas arti dari sebuah kata. Kalau mau tau arti dari sebuah kata, buka aja kamus. Yang saya mau bahas di sini: berasa kaya beda sama beneran kaya.

    Banyak orang yang beli iPhone seharga belasan bahkan Rp20juta lebih. Demi apa? Demi dibilang keren sama rekan kerjanya. Banyak orang yang ganti motornya ke yang lebih mahal, ganti mobilnya yang ke lebih mahal, demi apa? Demi dibilang keren sama rekan kerjanya. Banyak orang yang maksain beli rumah mewah, supaya dianggep kaya sama temen-temennya. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya.

    Kalau beli iPhone, beli motor/mobil dan rumah mewah emang karena niatnya untuk bener-bener dinikmatin sendiri dan bareng keluarga, ya sah-sah aja. Jadi, sebenernya yang bedain itu ada di niatnya. Untuk pamer dan dapet pujian atau untuk kesenangan diri sendiri? Kesenangan diri sendiri itu bisa aja karena hobinya gadget, hobinya modif motor/mobil atau koleksi motor/mobil, dan beli rumah yang gede karena biar bisa berenang atau liat anjing peliharaannya bisa lari-larian di taman.

    Sementara kaya beneran itu ya kayaknya ngga usah dijelasin sih ya. Uang di bank banyak, kekayaan di atas kertas juga banyak (punya saham dimana-mana).

    Which one are you? Baru masih di tahap berasa kaya atau udah beneran kaya?

    If you’re asking me… jawaban saya: saya ngga berasa kaya, apalagi beneran kaya. 🙂 One day,.. one day. Amin.

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Youtube: BBC | Linkedin: Billy Boen

    1/4/2023

    ***Silahkan register dan join BBC untuk baca seluruh tulisan saya di sini.

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

  • Do You Choose Money Over Time?

    Do You Choose Money Over Time?

    #BBCNote55

    Lebih dari 85% orang di dunia ini pilih untuk punya uang banyak daripada punya banyak waktu. Kalo punya waktu lengang, kayak ngga keren. Yang keren itu kalo keliatan atau beneran sibuk, Yakin?

    Sadar ngga kalo mungkin kamu juga termasuk yang bekerja setiap hari, rasanya sibuk banget… untuk cari uang? Kita mengorbankan waktu kita bareng keluarga, demi untuk dapat gaji di tanggal 25 setiap bulannya. Ke kantor setiap hari, dari pagi subuh udah berangkat, pulang sore, sampe rumahnya malem. Tidur, bangun pagi, dan repeat.

    Yang dipakai untuk menjustifikasi apa yang kita lakuin: “Untuk hidup kita perlu uang. Kita ngga bisa hepi kalau kita ngga punya uang.” Tapi apakah uang segitunya sampe kita harus menghabiskan mayoritas waktu kita di dunia ini untuk cari uang?

    Orang miskin dan/atau yang belum kaya raya mengidolakan uang sementara on the other side, orang kaya mengidolakan waktu dibanding uang. Mereka rela bayar mahal demi punya waktu lebih banyak. Bukan untuk bikin mereka jadi punya 26 jam per hari, tapi untuk bikin mereka bisa lebih punya kebebasan ngelakuin yang mereka mau di 24 jam yang mereka punya setiap harinya.

    And that’s why:

    1. Mereka punya mobil dan supir supaya mereka ngga usah capek cari parkir, dan selama perjalanan mereka jadi bisa tidur/kerja.
    2. Mereka beli jet pribadi supaya mereka ngga perlu buang waktu ngantri, nunggu pesawat komersil terbang, belom lagi kalo delay dst. (bukan untuk flexing di sosmed).
    3. Mereka punya banyak karyawan dan bayar gaji mereka untuk ngelakuin banyak hal supaya mereka ngga perlu ngelakuin hal-hal tersebut.

    Serasa beda dunia; yang dimauin beda. Padahal si Miskin dan si Kaya hidup sama-sama di planet yang dinamain bumi.

    Si Kaya milih untuk punya waktu lengang. Mereka siap keluarin duit untuk itu Vs. Si Miskin/Belum Kaya milih untuk ngga mau punya waktu lengang, demi cari uang.

    How about me?

    I’m priviledge. I’m lucky. Semua yang saya kerjain saat ini, bikin saya hepi. Saya priviledge dan lucky karena punya kesempatan hanya ngelakuin hal-hal yang saya cintain alias sesuai passion, dan menghasilkan uang plus berdampak positif untuk orang banyak, sesuai my life purpose.

    Saya belum kaya raya. Mau kaya raya? Jelas iya! Tapi, saya sudah sadar bahwa di dunia ini yang terpenting bukan uang, tapi kebahagiaan bareng keluarga dan kolega/teman-teman terdekat. Jadi, kalau saya ditawarin kerjaan Rp5M per tahun untuk kerja Senin-Jumat jam 08.00 – 17.00 setiap hari, saya akan tolak. Saya sudah bersyukur dengan hidup saya seperti sekarang ini. Kalo dibayar Rp100M per tahun gimana? OKE, saya terima. Tapi saya kayaknya cuma akan kerja setahun aja. :)))

    Think about this: What matters to your life? Do you really choose money over happiness (with your family/friends)? Apapun yang kamu pilih, ngga ada yang salah; and no one should judge you.

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Youtube: BBC | Linkedin: Billy Boen

    21/3/2023

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.