#BBCNote11
Mayoritas populasi dunia diajarin perspektif yang salah soal “uang” oleh orang tuanya. Termasuk saya.
Dari kecil, saya disuruh sekolah yang benar, kuliah yang bagus, supaya begitu lulus bisa diterima kerja di perusahaan yang bagus, seperti my Dad. Supaya apa? Supaya bisa dapet gaji yang besar, dan ujung-ujungnya, untuk kaya; punya uang yang banyak.
My Dad kuliah di UI, dan sejak saya kecil, yang saya ingat, dia kerja pakai dasi, punya supir, dan mobilnya Honda Accord saat itu. My Dad bisa beliin hadiah untuk anak-anaknya ketika kenaikan kelas, ngajak makan di restoran mahal di hotel berbintang lima, dan ngajak sekeluarga jalan-jalan ke luar kota setiap tahun. My Dad, sukses di mata saya. Dia adalah inspirasi saya, dari kecil hingga sekarang. Selamanya.
Jadi, ketika dia (dan my Mom) suruh kakak, saya, dan adik untuk sekolah-kuliah yang benar supaya bisa dapat kerjaan yang bagus, meskipun saya anak yang tergolong bandel, saya lakukan itu. Yes, begitu saya lulus MBA dari Amerika di bulan Desember 2000, di Bulan April 2001, saya sudah mulai bekerja di PT Berca Sportindo (Distributor Tunggal Nike di Indonesia). Saya yakin, karir profesional saya yang boleh dikategorikan cukup bagus, sudah kamu sering dengar ceritanya.
Trus, kenapa wejangan yang dikasih sama orang tua saya dan kebanyakan orang tua di dunia itu salah? Apa salahnya disuruh untuk kerja di perusahaan yang bagus, supaya bisa dapet gaji yang bagus pula? Kalau cuma sampai di situ argumentasinya, memang ngga ada yang salah. Tapi…
Wejangan itu menjadi salah, kalau kita jadikan kerja itu sebagai cara kita untuk mengumpulkan kekayaan, untuk bisa menjadi kaya raya. Mungkin kamu bertanya, “Ha? Maksudnya apa? Emang kalau berkarir sampe bisa jadi CEO tetap ngga bisa kaya?” Bisa. Tapi…
Yang saya mau jelaskan di sini adalah perspektif tentang “uang”-nya dulu yang kamu harus miliki secara tepat kalau kamu mau kaya.
Orang yang berpikir: “Saya dibayar RpX juta per bulan”, ngga akan jadi orang kaya. Kenapa? Karena waktu itu terbatas. Kita semua cuma punya 24 jam per hari, 7 hari per minggu, dan 365 hari per tahun. Seorang CEO yang gajinya Rp100juta per bulanpun, untuk bisa punya kekayaan Rp50 miliar, dia harus kerja selama kurang lebih 40 tahun. Itupun belum dihitung dipotong pajak dan minus untuk biaya hidupnya selama 40 tahun.
Orang yang masih berpikir bahwa dia akan menerima imbalan berdasarkan dari waktu kerjanya, ngga akan bisa kaya.
Jadi, siapa yang bisa kaya? Yang bisa kaya adalah orang yang berpikir bahwa dia akan menerima imbalan dari solusi yang dia ciptakan untuk menyelesaikan sebuah masalah. Semakin besar masalah yang dia bisa selesaikan dengan karyanya, semakin besar imbalan yang dia akan dapatkan. Google menyelesaikan masalah miliaran orang di dunia, jadi jangan kaget kalau Larry Page dan Sergrey Brin (founders Google) bisa jadi salah satu orang-orang terkaya di dunia. Mereka ngga pernah mematok imbalan terhadap diri mereka berdasarkan berapa lama mereka bekerja, tapi dari seberapa besar masalah yang mereka selesaikan dengan Google-nya.
Itulah kenapa, pengusaha bisa kaya banget. Sementara orang yang bekerja, jarang ada yang bisa kaya banget (kecuali mereka diberikan opsi untuk memiliki stok di perusahaan tempatnya bekerja, atau ketika mereka investasikan gajinya di instrumen investasi lain: stok, properti, dll).
Jadi kalau mau kaya, ingat rahasia tentang “uang” berikut ini:
- Selama kita mematok imbalan kita dari waktu yang kita sisihkan, kita ngga akan pernah kaya.
- Kita baru bisa kaya kalau kita ciptain karya yang bisa menyelesaikan masalah yang ada; semakin besar masalah yang bisa diselesaikan, semakin besar kesempatan kita untuk kaya.
- Uang bukan untuk dicari; uang pasti dateng sendiri, sepadan dengan seberapa besar manfaat dari karya yang kita ciptain.
Seperti biasa, saya ngga suka teori. Apa yang saya share di sini, saya lakukan sendiri. Ketika mendirikan dan dalam proses membesarkan Young On Top, GDILab, TopKarir,.. ngga ada imbalan yang saya terima berdasarkan waktu kerja saya. Semua saya lakukan secara sukarela, dengan tujuan akhir yang jelas: mengempower generasi muda Indonesia untuk lebih baik. Kalau sekarang Grup YOT bisa seperti sekarang, Puji Tuhan, itulah imbalan yang saya terima; dan ingat, imbalan itu bukan dari berapa jam per hari, dan berapa hari yang saya sisihkan. Saya menerima imbalan atas karya yang dihasilkan oleh ketiga perusahaan tersebut, karya yang menyelesaikan masalah generasi muda Indonesia yang ada.
Apa masalah yang kamu mau selesaikan? Karya apa yang kamu mau ciptain?
See you On Top!
Billy Boen
Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen
15/6/2020
***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.
