My New Path as a Venture Capitalist

3 Juni 2020, akhirnya diannounced juga role baru saya sebagai Director Orbit Fund, sebuah pendanaan sebesar $30 juta atau setara dengan Rp435,000,000,000 (kurs Rp14,500) yang disiapkan untuk early-stage digital startup yang diinisiasi oleh Kejora Capital dan SBI (Jepang). Teman-teman saya pun langsung memberikan selamat, tapi ada juga yang nanya: “Hah, elu sekarang kerja di Kejora?” Satu hal yang pasti, saya ngga kemana-mana, ekosistem Young On Top yang menaungi 5 perusahaan (YOT, GDILab, TopKarir, Bizhare, dan Maingame) akan tetap saya supervisi. After all, I’m still the CEO of the YOT Group (Holding). Semua anak perusahaan YOT sudah punya Jendral yang ngga saya ragukan kemampuan memimpinnya. Dan mereka semua punya akses langsung ke hape saya, setiap saat. So, kenapa saya mau jadi Venture Capitalist? Di tahun 2012-2013, anak-anak muda banyak yang bikin startup. Sementara temen-temen saya, banyak yang bikin VC. Apakah saya kepikiran untuk bikin VC? Ngga sama sekali. Secara finansial, saya masih ‘berdarah-darah’ mempertahankan YOT untuk bisa tetep survive. Sejak tahun 2017, ketika YOT sudah cukup mapan, saya mulai tertarik untuk ngebantu startup yang punya hubungan langsung dengan mengempower generasi muda Indonesia. Saya pun mulai ketemu banyak startup, dan yang bagus, saya mentorin dan saya invest (sebagai Angel Investor). Setidaknya ada 3 perusahaan startup yang sudah tutup. Sisanya, ya yang ada di bawah naungan YOT Group. Pikiran bikin VC sendiri pun terlintas di otak saya. Selama 2 tahun saya corat-coret, dan baca sana sini, coba pelajarin VC itu gimana sih cara kerjanya. Meskipun beberapa teman dekat saya bilang, “Bill, lo bikin VC dong?”, akhirnya di pertengahan tahun lalu saya memutuskan untuk ngga bikin VC. Yang ada di benak saya: “Saya lebih prefer untuk join/bermitra dengan VC yang sudah ada, VC yang sama valuenya sama saya, dan punya reputasi bagus.” Hampir semua VC di Indonesia, saya kenal. Ada yang kenal baik, ada yang cuma kenal gitu aja. Dan dari segitu banyak VC yang saya kenal, cuma ada 2 VC yang saya bilang ke dalam diri saya, “Kalo saya sampe bikin VC, saya maunya sama Kejora Capital dan XXX (saya ngga akan sebut).” Kenapa Kejora Capital? Waktu itu saya ngga tau banyak dalemnya Kejora Capital, tapi… Saya kenal salah satu Founding Partnernya: Andy Zain sejak 2003. “Ribuan” teman saya di berbagai industri, ngga ada satupun yang ngomongin hal jelek soal Andy. Saya juga tahu dia banyak bikin program untuk bantu anak muda di dunia startup maupun di lingkungan Gereja. Dia adalah pemrakarsa Founder Institute Indonesia, dan dia lakuin FI ini selama 9 tahun. Mirip sama YOT, tapi fokus untuk membangun ekosistem digital di Indonesia. Saya pun jadi Mentor di sana bersama Who’s Who-nya dunia teknologi di Indonesia, diantaranya: William Tanuwijaya (tokopedia), Achmad Zaky (bukalapak), Martin Hartono (GDP Ventures), dan bisnis-bisnis partner saya: Ariadi Anaya (TopKarir), Anton Soeharyo (Maingame), dan masih banyak lagi. Saya ngga pernah bilang ke Andy, niatan saya untuk jadi Venture Capitalist, apalagi untuk gabung jalanin bareng Kejora. Nope. Ngga ada yang kebetulan, semua bermula dari April 2019, Andy minta saya ikutan di UnionSpace. Saya tolak berkali-kali, karena saya lagi sibuk-sibuknya ngurusin YOT, baru invest dan jadi Advisor di Bizhare, dan lagi jajakin invest di Maingame; belum lagi, saat itu saya masih sangat involved di operasional YOT. Bukan Andy Zain kalau ngga persistent. Meeting berkali-kali, dengan topik ngajak meetingnya yang bervariasi… akhirnya di Agustus 2019 saya bilang “OK”. Sayangnya, ketika saya mengambil alih pimpinan UnionSpace di Maret, cuma selang 2 minggu, PSBB karena Covid, dan semua rencana yang saya buat berantakan. Saya masih sempat terlibat membuat contigency plan untuk UnionSpace. Long story short, akhirnya Andy ngajak saya untuk terlibat di Orbit Fund yang lagi disiapin sama Kejora Capital dan SBI. Meski seperti dream comes true, saya ngga langsung iyain. Saya mikir panjang, diskusi bolak balik sama Andy yang sangat sabar mau kasih saya pemahaman akan ekspektasinya, tanggung jawabnya, pro dan kontranya saya sebagai seorang Venture Capitalist. Setelah semuanya jelas, dan setelah saya berdiskusi panjang sama my wifey, akhirnya saya bilang ke Andy, “OK, let’s do this”. Foto (Ki-Ka): Sebastian Togelang, Andreas Surya, Yudi, Billy, Andy Zain, Richie Wirjan, Sunichi Keida Strategy VC yang di early-stage beda-beda. Ada yang spray and pray, ada yang picky dan mentorin startup yang diinvestnya. Strategi Kejora yang kedua. Dan saya sangat ngerasa cocok dengan approach ini. Kenapa? Ya sampe sekarang YOT Group punya 5 anak perusahaan, approach yang saya lakukan bukan taro duit trus saya cuekin. Saya pasti involve dan sharing my knowledge, leadership dan management experience yg saya punya dari mimpin global brand dunia di Indonesia dan bangun beberapa perusahaan dari nol, ke perusahaan yang saya invest: GDILab, TopKarir, Bizhare, dan Maingame. Kejora juga believe dengan pentingnya sinergi antar ekosistem. Saya juga. Semua Leadership Team di ekosistem YOT dekat banget dan kompak banget. Jadi, memang apa yang dilakukan sama Kejora Capital selama ini, cocok dengan apa yang selama ini Billy Boen lakukan. Yang beda, Kejora selama ini invest ratusan miliar hingga triliunan Rupiah sepanjang mereka berdiri, 6 tahun lalu. Sementara saya.. jelas ngga bisa ngucurin duit segitu, karena duit saya terbatas. So,… now, I’m ready to give a bigger impact untuk generasi muda Indonesia yang pengen berkarya dan berimpact luas ke masyarakat dengan menggunakan digital technology. Kalau kamu punya startup yang lagi perlu pendanaan early stage hingga Seri A ($200k – $3juta), atau kalau kamu punya temen yang punya startup yang perlu pendanaan segitu dan menurut kamu startupnya bagus, kirim aja decknya ke pitch@orbitvc.co ya. Semua deck yang masuk, pasti akan direview sama tim Investment-nya Orbit. Sistem yang sangat terstruktur yang sudah dibuat oleh Kejora Capital mengharuskan proses tersebut. So, tunggu apa lagi? Send your deck, or let your founder friends know. Cheers! Kalau ada yang mau ditanyain, silahkan tulis di komen di bawah note ini ya. Together with Orbit Team, I wanna bring Indonesian startups yang punya mimpi mau berkarya dan bermanfaat untuk Indonesia (dan dunia) to the ORBIT. Let’s FLY! Foto: Richie Wirjan, VP Investment Orbit (kiri), Sunichi Keida, SBI (kanan) Billy Boen Director, Orbit Fund a partnership of Kejora Capital – SBI (Japan) Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 6/6/2020 ***Dilarang untuk …

Berapa Dana Darurat yang Harus Kita Siapkan?

#BBCNote10 Saya pertama kali dengar istilah “Dana Darurat” dari Financial Planner/Expert. Orang tua saya ngga pernah ngajarin saya pentingnya punya dana darurat. Yang ditekankan ke saya sejak saya kecil: Harus kerja keras. Kalau mau punya uang lebih, kerja lebih keras lagi. My Dad malah bilang: “Ketika gaji kamu masih kecil, nikmatin aja. Kamu nabung 50%, ngirit-ngirit, Rupiah yang ditabung dikit. Mending dinikmatin aja, sambil kerja keras. Kalau gaji kamu udah agak gede, kalau kamu nabung 20% aja, Rupiah yang ditabung udah besar.” Jadi, saya sempat ngga pernah nabung sama sekali meskipun jabatan dan gaji saya tinggi ketika dulu sebagai profesional kerja di korporasi. Yang ada di benak saya, persis seperti ajaran my Dad: “Kerja untuk bisa dapetin lebih terus. Nabung, nanti aja.” Tapi semakin ke sini, saya juga ikutin ajaran my Dad sih… dan bener banget, ketika penghasilan kita makin gede, nabung secara prosentase kecil aja, Rupiah yg ditabung lumayan. Apakah saya setuju dengan ajaran my Dad? Well, kalau saya bisa sarankan kalian… nabung sejak kalian penghasilannya kecil ngga apa-apa. Malah bagus, karena nabung itu soal disiplin. Kalau sejak penghasilan kamu kecil, kamu sudah terbiasa nabung, maka ketika penghasilan kamu besar nanti, kamu sudah terbiasa nabung. Nah, now let’s talk about “Dana Darurat”. Berapa dana darurat yang perlu kita siapkan? Banyak Financial Planner/Expert bilang: Dana Darurat harus sebesar 3-4 bulan biaya hidup kita. Jadi kalau misal setiap bulan untuk kita bayar sewa rumah, biaya bensin, biaya makan Rp10juta, artinya Dana Darurat yang harus kita siapkan minimum sebesar Rp30-40juta. Tolong “3-4 bulan” ini jangan dijadikan patokan dan ditelan mentah-mentah bahwa kita harus siapkan 3-4 bulan. Saya di twitter baru-baru ini bilang, siapkan Dana Darurat 12 bulan. Ditanya, “Kok 12 bulan? Bukan 3-4 bulan?” Inilah yang menginspirasi saya untuk nulis BBCNote ini. Jadi gini, dasar pemikiran Dana Darurat adalah dana yang disiapkan untuk kalau kita di-PHK atau ngga punya lagi penghasilan. Nah berapa yang mau disiapkan, tergantung masing-masing orang. Di jaman normal dulu (sebelum Covid19), kenapa banyak Financial Planner/Expert yang menganjurkan 3-4 bulan? Pertimbangannya, kalau kamu dipecat, masa sih dalam 3-4 bulan kamu ngga bisa dapet kerjaan baru? Itu dasarnya. Kenapa saya menganjurkan 12 bulan? Karena di era Covid19 ini, apakah kamu yakin, kalau kamu di-PHK hari ini, kamu akan bisa dapetin kerjaan baru dalam 3-4 bulan kedepan? Pengangguran lagi gede-gedenya, banyak banget yang kena PHK, dan lulusan universitas dan SMK juga nambah terus setiap tahun, artinya: yang cari kerja lagi banyak-banyaknya, sementara perusahaan lagi ngga ada yang buka lowongan kerja saat ini. Semua perusahaan lagi berusaha seefisien mungkin. Jadi, bersiaplah untuk 12 bulan kedepan kamu ngga ada penghasilan. That’s why saya menyarankan Dana Daruratnya 12 bulan. Ngerti ya? Kalau untuk entrepreneur gimana? Sama aja dasar pemikirannya: Berapa Rupiah yang kamu butuhkan untuk bertahan hidup (termasuk biaya hidup keluarga, kalau kamu sudah berkeluarga; atau kalau kamu menyokong kehidupan orang tua) DIKALIKAN berapa bulan sampe kamu yakin kamu bisa punya penghasilan lagi. Kalau kamu yakinnya 6 bulan lagi baru usaha kamu bisa kembali, ya Dana Daruratnya 8 bulan, kalau kamu mengira-ngira bisa balik lagi usaha kamunya 12 bulan lagi, ya siapin Dana Daruratnya 14 bulan. Kasih cadangan 2 bulan kalau perlu, biar aman. Anyway, yang mau jadi pengusaha, silahkan baca kedua tulisan ini: “Entrepreneurs Bisa Kaya” dan “5 Kendala Entreprenerus”. Good luck! Semoga kita semua baik-baik aja, secara kesehatan, dan juga secara finansial. Amin. See you On Top! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 28/5/2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

“Berpuasalah” Untuk Menang

Pertama-tama, saya ucapkan Selamat Idul Fitri untuk semua teman-teman Muslim. Semoga semua amal ibadah teman-teman selama Bulan Suci Ramadhan, diterima olehNYA. Saya seorang Katolik. Apa yang saya tahu soal berpuasa? Di Katolik, selama 40 hari sebelum Paskah (Kebangkitan Yesus), ada masa Pra-Paskah. Selama inilah, Umat Katolik di seluruh dunia diminta untuk berpuasa dan berpantang. Karena saya bukan seorang Muslim, maka saya tidak akan membahas arti berpuasa di Agama Islam. Tapi kalau dari yang saya tahu, maksud dan tujuan utama berpuasa di Katolik adalah untuk kita menahan nafsu, untuk kita menjalankan kontrol terhadap diri sendiri. Dulu, saya puasanya bolong-bolong, dengan berjuta alasan. Tapi, sudah beberapa tahun terakhir, saya bukan saja berusaha untuk memenuhi kewajiban berpuasa dan berpantang yang diminta oleh Gereja, tapi saya melakukan hal “extra mile”, alias saya berpuasa dan berpantang selama 40 hari penuh. Kenapa? Karena saya ingin menantang diri saya: Apakah saya bisa untuk mengontrol diri saya sendiri? Selain hanya makan kenyang 1x selama setiap 24 jam, saya juga berpantang makan segala jenis daging dan berpantang membuka media sosial. Susah? Sebelum saya melakukannya, saya sempat berpikir bahwa berpantang media sosial akan sangat sulit karena saya kan biasanya harus posting untuk menginspirasi orang lain, saya juga harus posting promosi-promosi event dan program-programnya YOT. Tapi, ternyata, sejak hari pertama saya lakukan puasa dan pantang (pada Hari Rabu Abu), saya ngga ngerasa susah sama sekali. Kalau niatnya jelas dari awal, semua hal bisa kita lakukan. Saya malah merasa lebih punya banyak waktu untuk melakukan hal lain, diantaranya menulis notes di youngontop.com, dan juga akhirnya berlanjut di billyboen.com ini. Saya juga berhasil membaca beberapa buku. Saya juga merasa punya waktu lebih banyak untuk mencari berita lewat google. Saya jadi punya banyak waktu untuk ngobrol dan menghabiskan waktu bersama wifey. Paskah untuk Umat Katolik sama dengan Idul Fitri untuk Umat Muslim; sama-sama dirayakan sebagai Hari Kemenangan, dan menjadi akhir dari masa berpuasa. Apa maksud judul tulisan saya ini? Dulu, ketika saya masih ngga berpuasa dan berpantang, ketika Paskah, saya ngerasa biasa aja. Ngga ada yang istimewa. Ke Gereja, ya gitu deh rasanya: hampa. Ngga ngerasa ada arti khusus. Tapi, sejak saya berpuasa dan berpantang melebihi dari apa yang Gereja Katolik wajibkan, saya benar-benar merasa hepi dan bisa merayakan Hari Kemenangan dengan penuh rasa syukur. Paskah menjadi hari yang saya tunggu-tunggu. Ketika Paskah, saya hepi banget dan merasa lega. Saya yakin, teman-teman Muslim juga pasti merasakan hal yang kira-kira sama. Rasa hampa bagi mereka yang puasanya asal-asalan, tapi rasa syukur dan bahagia pasti menyelimuti mereka yang berpuasa penuh selama Bulan Suci Ramadhan. Saya percaya, melatih diri untuk bisa mengontrol diri sendiri sangatlah penting. Tau ngga kalau semua orang sukses itu punya kemampuan yang luar biasa dalam mengontrol dirinya. Mereka biasanya mampu untuk menahan diri, bersabar, dan bersyukur. Hmmm… Mau sukses? Baca tulisan saya “Kenapa Entrepreneur (bisa) Kaya”. “Berpuasalah”, untuk menang. See You ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 24/5/2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

Honoring a Great Man

– Tulisan ini saya dedikasikan untuk Henry Boen, my Dad (3 Oktober 1944 – 16 Mei 2020) – Ada jutaan hal yang bisa saya tulis, yang saya pelajari dari my Dad. Saya akan tuangkan dalam sebuah buku… suatu hari nanti. My Dad kembali ke RumahNYA 16 Mei 2020 lalu, setelah masuk ICU selama 2 minggu, bermula dari sakit prostat hingga terdeteksi macem-macem sakitnya. Puji Tuhan, ketika ditest covid19, hasilnya negatif, sehingga 1 minggu terakhir di ICU, keluarga bisa ngunjungin my Dad, dan di hari terakhirnya, semua bisa ngumpul dan said “I love you, Dad/Opa”. Sekeluarga tau banget kalau my Dad itu orang yang paling ngga mau nyusahin/ngerepotin orang lain. Dia dinyatakan meninggal pukul 15.47, kemudian jam 21.00 ditransfer ke rumah duka. Besokannya jam 14.00 sudah dikremasi, jam 16.00 selesai proses kremasinya. Kami cuma bikin 1x Misa untuk my Dad. Super simple, super fast. Sampe saya nanya dan bahas sama Mom dan kakak-adik, “Prosesnya cepet dan simple banget ya? Kita tetep hormatin Dad kan ya?” Kakak saya bilang, “Iya, kan memang setiap tindakan sepanjang proses, kita selalu berpikir apa yang Dad mau.” FYI, my Dad paling ngga mau dinyanyiin “Happy Birthday” kalau ngerayain ultahnya di restoran. Segitunya. Ngga pengen rame-rame, ngga pengen yang ribet-ribet. Makanya di rumah duka ngga perlu nunggu temen-temennya dateng. Yang penting untuk keluarga inti (ngga nunggu sodara-sodara juga) bisa berdoa dan melepas dia dengan cinta dan hormat. Anyway,… hingga detik ini, saya ngga merasa berduka. Semua orang bingung. Kremasi hari Minggu, hari Seninnya saya full zoom meeting dari pagi, siangnya taping UNLOCK with Billy Boen di Metro Tv, dan malamnya sampai jam 21.00 meeting bareng shareholder maingame.com. Selasa banyak meeting, Rabu juga sama. Dan di Hari Kamis pagi ini, saya nulis note ini, to honor my Dad. Kenapa saya ngga berduka, kok malah bersuka cita? Saya dari dulu sering denger ada orang yang penuh penyesalan; “Andai saya lebih care ke orang tua”, “Andai saya bilang i love you ke orang tua”, “Andai… andai… andai”, dan penyesalan itu terjadi ketika orang yang kita cintai sudah pergi meninggalkan kita selamanya. PERCUMA. Oleh karena itu, dari dulu, saya sering banget untuk kasih tau ke orang-orang yang saya cintai bahwa saya mencintai mereka: dengan tindakan dan dengan perkataan. Yes, i said “I love you, Dad” jutaan kali selama hidup saya, dan saya katakan “I love you, Dad. Thank you so much for everything” puluhan kali di 1 minggu terakhir hidupnya. Saya percaya bahwa orang yang meninggal itu, akan berada di tempat yang lebih baik. I trully believe that. Jadi, ketika my Dad sudah di ICU, doa saya (dan keluarga) bukan untuk memohon Tuhan untuk menyembuhkan my Dad, tapi berserah pada Tuhan, silahkan Tuhan yang memutuskan apakah my Dad akan dipanggil ke RumahNYA atau diperbolehkan pulang ke rumah my Mom Dad untuk ditake care sama kami sekeluarga. Jadi, ketika Tuhan memanggil my Dad ke RumahNYA, kami semua ikhlas dan bersuka cita. Saya tau kalau my Dad had lived his fullest life. Sebagai seseorang yang merantau dari Pontianak ke Jakarta untuk kuliah di UI dengan modal 1 koper baju, sampai bisa menjadi Direktur di beberapa perusahaan besar dan menjadi Country Manager sebuah brand asal Amerika (Polaroid), punya rumah 1,200 sqm dengan kolam renang dan “pool house”, modalin my Mom bisnis Doggie, dan nyekolahin 3 anaknya hingga semuanya lulus MBA (S2) dari Amerika tanpa beasiswa… yes, he has accomplished A LOT. Di tahun 1998, ketika Indonesia lagi mencekam, my Dad bilang ke kami sekeluarga, “Kita ngga akan kabur dari Indonesia. Kita lahir di Indonesia, kita akan mati di Indonesia” (meski kita WNI keturunan Cina). My Dad dan my Mom telah berhasil menanamkan nilai keberagaman dalam keluarga kami. My Dad akhirnya dibabtis Katolik, My Mom Katolik, saya dan James Katolik, istri saya Budha, Kakak saya beserta istri dan anak-anaknya Muslim, adik saya beserta suami dan anak-anaknya Kristen. Setiap Natal kami berkumpul, setiap Lebaran kami berkumpul dan merayakan. Istri saya orang Thailand. Kakak ipar saya keturunan Dayak. Adik ipar saya Batak. Jangan heran kalau saya bisa menjadi individu yang sangat berpikiran terbuka dan bisa menerima perbedaan dengan tulus. Jangan heran kalau YOT seperti ini dan berniat untuk bisa terus ada untuk ambil andil terus Menyatukan Indonesia. Benihnya, dari my Dad. Sampai napas terakhirnya, dia telah menjadi role model buat kami semua yang kenal dia. He loved my Mom. He loved his family so much. Dia sumbang sana sini, dia sekolahin entah berapa anak. Dan khusus untuk saya, dia selalu ada di setiap saya mencapai milestone dalam hidup saya. Dia yang nganterin saya interview di Nike (Feb 2001), dia berikan speech di peluncuran buku “Young On Top” (April 2009), dia dengerin YOT radio talkshow di Kis Fm (Nov 2009), dia dateng setiap tahun ke YOT National Conference (2011-2019), dia dateng ke peluncuran buku “Y” (2019), dia nonton YOT Metro Tv (2012), dia nonton UNLOCK with Billy Boen (2019), dan dia selalu excited ketika saya cerita perkembangan bisnis-bisnis saya: YOT, GDILab, TopKarir, Bizhare, Maingame, dan Ternak Kambing. Saya sempat infokan bahwa saya ditunjuk jadi Advisor Bank BRI, dan i could see how proud he was. So, Dad, i know you can read this… once again: “I LOVE YOU, THANK YOU SO MUCH FOR EVERYTHING. I HOPE I HAVE MADE YOU PROUD. I AM LUCKY, PROUD, AND HONORED TO BE YOUR SON. WITHOUT YOU, THERE’S NO YOUNG ON TOP. YOUR VALUES LIVE IN ME. I WILL KEEP SPREADING THEM FOR INDONESIA. YOUR LEGACY LIVES ON, DAD.” LOVE, “BILLY THE KID” Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 21/5/2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

Life After Covid

#BBCNote9 Terlepas dari saat ini kita ngga ada satupun yang tau kapan Covid akan berakhir, topik yang paling saya minati saat ini adalah soal “the future”, “the new normal”, dan “the life after Covid”. Setiap hari, saya sengaja cari berita global, dari kantor-kantor berita terkenal (biar ngga baca hoax). Saya sengaja daftar berbagai webinar supaya bisa dapetin info baik dari jurnalis, dari CEO, dari expert di berbagai bidang (investasi, banking, consumer product, esports, online gaming, retail, real estate, automotive, oil and gas, renewable energy, consumer behavior, HR, leadership, brand, management, dll), tentang apa yang mereka pikir soal masa depan dunia. (Baca juga tulisan saya tentang Bisnis Masa Kipan) Ternyata, semua memprediksi bahwa kita ngga akan kembali ke seperti sebelum Covid. Berikut beberapa list yang perlu untuk kita renungkan, karena bisa aja ini semua akan terjadi setelah Covid: Bioskop ngga ‘mati’. Semua orang sudah terbiasa nonton live streaming/on demand movies di rumah. Bisa dipaused, bisa sambil makan/minum, bisa distop dan dilanjutin besok. Yang tadinya punya 2 mobil, akan cuma punya 1 mobil. Yang tadinya punya 1 mobil, akan jual mobilnya. Karena kebutuhan untuk mobile menjadi lebih sedikit. Meeting yang tadinya janjian harus di sebuah kantor atau di cafe/resto, akan lebih banyak via video call. Sepatu mahal, jam tangan mahal, perhiasan, baju mahal ngga akan lagi jadi prioritas. Karena semakin jarang keluar rumah, barang-barang untuk dipamerin ini menjadi ngga berguna. Kalau bisa belajar dari laptop, ngapain dateng ke seminar/offline events? Akan disiapin 1 pojokan di rumah/kosan untuk WFH (ditata lebih rapih, biar ngga malu-maluin). Rumah makan akan transformasi menjadi “Dapur”, prioritasin delivery. Ngga perlu sewa lokasi yang besar, strategis dan mahal. Catering akan menjamur. Perusahaan ngga perlu lagi kantor besar. Gedung kantoran akan jadi apa nantinya? Lokasi tempat tinggal ngga lagi penting dan harus di tengah kota karena karyawan ngga lagi harus ke kantor setiap hari. Harga tanah di pinggir kota akan mulai menyusul harga tanah di tengah kota. Mall isinya akan lebih banyak untuk ‘experience’ dibandingin untuk shopping. Restoran yang masih akan hidup: fine dining karena yang dikedepankan bukan cuma soal rasa tapi soal ‘experience’nya. 1% orang kaya atau 10% orang kaya, masih akan bersedia untuk bayar mahal untuk makan di restoran meskipun online food delivery sudah menjadi norma baru dikeseharian. Perabotan rumah akan booming, karena semakin sering di rumah, semakin banyak perabotan yang mau dibeli. Dan masih ada banyak lagi. Ada prediksi perilaku baru di kehidupan setelah Covid yang kamu tau? Please share ya, biar kita bisa belajar bareng. See you On Top! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 8/5/2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.