Kekuatan dan Jebakan Brand

#BBCNote14 Sebelum saya nulis tentang kekuatan dan jebakan brand, dislcaimer dulu: Saya passionnya brand management sejak kecil. Saya kuliah S2 (MBA) fokusnya ke brand management. Sepanjang karir profesional saya handle Nike, Umbro, League, Oakley, Hard Rock Cafe, dan Haagen Dazs. Dan sekarang saya handle my own brands: YOT, TopKarir, Maingame, dll. Boleh ya, saya nulis pandangan saya soal brand? Here it is… Brand itu yang bikin sebuah produk, jasa, dan organisasi dianggep keren sama orang-orang. Brand itu yang bikin orang-orang mau terlibat, mau terasosiasikan sama sebuah produk, jasa, atau organisasi karena alasan psikologis. Brand itu yang bikin sebuah produk dan jasa harganya jadi lebih mahal daripada fungsi dasarnya. Itu kekuatan brand. Di mata saya, jangan pernah bikin produk, jasa, gerakan yang cuma mengedepankan fungsinya. Ciptain brandnya! Jelasin ke orang-orang, kenapa brand itu kamu ciptain, purposenya apa, kenapa kamu kepikiran bikin brand itu, baru fungsi-fungsi dasarnya dari produk, jasa, atau gerakan yang kamu bikin. Kebanyakan orang, mulainya dari apa yang mereka mau lakuin (fungsi dasar), trus langsung jualan. Kalau ini yang kamu lakuin, maka produk dan jasa yang kamu ciptain hanya akan jadi sebuah komoditas. Harga yang bisa kamu pasang, ya cuma sepadan dengan fungsinya. Contoh: Baju fungsinya untuk menutupi tubuh. Sebuah kaos tanpa brand kalo dijual sebagai kaos, mungkin harganya bisa cuma Rp10,000 (biaya produksi misal Rp8,000, untungnya Rp2,000). Tapi, kalau Nike jual kaosnya, bisa dihargain sampe Rp500,000, padahal biaya produksinya mungkin cuma Rp100,000. Ngerti ya? Nah, dari ketiga poin kekuatan brand di atas, semua brand itu pengen bisa capai poin nomer 2. Mereka pengen banget kalau orang-orang pengen terasosiasikan dengan brandnya secara psikologis. Ini yang saya sebut jebakan brand. “Kalau saya nyetir BMW, saya berasa lebih pede”, “Kalau saya lagi pake jam tangan Rolex, saya berasa keren”, “Kalau saya pake iPhone, saya ngerasa keren”, “Kalau saya ikut kegiatan YOT, saya hepi dan ngerasa keren”, dan seterusnya. Apakah yang saya sebut sebagai jebakan brand ini karena ada kata “jebakan” maka otomatis jelek? Tergantung dari sudut pandangnya. Ngga selalu jelek. Sah-sah aja untuk punya emotional enggagement (keterikatan) terhadap sebuah brand. Saya juga kok, paling suka kalau pake kaos Nike dan kaos YOT. Suka aja. Ngga bisa dijelasin kenapanya. Bangga rasanya. Nah, yang saya mau tekankan di sini adalah: JANGAN baru pede dan ngerasa keren kalau lagi pake brand tertentu. Kalau kamu masih ngerasain hal ini, berarti kamu belum pede sama diri kamu sendiri. Masa untuk ngerasa keren, harus pake tas LV, pake Patek Philippe, nyetir BMW, pake minyak wangi Hugo Boss, pake sepatu Bally? Trus kalau lagi ngga pake itu, kamu ngga punya rasa percaya diri? Kamu hanya kumpulan daging dan tulang doang? Saya ngga ngerasa minder kalau saya selalu pake jam tangan amazfit (smart watch) yang saya beli 3 tahun lalu seharga Rp1.6juta. Temen-temen saya pada pake apple watch yang harganya 3-4x di atas itu. Saya minder ke mereka? Ngga sama sekali. Dua mobil yang saya punya, dua-duanya mobil bekas. Yang satu tahun 2013 (Nissan Teana), yang satu tahun 2015 (Grand Livina). Malu? Ngga sama sekali. Apakah suatu hari saya akan beli mobil sport (saya suka mobil sport dan saya suka nyetir)? Yes, tapi bukan untuk nambah pede saya, untuk dipamerin, untuk naikin pede saya, tapi untuk saya setir setir di akhir minggu berdua istri, breakfast di Puncak Pass (lewatin tol jagorawi) atau ke Anyer. Nah, gimana supaya kamu bisa ngga kena jebakan brand? Bener2 kenalin diri sendiri. Apa kelebihan kamu, apa kekurangan kamu. Apa purpose hidup kamu. Apa passion kamu. Apa hobi kamu. Perluas wawasan kamu. Jangan jadi katak dalam tempurung. Jadi kalau ketemu orang, mau diajak ngobrol tentang apapun, kamu bisa nyambung. Perbanyak karya yang kamu ciptain. Semakin banyak accomplishment yang kamu punya, kamu akan semakin pede. Proven track records adalah kuncinya. Kalau kamu bisa lakuin 3 hal ini, kamu ngga akan kena jebakan brand. Mungkin kamu akan tetep beli brand-brand keren, tapi bukan lagi untuk dipamerin atau untuk gengsi, tapi untuk kamu NIKMATIN fungsi dan kualitasnya. See You ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 4/7/2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

Sukses dan Kecepatan Pikiran

#BBCNote13 Saya sudah sedang membiasakan diri untuk meditasi ketika baru bangun tidur di pagi hari. Kenapa? Karena saya sadar bahwa selama hidup saya ini, saya selalu berada di ‘jalur cepat’. Di kuliah saya maunya lulus cepat, di karir saya maunya naik jabatan dan dapat kepercayaan yang lebih besar terus setiap tahun. Di bisnis, ngga ada hentinya saya berpikir: “Apa lagi yang bisa saya lakukan? Karya apa lagi yang bisa saya ciptakan? Saya bisa bermanfaat di mana lagi?” Meditasi membuat saya balik ke saat ini. Nah, ide topik menulis ini, jujur saya dapatkan ketika meditasi pagi ini. Saya berusaha untuk fokus ke nafas, melatih kepekaan saya terhadap apa yang saya rasakan dengan tubuh saya (gatel, pegal, dll). Di tengah meditasi, saya mendadak teringat situasi saat saya di Paris (karena saya ditemani suara hujan di video meditasinya). Kalau kata expert: “Ngga apa pikiran mendadak melayang jauh, yang penting, ketika sadar, langsung balikin ke tubuh, saat ini.” Nah di sini saya sadar, bahwa kalau ada yang bilang, “Yang tercepat di dunia ini adalah kecepatan cahaya”, saya ngga setuju. Karena menurut saya, yang tercepat itu adalah KECEPATAN PIKIRAN. Detik ini, pikiran kita bisa di sini, 0.5 detik kemudian, pikiran kita bisa di Amerika, di bulan, di manapun kita mau. Kata kuncinya: “di manapun kita mau”. Artinya apa? Artinya, kita bisa mengendalikan pikiran kita, asalkan kita mau. Inilah kunci orang-orang sukses. Mereka sadar bahwa mereka bisa mengendalikan pikiran mereka. Mereka juga sadar bahwa kecepatan pikiran mereka itu ngga ada batasnya, dan mereka gunain itu untuk mencapai sukses yang mereka inginkan. Sementara miliaran orang di dunia ini menyia-nyiakan kekuatan pikiran mereka, 2% orang di dunia ini bukan cuma menggunakan kekuatan pikiran mereka, tapi mereka gunain kecepatan pikiran mereka. Kenapa ini penting? Karena pikiran kita yang akan mendikte apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Semakin kita bisa berpikir secara cepat, semakin banyak hal yang akan kita bisa lakukan. Ilustrasinya gini: Si A mikirnya lambat, dia cuma bisa berpikir 10 hal dalam 1 hari, maka kemungkinan dia akan menyelesaikan 10 hal tersebut dalam 1 minggu. Kalau si B mikirnya cepat, dia bisa berpikir 50 hal dalam 1 hari, maka kemungkinan dia akan bisa menyelesaikan 50 hal tersebut dalam 1 minggu. Jelas ya, bahwa semakin banyak yang kita hasilkan, semakin karya kita bisa dirasakan manfaatnya untuk semakin banyak orang, maka kita akan semakin sukses. Seberapa cepat pikiran kamu? Apakah kamu mau gunain kekuatan pikiran kamu untuk mencapai kesuksesan? Apakah kamu siap untuk melakukan apa yang sudah kamu pikirkan? Atau kamu masih mau santai-santai aja, dan males gerak? Terserah. Pertanyaan-pertanyaan ini untuk kamu rengungkan. Let me know what you think di kolom komen ya. Kalau ada yang mau ditanyain, silahkan. See You ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 3/7/2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

Kamu Pasti Bisa! That’s B.S.

#BBCNote13 Pasti pernah dong ya dengar kata-kata motivasi “Kamu pasti bisa!”? I think that’s bullshit. Saya prihatin sama orang-orang yang suka ‘dimotivasi’ dengan kalimat itu. Kenapa? Karena motivasi yang tumbuh di dalam dirinya bakal mati dalam hitungan detik, menit, jam, hari, minggu, dan bulan. Setelah mati, mereka pengen lagi dengar ada yang ‘memotivasi’ mereka dengan kalimat yang sama persis itu. That’s why i called that B.S. Pada kenyataannya, ngga semua orang bisa ngelakuin semua hal. Kalau ada motivator yang bilang, “Saya dulu miskin, saya belajar trading saham di bursa, sekarang saya kaya raya. Kalau saya bisa, kamu pasti bisa!” Yeah rite. Saya ngga bilang kamu pasti ngga bisa. Kemungkinan kamu bukan cuma sekedar bisa, tapi malah bisa lebih sukses dari si sang motivator, ada. Yang saya mau tekankan di sini, kata “pasti” ngga seharusnya ada di kalimat ini. Siapa kamu? Tuhan? Bisa tau masa depan? Kalau tujuannya untuk bakar semangat, kayaknya yang perlu juga ‘jual semangat’ deh. Saya ngerasa, orang yang sedang berjuang menuju sukses itu perlu dikasih inspirasi, caranya, dan juga segala kesulitan-kesulitannya, serta faktanya bahwa ngga semua orang bisa ngelakuinnya. Makanya saya ngga pernah bilang, “Kalau saya bisa bikin perusahaan, kamu pasti bisa”, saya juga ngga pernah bilang, “Kalau saya bisa jadi orang nomor 1 di sebuah perusahaan di umur 26 tahun, kamu juga pasti bisa.” Saya tahu di luar sana banyak yang sudah berusaha, tapi ngga bisa. Saya juga tahu di luar sana ada yang bahkan di umurnya yang masih muda atau lebih muda dari saya sudah jauh lebih sukses daripada saya. Inti dari tulisan ini, saya berharap kalian ngga menjadi orang-orang yang ‘perlu di motivasi’ dulu sama orang lain untuk gerak. Saya selalu bilang, “Motivasi yang sesungguhnya itu cuma ada di dalam diri sendiri”. Kita semua ngga perlu dimotivasi. Gimana caranya? Kenalin diri kamu. Apa kelebihan dan kekurangan kamu. Apa purpose hidup kamu. Apa passion kamu. Biasakan untuk punya habit/kebiasaan rutin yang positif: perluas wawasan (baca buku, baca berita, nonton youtube akan hal-hal yang bisa bikin kamu jadi lebih cerdas) Punya teman / network yang luas. Pastikan teman dan network kamu itu diisi sama orang-orang yang positif dan punya value yang sama (orang baik, yang punya integritas, yang suka nolong orang lain, dan bukan orang yang dipenuhi sama rasa iri, pikiran negatif, dan punya niat menghalalkan segala cara untuk sukses). Kalau ketiga hal ini sudah kamu lakuin, percaya deh, kamu udah jadi individu yang punya kesempatan sukses yang lebih besar dibanding mereka yang masih suka ‘dimotivasi’ dengan kata-kata bullshit: “Kamu pasti bisa!” Selamat mencoba. Kamu pasti bisa! 🙂 See You ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 28/6/2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari yang saya tulis untuk diposting di manapun tanpa ijin tertulis dari saya.

Yang Kaya Semakin Kaya. Kenapa?

#BBCNote12 Ada yang bilang: “Ngumpulin Rp1M pertama itu yang paling susah. Begitu udah punya Rp1M pertama, bikin jadi Rp10M itu udah lebih gampang.” Apakah benar? Kalau benar, kenapa? Kok bisa? Kalau dari yang saya amati, pernyataan di atas emang benar. Makanya orang yang kaya akan semakin kaya. Orang yang belum kaya, fokusnya ‘cuma satu’: bertahan hidup. Kalopun ada yang kedua: nabung dikit-dikit untuk biaya sekolah anak, bahagiain keluarga (traveling, belanja, nonton bioskop), dan siapin masa pensiun. Dan ini wajar, karena memang bertahan hidup adalah hal yang paling mendasar. Manusia butuh makan dan butuh tempat tinggal. Kalau kedua hal ini sudah bisa tercapai (meski tempat tinggal masih sewa), barulah hal-hal lain mulai dipikirkan. Tapi sadarkan ya kalau semua yang saya tulis di atas itu ngga ada hubungannya sama memultiplikasi uang yang dimiliki. Sementara, orang yang kaya, atau setidaknya yang sudah punya semua itu di atas, mikirnya sudah satu step lebih maju: Bagaimana membuat uang yang mereka sudah miliki menjadi lebih banyak lagi. Tujuannya macem-macem: biar bisa lebih banyak bersedekah, biar bisa makan lebih enak, biar bisa tinggal di rumah yang lebih besar/nyaman, biar bisa traveling ke manapun dan kapanpun mereka mau, dan supaya ngga perlu khawatir akan masa tua mereka. Jadi, apa yang mereka lakuin, yang bikin mereka yang sudah kaya menjadi semakin kaya? Punya multiple source of income. Oke, satu bisnis mereka berhasil. Apakah mereka puas? Apakah mereka hanya akan ambil gaji besar, ambil dividen besar, kemudian mereka foya-foya? Ngga! Mereka biasanya membuat bisnis baru. Uang yang mereka dapetin dari bisnis-bisnis yang mereka bikin itu kemudian mereka investasikan ke tempat lain: invest di startup, beli saham, beli properti (yang dalam jangka panjang nilainya pasti akan naik terus). Mereka menunda semua jenis ‘kebahagiaan’ yang dilakukan oleh banyak orang yang belum kaya. Kenapa mereka tunda? Apakah mereka ngga mau liburan dan senang-senang? Apakah mereka ngga mau punya rumah yang besar/nyaman? Mau. Tapi, mereka cerdas. Mereka akan keluarkan uang untuk liburan dan beli rumah yang megahnya bukan dari ‘hard-earned income’ (active income). Jerih payah yang mereka hasilkan dari keringat mereka, ditabung dan diinvestasikan. Nah hasil investasinya yang merupakan passive income (uang menghasilkan uang) yang mereka pake untuk liburan dan beli rumah megah, dan mereka investasikan lagi! Gaji ngga akan bisa bikin kamu kaya, seberapa besar gaji kamu saat ini. “Mas Bill, gaji saya Rp100 juta per bulan, saya bisa kaya.” Ya ya ya. 10 tahun dari sekarang, coba lihat uang yang ada di bank, saya jamin NGGA MUNGKIN Rp12 miliar (Rp100 juta x 12 bulan x 10 tahun). Ngga mungkin. Karena gaji kamukan pasti kepotong biaya untuk hidup. Kalau biaya hidup kamu Rp10 juta per bulan dan kamu hidupnya super irit, berarti biaya hidup kamu 10 tahun itu = Rp1.2M. Artinya, kekayaan kamu Rp10.8M. Apakah ini kaya? Tergantung penilaian kamu. Tapi, bayangkan kalau dari gaji kamu Rp100 juta per bulan, biaya hidup kamu Rp10 juta per bulan, 60-70%nya kamu tabung, dan 30-40%nya kamu investasikan. Jangan kaget kalau investasi yang kamu pilih tepat, setelah 10 tahun, kekayaan kamu bisa lebih dari Rp50M. Yes, kuncinya: berinvestasi di instrumen yang tepat. Saya akan bahas di tulisan lain di lain kesempatan. At least, you get my point ya. So, udah tau ya mindset orang-orang kaya gimana dan kenapa mereka bisa semakin kaya? Now, apakah kamu pengen jadi orang kaya? Atau pengennya gini-gini aja? Apapun pilihan kamu, ngga ada yang salah. That’s your life. Up to you. See You ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 20/6/2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

Bedanya Orang Kaya dan yang Belum Kaya

#BBCNote12 Meskipun ngga semua orang pengen kaya (katanya), di dalam hatinya, mereka pengen bisa hidup nyaman (berkecukupan), dan ini berhubungan sama uang yang dimilikinya. Kita hidup di dunia yang modern, bukan lagi di jaman barter kalau kita mau suatu barang, harus kita tukar dengan barang yang kita punya. Masih tukar menukar sih, tapi dengan alat pembayaran yang namanya uang. Ketika terjadi tukar menukar barang dengan uang, itulah yang kita sebut dengan transaksi. Jadi, pada dasarnya, saya percaya bahwa hampir semua orang sebenarnya sadar bahwa memiliki uang yang cukup itu penting. Betul, bahwa uang ngga bisa membeli kebahagiaan. Tapi, uang bisa membeli barang, uang bisa membuat kita lebih bebas (memilih), uang bisa membuat kita lebih banyak berbagi, dan ini bisa mengacu kepada kebahagiaan kita. Ada kebahagiaan yang sifatnya sementara, ada yang selamanya. Inilah list beberapa perbedaan orang kaya dengan orang yang belum kaya: Perspektif orang kaya terhadap uang: positive. Orang yang belum kaya seringkali berpikir uang adalah sumber segala negatif (rakus, perang, kapitalisme yg menyebabkan kemiskinan, dst) Orang kaya sudah mengajarkan anak-anaknya dari kecil dengan perspektif baik tentang uang, sehingga ketika mereka dewasa, mereka “bersahabat” dengan ide untuk dekat dengan uang yg membuat mereka kemudian menjadi kaya. Sementara orang yang belum kaya, jelas ngga bisa ngajarin anaknya tentang uang, karena mereka ngga punya uang atau masih berjuang untuk punya uang. Orang kaya punya beberapa atau banyak sumber pendapatan. Orang yang belum kaya, biasanya cuma punya satu sumber pendapatan. Orang kaya selalu bisa memotivasi dirinya sendiri. Orang yang belum kaya ngerasa perlu dimotivasi oleh motivator. Orang kaya punya rasa penasaran yang sangat tinggi, dan kalau dia sudah penasaran, dia akan pelajari hal tersebut sesering mungkin dan dari sumber yang bermacam-macam sampai dia merasa ngerti. Meski sudah ngerasa ngertipun, dia akan terus belajar karena dia ngerasa ilmunya masih belum cukup. Orang yang belum kaya ngga punya rasa penasaran yang tinggi, dan memilih untuk terus berada di comfort zone, dengan pemikiran: “Saya udah nyaman di sini, ngapain harus pelajari hal baru, males ah.” Orang kaya sadar bahwa punya teman yang banyak itu penting, karena baginya teman = network dan network bisa mendatangkan kesempatan baru. Orang yang belum kaya jumlah temannya ya segitu-segitu aja karena merasa ngga nyaman kalau harus kenalan sama orang baru, karena enakan ngobrol dan hangoutnya sama yang udah kenal aja. Orang kaya ketika membeli barang, bukan lagi untuk gengsi tapi untuk fungsi dan emang beneran karena dia suka sama brand dan kualitas produknya. Orang yang belum kaya, beli barang mahal untuk dipamerin ke teman-temannya karena masih haus sama pujian. Orang kaya makan makanan yang dia suka, yang sehat, bukan makan suatu mahakan karena mahalnya dan gengsinya. Kalau dia ke restoran mewah, karena memang suka sama suasananya, kualitas makanannya, dan kualitas pelayanannya. Kalau orang yang belum kaya, akan mengatakan bahwa mereka ngga ke restoran yang mahal, karena berbagai alasan… tapi sebenarnya karena dia ngga punya duit dan ngga sanggup untuk makan di resto mahal tersebut. Orang kaya selalu menghargai waktu dan kesal sama orang yang ngga ngehargain waktu. Orang yang belum kaya, karena ngga punya karya, ngga punya perusahaan, dan masih kerja hanya kalau disuruh… ya jelas yang dia punya cuma waktu, dan karena ngerasa waktunya banyak, maka dia take it for granted. Seringkali mikirnya: “Ah telat-telat dikit okelah”, yang mana ini adalah hal tabu buat orang kaya. Kenapa? Karena orang kaya ngerasa satu-satunya hal yang terbatas dan ngga bisa di-rewind adalah waktu. Pas resesi, orang kaya senang karena yang dia lihat adalah kesempatan untuk beli-beliin stok, sementara orang yang belum kaya akan fokus kehilangan nilai saham yang dia sudah beli sebelum resesi. Saya masih bisa kasih “sejuta list” lainnya yang membedakan orang kaya vs. orang yang belum kaya. Tapi semoga apa yang saya tulis ini, bisa ngebuka pikiran kalian semua. Untuk yang mau nambahin, silahkan tulis di kolom komen ya. Let’s share pemikiran kita untuk orang lain. See you On Top! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 16/6/2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.