5 Kendala yang Dihadapi Entrepreneur

#BBCNote7 Banyak banget yang pengen jadi entrepreneur. Jadi entrepreneur itu erat dengan image: sukses, kaya, keren, dan bebas waktunya. Kenapa image ini yang melekat di otak kita? Karena memang ketika kita lihat entrepeneur sukses, mereka itu kaya, keren, dan waktunya terlibat bebas (bisa liburan kapan aja, ngga usah nunggu liburan Lebaran dan Natal/Tahun Baru). Tapi kata kunci dari kalimat saya barusan: sukses. Artinya, entrepreneur harus sukses dulu untuk bisa ngerasain itu semua. Dan kita semua tau bahwa sukses itu ngga ada yang instan. Butuh waktu, butuh perjuangan. Nah, yang ngga keliatan sama orang-orang itu adalah perjalanan dan perjuangan yang harus dilaluin oleh entrepreneur, sampai dia meraih sukses. Begitu sukses, baru deh kita bisa baca kisahnya dimana-mana. (Baca tulisan saya: Kenapa Entrepreneurs Bisa Kaya) Sama persis dengan atlet. Pelari sprint 100 meter di Olimipiade, kita semua lihat mereka beraksi di tv selama 10 detik. Trus kita bilang, wah hebat ya, dia dapet medali emas, perak, dan perunggu. Hebat ya mereka bisa lari dibawah 10 detik. Kita hanya ngeliat suksesnya doang. Kita ngga tau bahwa selama 4 tahun mereka latihan setiap hari, dan latihannya bukan cuma latihan lari, tapi latihan macem-macem, termasuk jaga makan. Mereka ngga bisa tuh makan nasi goreng, bakmi, gorengan, mi instan, KFC, McDonald, dan semua makanan yang sering kita makan setiap hari. Inilah perjuangan seorang atlet yang kita ngga tau. Jadi, apakah bener, jadi entrepreneur itu enak? Kendala apa aja yang hampir pasti dihadapi sama entrepreneur yang masih berjuang untuk meraih sukses? Memilih partner bisnis yang tepat itu kayak nyari jodoh. Gampang-gampang susah. Untuk dapetin partner bisnis mah gampang, tinggal tunjuk jadi. Tapi apakah nyari yang tepat yang susah. Beneran deh, persis banget kayak cari pasangan hidup. Yang pasti, harus ada chemistrynya, punya value yang sama, dan punya purpose mendirikan bisnisnya sama. Jangan misal kamu maunya bisnis yang kamu dirikan untuk supaya bisa bantu banyak orang, sementara partner kamu mikirnya cuma duit doang. Ini pasti berantem di tengah jalan, dan bubar. Ngga ada tuh kerja ‘hanya’ Senin-Jumat, jam 8-5 sore. Semua entrepreneur yang masih merintis bisnisnya diwajibkan untuk muterin otaknya 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 365 hari setahun. Ngga kenal weekdays dan weekends. Ngga kenal liburan. Kalaupun di akhir tahun maksain liburan sama keluarga, otaknya tetap nempel sama bisnisnya. Bayar gaji karyawan dan THR seringkali jadi kendala yang hampir wajib ditemuin sama semua entrepreneur baru. Saya pernah ngerasain bangun tengah malam, keringetan dan dalam keadaan air mata sudah mengalir ke pipi saya. Saya pernah ngerasain stres ngga bisa bayar gaji karyawan saya, di masa saya sendiri belum gajian selama berbulan-bulan dan kartu kredit saya sudah mentok untuk nalangin gaji karyawan. Belum dipercaya sama klien, belum bisa dapetin sales yang cukup untuk nutupin biaya operasional kantor. Ketika bisnis baru dibuat, susah banget dapetin klien. Karena kita pasti harus bersaing sama produk yang sudah duluan ada di pasar, apalagi kalau produk-produknya itu sudah lama di pasaran, artinya mereka sudah punya banyak klien, sudah dapetin trust dari pasar. Perjuangan bisnis baru itu bukan cuma hitungan hari atau bulan. Kebayang ngga kalau kamu harus berjuang setiap hari selama 7 tahun non stop dan ngga boleh nyerah? Itu yang saya hadapi ketika membangun YOT dari nol. Selama 7 tahun keuangan YOT minus, dan keuangan saya pribadi juga minus. Gimana supaya ngga give up, dan untuk bisa terus memotivasi diri sendiri itu juga yang jadi kendala besar yang harus dihadapi. Salah satu tricknya: berteman dan bertukar cerita susah/sukses sama entrepreneur lain (harus jujur, jangan jaga image), baca buku-buku orang sukses (karena semua bercerita tentang kegagalan mereka yang seringkali malah lebih besar daripada yang kita sedang hadapi), nonton video-video tips sukses di youtube. Susah? Iya,.. tapi kalau kamu bisa lewatin ini semua, the reward is amazing. Sekarang pertanyaannya: Apakah kamu mau jadi entrepreneur? Siap mentalnya? See you On Top! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 30/4/2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.  

Kenapa Entrepreneur (bisa) Kaya?

#BBCNote 6 Dulu ketika baru lulus kuliah, karena dari kecil saya ngga pernah disuruh jadi pengusaha sama orang tua, saya berpikirnya: pengen jadi CEO biar gajinya gede. Beruntung di kerjaan pertama saya handle brand Nike, saya jadi satu-satunya karyawan yang dipromosiin jatabannya setiap tahun, selama 4 tahun berturut-turut. Setiap promosi jabatan, of course, gaji naik. Setelah itu saya pindah ke Oakley, gaji saya naik lagi. Ketika saya gabung di MRA Group, gaji saya naik lagi. Yang ada di benak saya saat itu: gaji bulanan dan bonus harus naik terus setiap tahun. Sekarang gimana? Udah 11 tahun saya jadi entrepreneur. Anehnya, saya malah udah ngga ‘semata-duitan’ dulu. “Ah masa sih, mas Bill? Buktinya apa?” Selama 7 tahun pertama saya bangun Young On Top dari nol, finansial pribadi saya selalu minus. Sampe harus berhutang ke temen-temen udah jadi hal yang biasa. Rasa malu, harus ditelen demi YOT bisa terus ada dan berkembang. Itu dulu… sekarang? Yang pasti, kerja keras ngga akan pernah sia-sia. 🙂 Jadi, sebenernya, gimana income di mata entrepreneur? Kok mereka bisa kaya? Mungkin ngga semua entrepreneur sama loh ya pemikirannya sama saya. Tapi, yang menjadi prioritas utama bagi seorang entrepreneur itu adalah kelangsungan dan perkembangan perusahaan. Kenapa? Apakah supaya si entrepreneur bisa dapet gaji gede? Itu iya, tapi bukan jadi yang prioritas. Entrepreneur yang baik akan selalu mikir jangka panjang: seberapa besar dampak positif yang bisa diberikan oleh perusahaan kepada masyarakat. Kenapa? Karena semakin besar dampaknya, semakin besar pula nilai perusahaannya secara Rupiah. Contoh: Kenapa Google bisa segede hari ini? Karena mayoritas penduduk dunia yang ada lebih dari 7 miliar orang, gunain jasanya Google. Jadi jangan heran kalau Google jadi salah satu perusahaan terbesar di dunia. Dengan kata lain, entrepreneur lebih mengedepankan nilai perusahaan dibandingkan pendapatan pribadinya. Pernah denger High Net Worth Individuals? Kalau dibahasa Indonesiainnya: Orang Tajir Melintir. Nah mereka yang dianggap super atau ultra rich ini, dasar perhitungannya bukan sebatas pendapatan mereka (gaji dan bonus), tapi lebih kepada nilai kekayaan (aset) yang mereka punya, termasuk nilai perusahaan yang mereka miliki. Lalu, apakah income ngga penting bagi entrepreneur? Jelas, penting! Trus gimana cara pandang entrepreneur terhadap pendapatan? Gimana cara entrepreneur memperkaya diri sendirinya (sambil membesarkan perusahaannya)? Mereka melakukannya dengan memiliki multiple sources of income. Yes, rata-rata, entrepreneur itu pendapatannya ngga cuma dari satu sumber. Kalau karyawan biasanya sumber pendapatannya ya dari gaji yang diterima setiap bulan, kalau entrepreneur ngga. Ketika saya banting setir jadi entrepreneur fokus ngebangun YOT, dan YOT-nya minus setiap tahun, gimana cara saya hidup selain sampai harus berhutang sana sini? Saya dapet royalti dari hasil penjualan buku YOT meski (dapet duit), saya sharing pengalaman bekerja dan berbisnis di berbagai seminar (dapet duit), saya jadi Host program mingguan di Metro Tv: “Young On Top” selama 2 tahun (dapet duit), saya jadi Produser dan Host di program talkshow radio mingguan di Kis fm, kemudian pindah ke Sindo Trijaya, Global, dan terakhir di Smart Fm (dapet duit dari sponsor). Ini contoh nyata yang saya lakukan untuk bisa punya multiple income sources. Apakah jadi karyawan bisa kaya? Bisa, dengan catatan, kamu harus punya pendapatan lain dari gaji yang kamu dapet setiap bulan. Gaji itu active income alias uang yang kamu dapat dari waktu dan kontribusi yang kamu hasilkan. Kalau kamu hanya ngarep kaya dari gaji, sah-sah aja, tapi ini kayak kamu mimpi di tengah siang bolong. “Mas Bill, kalau punya gaji Rp200juta sebulan, bisa kaya juga kan?” Tergantung kamu mengartikan kaya itu dengan punya berapa duit. Rp200juta per bulan, artinya Rp2.4M per tahun. Dikali 10 tahun = Rp24M. Itu kalau kamu ngga makan sama sekali, ngga beli barang sama sekali. Anggaplah kamu irit orangnya, di akhir 10 tahun, yang berhasil kamu tabung Rp15M. Apakah kamu kaya? Balik lagi, tergantung seberapa kamu mengartikan kata “kaya”. Tapi gini… poin yang saya mau tekankan: Bayangkan kalau gaji kamu Rp200juta per bulan, dan sebagiannya kamu investasiin. Yes, ada investasi yang gagal, ada yang berhasil. Ini juga tergantung dari kepinteran kamu milih duitnya kamu mau puterin kemana. Tapi kalau ini yang kamu lakukan dengan awalnya sedikit-dikit, dan tentunya dengan hati-hati dan tidak rakus, saya cukup yakin di akhir 10 tahun, nilai kekayaan kamu akan jauh di atas Rp15M, bisa Rp50M, mungkin Rp100M? Nah ini baru kaya. Jadi, di mata entrepreneur, income itu penting, tapi bukan yang terpenting. Dan entrepreneur, biasanya punya lebih dari satu sumber penghasilan. Ada berapa sumber penghasilanmu saat ini? See you On Top! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 26/4/2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

Yang Saya Perhatikan Ketika Invest di Startup

#BBCNote5 Suatu saat, saya akan nulis tentang investasi di bursa saham, but not today. Di note kali ini, saya mau nulis tentang apa yang ada di benak saya dan apa yang saya perhatikan sebelum saya mengambil keputusan untuk invest di sebuah perusahaan startup berbasis digital/technology. Perusahaan startup digital pertama saya: GDILab, perusahaan yang awalnya bergerak di social media analytic. GDILab lahir tanggal 1 Desember 2013. Sejak GDILab, saya ngga cuma tertarik, malah sampe passionate di digital technology. Fast forward ke hari ini, perusahan-perusahaan startup yang saya terlibat di dalamnya: topkarir.com (career platform), bizhare.id (equity crowd funding platform), dan maingame.com (game platform). Young On Top pun, yang awalnya adalah perusahaan yang fokusnya untuk pengembangan karakter anak-anak muda Indonesia secara offline, sejak umurnya memasuki dekade kedua, sudah fokus ke digital, YOT2.0. Pertanyaannya, apa yang ada di benak saya ketika saya memutuskan mau terlibat dan invest di perusahaan-perusahaan tersebut? Startupnya harus bisa menguatkan ekosistem YOT. Karena purpose YOT: to create stronger next generations of Indonesia, maka startup yang saya lirik haruslah startup yang peduli dan diharapkan mampu untuk mengempower anak-anak muda Indonesia. Trus, maingame.com kan perusahaan game, bisa mengempower kayak gimana? Makanya, cobain main game-gamenya maingame.com dong, di situ sudah ‘disuntik’ value-value YOT: ajakan untuk ngga gampang give up, dst. Dan, kalau mau diperhatikan, main game itu sebenernya ngajak pemainnya untuk berpikir kreatif, untuk ngga gampang give up dan persistent. Coba lagi, coba lagi, sampai berhasil. Foundernya harus punya kesamaan value dengan saya (value-valuenya YOT), diantaranya: mau belajar, ngga sok tahu, humble, punya purpose yang jelas kenapa dia mendirikan perusahaannya, dan bisa respect semua orang. Kenapa value-value ini penting? Karena saya percaya, orang yang sukses bukan orang yang pinter doang, tapi orang yang punya karakter baik. Kedepannya, apakah saya akan terus investasi di dunia digital? Untuk sementara waktu ke depan, kemungkinan tidak. Saya harus memastikan perusahaan-perusahaan yang ada di dalam ekosistem YOT harus bisa berkembang dan bermanfaat untuk banyak orang. Selain juga karena kesibukan saya sebagai Advisor Bank BRI saat ini. Tapi, apakah perusahaan-perusahaan yang ada di ekosistem YOT akan invest di perusahaan startup lainnya? Why not? Kalau bisa menguatkan ekosistem YOT, saya pasti merestui. Tapi, meski saya pribadi ngga lagi jadi Angel Investor kedepannya, saya akan tetap memantau dan melirik perusahaan-perusahaan startup yang akan bisa punya impact positif yang masif bagi bangsa. Startup apa yang saya akan pantau dan lirik mulai saat ini? Startup yang menguatkan startup B2C. Bingung? Ngga apa, suatu hari akan saya jelasin apa maksudnya. For the time being, kalau mau invest, inget sama 2 poin di atas ya: 1) yang sesuai sama purpose/passion kamu dan 2) yang foundernya punya purpose yang jelas dan karakter baik. See You On Top! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 25/4/2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

Inilah Daftar Channel-channel Youtube Tempat Saya Belajar

#BBCNote3 Belajar bisa dari mana aja. Termasuk dari Youtube. Kalau saya perhatiin jumlah view video-video di Youtube, saya notice bahwa video-video yang serius kayak berita (news) maupun edukasi (motivation, seminar, interview/talkshow, presentasi) … jumlah viewnya ‘ngga ada yang banyak’. “Ah kata siapa, mas Billy? TedTalk banyak tuh yg nonton, sampe jutaan.” Jutaan banyak ngga? Yes, banyak TAPI … untuk jumlah pengguna Youtube yang miliaran, 3 juta, 5 juta, 10 juta view itu sedikit sekali. Bandingkan sama video musik deh. Videonya Justin Bieber bisa ditonton sampai lebih dari 1 miliar. Video lagu “Gangnam Style” menjadi video di Youtube yang tembus angka view 1 miliar untuk kali pertama di tahun lagu tersebut diluncurkan. Saya ngga heran kenapa video-video serius ngga banyak yang nonton, ya karena emang secara kenyataan, meskipun semua orang kalau ditanya, “Mau sukses ngga?”, jawabannya pasti “Mau”, tapi sesungguhnya, yang bener-bener mau sukses hanya sedikit sekali. Menurut saya, di dunia ini hanya ada sekitar kurang dari 2% orang yang sukses. Merekalah orang-orang yang bilang mau sukses dan bener-bener belajar dan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa sukses di dalam hidupnya (apapun arti sukses bagi orang tersebut, ngga melulu soal uang loh ya). Anyway, berikut channel/video Youtube tempat saya belajar di Youtube: Alux.com. Video-videonya menarik, seputar mindset sukses di bisnis. TedTalk. Video-videonya tentang presentasi/interview: Simon Sinek (penulis buku “Starts With Why”), Bob Iger (Chairman Disney), Chamath Palihapitiya (Founder & CEO Social Capital) Bloomberg Technology untuk tau update/perkembangan dunia bisnis dan technology dari Silicon Valley, juga “Studio 1.0” with Emily Chang dimana dia menginterview CEO super sukses dunia. “High Flyers” with Haslinda Halim “Managing Asia” with Christine Tan dan berbagai talkshow orang-orang sukses di berbagai forum seminar internasional Saya punya hobi masak, jadi saya sering banget nonton video-video masak di Youtube, diantaranya: Guga Food. Fokusnya untuk masak steak. Yummy, my favorite. William Gozali. Chef asal Indonesia yang banyak demoin masak makanan-makan favorit saya. “Worth It” by Buzzfeed dan masih banyak lagi. Duh kok jadi laper ya? Yang saya mau sampein di sini, belajar itu ngga cuma untuk hal-hal serius doang kok. Buktinya, saya juga nonton video masak, dan saya belajar dari situ. Udah ngga kehitung berapa masakan yang saya coba setelah saya nonton video masak di Youtube. Dan, saya juga manusia kok. Saya nonton Youtube ngga 100% untuk belajar doang. Saya juga nonton programnya: Jimmy Fallon, Jimmy Kimmel, Ellen deGeneres, Stephen Colbert, Trevor Noah, termasuk stand up comedy, juga traveling video (untuk menyegarkan mata, apalagi sekarang terkurung di rumah ngga bisa kemana-mana), dan video-video tentang renovasi rumah. Yang terakhir ini, saya nontonnya berdua wifey, sambil diskusi kalau nanti beli/bangun rumah dan vila bakal kayak gimana living-dining-kitchen areanya, master bedroomnya, dst. Eh tanpa disadari, jadi belajar juga tentang design rumah. 🙂 Kita bisa belajar dari mana aja, termasuk dari Youtube. Kata kuncinya: Asalkan kita mau. See you On Top! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 21/4/2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBClubNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

Bisnis Masa Kipan

#BBCNote2 Sejak 2015, ketika kali pertama saya melakukan “Big Tech Safari” (kunjungi perusahaan-perusahaan teknologi besar di Silicon Valley), saya tertarik untuk tau akan 1 hal. Saya selalu nanya ke host yg menerima saya di Google, Apple, Twitter, Uber, Facebook, Instagram: “Gimana kerja di sini? Apakah ada sistem absensi? Gimana cara atasan mensupervisi kerjaan timnya? KPInya akan dibuat setiap hari? Apakah setiap hari tim harus bikin laporan? Apakah harus ngantor?” Sejak saat itupula, saya pengen banget menerapkan sistem kerja seperti perusahaan-perusahaan teknologi besar itu. Bulan Oktober 2018, saya whatsapp CEO Microsoft Indonesia, mas Haris Izmee, dan menanyakan hal yang sama. Dan semua keinginan saya utk menjalankan “Kerja Dari Mana Aja” akhirnya menjadi kenyataan karena pandemi Covid19. Istilah “WFH” pun sudah akrab di telinga kita, karena mayoritas dari kita sudah dipaksa untuk ini. Untuk bisnis, apa artinya? Saya ngga perlu jelaskan apa-apa saja bisnis yang turun salesnya, atau bahkan hancur salesnya. Detik ini note ini ditulis, mayoritas pengusaha sedang galau. Ngga ada satupun orang yang tahu kapan virus ini akan hilang dari muka bumi. PHK sudah banyak banget, dan bukan hanya di Indonesia. Di Amerika dalam 1 bulan terakhir sudah ada tambahan pengangguran sebanyak 17 juta orang! Jadi, untuk para pebisnis harus gimana? Dunia sudah mulai berubah karena pandemi ini. Kalau kamu adalah karyawan, ambil intisari dari yang saya sharing di sini ya, kali aja kamu bisa dapet opportunity kerja baru atau malah banting setir jadi entrepreneur. Bisnis Masa Kini-Depan (Kipan) yang cemerlang: Bisnis yang fokusnya digital atau yang menggunakan teknologi sebagai basis jualannya. Di era sosmed booming, semua perusahaan ngerasa bahwa kalau sudah punya akun facebook, instagram, twitter,.. perusahaannya sudah menggunakan digital. Helllooooo? Harus lebih dari itu. Bisnis Kipan harus bisa mikir secara matang gimana differentiate bisnisnya dari kompetitor. Kalau dulu kompetitor kamu adalah sesama bisnis online, sekarang, kompetitor kamu adalah sesama bisnis online dan semua bisnis offline yang karena omsetnya turun, mereka masuk ke bisnis online. Kamu harus effort kerjanya double, triple kalau perlu. Bisnis yang mampu untuk berevolusi. Kalau bisnis kamu sebelumnya total offline, harus putar otak sedemikian rupa untuk bisa pake teknologi. Kenapa teknologi? Karena teknologi: bisa diakses kapan aja. tidak mengenal batasan geografis (bisa di mana aja), dengan demikian, jumlah potensial konsumen tidak lagi hanya di sebuah area, tapi sudah bisa di seluruh Nusantara, bahkan dunia. Contoh industri yang bagus kedepannya: Online streaming (Netflix) – bisa dinikmati di rumah, kapan aja. Online game (maingame.com) – bisa dinikmati di mana aja, kapan aja, via hape, tanpa harus download (ngga makan memori). Online fitness – ngajak orang-orang untuk olah raga dari rumah. Jualan alat-alat olah raga – karena saat ini gym harus tutup, semua orang yg peduli kesehatan tetap mau olah raga di rumahnya. Penjualan treadmil, spinning bike, barbel, yoga mat naik. Ketika pandemi seletai, kemungkinan membership gym akan turun karena lifestylenya berubah, orang-orang sudah biasa untuk olah raga sendiri di rumah meski cuma 10-15 menit/hari. Mereka akan sadar betapa nyamannya olah raga di rumah, ngga usah bersiap-siap, ngga usah macet-macetan untuk ke gym, dst. E-Learning – seminar online (live/taping) dan audio podcast. Keduanya bisa dinikmati di mana aja, kapan aja. Food delivery – restoran bukan lagi mengirimkan makanan matang, tapi juga resep beserta bahan baku dari suatu masakan yang dikemas dan dikirim ke konsumen untuk kemudian mereka sendiri yang masak di rumah. Saya kasih contoh dari Poin 2 di atas ya. Young On Top itu selama ini revenuenya terfokus dari sponsorship event yang dilakukan. Untungnya, sejak merayakan YOT 1 dekade di April 2019 lalu, saya sudah bilang bahwa YOT memasuki era baru: YOT2.0, yes, YOT masuk ke digital. Makanya sejak tahun lalu, YOT sudah mulai mendevelop mobile app yang akan digunakan untuk menyatukan seluruh generasi muda di Indonesia, namanya: SocialConnext (akan ada di Playstore dan Appstore). Sejak pertengahan Maret 2020, semua WFH. Semua event YOT tahun ini: YOT National Conference dan 10 Connext Conference di 10 kota terancam gagal terselenggara. Saya dan tim YOT langsung keluar dengan sebuah ide: “inspira webinar”. Hanya dalam kurun waktu 2 minggu, inspira webinar pertama terlaksana, Per hari ini, sudah 3 inspira webinar yang terlaksana. Karena ini online, maka YOT tidak perlu harus menyewa tempat event, persiapannya pun ngga seheboh event offline. Kalau event offline, per tahun YOT hanya bisa buat sekitar 11 event, dari April hingga Desember 2020, inspira webinar direncanakan untuk diadakan puluhan kali. Sementara banyak perusahaan dan komunitas melakukan hal yang sama, YOT sudah memulai dengan beberapa partner bisnis yang mau mensponsori program baru dari YOT ini. Siapa aja? Saya belum bisa kasih tau, kecuali by.U (Telkomsel) yang sudah mensponsori sejak inspira webinar 18 April kemarin. Semoga apa yang saya share di sini, bisa bermanfaat. Kini saatnya untuk muter otak supaya kamu ngga cuma survive tapi cemerlang di masa Kipan. See You ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 19/4/2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBClubNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.