Boleh Ngga Punya Passion Lebih dari 1?

#BBCNote17 Dari kecil, passion saya: Brand Management. Kok bisa? Ngga tau, cuma ngerasa seneng aja pas naik kelas selalu dapet sepatu baru, dan mereknya yang selalu saya minta: Nike. Dari situ tumbuhlah ketertarikan dan rasa penasaran, sehingga saya dalam hati sering nanya dalam hati: “Kenapa kok kayaknya keren banget kalo pake sepatu Nike? Bukannya Nike itu cuma sepatu, untuk ngelindungin kaki dari paku, biar kaki ngga kotor, dst?” Itulah kenapa saya ketika penjurusan di SMA dan saya disuruh masuk A2 (Biologi; bisa jadi dokter), saya bersikeras pindah ke A3 (Sosial). Saya udah tau mau kuliahnya di jurusan Manajemen / Marketing, biar bisa belajarin brand. Karena belajar brand-lah, makanya ketika kerja, saya bisa pindah industri tanpa masalah. Dari Nike-Umbro-League-Oakley (sports fashion retail/distribution) ke Hard Rock Cafe-Haagen Dazs (food and beverage), dan ketika sekarang jalanin ekosistem YOT yang macem-macem, juga ngga ngerasa ada kendala, karena setiap perusahaan yang ada di bawah naungan YOT saya treated sebagai brands: YOT, TopKarir, maingame.com, dst. Nah, pertanyaan yang sering saya dapet: “Apakah passion bisa lebih dari satu?” Jawabannya: BISA, tapi ngga bisa banyak. Cuma beberapa. Sejak buku YOT terbit dan jadi national best seller, saya sering keliling kampus ketemu anak-anak muda. Sejak itulah saya punya passion baru (sejak 2009): Youth Development. Saya seneng banget kalo bisa berbagi ke anak-anak muda Indonesia. Trus, sejak infrastruktur teknologi di Indonesia menjadi lebih baik, dan karena teman-teman saya banyak yang sudah duluan di dunia teknologi, saya jadi beranikan diri terjun ke dunia teknologi, melahirkan perusahaan digital analytic GDILab. Sejak itu, passion saya nambah: teknologi. Sejalannya dengan waktu, saya coba besarkan YOT menjadi sebuah Grup (Holding) yang melahirkan dan invest di perusahaan rintisan. Sejak beberapa tahun terakhir, passion saya nambah lagi: entrepreneurship dan investment. Jadi sekarang, passion saya: Brand Management, Youth Development, Technology, Entrepreneurship, dan Investment. Ada 5! Akankah nambah? Kayaknya sih ngga. Bisa ngga kalau passionnya banyak? Saya sudah jawab: NGGA. Menurut saya 5 udah agak ngga normal sih. Yang bisa banyak itu hobi. Bedanya passion sama hobi? Kalau passion, ujung-ujungnya diseriusin dan hasilin uang (yang ngga sedikit). Kalau hobi, biasanya cuma untuk iseng aja, dan kalau ngehasilin duit, ngga bakal banyak. Coba, passion kamu apa aja? Ada berapa? Silahkan direnungin ya. Inget, kalau suka banget, udah dilakuin lama tapi ngga hasilin duit, mungkin itu cuma hobi doang, karena kamu belum ngelakuinnya dengan sepenuh hati, belum semaksimal mungkin… karena “baru suka doang”, belum cinta (passionate). See you ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 9/8/2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

Yang Saya Perhatikan Ketika Invest di Startup

#BBCNote5 Suatu saat, saya akan nulis tentang investasi di bursa saham, but not today. Di note kali ini, saya mau nulis tentang apa yang ada di benak saya dan apa yang saya perhatikan sebelum saya mengambil keputusan untuk invest di sebuah perusahaan startup berbasis digital/technology. Perusahaan startup digital pertama saya: GDILab, perusahaan yang awalnya bergerak di social media analytic. GDILab lahir tanggal 1 Desember 2013. Sejak GDILab, saya ngga cuma tertarik, malah sampe passionate di digital technology. Fast forward ke hari ini, perusahan-perusahaan startup yang saya terlibat di dalamnya: topkarir.com (career platform), bizhare.id (equity crowd funding platform), dan maingame.com (game platform). Young On Top pun, yang awalnya adalah perusahaan yang fokusnya untuk pengembangan karakter anak-anak muda Indonesia secara offline, sejak umurnya memasuki dekade kedua, sudah fokus ke digital, YOT2.0. Pertanyaannya, apa yang ada di benak saya ketika saya memutuskan mau terlibat dan invest di perusahaan-perusahaan tersebut? Startupnya harus bisa menguatkan ekosistem YOT. Karena purpose YOT: to create stronger next generations of Indonesia, maka startup yang saya lirik haruslah startup yang peduli dan diharapkan mampu untuk mengempower anak-anak muda Indonesia. Trus, maingame.com kan perusahaan game, bisa mengempower kayak gimana? Makanya, cobain main game-gamenya maingame.com dong, di situ sudah ‘disuntik’ value-value YOT: ajakan untuk ngga gampang give up, dst. Dan, kalau mau diperhatikan, main game itu sebenernya ngajak pemainnya untuk berpikir kreatif, untuk ngga gampang give up dan persistent. Coba lagi, coba lagi, sampai berhasil. Foundernya harus punya kesamaan value dengan saya (value-valuenya YOT), diantaranya: mau belajar, ngga sok tahu, humble, punya purpose yang jelas kenapa dia mendirikan perusahaannya, dan bisa respect semua orang. Kenapa value-value ini penting? Karena saya percaya, orang yang sukses bukan orang yang pinter doang, tapi orang yang punya karakter baik. Kedepannya, apakah saya akan terus investasi di dunia digital? Untuk sementara waktu ke depan, kemungkinan tidak. Saya harus memastikan perusahaan-perusahaan yang ada di dalam ekosistem YOT harus bisa berkembang dan bermanfaat untuk banyak orang. Selain juga karena kesibukan saya sebagai Advisor Bank BRI saat ini. Tapi, apakah perusahaan-perusahaan yang ada di ekosistem YOT akan invest di perusahaan startup lainnya? Why not? Kalau bisa menguatkan ekosistem YOT, saya pasti merestui. Tapi, meski saya pribadi ngga lagi jadi Angel Investor kedepannya, saya akan tetap memantau dan melirik perusahaan-perusahaan startup yang akan bisa punya impact positif yang masif bagi bangsa. Startup apa yang saya akan pantau dan lirik mulai saat ini? Startup yang menguatkan startup B2C. Bingung? Ngga apa, suatu hari akan saya jelasin apa maksudnya. For the time being, kalau mau invest, inget sama 2 poin di atas ya: 1) yang sesuai sama purpose/passion kamu dan 2) yang foundernya punya purpose yang jelas dan karakter baik. See You On Top! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 25/4/2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.