Hasil Investasi Saya (2020) di Bursa Saham

#BBCNote31 Berapa persen return saya sepanjang 2020? Apakah saya hepi atau nyesel? Saya masuk untuk kali pertama di Bursa Saham Indonesia (IDX) di awal Mei 2020. Saya masuk ke Nasdaq dan New York Stock Exchange di awal Juli 2020. Sejak WFH di pertengahan Maret, setiap hari saya pelajari banyak hal via youtube dan google. Saya tonton sejarahnya Great Depression 1929, Asian Monetary Crisis (1998), DotCom Bubble (1999), dan Sub-Prime Mortgage Crisis (2008). Saya juga tonton ‘semua’ interviewnya Bill Ackman, Ray Dalio, Camath Palipatiya, Cathy Wood, dan Warren Buffet. Mereka adalah investor-investor kelas dunia yang sudah berhasil. Ada yang konvensional cara mikirnya, ada yang sangat hi-tech cara mikirnya. Saya juga tonton interview entrepreneur-entrepreneur hebat: Jeff Bezos (Amazon), Elon Musk (Tesla), Mark Benioff (Salesforce), juga CEO hebat: Sundar Pichai (Google) dan Satya Nadella (Microsoft). Jadi, sebelum mulai investing dan trading, saya serap ilmu sebanyak-banyaknya. Pagi bangun tidur, sampe malam, entah berapa jam saya buka youtube dan baca dari google. Apakah sudah cukup? Belum… dan ngga akan pernah cukup. Investing (dan trading) punya ilmu tersendiri. Sama seperti ilmu-ilmu di semua bidang lainnya, belajarnya ngga bisa cuma dalam hitungan hari, minggu, bulan, atau tahun. Tergantung bakat dan naluri kita juga, ada yang butuh seumur hidup baru kita bisa jago. Terhitung hingga 31 Desember 2020: Di IDX, return yang saya dapatkan: 9.2%. Lumayan, untuk seorang newbie ada di bursa selama 8 bulan. Di Nasdaq & NYSE, return yang saya dapatkan: 10.3%. Not bad untuk 6 bulan di bursa saham Amrik yg super kejam. 🙂 Kenapa kejam? Karena investor dan tradernya dari seluruh dunia. Swingnya bisa gila-gilaan dalam hitungan jam. Apa yang saya pelajari? Apakah ada yang saya akan lakukan beda kalau saya bisa mundurin waktu? Iya. Saya ngga akan berusaha untuk trading. Saya hanya akan investing. Apa bedanya? Gampangya: Trading: beli ketika harga sahamnya kita anggep lagi rendah, dan kita lepas/jual ketika kita ngerasa harga sahamnya lagi tinggi dan kemungkinan akan turun. Investing: kita beli ketika kita ngerasa harga sahamnya worth it untuk dibeli, dan kita ngga lepas untuk jangka waktu yang lumayan lama, antara 3 tahun – 10 tahun. Dari awal saya maunya investing karena selama ini sebagai Angel Investor, sebagai Serial Entrepreneur, saya kan ngga trading. Saya ketika taro duit di perusahaan, saya lihat manajemennya, dan saya di situ untuk long term, bukan short term. Tapi, ketika setiap hari liatin bursa, tuh harga saham yang dibeli naik turun, jadi adrenalin yang bermain. Seru, iya. Kalau lihat saham lagi turun, saya beli. Ketika sahamnya lagi terbang, saya pengen nikmatin… jadi saya jual. Pemikiran saya waktu itu: bunga deposito per tahun cuma 4-5%, saya dalam 1 hari, atau dalam 2 minggu returnnya sudah jauh lebih daripada 5%, nikmatin ahhhh. Saya sudah hitung, kalau saham-saham yang saya beli di awal Mei (IDX) ngga saya jual sampai detik ini, return saya sekitar 80%! Iya, delapan puluh persen. Bayangkan, saya berusaha sok tau kapan harus beli dan jual, returnnya cuma 9.2%. Kalau waktu itu saya diemin sampe hari ini, kekayaan saya dari nilai saham-saham saya di IDX naik 80%. Saat ini, investasi saya di IDX sudah sangat terbatas, saya hanya memiliki saham-saham blue chip aja. Dan beneran untuk investasi. Beli, dan lupain. Buy and Forget. Yang saya tambah terus adalah investasi saya di Nasdaq dan NYSE. Sama cara investasinya: Buy and Forget. Semoga tulisan ini bermanfaat. Inget, kalau mau investasi di bursa, pastikan pakai uang dingin, alias uang yang nganggur banget. Penuhi dulu kebutuhan Dana Darurat 12-18 bulannya, baru invest. Nih, baca tulisan saya tentang Dana Darurat. HAPPY NEW YEAR 2021! Happy Investing, y’all. See You ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 2/1//2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun

Pilih Mana: IDX atau Nasdaq

#BBNote24 Baru sejak work from home di pertengahan Maret 2020 (karena covid) akhirnya saya serius mendaftarkan diri masuk ke Bursa Efek Indonesia (IDX). Saya juga langsung luangin waktu untuk mulai belajarin istilah-istilah di bursa. Saya terdaftar resmi untuk bisa memulai investasi/trading di IDX per awal Mei 2020. Saat itu, semua stok masih terpuruk. Ada yang sudah mulai naik, tapi ada yang masih benar-benar jeblok. Hingga Bulan Juni, saya merasakan gampangnya dapet duit/profit dari IDX. Seperti yang saya lakukan ketika belajarin suatu hal, saya akan belajar bukan cuma dari yang bisa saya pelajari di Indonesia, tapi juga dunia. Saya akhirnya resmi buka akun trading untuk di Nasdaq dan NYSE. Ini adalah dua bursa di Amerika yang merupakan bursa saham terbesar di dunia. Semua perusahaan ngetop yang akrab di telinga kita, kemungkinan besar terdaftar di salah satu dari dua bursa ini. Nasdaq dipenuhi sama perusahaan-perusahaan teknologi, sementara NYSE (New York Stock Exchange) lebih didominasi sama perusahaan-perusahaan non-tech. Ketika saya masuk di awal Juli, semua stok sudah rebound dari titik terendahnya di tanggal 20-an Maret 2020. Hingga Oktober 2020, dana yang saya investasikan di IDX sekitar 60%, sementara di Nasdaq/NYSE sekitar 40%. Tapi, sekarang, terbalik. Dan kedepannya, dana investasi saya akan 10% di IDX dan 90% di Nasdaq/NYSE. Kenapa saya lebih memilih untuk berinvestasi di Nasdaq/NYSE? Jawabannya simple; karena dalam berinvestasi di sebuah perusahaan baik secara langsung maupun via bursa saham, seorang investor harus benar-benar tahu visi perusahaan, kredibilitas manajemennya, dan kinerja perusahaannya secara keseluruhan. Ini fundamental dalam berinvestasi. Saya ngga bahas soal trading loh ya. Kalau trading itu “beli pas murah, jual pas mahal.” Kalau investasi itu ya taro duit kita (diinvestasikan) di sebuah perusahaan yang berkinerja baik, sehingga sejalannya dengan waktu, maka nilai uang kita akan ikut naik akibat dari kenaikan nilai perusahaan tersebut. Nah, di Indonesia, saya cuma tahu dan yakin dengan kinerja Bank BRI. Memang agak bias, karena saat saya menulis ini, saya masih sebagai Advisor aktif untuk Direksi Bank BRI (sejak Februari 2020). Memang kebetulan, BBRI termasuk dalam ‘blue chip’. Selebihnya, saya benar-benar ngga kenal perusahaan-perusahaan yang ada di IDX. Dan entah kenapa, saya ngga punya ketertarikan untuk mengetahui atau mencari tahu tentang perusahaan-perusahaan yang ada. Saya ngga ngerasa connected secara emosional. Entah kenapa, mungkin karena saya menganggap perusahaan-perusahaan ini kurang bisa bikin brand yang nyambung sama diri saya. Sementara di Nasdaq dan NYSE, saya benar-benar ngikutin perusahaan-perusahaan seperti: Tesla, Apple, Facebook, Microsoft, Google, Amazon. Saya juga sering cari-cari informasi soal perusahaan-perusahaan teknologi yang hype seperti Square, Zoom, Draft Kings, Nikola, dan Palantir. Kalau yang non-tech, saya ngikutin Bank of America dan JP Morgan, juga Nike (brand favorit), Coca Cola, McDonald, Starbucks, Wallmart, dan Beyond Meat. Bukan berarti saya beli semua saham perusahaan-perusahaan yang saya sebut ini loh ya. Saya tidak menyarankan untuk kalian mengikuti apa yang saya lakukan ini loh ya. Kalau kalian ngerasa lebih pengen berinvestasi atau trading di IDX, silahkan. Mau di IDX dan di Nasdaq dan NYSE juga silahkan. Hanya mau di Nasdan dan NYSE, terserah. Yang pasti, seperti pesan saya di banyak kesempatan, kalo kalian masuk ke bursa saham, pastikan hanya memakai uang nganggur ya. Pastikan kalian sudah punya Dana Darurat dan tabungan dulu. Oh ya, saya sering ditanya untuk trading di Nasdaq dan NYSE saya pakai sekuritas (applikasi) apa? Saya pakai Interactive Brokers (IBKR). Yuk investasi. Jangan hura-hura. Inget, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian. Selagi muda, invest sebanyak-banyaknya, jadi nanti pas mau beli ini itu, belinya pake profit yang dihasilkan dari investasi yang kita punya. Asik kan? See You ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 11/11/2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.