6 Cara Hadapi Masalah

#BBCNote39 Untuk kalian yang lagi menghadapi masalah detik ini, congrats! Artinya kalian masih hidup. Semua orang yang masih hidup detak jantungnya naik turun, artinya ada saatnya kita senang, ada saatnya kita sedih. Hari ini kita bisa berhasil mencapai suatu hal, bisa jadi besok kita ngerasain kegagalan. Masalah, tantangan, apapun namanya itu akan selalu ada di kehidupan kita. Kadang besar, kadang kecil. Kadang cepat berlalu, kadang lama. Jadi kalau kalian lagi punya masalah saat ini, percaya deh, kalian ngga sendirian. Di luar sana ada miliaran orang yang juga lagi menghadapai masalah. Jangan pernah mengira bahwa orang sukses dan orang kaya ngga punya masalah. Masalah yang mereka punya mungkin beda dengan masalah yang kalian hadapi. Mungkin mereka ngga punya masalah keuangan, tapi mungkin mereka berharap punya lebih banyak waktu bersama keluarga tercinta, mungkin mereka saat ini lagi berhadapan dengan orang-orang yang mau berbuat jahat ke mereka, dst. Karena masalah pasti ada di kehidupan kita, maka kita harus punya mindset yang tepat soal masalah. Kita harus hadapai masalah tersebut, jangan malah lari dari masalah tersebut. Yes, easier said than done. Karena pas lagi ada masalah, rasanya mumet banget. Pengen banget kabur dan cuekin tuh masalah dengan harapan masalah tersebut akan hilang dengan sendirinya. Yes, ada masalah yang kayak gini, tapi banyak masalah yang ngga bisa selesai begitu aja. Masalah itu harus kita hadapi. Coba bayangkan kalau kita kabur dari masalah, berharap masalahnya hilang dengan sendirinya, eh tuh masalah ngga hilang, malah menjadi besar dan efeknya ke semakin banyak orang lain selain diri kamu. Semakin besar masalahnya, semakin susah pula penyelesaiannya. Jadi, sebelum tuh masalah jadi makin besar, ya harus dihadapi. Memang ngga gampang. Ini yang harus kalian lakuin ketika ada masalah: Cari tahu sebanyak-banyaknya tentang masalah tersebut; kenapa bisa terjadi, apa dan seberapa besar efeknya. Sedih? Boleh. Kesel? Boleh. Tapi jangan lama-lama. Semakin cepat kamu bisa menerima kenyataan ini, semakin baik. Karena kamu akan bisa mulai mikir gimana cara penyelesaiannya. Jangan cuma dipikirin di otak kamu, tapi ambil hape/laptop kamu dan ketik (atau tulis di buku catatan) apa yang menurut kamu langkah-langkah tepat yang harus diambil segera sebelum masalahnya semakin semrawut. Apa yang kamu catat ini, mungkin ngga perlu langsung kamu lakukan dengan tergesa-gesa (kecuali memang urgent banget masalahnya alias harus diselesaikan segera). Kadang ada baiknya di pikirin beberapa kali, pastikan langkah-langkahnya memang udah yang paling tepat. DO IT. Ini langkah yang mungkin paling ngga enak untuk dilakuin. Kamu harus ketemu sama orang yang kamu kesel, harus kembali berhadapan dengan kekesalan kamu, dst. Jangan give up sampe masalahnya selesai. Enam langkah ini ngga gampang. Tapi, ini yang harus kalian lakuin ketika kalian ketemu dengan masalah, sekecil apapun. Saya nulis ini, bukan berdasarkan kutipan dari buku manapun, tapi dari pengalaman pribadi, dan memang ini enam langkah yang saya coba untuk lakuin ketika saya ketemu masalah. Jadi saya tahu bener bahwa ngelakuin enam langkah ini ngga gampang sama sekali. I’m also only a human, apa yang kalian rasain juga saya rasain. Kita ada di dunia yang sama, di bumi yang sama, di negara yang sama. Saya pernah mau give up dengan hidup ini, tapi puji Tuhan tidak saya lakuin. Saya berharap kalian semua juga ngga akan pernah give up, apalagi dengan hidup ini. Kuncinya: #bersyukurterus dan #fokusberbuatbaik. See You ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 21/4/2021 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun  

Ini List Pusingnya CEO

#BBNote38 Punya jabatan CEO memang keren, makanya banyak banget anak muda yang punya aspirasi untuk bisa punya jabatan CEO. Dengan perkembangan teknologi, umur 20-an tahun sekarang juga sudah bisa jadi CEO. Bikin perusahaan (jadi founder), dan tinggal kasih jabatan CEO untuk dirinya sendiri. As easy as that. Beda sama puluhan tahun lalu yang kalau mau jadi CEO, either harus dari keluarga kaya yang langsung nempatin si anak jadi CEO atau ngebikinin perusahaan buat si anak biar dia langsung jadi CEO atau mendaki karir, kerja di perusahaan belasan bahkan puluhan tahun untuk bisa jadi CEO. Tapi, apakah jabatan CEO segitu kerennya dan cocok untuk semua orang? Ngga. Buat saya, jabatan CEO itu bukan jabatan yang untuk disombongin. Ini adalah sebuah amanah. CEO itu punya tanggung jawab yang sangat besar. Kelangsungan perusahaan, kehidupan karyawan semuanya ada di tangan kepemimpinan si CEO. Kalau si CEO ngga punya visi dan purpose yang jelas untuk perusahaannya, ngga sanggup menyampaikan visi dan purposenya tersebut ke seluruh karyawan, dan ngga sanggup untuk memimpin timnya dengan baik, maka hampir dapat dipastikan perusahaannya akan bangkrut. Jadi, kenapa CEO itu gajinya (biasanya) paling tinggi di perusahaan? Ya karena pusingnya CEO itu paling banyak. Seorang Sales pusingnya mikirin sales perusahaan. CEO itu harus mikirin sales perusahaan, brandingnya juga, distribusi, partnership, strategi manajemen, HR, keuangan, pengembangan perusahaan, dan seterusnya. Itu dia list pusingnya CEO. Pengen punya jabatan keren dengan gaji 10-50x gaji terendah karyawan di perusahaan? Ya jadilah CEO. Tapi, sanggup ngga ngadepin list pusingnya CEO? Silahkan direnungin. See You ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 14/4/2021 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun

Big Fish atau Small Fish

#BBCNote37 Pernah ngga nanya ke diri sendiri: “Mending tinggal di rumah kecil di antara orang-orang kaya atau di rumah besar di antara orang-orang miskin?” atau “Mending jadi staff di perusahaan besar atau jadi manajer di perusahaan kecil?” Ini yang seringkali digambarkan dalam ilustrasi “Ikan kecil di kolam besar dan ikan besar di kolam kecil” dan “Mending jadi kepala ayam atau jadi buntut naga?” Pilih mana? Ngga ada satu orangpun yang berhak untuk bilang pilihan kamu benar atau salah. Namanya juga pilihan, setiap orang bebas nentuin mau jadi yang mana. Kalau saya pilih yang mana? Saya pilih punya rumah kecil di lingkungan orang-orang kaya, karena pasti dari segi keamanan, akses, dan fasilitasnya bagus. Saya pilih jadi manajer di perusahan kecil, karena kinerja saya pasti akan bisa langsung kelihatan jelas oleh pemilik perusahaan. Di sini sengaja saya mau jelasin bahwa jadi “ikan kecil di kolam besar dan ikan besar di kolam kecil” itu ngga bisa digeneralisir di setiap pilihan situasi. Jawaban kita tergantung dari apa konteksnya. Untuk kamu renungin nih: “Mending jadi pengusaha yang jalanin usaha kecil atau mending jadi staff di perusahaan besar?” Kalau mau baca tulisan-tulisan saya yang lain, klik di sini. See You ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 4/4/2021 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun