Pentingnya Growth Mindset

#BBCNote48 Kalo kamu google “Growth Mindset”, kamu langsung bisa ngerti apa maksudnya. Jadi di tulisan ini, saya ngga akan jabarin lagi apa artinya. OK deh… sedikit aja: intinya, Growth Mindset itu punya kebiasaan untuk mengembangkan pikiran kita, mau belajar terus, mau menantang diri terus, mau berkembang terus, ngga skeptis, ngga belom apa-apa udah bilang susah atau ngga bisa duluan. Contoh gampangnya: Dikasih kerjaan yang tanggung jawabnya besar… Orang yang punya Growth Mindset mikirnya, “Oke, seru nih. Gua harus gimana untuk bisa capai target yang ditentukan. Ngga gampang, tapi gw harus bisa belajar secepet-cepetnya. Nanya ke si A, si B, riset di internet ah.” Orang yang punya Fixed Mindset mikirnya, “Wah, susah nih kerjaannya. Gua pernah tau ada orang yang pernah dikasih kerjaan ini dan gagal. Dulu kan udah pernah dicoba dan gagal, kenapa sekarang dikasih kerjaannya ke gua?” Jelas bedanya kan ya? Nah, saya beruntung bahwa saya termasuk yang dari kecil udah dididik sama orang tua saya untuk punya Growth Mindset. Saya tau saya punya mindset ini juga setelah istilah “Growth Mindset” ngetop sih. Dulunya ya cuma tau bahwa saya selalu diarahkan untuk terus muter otak, untuk terus belajar, sampe ketemu cara ngerjain dan capai targetnya. Setelah jadi karyawan di korporasi sejak April 2001 hingga Oktober 2009, dan memulai bisnis sendiri dari nol sejak November 2009 hingga sekarang… saya semakin sadar bahwa ternyata yang saya belom tau itu banyak banget. Sekarang saya juga pimpin Kejora-SBI Orbit Fund (VC), handle $30 juta (sekitar Rp450 M), saya pun masih harus belajar ribuan hal baru. Perspektif saya di brand, di manajemen, di operasional… harus di-fine tuning supaya bisa jadi venture capitalist yang hebat. Ngga semua sudut pandang yang saya punya salah, tapi ada. Di sinilah pentingnya (dan saya beruntung) untuk punya Growth Mindset. Saya belajar banyak dari tim saya di Orbit, dari foundernya Kejora Capital, juga dari para portfolio yang akan dan sudah diinvest oleh Orbit Fund. Kalau kamu belum ngerasa kamu punya Growth Mindset, mulai latih diri kamu. Coba cari buku-buku tentang ini, dan baca. Juga coba riset di internet tapi pastikan dari sumber yang terpercaya dan kredibel ya, biar ngga sesat. Trust me, orang yang super sukses di luar sana, mindsetnya “Growth”, bukan “Fixed”. Itulah kenapa mereka bisa terus berkembang, bisa gedein perusahaannya. See You ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 5/8/2021 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun    

Tips Cara Bikin Target yang Tepat

#BBCNote47 Saya tipe orang yang ngga setuju perkataan “Hidup ini kayak air mengalir aja”, “ngikutin takdir”. Lah?! Saya percaya Tuhan yang nentuin semuanya, tapi bukan berarti kita sebagai manusia ngga perlu buat rencana/target dan berusaha dong. 99% usaha kita, 1% yang bikin terjadi atau ngga itu RestuNYA. Bukan sebaliknya loh ya. Jadi ngga bener tuh kalo 23 jam 59 menit setiap hari kita isi dengan berdoaaaaaaaaa, minta minta minta ke Tuhan trus 1 menitnya kita berusaha. Get my point? Nah sebelum kita berusaha, kita harus punya plan dulu. Kita harus bikin target apa yang kita mau capai. Tapi gimana cara bikin target yang tepat? Kita tentuin dulu, untuk jangka pendek (harian, mingguan, bulanan, hingga 12 bulan), atau untuk jangan menengah (antara 1 tahun – 3 tahun), atau untuk jangka panjang (diatas 3 tahun, bisa sampe 10 tahun atau sampai tua nanti)? Semakin pendek jangka waktunya, semakin detail how-to nya (cara mencapainya) yang harus kita jabarin. Contoh: Bulan depan harus bisa dapetin proyek A. Caranya: bikin proposalnya, cari tau siapa yang harus diajak meeting, ngatur waktu meeting, cara presentasinya harus gimana, follow up meetingnya, negosiasinya harus gimana, bikin PKSnya, dst. Semakin panjang jangka waktu targetnya, semakin ngga perlu detail. Contoh: Ketika umur 70 tahun saya mau tetap sehat. Caranya: dari sekarang jaga asupan makanan, olah raga teratur seminggu minimal 3x, dan tidur setiap malam selama 8 jam. Kalau bikin target jangka panjang atau yang sering disebut sebagai cita-cita, kamu juga harus bikin jangka menengahnya, dan jangka pendeknya. Dan, target jangka menengah dan jangka pendeknya harus dipastikan tidak bertolak belakang dengan target jangka panjang yang kamu set. Contoh: mau tetap sehat ketika umur 70 tahun, tapi target jangka menengah dan jangka pendeknya yang bikin kamu malah sakit-sakitan (mau tajir melintir dan how-to nya dengan kerja 20 jam sehari sehingga kamu ngga pernah punya waktu cukup untuk istirahat, bikin kamu stress, bikin kamu ngerokok, dst). Banyak orang bikin target, tapi ngga bikin how-to nya. Saya mau kaya, tapi ngga bikin detil gimana cara mencapainya. Ini sama aja kayak ngarep menang lotere. Ini males namanya. Ini bodoh namanya. “Tapi kan Tuhan yang nentuin?” Iya gini loh; si A pengen kaya raya tapi males-malesan. Si B pengen kaya tapi berusaha kerjas (dengan integritas dan cara-cara yang baik), menurut kamu, mana yang akan dibikin kaya raya sama Tuhan? Yuk, share target yang kamu sudah set itu jangka panjang, menengah, atau pendek… apa, dan kenapa? Nih baca tulisan saya “Hal Paling Penting Sejak 2020”, semoga bermanfaat. See You ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 4/8/2021 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun