Sukses Bukan Kunci untuk Hepi

#BBCNote30 Hampir semua anak muda, termasuk saya dulu, target utama dalam hidupnya adalah untuk jadi orang yang sukses. Sukses di mana? Di karir / bisnis. Salah ngga punya target seperti ini? Jelas: Ngga. Tapi, yang salah adalah ketika punya pemikiran bahwa kita akan hepi ketika kita sukses. Sukses di karir / bisnis memang ngga terlepas dari punya banyak uang. Apakah uang bisa bikin kita hepi? Apakah uang bisa ‘beli’ kebahagiaan? My wifey said it best, “Uang bisa bikin kita lebih bebas.” Apa maksudnya? Kalau kita punya uang, kita punya opsi lebih banyak. Mau makan apa dan di mana, bisa. Mau traveling ke mana dan kapan aja bisa. Mau sumbang uang banyak sesering mungkin, bisa. Mau beli mobil apapun bisa. Mau beli rumah dan vila, bisa. Mau tidur seharian, bisa. Mau nraktir keluarga dan teman sesering mungkin, di mana aja, bisa. Dan seterusnya. Apakah dengan bisa melakukan semua yang saya sebut di atas akan bikin kita hepi? Iya. Tapi… Bukan berarti kita baru bisa hepi kalau kita bisa ngelakuin semua hal di atas. Selain punya banyak uang, sukses di karir / bisnis juga ngash kita kepuasan dan kebanggaan. Ini ngga ada hubungannya dengan materi, tapi lebih kepada psikologis manusia. Kita perlu yang namanya harga diri dan kepercayaan diri. Orang yang sukses di karir / bisnis akan lebih punya harga diri dan kepercayaan dirinya pasti lebih tinggi dibanding mereka yang ngga atau belum sukses di karir / bisnisnya. Apakah dengan punya harga diri dan kepercayaan diri yang tinggi, baru akan bikin kita hepi? Ngga… Jadi apa yang bisa bikin kita hepi kalau bukan sukses? Jawabannya… Kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk bisa bersyukur atas hal-hal yang sudah kita miliki atau alami. Sekecil apapun. Dulu saya berpikir, saya baru akan bisa hepi banget kalo udah masuk list 100 orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes. Sampai detik ini, saya mungkin belum masuk list 1,000,000 orang terkaya di Indonesia. Apakah hidup saya penuh dengan kesedihan dan kekecewaan? Ngga sama sekali. Malah kebalikannya. Setiap hari, saya bangun tidur, hepi. Sebelum malam tidur, juga hepi. Sepanjang hari, hepi. Di pagi hari saya meditasi 10 menit, kemudian berdoa yang isinya cuma mengucap syukur dan minta diijinkan olehNYA untuk bisa bermanfaat untuk orang lain hari ini. Sepanjang hari, entah berapa puluh kali… iya, “puluh kali” saya bilang “I love you” ke my wifey. Ngga ada keharusan, dia ngga maksa.. tapi saya ucapkan ketika saya lagi pengen ucapin aja. Saya ngga order makanan mahal dari restoran. Seringkali malah saya masak dari bahan-bahan yang ada di kulkas. Ketika masak, saya ngerasa hepi, saya ngerasa bersyukur. Apa yang saya syukuri? Saya bersyukur masih bisa napas, punya bahan-bahan makanan yang bisa dimasak, punya dapur yang cukup lengkap peralatannya dan nyaman. Mungkin ada yang berpikir, “Iya mas Billy bisa nulis gini karena mas Billy udah sukses.” Nah, balik lagi ke definisi suksesnya itu sendiri. Menurut kamu yang berpikir demikian, saya udah sukses. Menurut saya, di bisnis saya masih berjuang. Kenapa masih berjuang tapi bisa hepi? Karena saya bersyukur. Saya bukan lagi mengejar kesuksesan, saya bukan lagi mengejar untuk tajir melintir dan kaya raya. Saya bersyukur karena saya bisa menyukai prosesnya. Percaya ato ngga percaya, yang bikin saya ‘hidup’ itu adalah proses ‘mencetak’ uangnya. Iya, the money making process yang paling saya enjoy the most. Seru aja, terus-terusan mikir: Apa lagi yang bisa saya lakuin? Apa lagi karya yang bisa saya perbuat? Gimana caranya supaya impact yang saya hasilkan bisa lebih besar lagi dan dinikmati oleh lebih banyak orang lagi? Now, tanya ke diri kamu: Apakah kamu sudah sadar, mau, dan mampu untuk selalu bersyukur dengan keadaan kamu saat ini? See You ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 27/12//2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun

Tips Memilih Partner Bisnis

#BBCNote29 Perusahaan yang tutup karena kekurangan funding, banyak. Tapi perusahaan yang bubar karena ketidakcocokan partner bisnis, kayaknya, lebih banyak lagi. Kok bisa? Bukannya dari awal pas mendirikan perusahaan, baik-baik aja? Iya. Tapi, menurut pengalaman saya pribadi, ada beberapa hal yang membuat para founder ngga bisa lagi jalan bareng alias perusahaannya harus bubar: Memang dari awal, para foundernya ngga punya value yang sama alias ngga cocok. Value seperti apa? Si A pegang teguh integritas dan etika dalam berbisnis. Uang bukan segalanya bagi dia, tapi reputasi yang dia prioritaskan. Sementara si B fokusnya untuk kaya raya semata, jadi menghalalkan segala cara untuk mendapatkan proyek (menyuap/korupsi). Memang dari awal, para foundernya udah ngga punya visi yang sama. Si A pengennya nih perusahaan dibesarin dan dijadikan sumber penghasilan masa tuanya. Dia pengennya bikin nih perusahaan profitable supaya bisa bagi-bagi dividen setiap tahun. Sementara si B fokusnya untuk membesarkan nilai perusahaan supaya beberapa tahun dari sekarang bisa diakuisisi oleh perusahaan yang lebih besar atau IPO. Perbedaan ini sangat fundamental, sehingga keduanya pasti berantem dikeseharian menjalankan perusahaan ini. Salah satu founder punya skala prioritas hidup yang berubah. Ketika memulai perusahaan, sama-sama masih jomblo. Di perjalanan membesarkan perusahaannya, si A fokus pacaran karena mau nikah cepet-cepet, sementara si B masih fokus membesarkan perusahaannya. Pasti akan ribut, karena si B mulai akan kesal sama si A yang ngga prioritasin perusahaannya lagi. Apa yang saya tulis, berdasarkan pengalaman pribadi dan pengamatan saya sejak saya banting setir dari seorang profesional di korporasi menjadi entrepreneur di akhir 2009. Saat ini, PT YOT Nusantara (Holding) punya 6 anak perusahaan: PT YOT Inspirasi, GDILab, Maingame.com, Bizhare.id, hipwee.com, dan TopKarir.com, diluar beberapa perusahaan pribadi saya yang tidak ada di dalam ekosistem YOT: PT JIMModels dan PT Teki. Dan mungkin ini yang kalian tau tentang bisnis-bisnis yang saya bangun dan kembangkan. Tapi, seperjalanan saya sebagai entrepreneur, setidaknya ada 5 perusahaan dan 8 project (cikal bakal menjadi perusahaan) yang akhirnya ditutup: PT RSC, PT JIC, PT DI, PT BK, PT GI, JK, JT, JP, JE, JK2, YP, MJ, dan HJ. Kok bisa gagal? Semuanya ngga ada yang karena kekurangan funding. Semuanya, karena salah satu atau dua atau ketiga hal yang saya tulis di atas. Menyedihkan? Iya. Tapi saya jadi belajar banyak tentang apa-apa saja yang penting dalam memilih partner bisnis: VALUE, VISI, PRIORITAS. Untuk yang sudah tau mau bisnis apa, semoga bisa dapetin bisnis partner yang tepat ya. Good luck! See You ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 22/12//2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun

Yang Terpenting Untuk Dilakukan di Akhir 2020

#BBCNote28 Kita sudah sampai di penghujung tahun 2020. Sebuah tahun yg tidak akan terlupakan oleh seluruh umat manusia, sampai kapanpun. Tahun 2020, akan masuk dalam sejarah dunia, bersamaan dengan Spanish Flu 1918, Great Depression 1929, Asian Monetary Crisis 1998, Dotcom Bubble 1999, dan American Financial Crisis 2008. Covid19 membuat hampir seluruh industri hancur. Perusahaan bangkrut, PHK secara masif terjadi, pengangguran melonjak tajam. Namun seperti yang kita pelajari dari sejarah, disetiap kejadian, meskipun banyak yang dirugikan, pasti tetap ada yang diuntungkan. Perusahaan logistik dan perusahaan teknologi adalah dua tipe perusahaan yang malah ‘terbang’ sejak pandemi. Di luar kedua perusahaan ini, apakah ada yang juga malah membaik? Ada, perusahaan yang mampu beradaptasi dengan cepat. Seperti biasa, saya bukan orang yang suka berteori. Berikut evaluasi dan highlight perusahaan-perusahaan saya, biar kalian ada bayangannya: YOT, perusahaan yang mengandalkan revenue dari sponsorship/partnership mendadak harus stop semua event offlinenya. Sponsorship mendadak terancam dibatalkan. BRI dan Astra tetap memilih mendukung YOT di 2020. BRI malah memperluas dan memperdalam kemitraan bareng YOT. Ada 1 perusahaan besar yang membatalkan kemitraannya. YOT berhasil membuat YOTNC secara hybrid (offline dan online), membuat puluhan webinar yang dibanjiri sponsor, membuat SATU Indonesia Award, dan menjalankan Pengusaha Muda BRILian. Secara revenue dan profit (yes masih profitable) tidak mencapai target. YOT berhasil mengakuisisi saham hipwee, sebuah media online Gen Z yg memiliki pembaca sekitar 20 juta anak muda sejak Agustus 2020. Sejak bergabung di ekosistem YOT, revenuenya hipwee meningkat tajam. Manajemennya menjadi jauh lebih solid. Maingame.com, perusahaan game online yang didirikan sejak Sept 2019, di tahun 2020 malah membaik performanya. Iya, semakin banyak orang yang tidak ke kantor, jumlah gamersnya bertambah pesat, apalagi sejak dipercaya jadi partnernya Gojek, Bukalapak, dan MRTJ. Maingame berhasil dapetin 1 angel investor tahun ini, dan ttd term sheet dengan sebuah perusahaan game regional. Bizhare, perusahaan equity crowd funding yang kena hit gila-gilaan di awal pandemi, bisa bertahan dan closing funding di Oktober dari beberapa angel investor dan perusahaan strategis (bisa mengembangkan bizhare ke next level). GDILab, perusahaan teknologi/analitik berhasil membuat umkmlab.com, platform untuk membantu umkm dalam meningkatkan penjualannya, dengan mengonek websitenya dengan fb shop dan ig shop. TopKarir, perusahaan karir portal khusus anak muda Indonesia, tahun ini melesat. Di akhir 2019, platform ini hanya dipakai oleh sekitar 2 juta orang, saat ini sudah dirasakan manfaatnya oleh 7 juta anak muda Indonesia. Puji Tuhan. Ternak Kambing Indonesia sudah berumur 1 tahun. Tahun ini mengakuisisi CV Ternak Mandiri, dan punya CEO yang mumpuni. Detik ini, Teki sudah ttg ekslusif dengan beberapa yayasan yang berkomitmen untuk membeli kambing-kambingnya Teki sebanyak-banyaknya. Banyak peternakan yang bingung jual kambing/dombanya kemana, sementara Teki bingung untuk memenuhi permintaannya. Teki juga sudah mendapatkan belasan VIP Investor (semuanya teman-teman baik saya; karena memang cuma ditawarin ke teman-teman baik saya saja). Tentunya, bukan berarti semua perusahaan saya berhasil dan tanpa ngelewatin tantangan yang besar di tahun 2020 loh ya. YOT dari seluruh eventnya offline harus jadi online. GDILab yang bergantung sama project dari sebuah perusahaan raksasa dunia harus membuat produk umkmlab.com dari nol. hipwee harus dalam hitungan bulan membuat timnya super solid. Bizhare yang megap-megap di April 2020, harus bisa bertahan hidup hingga Oktober akhirnya dapet pendanaan. Maingame yang di Mei kehilangan 1 cofounder, di Agustus megap-megap, akhirnya bisa dapetin investasi dan partnership yang luar biasa. Teki, yang sepanjang tahun pertamanya rugi, tetap harus bisa balikin semua modal dan keuntungan mitra… akhirnya memasuki tahun kedua berhasil melipatgandakan asetnya dalam waktu 3 bulan terakhir. Jadi, judul tulisan ini: “Yang Terpenting Untuk Dilakukan Akhir 2020”, apa? EVALUASI. Semua perusahaan saya, sudah saya evaluasi. Saya tahu mesti masing-masing harus ngapain di tahun depan. Ingat, tanpa melakukan evaluasi tahun yang baru kita lewati, kita ngga akan bisa mempersiapkan tahun berikutnya dengan baik. Ketika ngelakuin evaluasi, sedetil-detilnya dan sejujur-jujurnya. Itu kuncinya. Pada kesempatan ini, saya mau WISHIN YOU A MERRY CHRISTMAS AND A HAPPY NEW YEAR. Untuk kalian yang merasakan kesulitan di 2020, semoga di 2021 akan berhasil. Untuk kalian yang di 2020 tetap merasakan kebahagiaan, semoga di 2021 lebih bahagia lagi. Sukses untuk kita semua. Stay safe ya. Mari kita doakan agar covid19 segera musnah dari muka bumi ini segera. In the meantime, jalankan protokol kesehatan ya. See You ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 21/12//2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun

Bikin Startup ala Kdrama

#BBCNote27 Masuk dunia tech startup, langsung naik mobil mewah. Siapa yang ngga mau? Dikelilingin sama cewek-cewek cantik pula… secantik Dal-mi. Idaman banget ya? Yang pasti, kdrama beda sama dunia nyata, Gaes. Untuk pelaku dunia tech startup, kalo demen sama serial “Startup”, pasti bukan karena kemiripan dunia tech startupnya, tapi purely hanya karena jalan ceritanya yang bagus dan pemeran-pemerannya yang ganteng dan cantik. Pure untuk entertainment purposes aja. Kenapa? Ya itu tadi, bikin startup itu ngga gampang sama sekali. Jangan berharap dalam waktu hitungan beberapa tahun, founder dan CEO-nya bisa langsung pakai mobil mewah dan ngga stres. Apa yang saya tau soal dunia startup? Saya yang mendanai berdirinya GDILab dari nol, saya ikut aktif mendirikan TopKarir.com dan maingame.com, dan bantu invest serta kasih advice ke bizhare sejak belum dapet ijin resmi dari OJK. Yes, saya tau betul susahnya bikin startup. Saya terlibat di puluhan fundraising semua startup-startup tersebut. Ikut siapin ppt-nya, ikut meeting, dan ngga jarang pulang dengan kesedihan karena ditolak. Apakah saya pernah ngerasain startup saya nyaris bangkrut? Iya! GDILab entah berapa kali saya suntik pribadi biar tetap hidup, TopKarir pernah beberapa kali, maingame juga pernah. Bizhare di awal pandemi juga pernah pusing tujuh keliling. Jadi, bikin startup ngga gampang dong? Emang ngga gampang sama sekali. Apakah bisa bikin startup ala kdrama? Kalau dari pengalaman saya sih, ngga ada startup yang saya bikin atau invest bisa langsung terbang dalam hitungan 1-3 tahun. Kalaupun ada, yang pasti saya ngga akan ijinin my cofounder dan CEO untuk langsung beli mobil mewah dan pamer sana sini. Memang, dengan pengalaman yang sudah saya miliki, plus track records, dan kredibilitas… sudah jauh lebih gampang untuk saya bikin startup atau invest di startup, dan bikin startup tersebut sukses. Setidaknya, chance suksesnya mungkin sudah 10 kali atau 100 kali lebih besar dibandingkan 5 tahun lalu. Kok bisa? Karena saya juga sekarang ada di posisi sebagai investor, jadi saya tau apa yang dilihat oleh investor, apa yang buat mereka tertarik untuk invest di sebuah startup. Apa aja? Founder & Team harus bagus attitudenya, ngerti industrinya secara mendalam, dan tau problem apa yang mau disolved. Mau bikin startup? Jangan mimpi untuk bikin startup ala kdrama ya. he he he… ngga ada tuh. Itu cuma adanya di Netflix. Oh ya, saya tim Dal-mi. 🙂 See You ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 6/12//2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun