Tingkatan Gaji Founder-CEO Startup

#BBNote45 Jadi Founder dan CEO startup memang keren. Titel ini didominasi oleh “anak-anak muda” umur 20-an. Banyak yang umurnya masih early twenties, banyak banget juga yang mid dan late twenties. Berapa gaji mereka? Jawabannya, tergantung startupnya ada di level apa pendanaannya, seberapa pengelaman si founder, dan lulusan mana ada pengaruhnya, meskipun yang terakhir ini ngga seberapa significant. Startup yang belum dapat pendanaan, yang sudah dapat pendanaan pre-seed, seed, pre-A series, seri A, dan seri B ke atas… gaji founder/CEO-nya beda banget. So, let’s get to the point: Startup yang baru berdiri, modalnya dari kantong pribadi masing-masing foundernya, gaji CEO-nya Rp0,- s/d Rp5,000,000,- Yang dapat pre-seed funding dari Angel Investor, gaji CEO-nya Rp7,500,000,- s/d Rp15,000,000,- Yang dapat seed funding dari Angel Investor/VC, gaji CEO-nya Rp20,000,000 s/d Rp40,000,000,- Yang dapat pre-A series funding dari VC, gaji CEO-nya Rp50,000,000,- s/d Rp100,000,000,- Yang dapat A series funding dari VC, gaji CEO-nya di atas Rp100,000,000,- Inget, sebagai Founder dan CEO, yang dikejar seharusnya bukan soal besaran gajinya karena reward terbesar seorang Founder adalah nilai kepemilikan saham dari startupnya. Jadi yang seharusnya jadi fokus si Founder/CEO adalah untuk membesarkan startupnya, sehingga valuasi (nilai perusahaan)-nya semakin besar; yang otomatis bikin si Founder/CEOnya menjadi lebih kaya di atas kertas. Mau jadi Founder/CEO startup? Baca dulu tulisan saya “Apakah Kamu Punya Mental Pengusaha”? See You ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen | Youtube: Billy Boen TV 18/6/2021 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun

Hal Paling Penting Sejak 2020

#BBCNote44 Siapa yang bilang uang ngga penting? Siapa yang bilang karir ngga penting? Tapi apakah itu beneran yang terpenting? Semua orang tau bahwa kita bisa punya karir yang bagus, bisnis yang sukses, dan uang yang banyak kalau kita sehat jasmani dan rohani. Secara mental kita sehat (bisa berpikir positif, ngga gampang nyerah, terus belajar dan berusaha, dst) dan juga secara fisik kita sehat (ngga sakit-sakitan). Kalau salah satunya ngga sehat, akan sangat sulit banget untuk kita bisa sukses. Dunia diingatkan dengan kedatangan covid19 di bumi. Kalau dulu ucapan kita ke teman seringkali, “Sukses terus ya bro/sis”, sekarang kita lebih sering ngomong, “Sehat terus ya bro/sis”. Yes, dunia disadarkan bahwa kesehatanlah yang terpenting di dalam hidup ini. Kita semua berlomba untuk jaga agar kita ngga jatuh sakit. Dulu ketika kita pilek atau deman, kita masih ‘santai’,… ah palingan abis minum obat dan tidur, besok juga udah sembuh. Sekarang? Kita batuk, demam dikit aja udah langsung parno kena covid. Yuk kita bukan cuma sadar aja bahwa sehat itu penting, tapi kita lakuin. Minum vitamin, tidur cukup, dan sempatkan olahraga setiap hari. Kalo lagi sibuk banget, bikin badan keringetan dikitlah dengan squad 100, push up 50, sambil lompat2 (jumping jack) 50, sebelum mandi. Paling total 10 menit doang kok. Pertanyaan selanjutnya, kalau udah sehat: Pilih Bahagia atau Tenang? Kalo menurut saya… (klik di sini) Stay Healthy! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 8/6/2021 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun

Pilih Bahagia Atau Tenang?

#BBCNote43 Sekitar 15 tahun lalu, ketika saya sudah jadi GM Oakley Indonesia umur 26thn… tapi masih mengejar kesuksesan karir di korporasi, saya pernah diskusi dengan seorang teman soal bahagia vs. tenang. Kala itu, teman saya pilih bahagia. Saya pilih tenang. Menurut saya, ngerasain bahagia sih enak, tapi kalo ngga tenang, sama aja bohong. Teman saya bilang, ya kalo bahagia… bahagia, kita hidup untuk cari kebahagiaan. Saya kemudian berargumen bahwa yang ultimate itu ketenangan, makanya ada “RIP” (Rest in Peace), bukan “RIH” (Rest in Happiness”. Sejalannya waktu, saya berubah ke pilih bahagia. Kayaknya dengan bahagia…. ya seperti yang teman saya bilang, bahagia rasanya. Susah jelasinnya. Tapi, sejak sekitar 4 tahun lalu, saya ngga lagi cari kebahagiaan. Yang saya cari: Ketenangan. Yes, saya balik lagi ke pilihan awal saya. Kebahagiaan bisa kita dapetin dengan banyak cara dan/atau ketika kita berhasil akan sesuatu; dapet gaji di akhir bulan, berhasil dapetin proyek, dapet teman baru, dapet investasi, berhasil kolaborasi, dapet dividen, ketika traveling, makan di restoran, ngerayain ultah, dan jutaan hal lainnya. Tapi ini semua ngga ada artinya kalau di dalam lubuk hati terdalam kita tahu bahwa kita lagi ngga tenang. Kok bisa? Ya jelas bisa, kalau kebahagiaan yang kita dapetin dan rasain itu dari hasil yang ngga halal, dari tindakan kita yang nyakitin orang lain, dari nginjek-nginjek pihak lain demi kesuksesan kita. Fast forward ke hari ini,… saya ngerasa kalau kita tenang hidupnya, kita akan ngerasain kebahagiaan yang sejati. Hati tenang = Bahagia, namun belum tentu sebaliknya. Ada yang punya pendapat lain? Silahkan ya. I’d love to hear your thought and perspective. Duduk di teras, liat air mengalir di sungai, nonton Netflix berduaan sama wifey, mancing ikan di sungai berjam-jam (meski ngga berhasil nangkep ikannya), nyabutin rumput liar di taman, liat wifey berkebun, masak di dapur, liat James nyari makanan di dapur adalah segelintir ketenangan yang bikin saya ngerasain kebahagiaan yang luar biasa. Semoga kalian yang baca tulisan ini, bisa ngerasain kebahagiaan yang saya rasakan detik ini. Nyari ketenangan, bukan berarti harus stop jadi orang yang sukses loh ya. Nih, bagi yang mau baca Tips Promosi Jabatan, silahkan klik di sini. See You ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 6/6/2021 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun

Kekayaan Bukan Ilusi

#BBCNote42 Banyak orang yang ngga suka ngomongin soal uang karena takut kesannya dianggap mata duitan, mendewakan uang, dan seterusnya. Tapi, dalam hati mereka tau dan sadar bahwa uang itu penting. Dan biasanya, mereka adalah orang-orang yang ngerasain masalah dengan uang di dalam kehidupan sehari-harinya. Sementara, di luar sana ada orang-orang yang ngga malu untuk ngebahas soal uang, tapi bukan soal cara ngabisinnya, tapi lebih kepada gimana menambah kekayaannya. Mereka inilah yang biasanya ngga punya masalah dengan keuangan. Kok bisa? It’s all about YOUR MINDSET. Kalau kamu dari kecil diajarin sama orang tua kamu kalau uang itu “jahat” dan jangan jadi mata duitan, kemungkinan besar perspektif kamu soal uang akan ada unsur negatifnya. Jadi, secara ngga sadar, apa yang kamu lakuin setiap haripun bukan untuk growing your wealth. Di alam bawah sadar kamu, kamu “takut” kaya. Orang-orang kaya ngajarin anak-anaknya: Uang itu penting, dan semakin kamu kaya, kamu akan semakin bebas. Kamu akan bisa ngelakuin banyak hal, its okay untuk gagal, dan kamu bisa ngelakuin banyak kebaikan dengan meluangkan waktu kamu dan menyumbang banyak uang. Bayangin, kalau dari kecil kamu udah dijejelin mindset seperti ini? Chancenya, ketika kamu dewasa, kamu akan ngelakuin hal-hal yang bisa bikin kamu kaya, yang bikin kekayaan kamu semakin bertambah. Uang ngga bisa beli kebahagiaan. True. Tapi kekayaan bisa “beli” kebebasan (bebas ngelakuin apa aja, kapan aja, berapapun harganya). Mau kaya? Benerin dulu mindset kamu… Sosial dulu atau jadi kaya dulu? Jawabannya ada di tulisan ini. See You ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 4/6/2021 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun