Wait and See

#BBCNote58 Sejak pertengahan tahun 2023, hampir semua bisnis “wait and see” karena Indonesia sudah bersiap untuk Pilpres yang akan diselenggarakan di Februari 2024. Dan setelah Pilpres satu putaran yang dimenangkan pasangan Pak Prabowo dan Mas Gibran, semua bisnis masih tetap “wait and see” karena sebelum melakukan investasi dan menentukan strategi operasional, semua bisnis mau tau dulu gimana nanti kabinet yang akan dibentuk oleh Presiden dan Wapres terpilih. Saya menulis ini di penghujung 2024, artinya pelantikan Presiden dan Wapres sudah dilaksanakan 2 bulan lalu. Seharusnya semua bisnis sudah bergerak penuh, tapi kenyataannya,… belum. Masih banyak yang dipertimbangkan, sehingga istilah “wait and see” masih juga diterapkan oleh banyak bisnis di Indonesia. Kenapa? Padahal kabinet kan sudah dibentuk? Karena ternyata beberapa kementerian yang baru dibentuk baru bisa benar-benar bekerja penuh kalau sudah disupport oleh Undang-Undang; dan ini efeknya kemana-mana. Tapi yang saya tulis di atas boleh dibilang ngga berlaku untuk umkm dan startup. “Wait and see” berlaku untuk perusahaan-perusahaan besar, meskipun efeknya dirasakan oleh umkm dan startup yang memiliki hubungan bisnis dengan perusahaan-perusahaan besar tersebut. Sebagai entrepreneur dan investor, saya berusaha semaksimal mungkin untuk ngga “wait and see”. Roda bisnis harus terus bergerak, gaji karyawan harus dibayarkan setiap akhir bulan. Seluruh tim di kantor harus semaksimal mungkin jalanin semua target operasional yang sudah diset. Perusahaan-perusahaan saya ngga punya kemewahan untuk “wait and see”. Semua harus jungkir balik untuk supaya perusahaan bisa tetap survive, dan supaya ngga perlu PHK karyawan. Apakah 2025 akan menjadi lebih baik? Harapan saya: Iya. “Orang yang lebih siap akan mendapatkan lebih banyak kesempatan baik”. Jadi harus gimana menghadapi 2025 yang kata banyak orang akan lebih susah dibanding 2024? Jawaban saya: Harus jungkir balik = kerja semaksimal mungkin. Good luck. See you ON TOP! Billy Boen

2 Hottest Industries in 2023 (Indonesia)

#BBCNote57 Dulu saya fokus ke dunia fashion, trus ke dunia f&b, kemudian sejak YOT lahir, saya fokusnya ke leadership, youth empowerment. dan teknologi Sejak saya jadi venture capitalist, saya jadi terekspos ke banyak industri: umkm, pertanian, pendidikan, logistik, motor listrik, kesehatan, dan lain-lain. Trus apa yang menurut saya 2 industri yang paling ‘hot’ dan sexy di Indonesia untuk kedepannya? Meskipun dunia umkm dan pendidikan di Indonesia masih perlu banget untuk di-disrupted dari status quo, sayangnya 2 industri ini bukan yang paling hot menurut saya. Banyak yang sudah berusaha untuk mendisrupt kedua industri ini, dan so far menurut saya masih baru permukaannya aja yang kesentuh. Terutama dunia umkm, banyak yang berusaha untuk ngebantu umkm kita untuk going digital dan gunain teknologi untuk bisa naik kelas, tapi tetep aja.. sampe saat ini, belum ada yang berhasil. Tokopedia sudah bersumbangsih banyak bikin umkm kita berkembang, tapi tau ngga jumlah ecommerce transaction cuma 2-5% dari total retail transaction di Indonesia? Menurut saya, 2 industri yang lagi ‘hot’ dan sexy: electric vehicle (mobil/motor listrik) dan kesehatan. Saya kebetulan terlibat langsung ketika Kejora Capital invest di swap.id (batere infrastruktur untuk motor listrik), smoot.id (motor listrik pintar), dan asa ren (DNA data company). Pemerintah Indonesia sudah jatahkan subsidi untuk 200,000 motor listrik di tahun 2023. Dari jumlah motor yang beredar di Indonesia yang berjumlah 133 juta motor, tentu ini masih sedikit banget. Tapi ngga apa-apa, ini permulaan yang baik menurut saya. Sementara di dunia kesehatan, Menteri Kesehatan kita sudah mencanangkan bahwa Indonesia harus punya ratusan ribu bahkan jutaan bio bank supaya ujung nantinya, pabrik obat bisa riset dan bikin obat-obatan yang cocok untuk orang-orang Indonesia berdasarkan DNA-nya (precision medicine). FYI, saat ini obat-obatan yang kita makan, hasil riset menggunakan DNA orang bule (Amerika/Eropa); jadi jangan kaget kalo kadang efeknya ngga maksimal untuk kita orang Indonesia. Ini dua industri yang paling ‘hot’, tapi bukan berarti industri lain seperti agritech dan supply chain ngga sexy loh ya. Indonesia itu belum jadi negara maju, artinya masih banyak banget yang harus dibenahin. And that’s why i love living and creating values di sini. Siapa yang punya wawasan luas, kreatif, ngga males gerak (alias ngga cuma omdo mau lakuin ini itu), dan yang punya grit… punya chance suksesnya lebih besar dibanding mereka yang ngga punya ambisi untuk berkembang dan berkarya. Kalo kamu punya pandangan lain, silahkan tulis di kolom komentar. Dan jangan lupa untuk refleksi ke diri sendiri, apakah kamu punya ide untuk solve masalah apa yang ada di Indonesia? Kalo iya, just do it; and good luck! Ngga harus di 2 ‘hottest’ industri yang saya sebut kok. I wish you all the best! See You ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Youtube: BBC | Linkedin: Billy Boen 2/4/2023 ***Silahkan register dan join BBC untuk baca seluruh tulisan saya di sini. ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

Investasi Sekarang: Properti atau Saham?

#BBCNote21 Di era covid sekarang ini, mana yang lebih baik, investasi di properti yang katanya semua harganya lagi pada turun atau di bursa saham? Sejak WFH di pertengahan Maret, kalau ada 2 area yang saya paling pelajari dari buku, google, youtube, ya 2 hal ini: properti dan bursa saham. Dan saya bukan cuma belajarin 2 area ini sebatas di Indonesia, atau di Asia Tenggara, atau Asia Pacific. Saya pelajari pemikiran-pemikiran orang-orang hebat dan melihat secara global. Kalau properti, saya sampai lihat Australia, Eropa, dan Amerika. Kalau bursa saham, yang saya perhatikan setiap hari hingga sekarang ini adalah: Nasdaq dan NYSE yang dua-duanya merupakan bursa saham terbesar di dunia, yang berlokasi di kota New York. Kenapa saya kalo pelajari sesuatu, ngga terbatas cuma di Indonesia aja? Karena melihat dari sejarahnya, negara kita itu seringkali berada beberapa tahun dibelakang Amerika dan Eropa. Kalau sekarang secara global kita sudah lebih terkoneksi karena teknologi, tetap saja… pemikiran rakyat kita masih seringkali “beberapa bulan” di belakang Amerika dan Eropa. Balik ke judul tulisan ini, mana yang sebaiknya dipilih? Properti atau saham? Tergantung. Yang pasti kalau alokasi uang untuk berinvestasinya terbatas, ya kemungkinan besar ngga bisa invest di properti. Ngga ada kan properti yang dijual Rp300,000 (kayak 1 lot saham di bursa)? Jadi kalau duitnya terbatas, ya di saham (atau kalau mau yang lebih aman, ya beli emas). Tapi, kalau duitnya ada dan bisa keduanya, ya jalanin keduanya. 🙂 Tapi, kalau harus milih salah satu, pilih yang mana? Disclaimer ya, bahwa apa yang saya tulis di sini BUKAN WAJIB untuk diikuti. Ini hanya pemikiran saya dan yang memang saya lakukan. Bursa saham saat ini lagi menarik. Sejak crashed di Maret/April 2020, banyak saham yang belum balik ke harga normal sebelum crash. Artinya, kalau berinvestasi sekarang ini, kemungkinan harganya akan naik dalam jangka menengah, apalagi dalam jangka panjang. Dan, enaknya di saham, kalau yang dibeli itu blue chip (perusahaan dengan manajemen bagus), saham yang kita beli itu sangat likuid. Kalau mau kita jual, bisa langsung terjual. Hati-hati, jangan beli saham gorengan dengan asal-asal ikut-ikutan karena harganya kayaknya lagi bagus atau sedang meroket. Bisa jadi saham ini ngga ada yang mau beli di keesokan harinya. Yes, ini bisa terjadi. Untuk properti, kecuali bisa dapetin harga rumah/tanah/apt dari orang lokal atau tetangga atau teman… dan dijualnya karena butuh uang, sebaiknya belinya nanti aja. Kenapa? Karena semakin lama, semakin banyak orang yang akan butuh uang karena efek dari covid. Semakin sulit untuk orang-orang bayar cicilan rumah/aptnya. Banyak yang kena PHK dan tabungan menipis bahkan habis, makanya mereka harus jual rumah/tanah/apartemennya. Di sinilah saat kamu yang punya uang lebih untuk investasi masuk. Kapan? Saran saya: antara Januari hingga Juni 2021. Semoga bermanfaat. Tapi inget ya, soal Dana Darurat. Baca dulu tulisan saya itu sebelum kamu mulai berinvestasi di manapun. Berbahagialah kalian yang selama ini ngga hedon, ngga beli-beli barang demi gengsi dan sekarang punya tabungan banyak bahkan punya alokasi untuk investasi. Siapin mindset dan mental kamu dari sekarang, sehingga ketika covid hilang dari muka bumi, kamu sudah siap. Seperti apa Life After Covid, silahkan dibaca. See You ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 9/10/2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

Perbedaan Startup dan UMKM

#BBCNote20 Saya masih ingat betul, di tahun 2009-2010, Pemerintah lagi giat-giatnya galakin UMKM. Pemerintah sadar kalo jumlah entrepreneur di Indonesia itu sangat jauh tertinggal dibanding negara-negara lain. Kalau ngga salah, waktu itu angkanya menurut Bappenas: 0.18% = ngga sampe seperempat persen. Sementara Singapore, Thailand, Malaysia udah di 3-5%. Waktu itu, infrastruktur teknologi belum semaju sekarang, jadi waktu itu yang dipromosiin sama Pemerintah: UMKM. Semua berubah ketika di tahun 2013-2014, mendadak dunia startup muncul karena berita Tokopedia dapet pendanaan $100juta = Rp1.3T saat itu. Ditambah Gojek yang juga meledak popularitasnya. ‘Sekejap’, dunia wirausaha naik daun. Tapi yang naik daun: startup, bukan UMKM. Anak-anak muda langsung berharap bisa kayak William Tanuwijaya, tajir melintir. Meski akhirnya ratusan atau bahkan ribuan startup yang lahir di tahun 2015-2015 banyak yang berguguran dan menyadarkan para founder startup bahwa bikin usaha itu ngga gampang (bukan cuma bermodalkan powerpoint presentation dan dapetin modal usaha dari angel investor dan VC). VC yang berjamuran di tahun itu juga mulai sadar bahwa bikin VC itu bukan soal keren-kerenan, dan ngga bisa invest di startup yang pake strategi hyper growth untuk penetrasi pasar secepat-cepatnya (mungkin lebih dikenal dengan ‘bakar duit’). Nah, jadi apa bedanya startup dan UMKM? Pada dasarnya, startup itu adalah perusahaan baru. Tapi startup memang dibuat dengan tambahan arti disamping hanya sebagai perusahaan baru: bergerak di teknologi dan (hyper) growth adalah faktor yang sangat penting bukan sekedar untuk profitable atau bertahan. Jadi kalau ada pengusaha yang jualan baju secara online, itu bukan startup. Itu UMKM yang sudah go-online. Kalau ada pengusaha yang bikin platform (marketplace) untuk para pengusaha fashion jualan baju di platformnya, nah itu bisa dikategorikan sebagai startup. Jenis investor seperti apa yang suka dengan startup dan UMKM? Venture Capital (VC) pada umumnya suka sama startup, yang bisa dapetin return on investment (ROI)nya berkali-kali lipat. Kalau Private Equity, biasanya suka sama perusahaan (baik itu startup maupun UMKM) yang punya potensial ROI-nya bagus; ngga mesti berkali-kali lipat. PE juga biasanya fokus untuk benerin manajemennya sehingga valuasi perusahaan yang diinvestnya jadi lebih baik karena kinerjanya jadi lebih baik. VC juga ada yang kayak gitu, namanya Active VC (seperti Kejora-SBI Orbit yang saya pimpin saat ini). Active VC ngga cuma taro duit trus ngarep/berdoa. Active VC bantu para founder dan manajemennya bikin kinerja startupnya jadi lebih baik. Nah, sekarang kamu udah tau apa bedanya startup dan UMKM, kalo pengen bikin usaha, pilih yang mana? Apakah sudah siap ngadepin kenyataan setelah covid? Nih baca tulisan sy: “Life After Covid” See You ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 4/10/2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

Boleh Ngga Punya Passion Lebih dari 1?

#BBCNote17 Dari kecil, passion saya: Brand Management. Kok bisa? Ngga tau, cuma ngerasa seneng aja pas naik kelas selalu dapet sepatu baru, dan mereknya yang selalu saya minta: Nike. Dari situ tumbuhlah ketertarikan dan rasa penasaran, sehingga saya dalam hati sering nanya dalam hati: “Kenapa kok kayaknya keren banget kalo pake sepatu Nike? Bukannya Nike itu cuma sepatu, untuk ngelindungin kaki dari paku, biar kaki ngga kotor, dst?” Itulah kenapa saya ketika penjurusan di SMA dan saya disuruh masuk A2 (Biologi; bisa jadi dokter), saya bersikeras pindah ke A3 (Sosial). Saya udah tau mau kuliahnya di jurusan Manajemen / Marketing, biar bisa belajarin brand. Karena belajar brand-lah, makanya ketika kerja, saya bisa pindah industri tanpa masalah. Dari Nike-Umbro-League-Oakley (sports fashion retail/distribution) ke Hard Rock Cafe-Haagen Dazs (food and beverage), dan ketika sekarang jalanin ekosistem YOT yang macem-macem, juga ngga ngerasa ada kendala, karena setiap perusahaan yang ada di bawah naungan YOT saya treated sebagai brands: YOT, TopKarir, maingame.com, dst. Nah, pertanyaan yang sering saya dapet: “Apakah passion bisa lebih dari satu?” Jawabannya: BISA, tapi ngga bisa banyak. Cuma beberapa. Sejak buku YOT terbit dan jadi national best seller, saya sering keliling kampus ketemu anak-anak muda. Sejak itulah saya punya passion baru (sejak 2009): Youth Development. Saya seneng banget kalo bisa berbagi ke anak-anak muda Indonesia. Trus, sejak infrastruktur teknologi di Indonesia menjadi lebih baik, dan karena teman-teman saya banyak yang sudah duluan di dunia teknologi, saya jadi beranikan diri terjun ke dunia teknologi, melahirkan perusahaan digital analytic GDILab. Sejak itu, passion saya nambah: teknologi. Sejalannya dengan waktu, saya coba besarkan YOT menjadi sebuah Grup (Holding) yang melahirkan dan invest di perusahaan rintisan. Sejak beberapa tahun terakhir, passion saya nambah lagi: entrepreneurship dan investment. Jadi sekarang, passion saya: Brand Management, Youth Development, Technology, Entrepreneurship, dan Investment. Ada 5! Akankah nambah? Kayaknya sih ngga. Bisa ngga kalau passionnya banyak? Saya sudah jawab: NGGA. Menurut saya 5 udah agak ngga normal sih. Yang bisa banyak itu hobi. Bedanya passion sama hobi? Kalau passion, ujung-ujungnya diseriusin dan hasilin uang (yang ngga sedikit). Kalau hobi, biasanya cuma untuk iseng aja, dan kalau ngehasilin duit, ngga bakal banyak. Coba, passion kamu apa aja? Ada berapa? Silahkan direnungin ya. Inget, kalau suka banget, udah dilakuin lama tapi ngga hasilin duit, mungkin itu cuma hobi doang, karena kamu belum ngelakuinnya dengan sepenuh hati, belum semaksimal mungkin… karena “baru suka doang”, belum cinta (passionate). See you ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 9/8/2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.