Berapa Dana Darurat yang Harus Kita Siapkan?

#BBCNote10 Saya pertama kali dengar istilah “Dana Darurat” dari Financial Planner/Expert. Orang tua saya ngga pernah ngajarin saya pentingnya punya dana darurat. Yang ditekankan ke saya sejak saya kecil: Harus kerja keras. Kalau mau punya uang lebih, kerja lebih keras lagi. My Dad malah bilang: “Ketika gaji kamu masih kecil, nikmatin aja. Kamu nabung 50%, ngirit-ngirit, Rupiah yang ditabung dikit. Mending dinikmatin aja, sambil kerja keras. Kalau gaji kamu udah agak gede, kalau kamu nabung 20% aja, Rupiah yang ditabung udah besar.” Jadi, saya sempat ngga pernah nabung sama sekali meskipun jabatan dan gaji saya tinggi ketika dulu sebagai profesional kerja di korporasi. Yang ada di benak saya, persis seperti ajaran my Dad: “Kerja untuk bisa dapetin lebih terus. Nabung, nanti aja.” Tapi semakin ke sini, saya juga ikutin ajaran my Dad sih… dan bener banget, ketika penghasilan kita makin gede, nabung secara prosentase kecil aja, Rupiah yg ditabung lumayan. Apakah saya setuju dengan ajaran my Dad? Well, kalau saya bisa sarankan kalian… nabung sejak kalian penghasilannya kecil ngga apa-apa. Malah bagus, karena nabung itu soal disiplin. Kalau sejak penghasilan kamu kecil, kamu sudah terbiasa nabung, maka ketika penghasilan kamu besar nanti, kamu sudah terbiasa nabung. Nah, now let’s talk about “Dana Darurat”. Berapa dana darurat yang perlu kita siapkan? Banyak Financial Planner/Expert bilang: Dana Darurat harus sebesar 3-4 bulan biaya hidup kita. Jadi kalau misal setiap bulan untuk kita bayar sewa rumah, biaya bensin, biaya makan Rp10juta, artinya Dana Darurat yang harus kita siapkan minimum sebesar Rp30-40juta. Tolong “3-4 bulan” ini jangan dijadikan patokan dan ditelan mentah-mentah bahwa kita harus siapkan 3-4 bulan. Saya di twitter baru-baru ini bilang, siapkan Dana Darurat 12 bulan. Ditanya, “Kok 12 bulan? Bukan 3-4 bulan?” Inilah yang menginspirasi saya untuk nulis BBCNote ini. Jadi gini, dasar pemikiran Dana Darurat adalah dana yang disiapkan untuk kalau kita di-PHK atau ngga punya lagi penghasilan. Nah berapa yang mau disiapkan, tergantung masing-masing orang. Di jaman normal dulu (sebelum Covid19), kenapa banyak Financial Planner/Expert yang menganjurkan 3-4 bulan? Pertimbangannya, kalau kamu dipecat, masa sih dalam 3-4 bulan kamu ngga bisa dapet kerjaan baru? Itu dasarnya. Kenapa saya menganjurkan 12 bulan? Karena di era Covid19 ini, apakah kamu yakin, kalau kamu di-PHK hari ini, kamu akan bisa dapetin kerjaan baru dalam 3-4 bulan kedepan? Pengangguran lagi gede-gedenya, banyak banget yang kena PHK, dan lulusan universitas dan SMK juga nambah terus setiap tahun, artinya: yang cari kerja lagi banyak-banyaknya, sementara perusahaan lagi ngga ada yang buka lowongan kerja saat ini. Semua perusahaan lagi berusaha seefisien mungkin. Jadi, bersiaplah untuk 12 bulan kedepan kamu ngga ada penghasilan. That’s why saya menyarankan Dana Daruratnya 12 bulan. Ngerti ya? Kalau untuk entrepreneur gimana? Sama aja dasar pemikirannya: Berapa Rupiah yang kamu butuhkan untuk bertahan hidup (termasuk biaya hidup keluarga, kalau kamu sudah berkeluarga; atau kalau kamu menyokong kehidupan orang tua) DIKALIKAN berapa bulan sampe kamu yakin kamu bisa punya penghasilan lagi. Kalau kamu yakinnya 6 bulan lagi baru usaha kamu bisa kembali, ya Dana Daruratnya 8 bulan, kalau kamu mengira-ngira bisa balik lagi usaha kamunya 12 bulan lagi, ya siapin Dana Daruratnya 14 bulan. Kasih cadangan 2 bulan kalau perlu, biar aman. Anyway, yang mau jadi pengusaha, silahkan baca kedua tulisan ini: “Entrepreneurs Bisa Kaya” dan “5 Kendala Entreprenerus”. Good luck! Semoga kita semua baik-baik aja, secara kesehatan, dan juga secara finansial. Amin. See you On Top! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 28/5/2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

“Berpuasalah” Untuk Menang

Pertama-tama, saya ucapkan Selamat Idul Fitri untuk semua teman-teman Muslim. Semoga semua amal ibadah teman-teman selama Bulan Suci Ramadhan, diterima olehNYA. Saya seorang Katolik. Apa yang saya tahu soal berpuasa? Di Katolik, selama 40 hari sebelum Paskah (Kebangkitan Yesus), ada masa Pra-Paskah. Selama inilah, Umat Katolik di seluruh dunia diminta untuk berpuasa dan berpantang. Karena saya bukan seorang Muslim, maka saya tidak akan membahas arti berpuasa di Agama Islam. Tapi kalau dari yang saya tahu, maksud dan tujuan utama berpuasa di Katolik adalah untuk kita menahan nafsu, untuk kita menjalankan kontrol terhadap diri sendiri. Dulu, saya puasanya bolong-bolong, dengan berjuta alasan. Tapi, sudah beberapa tahun terakhir, saya bukan saja berusaha untuk memenuhi kewajiban berpuasa dan berpantang yang diminta oleh Gereja, tapi saya melakukan hal “extra mile”, alias saya berpuasa dan berpantang selama 40 hari penuh. Kenapa? Karena saya ingin menantang diri saya: Apakah saya bisa untuk mengontrol diri saya sendiri? Selain hanya makan kenyang 1x selama setiap 24 jam, saya juga berpantang makan segala jenis daging dan berpantang membuka media sosial. Susah? Sebelum saya melakukannya, saya sempat berpikir bahwa berpantang media sosial akan sangat sulit karena saya kan biasanya harus posting untuk menginspirasi orang lain, saya juga harus posting promosi-promosi event dan program-programnya YOT. Tapi, ternyata, sejak hari pertama saya lakukan puasa dan pantang (pada Hari Rabu Abu), saya ngga ngerasa susah sama sekali. Kalau niatnya jelas dari awal, semua hal bisa kita lakukan. Saya malah merasa lebih punya banyak waktu untuk melakukan hal lain, diantaranya menulis notes di youngontop.com, dan juga akhirnya berlanjut di billyboen.com ini. Saya juga berhasil membaca beberapa buku. Saya juga merasa punya waktu lebih banyak untuk mencari berita lewat google. Saya jadi punya banyak waktu untuk ngobrol dan menghabiskan waktu bersama wifey. Paskah untuk Umat Katolik sama dengan Idul Fitri untuk Umat Muslim; sama-sama dirayakan sebagai Hari Kemenangan, dan menjadi akhir dari masa berpuasa. Apa maksud judul tulisan saya ini? Dulu, ketika saya masih ngga berpuasa dan berpantang, ketika Paskah, saya ngerasa biasa aja. Ngga ada yang istimewa. Ke Gereja, ya gitu deh rasanya: hampa. Ngga ngerasa ada arti khusus. Tapi, sejak saya berpuasa dan berpantang melebihi dari apa yang Gereja Katolik wajibkan, saya benar-benar merasa hepi dan bisa merayakan Hari Kemenangan dengan penuh rasa syukur. Paskah menjadi hari yang saya tunggu-tunggu. Ketika Paskah, saya hepi banget dan merasa lega. Saya yakin, teman-teman Muslim juga pasti merasakan hal yang kira-kira sama. Rasa hampa bagi mereka yang puasanya asal-asalan, tapi rasa syukur dan bahagia pasti menyelimuti mereka yang berpuasa penuh selama Bulan Suci Ramadhan. Saya percaya, melatih diri untuk bisa mengontrol diri sendiri sangatlah penting. Tau ngga kalau semua orang sukses itu punya kemampuan yang luar biasa dalam mengontrol dirinya. Mereka biasanya mampu untuk menahan diri, bersabar, dan bersyukur. Hmmm… Mau sukses? Baca tulisan saya “Kenapa Entrepreneur (bisa) Kaya”. “Berpuasalah”, untuk menang. See You ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 24/5/2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.