I am Back (Again)

#BBCNote52 My last post di sini, 22 September 2021, artinya sudah 17.5 bulan saya ngga nulis. Why? Karena setelah web ini kena hacked, my team harus benerin dulu semuanya (perbaiki security-nya, buang-buangin sampahnya, dan bener-benerin fiturnya) baru saya bisa nulis lagi. So many things in my biz life have happened since September 2021. On a personal life, all good. I feel blessed and grateful. Untuk yang nanya, “Mas Bill ngapain aja selama 1.5 tahun terakhir?” Well, I’ve done a lot. Ada yang berhasil, juga ada yang gagal (but at least i’ve tried, ya ngga?). But in short, i’ve been dividing my time into two things: fighting for Indonesian youth with YOT and investing in Indonesian start ups with Kejora Capital. Saya ngga pernah bilang bahwa jadi entrepreneur dan investor itu gampang. Dan seringkali, ini affecting your mental health, dan juga personal/family life. Bangun pagi bisa hepi, siang sedih/lesu karena ada masalah, sore hepi lagi, malam sedih lagi; dan repeat. Apa yang saya pelajari selama lebih dari 1.5 tahun terakhir? Beneran deh, jadi orang ngga boleh greedy. Ini sumber kehancuran. Karena greed (rakus) bisa bikin kita ngga berpikir rasional. Atau, kita menjustify hal-hal jelek dengan akal rasional kita untuk menjadi ‘terdengar bagus’. Greed juga bisa bikin kita ngelakuin hal-hal jahat ke orang lain. Kok saya tau? Ya karena saya kebetulan jadi korbannya. Jangan terlalu cepat percayain tanggung jawab ke tim yang memang belum pantas untuk dipercaya sepenuhnya. Saya bersyukur karena harus melewati periode ‘bersih-bersih’ selama 5 bulan, akhirnya saya bisa bilang bahwa saya bangga memimpin tim YOT yang saya namain YOTPassus2.0 (YOT Pasukan Khusus 2.0). Sehebat apapun kita bikin plan, pasti meleset. Faktor X di luar sana begitu besar. Jadi kalo gitu kita ngga perlu bikin plan? Wrong. Tetep dong. Tapi yang harus disiapin ya skill kita untuk bisa agile-adapt dengan situasi, dan berpikir kreatif untuk cari solusi andai plan awal kita ngga sesuai dengan yang kita harapkan. Easier than said, yes. Okay, stay tune, I’m gonna start writing what’s on my head more often. See You ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Youtube: BBC | Linkedin: Billy Boen 8/3/2023 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

Curhatan Anak Presiden, Cara Didik Anak ala Yoris

Merdeka itu = Memerdekakan seluruh tayangan UNLOCK with Billy Boen yang tayang di Metro Tv (setiap Sabtu pekan terakhir) sejak Juli 2019, sehingga semakin banyak anak muda yang bisa terinspirasi dan terbuka wawasannya dan perspektifnya akan banyak hal. Episode 1, Juli 2019: Tamu 1: Gibran Rakabuming akan curcol… makanya judulnya: “Curhatan Anak Presiden” Tamu 2: Yoris Sebastian akan bahas tentang: “Cara Mendidik Anak ala Yoris” Mau nonton? Nih, silahkan klik di UNLOCK with Billy Boen episode 1 ENJOY! BB Jangan lupa untuk jadiin quote-quote yang sudah saya posting di sini sebagai inspirasi, dan baca tulisan-tulisan saya di situ ya biar makin luas wawasan dan perspektifnya… biar makin cerdas gitu loh.

Boleh Ngga Punya Passion Lebih dari 1?

#BBCNote17 Dari kecil, passion saya: Brand Management. Kok bisa? Ngga tau, cuma ngerasa seneng aja pas naik kelas selalu dapet sepatu baru, dan mereknya yang selalu saya minta: Nike. Dari situ tumbuhlah ketertarikan dan rasa penasaran, sehingga saya dalam hati sering nanya dalam hati: “Kenapa kok kayaknya keren banget kalo pake sepatu Nike? Bukannya Nike itu cuma sepatu, untuk ngelindungin kaki dari paku, biar kaki ngga kotor, dst?” Itulah kenapa saya ketika penjurusan di SMA dan saya disuruh masuk A2 (Biologi; bisa jadi dokter), saya bersikeras pindah ke A3 (Sosial). Saya udah tau mau kuliahnya di jurusan Manajemen / Marketing, biar bisa belajarin brand. Karena belajar brand-lah, makanya ketika kerja, saya bisa pindah industri tanpa masalah. Dari Nike-Umbro-League-Oakley (sports fashion retail/distribution) ke Hard Rock Cafe-Haagen Dazs (food and beverage), dan ketika sekarang jalanin ekosistem YOT yang macem-macem, juga ngga ngerasa ada kendala, karena setiap perusahaan yang ada di bawah naungan YOT saya treated sebagai brands: YOT, TopKarir, maingame.com, dst. Nah, pertanyaan yang sering saya dapet: “Apakah passion bisa lebih dari satu?” Jawabannya: BISA, tapi ngga bisa banyak. Cuma beberapa. Sejak buku YOT terbit dan jadi national best seller, saya sering keliling kampus ketemu anak-anak muda. Sejak itulah saya punya passion baru (sejak 2009): Youth Development. Saya seneng banget kalo bisa berbagi ke anak-anak muda Indonesia. Trus, sejak infrastruktur teknologi di Indonesia menjadi lebih baik, dan karena teman-teman saya banyak yang sudah duluan di dunia teknologi, saya jadi beranikan diri terjun ke dunia teknologi, melahirkan perusahaan digital analytic GDILab. Sejak itu, passion saya nambah: teknologi. Sejalannya dengan waktu, saya coba besarkan YOT menjadi sebuah Grup (Holding) yang melahirkan dan invest di perusahaan rintisan. Sejak beberapa tahun terakhir, passion saya nambah lagi: entrepreneurship dan investment. Jadi sekarang, passion saya: Brand Management, Youth Development, Technology, Entrepreneurship, dan Investment. Ada 5! Akankah nambah? Kayaknya sih ngga. Bisa ngga kalau passionnya banyak? Saya sudah jawab: NGGA. Menurut saya 5 udah agak ngga normal sih. Yang bisa banyak itu hobi. Bedanya passion sama hobi? Kalau passion, ujung-ujungnya diseriusin dan hasilin uang (yang ngga sedikit). Kalau hobi, biasanya cuma untuk iseng aja, dan kalau ngehasilin duit, ngga bakal banyak. Coba, passion kamu apa aja? Ada berapa? Silahkan direnungin ya. Inget, kalau suka banget, udah dilakuin lama tapi ngga hasilin duit, mungkin itu cuma hobi doang, karena kamu belum ngelakuinnya dengan sepenuh hati, belum semaksimal mungkin… karena “baru suka doang”, belum cinta (passionate). See you ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 9/8/2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

Bukan Saatnya Memulai Bisnis

#BBCNote16 Kemungkinan besar semua orang akan bilang: “Saatnya berbisnis adalah hari ini. Yang penting mulai aja dulu. Ambil langkah pertama, jangan takut.” Tapi, kata-kata motivasi seperti itu, apakah masih relevan di era covid yang belum membaik ini? Apakah memulai bisnis di saat sebelum covid dengan di saat covid memiliki kesempatan sukses (dan kesempatan gagal) yang sama? Menurut saya jawabannya: Beda! Saya ngga mau dan memang bukan motivator. Saya ngga mau mencoba memotivasi kalian untuk memulai bisnis sekarang, karena memang menurut saya, sekarang bukan saat yang paling tepat untuk memulai bisnis. Kenapa? Memang, di setiap masalah, pasti ada kesempatan. Dan memang, bukan berarti kalau bikin perusahaan sekarang yang didirikan di atas fondasi yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan era covid ngga akan bisa sukses. Mungkin bisa. Apakah chancenya besar? I dont think so. Kalau mau jujur… saya melihat bahwa sekarang ini perusahaan yang malah menjadi lebih baik di era covid BUKANLAH perusahaan-perusahaan yang baru lahir di era covid. Saya kasih beberapa contoh nyata: Zoom. Ini platform untuk digital meeting yang mendadak sangat terkenal, jumlah usernya meningkat tajam, revenuenya juga, stok dan nilai market valuationnya juga meningkat gila-gilaan sejak covid. Apakah ini perusahaan yang dibuat di era covid? TIDAK! Ini perusahaan yang sudah berdiri bertahun-tahun, dan sejak 2019 sudah IPO. Dengan kata lain, pas covid jadi pandemi, perusahaan ini sudah bukan baru punya ide, bukan cuma punya beta version, tapi sudah punya produk yang jalan dan dan digunakan oleh jutaan orang. Online Gaming. Sejak covid juga meledak jumlah gamersnya. Apakah perusahaan-perusahaan online game yang sekarang jadi semakin besar ini diciptakan di era covid atau persis sebelum covid? TIDAK. Semuanya merupakan perusahaan-perusahaan yang sudah berdiri tegar dari sebelum covid. Netflix, Amazon, Microsoft, Google… stok mereka terbang semua sejak covid. Sempet turun, tapi langsung rebound dan terbang tinggi banget. Mereka bukan perusahaan ‘kemaren sore’. Manajemennya sudah kuat, produknya sudah terbukti. Di Indonesia juga sama. SiCepat, perusahaan last mile delivery yang sekarang pengirimannya 1 juta per hari. Apakah ini perusahaan baru? Bukan, ini perusahaan yang sudah berdiri cukup lama. Gimana dengan perusahaan startup yang berhubungan dengan groceries kayak SayurBox, Happy Fresh? Mereka juga umurnya udah beberapa tahun, bukan baru dibikin di era covid. Dari segi investasi gimana? Sama juga: Venture Capitals ngga nyari perusahaan-perusahaan startup yang detik ini baru bikin powerpoint presentation, atau yang baru berdiri beberapa bulan (sebelum covid atau di era covid). VC carinya startup yang sudah established, dan yang bisa bertahan selama covid menyerang Indonesia di Maret hingga sekarang. Banyak VC yang punya duit, tapi belum mau taro duitnya di startup meski startup tersebut punya produk yang baik. Kenapa? Karena VC ingin melihat seleksi alam. Bagi founder dan manajemen yang ngga kuat, yang ngga bisa beradaptasi, berinovasi, kreatif dalam menghadapai covid, startupnya akan mati. VC ngga mau kasih infus ke startup untuk bisa bertahan hidup. VC mau kasih suntikan dana (“vitamin”) untuk startup-startup yang memang ngga masuk ke “rumah sakit”, sehingga suntikan dananya bukan untuk memperpanjang nafas saja tapi untuk scaling up. Jadi, memang secara faktanya, sekarang bukan saatnya untuk memulai bisnis baru. Apa dong yang harus kita lakuin sekarang? Menurut saya, prioritasnya adalah bertahan hidup dan memperluas wawawasan. Cari potensi, ambil ancang-ancang. Kalau ada opportunity yang memang kamu yakin banget harus dijalankan sekarang, silahkan. Do it! Pastikan bisnis yang kamu rintis bisa bertahan hingga 24 bulan kedepan tanpa mengharapkan suntikan dana dari VC. Kalau menurut kamu ini bisa kamu lakuin, Do it! Good luck! See you ON TOP! Billy Boen Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen 14/7/2020 ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.