Category: Premium

  • Sosial Dulu atau Kerja Dulu?

    Sosial Dulu atau Kerja Dulu?

    #BBNote41

    Sejak teknologi semakin berkembang dan memudahkan untuk kita melakukan banyak hal, Generasi Milenial hatinya semakin tergerak untuk mau berbuat sosial. Kalau jaman dulu, hampir semua anak muda fokusnya sukses di karir, jarang yang mikirin untuk berbagi… sekarang beda. Generasi Milenial apalagi Generasi Z fokusnya malah untuk bermanfaat. Mereka akan memilih untuk kerja di perusahaan yang menurut mereka punya banyak manfaat di masyarakat. Mereka ngga lagi melihat pekerjaan cuma dari berapa besaran gajinya tapi lebih kepada seberapa mereka bisa mengambil peran aktif dalam membuat perubahan bersama perusahaannya.

    Untuk yang hatinya banget banget tergerak untuk berbuat baik… kadang dilemanya: lulus kuliah langsung berbuat baik (sosial) atau kerja dulu ya?

    Di luar sana sudah banyak banget anak muda yang berbuat baik selepas kuliah. Bagus atau ngga? Jelas bagus dong. Tapi…

    Banyak yang setelah 5 tahun lakuin kegiatan sosial, mereka harus meninggalkan itu semua karena mereka sudah mulai dihadapkan oleh realitas kehidupan: pacaran, nikah, punya anak, dan menghidupi keluarga… yang semuanya butuh uang yang ngga sedikit. Jadi mereka harus stop kegiatan sosialnya dan fokus kerja.

    Kalau saran dari saya:

    1. Lulus kuliah, fokus bangun karir kamu. Bisa dengan bekerja atau berbisnis.
    2. Di sela-sela prioritas kamu itu, lakuin kegiatan-kegiatan sosial.

    Kenapa?

    Karena kalau kamu karirnya bagus, bisnisnya sukses, kamu akan bisa lebih berbagi ke lebih banyak orang lagi. Uang yang kamu punya banyak, relasi/network yang kamu miliki juga besar, kamu jadi bisa ngajakin teman-teman kamu untuk juga berbagi sehingga impactnya pun lebih besar. Lebih banyak yang bisa menerima kebaikan dari yang kamu dan teman-teman kamu lakuin.

    Dan yang terpenting: kegiatan sosial kamu itu ngga akan pernah putus, sampai kamu meninggal. Karir kamu bagus, bisnis kamu bagus, ketika berbagi kamu merasa senang, saya yakin kamu ngga akan pernah mau berhenti berbagi.

    See You ON TOP!

    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    24/5/2021

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun

  • 5 Tips Promosi Jabatan

    5 Tips Promosi Jabatan

    #BBCNote40

    Tips yang saya tuis untuk kalian yang sedang kerja dan meniti karir ini bukan semata dari kacamata saya sebagia entrepreneur / pemilik perusahaan. Saya nulis tips ini juga berdasarkan dari pengalaman saya meniti karir sebagai seorang karyawan, sejak lulus kuliah, selama 9 tahun kerja di 3 perusahaan berbeda, sebelum akhirnya banting setir menjadi pengusaha.

    Apa aja tipsnya? Saya tulis ini, dengan tidak berurutan ya, karena semuanya penting, nih dia:

    1. Jangan hitung-hitungan sama waktu. Banyak karyawan yang dalam hati bilang, “Boss gua rese, udah mau jam pulang kantor, gua dikasih kerjaan!” Padahal, ini seharusnya kamu syukuri. Kenapa? Karena percaya deh, ngga ada Boss yang waras yang ngasih kerjaan ke karyawan yang dia ngga percaya bisa mengerjakan pekerjaan tersebut. Jadi, kalau kamu yang dikasih kerjaan tersebut, artinya kamu yang dipercaya sama Boss kamu, bukan rekan kerja kamu. Bersyukurlah, dan do your best!
    2. Do your best. Jangan punya mental, “Ah yang penting udah gua kerjain”. Banyak karyawan yang mental kerjanya kayak gitu, dengan kata lain, ngerjainnya asal-asalan, setengah hati, yang penting kelar tanpa peduli hasilnya maksimal atau ngga. Ngga ada Boss yang mau kasih kepercayaan dan tanggung jawab lebih besar ke karyawan tipe gini.
    3. Samakan ekspektasi dengan Boss kamu. Seringkali karyawan bilang, “Saya sudah kerjakan 1-10 tapi Boss masih bilang kurang.” Di awal pas dikasih tugasnya, nanya ngga, “Pak/Bu, saya harus kerjakan 1 sampai berapa?” Kalau si Boss ngarepnya kamu kerjain tugasnya 1-100, ya jelas aja yang kamu kerjain kurang dan Boss kamu ngga hepi dengan kerjaan kamu.
    4. Kerjain beyond your job description. Semoga kamu ngga punya response berikut: “Ha? Ngga salah nih? Ngapain ngerjain yang diluar jobdes, kan saya digaji untuk ngerjain jobdes!” Sadar ngga sih, kalau jobdes itu adalah pengharapan minimum perusahaan terhadap kamu? Jadi, kalo patokan kamu cuma ngerjain sesuai jobdes, ya kamu akan stay di posisi kamu aja, ngga akan pernah dipromosiin jabatan. Kalo mau dipromosiin jabatan, selesaiin jobdes kamu secara maksimal, trus go extra mile… coba bantuin rekan kerja kamu, atau volunteer untuk ikut dalam project lain yang lagi berlangsung di perusahaan kamu.
    5. Jangan gosip, jangan jelekin rekan kerja kamu, apalagi Boss kamu. Dah, kalo poin ini ngga perlu saya jabarin lebih lanjut lah ya. Udah jelas banget kan?

    Good luck! Semoga tahun ini kamu dipromosiin jabatannya. 🙂

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    3/5/2021

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun

  • 6 Cara Hadapi Masalah

    6 Cara Hadapi Masalah

    #BBCNote39

    Untuk kalian yang lagi menghadapi masalah detik ini, congrats!

    Artinya kalian masih hidup.

    Semua orang yang masih hidup detak jantungnya naik turun, artinya ada saatnya kita senang, ada saatnya kita sedih. Hari ini kita bisa berhasil mencapai suatu hal, bisa jadi besok kita ngerasain kegagalan. Masalah, tantangan, apapun namanya itu akan selalu ada di kehidupan kita. Kadang besar, kadang kecil. Kadang cepat berlalu, kadang lama.

    Jadi kalau kalian lagi punya masalah saat ini, percaya deh, kalian ngga sendirian. Di luar sana ada miliaran orang yang juga lagi menghadapai masalah. Jangan pernah mengira bahwa orang sukses dan orang kaya ngga punya masalah. Masalah yang mereka punya mungkin beda dengan masalah yang kalian hadapi. Mungkin mereka ngga punya masalah keuangan, tapi mungkin mereka berharap punya lebih banyak waktu bersama keluarga tercinta, mungkin mereka saat ini lagi berhadapan dengan orang-orang yang mau berbuat jahat ke mereka, dst.

    Karena masalah pasti ada di kehidupan kita, maka kita harus punya mindset yang tepat soal masalah. Kita harus hadapai masalah tersebut, jangan malah lari dari masalah tersebut. Yes, easier said than done. Karena pas lagi ada masalah, rasanya mumet banget. Pengen banget kabur dan cuekin tuh masalah dengan harapan masalah tersebut akan hilang dengan sendirinya. Yes, ada masalah yang kayak gini, tapi banyak masalah yang ngga bisa selesai begitu aja. Masalah itu harus kita hadapi. Coba bayangkan kalau kita kabur dari masalah, berharap masalahnya hilang dengan sendirinya, eh tuh masalah ngga hilang, malah menjadi besar dan efeknya ke semakin banyak orang lain selain diri kamu. Semakin besar masalahnya, semakin susah pula penyelesaiannya. Jadi, sebelum tuh masalah jadi makin besar, ya harus dihadapi. Memang ngga gampang.

    Ini yang harus kalian lakuin ketika ada masalah:

    1. Cari tahu sebanyak-banyaknya tentang masalah tersebut; kenapa bisa terjadi, apa dan seberapa besar efeknya.
    2. Sedih? Boleh. Kesel? Boleh. Tapi jangan lama-lama. Semakin cepat kamu bisa menerima kenyataan ini, semakin baik. Karena kamu akan bisa mulai mikir gimana cara penyelesaiannya.
    3. Jangan cuma dipikirin di otak kamu, tapi ambil hape/laptop kamu dan ketik (atau tulis di buku catatan) apa yang menurut kamu langkah-langkah tepat yang harus diambil segera sebelum masalahnya semakin semrawut.
    4. Apa yang kamu catat ini, mungkin ngga perlu langsung kamu lakukan dengan tergesa-gesa (kecuali memang urgent banget masalahnya alias harus diselesaikan segera). Kadang ada baiknya di pikirin beberapa kali, pastikan langkah-langkahnya memang udah yang paling tepat.
    5. DO IT. Ini langkah yang mungkin paling ngga enak untuk dilakuin. Kamu harus ketemu sama orang yang kamu kesel, harus kembali berhadapan dengan kekesalan kamu, dst.
    6. Jangan give up sampe masalahnya selesai.

    Enam langkah ini ngga gampang. Tapi, ini yang harus kalian lakuin ketika kalian ketemu dengan masalah, sekecil apapun. Saya nulis ini, bukan berdasarkan kutipan dari buku manapun, tapi dari pengalaman pribadi, dan memang ini enam langkah yang saya coba untuk lakuin ketika saya ketemu masalah. Jadi saya tahu bener bahwa ngelakuin enam langkah ini ngga gampang sama sekali. I’m also only a human, apa yang kalian rasain juga saya rasain. Kita ada di dunia yang sama, di bumi yang sama, di negara yang sama.

    Saya pernah mau give up dengan hidup ini, tapi puji Tuhan tidak saya lakuin. Saya berharap kalian semua juga ngga akan pernah give up, apalagi dengan hidup ini. Kuncinya: #bersyukurterus dan #fokusberbuatbaik.

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    21/4/2021

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun

     

  • Apakah Kamu Punya Mental Pengusaha?

    Apakah Kamu Punya Mental Pengusaha?

    #BBCNote36

    Ngga semua orang mau jadi pengusaha, tapi banyak yang mau jadi pengusaha. Motivasi mereka mau jadi pengusaha juga macem-macem. Ada yang pengen jadi pengusaha karena keren, karena duitnya banyak, tapi ada juga yang mau jadi pengusaha karena bisa membuka lapangan pekerjaan buat orang lain, berkarya, dan pengen bisa bermanfaat ke banyak orang.

    Apapun motivasinya, dan siapapun inspirasinya, pastikan kamu beneran punya mental pengusaha. Apa sih mental pengusaha? Kayak gimana sih mental pengusaha?

    My wifey adalah orang yang sangat sangat tau kenapa saya sampe nulis artikel ini. Dia adalah orang yang bisa ngeliat mood saya swing dari sangat sangat gembira di pagi hari, kemudian bisa mendadak moody di siang hari, dan di sore harinya saya bisa senyum lagi. Atau, bisa di minggu ini saya hepi banget, kemudian selama 2 minggu kedepan saya sangat sangat muram dan ngga banyak ngomong.

    “Oh, jadi mas Billy orangnya moody-an toh”. Ngga sama sekali. Saya justru adalah orang yang lebih pakai rasional dibandingkan pakai hati. Mungkin kalau pakai persentase: 70% rasional, 30% hati. Yes, 30% termasuk ngga kecil, makanya itulah kenapa kalau saya lagi ada masalah, orang-orang akan bisa tahu. Dari raut muka saya, maupun dari aura yang nempel sama diri saya.

    Semua orang yang mau jadi pengusaha, berharap grafik kesuksesan itu lurus dari titik nol, naik terusssssssss. Grafiknya trending positif.

    Nah, semua pengusaha yang udah jalanin bisnisnya lebih dari 5 tahun, tahu banget kalau hampir ngga ada tuh grafik trending positif yang lurus. Udah pasti, naik turun, kayak grafik stok di bursa saham.

    Pertanyaannya: Kalau pas lagi turun, mental kamu siap ngga? Kalau pas lagi naik ngga usah ditanya deh… pasti hepi. Kalau turunnya “berjuta kali”, kamu siap ngga? Kalau ngga siap, sebaiknya jangan jadi pengusaha.

    Kalau jadi karyawan, grafiknya turun itu kalau abis dimarahin sama atasan. Grafiknya turun banget, kalau abis kena SP1, SP2, atau dipecat.

    Nah, kalau jadi pengusaha, grafiknya turun itu kalau pas projectnya gagal, rugi, trus ngga bisa bayar gaji karyawan kantor. Belum lagi kalau ditipu, kena kasus hukum, dan seterusnya.

    Apa yang saya sampein di sini, bukan teori. Saya sudah pernah ngerasain “semuanya”. Masa sih? Iya, ditipu pernah, berhubungan sama hukum pernah, project gagal sering, rugi sering, ngga bisa bayar gaji karyawan berkali-kali sejak saya jadi pengusaha tahun 2009 lalu.

    Apakah semua orang harus jadi pengusaha? Ngga. Apakah kamu hanya akan jadi manusia yang mulia kalau jadi pengusaha dengan membuka lapangan pekerjaan dan berkarya? Ngga. Jadi manusia yang bermanfaat itu bisa kok dengan kerja dengan integritas penuh, jadi atasan yang mau mentorin timnya dengan tulus, yang bikin perusahaannya berkembang sehingga bisa memberikan gaji yang lebih baik utk seluruh karyawannya dan membuka lowongan kerja untuk orang lain. Yes, itu semua bisa kamu lakukan ketika kamu menjadi karyawan.

    Jadi pengusaha atau tidak, itu sepenuhnya adalah sebuah pilihan. Ngga ada yang benar dan salah. Tergantung diri kamu. Tapi pastikan, ketika kamu mau jadi pengusaha, kamu harus punya mental jadi pengusaha.

    Gudlak!

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    15/3/2021

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun

  • Lebih Baik Mana: Mulai Usaha vs. Investasi

    #BBCNote35

    Di tahun 80an – 90an, yang ngetren adalah jadi karyawan yang sukses. Seperti apa karyawan yang sukses? Yang bisa memanjat tangga korporasi, hingga capai jabatan tertinggi di perusahaan tersebut yang biasanya dipegang oleh jabatan CEO, Managing Director, Managing Partner, Country Manager, atau General Manager.

    Tapi dunia berputar, ada tren baru di 2000an: entrepreneurship. Ini juga baru beneran mulai dipromote gila-gilaannya sejak menjelang akhir 2000-an, kira-kira di tahun 2008. Generasi muda yang usaha mulai keliatan ke permukaan, salah satunya ada Mimin Andrew Darwis Kaskus. Tren ini terus bergulir hingga tahun 2019. Ngga heran, jumlah entrepreneur saat ini sudah jauh lebih banyak dibandingin sama jumlah entrepreneur 12 tahun lalu.

    Saya sendiri mulai usaha (banting setir dari karyawan) sejak umur 2009, ketika membuat YOT dari nol.

    Anyway, jadi sekarang yang lagi ngetren apa? Investasi. Mendadak, di sosmed, semua orang ngomongin investasi. Termasuk saya. Kok bisa? Karena sejak pandemi, orang-orang pada WFH. Meski jam kerja jadi kacau balau, ngga bisa dipungkiri bahwa tetap aja ada waktu di rumah yang bisa diisi untuk bengong. Nah, mereka yang masih terima gaji, kerjanya dari rumah, jadi punya tabungan lebih banyak dibandingin pre-covid. Kok bisa? Karena tadinya mereka sering keluar nongkrong, makan-makan sama temen-temen, traveling,.. mendadak mereka ngga bisa kemana-mana. Gaji goes straight to bank account. Di sinilah, mereka mulai mikir: “Ngapain ya? Invest di bursa saham ah”.

    Terbukti, bursa saham di seluruh dunia berkembang luar biasa, terutama dari jumlah investornya, dan of course, otomatis juga jumlah uang yang berputarnya.

    Jadi, mana yang lebih baik? Mulai usaha atau investasi? Dua-duanya butuh uang. Yang membedakan: yang satu butuh kerja keras, yang satu lagi ngga butuh kerja keras. Yang satu kita punya kontrol, yang satu lagi kita ngga punya kontrol.

    Kalau kamu tau apa purpose kamu, tau apa passion kamu, tau apa kelebihan kamu, menurut saya, better untuk mulai usaha. Mulai usaha itu gampang, yang susah itu bikin usahanya bertahan dan berkembang sampe bisa dibilang sukses. Kalau kamu ngga tau apa purpose, passion, dan kelebihan kamu alias kamu masih banyak galaunya, sebaiknya kamu cari tahu itu semua tapi untuk saat ini, invest kecil-kecilan aja, sambil pelajarin bisnis yang kamu invest itu. Untuk invest kecil-kecilannya, mungkin kamu bisa mulai dari invest di yang “tanpa resiko”: ORI (surat obligasi yang ditawarkan oleh negara, untuk membantu APBN).

    Kalau saya gimana? Dua-duanya. Tapi saya mulai bikin usaha dari 12 tahun lalu. Saya dalami apa itu dunia bisnis. Dan sebelum mulai usaha, saya ada di korporasi, jadi saya sudah pelajari yang namanya leadership, management, sistem perusahaan, dan branding pastinya. Jadi, semua perusahaan yang saya bangun, otak, expertise, dan pengalaman saya ada di situ. Kalau bahas soal investasi, saya hanya invest di perusahaan-perusahaan yang saya suka sama brandnya, percaya sama CEO-nya dan manajemennya, dan dengan purpose perusahannya.

    Untuk sukses di dunia bisnis dan dunia investasi, kamu harus kenal sama diri kamu. Tanpa kenal banget banget sama diri kamu, apa yang kamu lakuin, baik memulai usaha, maupun investasi… akan berantakan.

    Gudlak!

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    14/2/2021

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun