Category: Premium

  • Tips Memilih Partner Bisnis

    Tips Memilih Partner Bisnis

    #BBCNote29

    Perusahaan yang tutup karena kekurangan funding, banyak. Tapi perusahaan yang bubar karena ketidakcocokan partner bisnis, kayaknya, lebih banyak lagi. Kok bisa? Bukannya dari awal pas mendirikan perusahaan, baik-baik aja? Iya. Tapi, menurut pengalaman saya pribadi, ada beberapa hal yang membuat para founder ngga bisa lagi jalan bareng alias perusahaannya harus bubar:

    • Memang dari awal, para foundernya ngga punya value yang sama alias ngga cocok. Value seperti apa? Si A pegang teguh integritas dan etika dalam berbisnis. Uang bukan segalanya bagi dia, tapi reputasi yang dia prioritaskan. Sementara si B fokusnya untuk kaya raya semata, jadi menghalalkan segala cara untuk mendapatkan proyek (menyuap/korupsi).
    • Memang dari awal, para foundernya udah ngga punya visi yang sama. Si A pengennya nih perusahaan dibesarin dan dijadikan sumber penghasilan masa tuanya. Dia pengennya bikin nih perusahaan profitable supaya bisa bagi-bagi dividen setiap tahun. Sementara si B fokusnya untuk membesarkan nilai perusahaan supaya beberapa tahun dari sekarang bisa diakuisisi oleh perusahaan yang lebih besar atau IPO. Perbedaan ini sangat fundamental, sehingga keduanya pasti berantem dikeseharian menjalankan perusahaan ini.
    • Salah satu founder punya skala prioritas hidup yang berubah. Ketika memulai perusahaan, sama-sama masih jomblo. Di perjalanan membesarkan perusahaannya, si A fokus pacaran karena mau nikah cepet-cepet, sementara si B masih fokus membesarkan perusahaannya. Pasti akan ribut, karena si B mulai akan kesal sama si A yang ngga prioritasin perusahaannya lagi.

    Apa yang saya tulis, berdasarkan pengalaman pribadi dan pengamatan saya sejak saya banting setir dari seorang profesional di korporasi menjadi entrepreneur di akhir 2009.

    Saat ini, PT YOT Nusantara (Holding) punya 6 anak perusahaan: PT YOT Inspirasi, GDILab, Maingame.com, Bizhare.id, hipwee.com, dan TopKarir.com, diluar beberapa perusahaan pribadi saya yang tidak ada di dalam ekosistem YOT: PT JIMModels dan PT Teki. Dan mungkin ini yang kalian tau tentang bisnis-bisnis yang saya bangun dan kembangkan. Tapi, seperjalanan saya sebagai entrepreneur, setidaknya ada 5 perusahaan dan 8 project (cikal bakal menjadi perusahaan) yang akhirnya ditutup: PT RSC, PT JIC, PT DI, PT BK, PT GI, JK, JT, JP, JE, JK2, YP, MJ, dan HJ.

    Kok bisa gagal? Semuanya ngga ada yang karena kekurangan funding. Semuanya, karena salah satu atau dua atau ketiga hal yang saya tulis di atas. Menyedihkan? Iya. Tapi saya jadi belajar banyak tentang apa-apa saja yang penting dalam memilih partner bisnis: VALUE, VISI, PRIORITAS.

    Untuk yang sudah tau mau bisnis apa, semoga bisa dapetin bisnis partner yang tepat ya. Good luck!

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    22/12//2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun

  • Yang Terpenting Untuk Dilakukan di Akhir 2020

    Yang Terpenting Untuk Dilakukan di Akhir 2020

    #BBCNote28

    Kita sudah sampai di penghujung tahun 2020. Sebuah tahun yg tidak akan terlupakan oleh seluruh umat manusia, sampai kapanpun. Tahun 2020, akan masuk dalam sejarah dunia, bersamaan dengan Spanish Flu 1918, Great Depression 1929, Asian Monetary Crisis 1998, Dotcom Bubble 1999, dan American Financial Crisis 2008.

    Covid19 membuat hampir seluruh industri hancur. Perusahaan bangkrut, PHK secara masif terjadi, pengangguran melonjak tajam. Namun seperti yang kita pelajari dari sejarah, disetiap kejadian, meskipun banyak yang dirugikan, pasti tetap ada yang diuntungkan.

    Perusahaan logistik dan perusahaan teknologi adalah dua tipe perusahaan yang malah ‘terbang’ sejak pandemi. Di luar kedua perusahaan ini, apakah ada yang juga malah membaik? Ada, perusahaan yang mampu beradaptasi dengan cepat.

    Seperti biasa, saya bukan orang yang suka berteori. Berikut evaluasi dan highlight perusahaan-perusahaan saya, biar kalian ada bayangannya:

    • YOT, perusahaan yang mengandalkan revenue dari sponsorship/partnership mendadak harus stop semua event offlinenya. Sponsorship mendadak terancam dibatalkan. BRI dan Astra tetap memilih mendukung YOT di 2020. BRI malah memperluas dan memperdalam kemitraan bareng YOT. Ada 1 perusahaan besar yang membatalkan kemitraannya. YOT berhasil membuat YOTNC secara hybrid (offline dan online), membuat puluhan webinar yang dibanjiri sponsor, membuat SATU Indonesia Award, dan menjalankan Pengusaha Muda BRILian. Secara revenue dan profit (yes masih profitable) tidak mencapai target.
    • YOT berhasil mengakuisisi saham hipwee, sebuah media online Gen Z yg memiliki pembaca sekitar 20 juta anak muda sejak Agustus 2020. Sejak bergabung di ekosistem YOT, revenuenya hipwee meningkat tajam. Manajemennya menjadi jauh lebih solid.
    • Maingame.com, perusahaan game online yang didirikan sejak Sept 2019, di tahun 2020 malah membaik performanya. Iya, semakin banyak orang yang tidak ke kantor, jumlah gamersnya bertambah pesat, apalagi sejak dipercaya jadi partnernya Gojek, Bukalapak, dan MRTJ. Maingame berhasil dapetin 1 angel investor tahun ini, dan ttd term sheet dengan sebuah perusahaan game regional.
    • Bizhare, perusahaan equity crowd funding yang kena hit gila-gilaan di awal pandemi, bisa bertahan dan closing funding di Oktober dari beberapa angel investor dan perusahaan strategis (bisa mengembangkan bizhare ke next level).
    • GDILab, perusahaan teknologi/analitik berhasil membuat umkmlab.com, platform untuk membantu umkm dalam meningkatkan penjualannya, dengan mengonek websitenya dengan fb shop dan ig shop.
    • TopKarir, perusahaan karir portal khusus anak muda Indonesia, tahun ini melesat. Di akhir 2019, platform ini hanya dipakai oleh sekitar 2 juta orang, saat ini sudah dirasakan manfaatnya oleh 7 juta anak muda Indonesia. Puji Tuhan.
    • Ternak Kambing Indonesia sudah berumur 1 tahun. Tahun ini mengakuisisi CV Ternak Mandiri, dan punya CEO yang mumpuni. Detik ini, Teki sudah ttg ekslusif dengan beberapa yayasan yang berkomitmen untuk membeli kambing-kambingnya Teki sebanyak-banyaknya. Banyak peternakan yang bingung jual kambing/dombanya kemana, sementara Teki bingung untuk memenuhi permintaannya. Teki juga sudah mendapatkan belasan VIP Investor (semuanya teman-teman baik saya; karena memang cuma ditawarin ke teman-teman baik saya saja).

    Tentunya, bukan berarti semua perusahaan saya berhasil dan tanpa ngelewatin tantangan yang besar di tahun 2020 loh ya. YOT dari seluruh eventnya offline harus jadi online. GDILab yang bergantung sama project dari sebuah perusahaan raksasa dunia harus membuat produk umkmlab.com dari nol. hipwee harus dalam hitungan bulan membuat timnya super solid. Bizhare yang megap-megap di April 2020, harus bisa bertahan hidup hingga Oktober akhirnya dapet pendanaan. Maingame yang di Mei kehilangan 1 cofounder, di Agustus megap-megap, akhirnya bisa dapetin investasi dan partnership yang luar biasa. Teki, yang sepanjang tahun pertamanya rugi, tetap harus bisa balikin semua modal dan keuntungan mitra… akhirnya memasuki tahun kedua berhasil melipatgandakan asetnya dalam waktu 3 bulan terakhir.

    Jadi, judul tulisan ini: “Yang Terpenting Untuk Dilakukan Akhir 2020”, apa? EVALUASI. Semua perusahaan saya, sudah saya evaluasi. Saya tahu mesti masing-masing harus ngapain di tahun depan. Ingat, tanpa melakukan evaluasi tahun yang baru kita lewati, kita ngga akan bisa mempersiapkan tahun berikutnya dengan baik. Ketika ngelakuin evaluasi, sedetil-detilnya dan sejujur-jujurnya. Itu kuncinya.

    Pada kesempatan ini, saya mau WISHIN YOU A MERRY CHRISTMAS AND A HAPPY NEW YEAR. Untuk kalian yang merasakan kesulitan di 2020, semoga di 2021 akan berhasil. Untuk kalian yang di 2020 tetap merasakan kebahagiaan, semoga di 2021 lebih bahagia lagi. Sukses untuk kita semua. Stay safe ya. Mari kita doakan agar covid19 segera musnah dari muka bumi ini segera. In the meantime, jalankan protokol kesehatan ya.

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    21/12//2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun

  • Bikin Startup ala Kdrama

    Bikin Startup ala Kdrama

    #BBCNote27

    Masuk dunia tech startup, langsung naik mobil mewah. Siapa yang ngga mau? Dikelilingin sama cewek-cewek cantik pula… secantik Dal-mi. Idaman banget ya?

    Yang pasti, kdrama beda sama dunia nyata, Gaes. Untuk pelaku dunia tech startup, kalo demen sama serial “Startup”, pasti bukan karena kemiripan dunia tech startupnya, tapi purely hanya karena jalan ceritanya yang bagus dan pemeran-pemerannya yang ganteng dan cantik. Pure untuk entertainment purposes aja. Kenapa?

    Ya itu tadi, bikin startup itu ngga gampang sama sekali. Jangan berharap dalam waktu hitungan beberapa tahun, founder dan CEO-nya bisa langsung pakai mobil mewah dan ngga stres. Apa yang saya tau soal dunia startup?

    Saya yang mendanai berdirinya GDILab dari nol, saya ikut aktif mendirikan TopKarir.com dan maingame.com, dan bantu invest serta kasih advice ke bizhare sejak belum dapet ijin resmi dari OJK. Yes, saya tau betul susahnya bikin startup. Saya terlibat di puluhan fundraising semua startup-startup tersebut. Ikut siapin ppt-nya, ikut meeting, dan ngga jarang pulang dengan kesedihan karena ditolak. Apakah saya pernah ngerasain startup saya nyaris bangkrut? Iya! GDILab entah berapa kali saya suntik pribadi biar tetap hidup, TopKarir pernah beberapa kali, maingame juga pernah. Bizhare di awal pandemi juga pernah pusing tujuh keliling.

    Jadi, bikin startup ngga gampang dong? Emang ngga gampang sama sekali. Apakah bisa bikin startup ala kdrama? Kalau dari pengalaman saya sih, ngga ada startup yang saya bikin atau invest bisa langsung terbang dalam hitungan 1-3 tahun. Kalaupun ada, yang pasti saya ngga akan ijinin my cofounder dan CEO untuk langsung beli mobil mewah dan pamer sana sini.

    Memang, dengan pengalaman yang sudah saya miliki, plus track records, dan kredibilitas… sudah jauh lebih gampang untuk saya bikin startup atau invest di startup, dan bikin startup tersebut sukses. Setidaknya, chance suksesnya mungkin sudah 10 kali atau 100 kali lebih besar dibandingkan 5 tahun lalu. Kok bisa? Karena saya juga sekarang ada di posisi sebagai investor, jadi saya tau apa yang dilihat oleh investor, apa yang buat mereka tertarik untuk invest di sebuah startup. Apa aja? Founder & Team harus bagus attitudenya, ngerti industrinya secara mendalam, dan tau problem apa yang mau disolved.

    Mau bikin startup? Jangan mimpi untuk bikin startup ala kdrama ya. he he he… ngga ada tuh. Itu cuma adanya di Netflix. Oh ya, saya tim Dal-mi. 🙂

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    6/12//2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun

  • Caranya Merajai Sebuah Industri

    Caranya Merajai Sebuah Industri

    #BBCNote26

    Business Purpose sangat penting. Tapi Visi perusahaan juga penting. Tau bedanya? Saya akan jelaskan perbedaannya, dan kenapa keduanya penting.

    Business Purpose: fokusnya ke bagaimana perusahaan yang kita buat ini bisa bermanfaat ke banyak orang, menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat. Contoh: Purpose YOT: Untuk membuat generasi-generasi muda Indonesia selanjutnya lebih baik.

    Visi: fokusnya ke status perusahaan ini mau dibawah jadi seperti apa. Contoh: Visi YOT: Menjadi Organisasi komunitas anak muda Indonesia yang terbesar dan terbaik.

    Kenapa keduanya penting? Karena dalam hukum bisnis itu: semakin besar manfaat yang kita buat, semakin besar masalah yang bisa kita selesaikan, semakin besar pula bisnis yang kita miliki. Jadi, fokus utama seharusnya bukan di Visi, tapi di Purpose. Soal kebermanfaatan.

    Tapi kalau coba bahas kebermanfaatan tanpa ada yang bisa dijadikan tolok ukur, sama aja kayak kita bilang “Saya mau pergi ke mall, tapi ngga tau mall yang mana”, ya ngga akan sampai ke mall manapun. Kita harus selalu punya gol atau tujuan yang jelas.

    Apakah ini harus diset dari awal? Iya. Kalaupun di tengah jalan, tujuannya berubah, ngga apa-apa. Tadinya kita mau ke Plaza Senayan, di tengah jalan kita mau ke Plaza Indonesia, ya ngga apa-apa dong? Yang penting kita tau tujuannya mau ke Plaza Indonesia, maka kita akan tau jalan mana yang harus kita ambil untuk bisa sampe ke Plaza Indonesia.

    Bisnis terbaru saya: PT Ternak Kambing Indonesia (Teki). Sekarang udah 1 tahun umurnya. Baru memasuki tahun kedua ini saya ikut di dalam manajemennya. Dan saya bareng CEO dan tim manajemen sudah ngeset gol yang jelas. Visinya Teki: Menjadi peternakan kambing terbesar di Asia Tenggara. Iya, Asia Tenggara. Karena dengan menjadi yang terbesar di Indonesia, sudah pasti jadi yang terbesar di Asia Tenggara.

    Kok saya bisa pede untuk bisa mencapai visi tersebut, dengan merajai, mendominasi industri perkambingan Tanah Air? Ini tentunya ngga ngasal. Plannya harus super jelas, ditunjang dengan pengalaman dan ketajaman CEO di industri ini, network para shareholder dan VIP Investor yang sangat luas, kemampuan manajemen yang matang, dan kekuatan finansial yang cukup.

    Siapa aja VIP Investor di Teki? Ada Chef Arnold, Direktur Sinarmas, CEO AWS Indonesia, Notaris, anak konglomerat, pemilik pabrik, founder tech startup, dll. Ada belasan orang yang percaya sama purpose dan visi Teki. Untuk kalian yang mau jadi investor di Teki, tinggal sisa beberapa hari lagi, nih linknya: bit.ly/bizhareteki1. Kalau belum tau mau bisnis apa, jadi investor dulu aja. Yuk bareng saya mendominasi perkambingan Indonesia.

    Untuk yang mau buat bisnis: Apa purposenya? Apa visinya? Apakah bisnis kamu akan bisa mendominasi sebuah industri? #untukdirenungin

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    29/11/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun

  • Revolusi Industri 5.0 Memusnahkan Manusia

    Revolusi Industri 5.0 Memusnahkan Manusia

    #BBCNote25

    Industri 5.0. Apalagi istilah ini? Sejak kapan ada istilah ini? Saya ingat betul baru beberapa tahun lalu, di 2018, Presiden Jokowi lagi gencar-gencarnya mempromosikan tentang Revolusi Industri 4.0, supaya masyarakat Indonesia mulai bersiap diri. Apa yang dilakukan Presiden bagus. Kita ngga boleh jadi ‘katak dalam tempurung’. Di luar sana semua negara berlomba untuk menjadi negara maju, Indonesia juga harus melakukan hal yang sama.

    Negara hanya bisa maju kalau SDM-nya berkualitas bagus.

    Nah, baru beberapa tahun lalu kebanyakan masyarakat baru dengar istilah “Revolusi Industri 4.0”, sekarang sudah ada “Industri 5.0”? Apa lagi ini? Pada intinya, 5.0 di sini artinya: semua yang sudah menggunakan teknologi untuk memudahkan pekerjaan manusia, dibuat lebih efektif lagi. Ibaratnya robot-robot di pabrik, akan dibuat lebih hebat lagi, lebih produktif lagi, lebih hemat lagi, lebih bagus lagi kualitas produksinya, dan seterusnya.

    Kita, harus gimana nanggepinnya? Ada 2 pilihan, dan silahkan dipilih:

    1. Kesel. Ngeluh. Marah. Dan berpendapat bahwa para pengusaha adalah orang-orang egois dan kapitalis. Pengusaha hanya mikirin diri sendiri, lebih milih pake teknologi canggih dibandingkan mempekerjakan banyak orang. ATAU…
    2. Membuka diri untuk mempelajari skill baru sehingga bisa lebih relevan ke depannya, sesuai dengan perkembangan jaman, perkembangan teknologi. Dan menyadari betul bahwa kita ngga bisa menyetop perkembangan teknologi, apalagi untuk bikin kemunduran jaman.

    Kalau kamu memilih nomor 1. Kayaknya kalian sudah buang-buang uang kalian untuk subscribe di Billy Boen Club (BBC).

    Kalau kamu memilih nomer 2, berarti kalian adalah orang-orang yang pantas untuk memimpin Indonesia sehingga suatu saat nanti Indonesia diakui dunia sebagai salah satu negara maju. Jangan pernah salahkan perkembangan teknologi. Ibaratnya, kita ngga mungkinkan untuk suruh orang kalau mau berhitung, jangan pakai komputer atau kalkulator tapi pakai bolpen dan kertas? Kita ngga bisa kan suruh orang jangan makan pakai sendok dan garpu tapi pakai daun yang ditekuk menyerupai sendok? Kita ngga mungkin kan suruh orang jangan pakai email untuk kirim pesan, tapi pakai secarik kertas dan dikirim pakai burung dara?

    Untuk kalian yang pro-padat karya, sebaiknya jangan beli Honda, Toyota, Mercedes, BMW, Tesla, Daihatsu, Suzuki, Ford, Wuling, Hyundai, dan Kia. Sebaiknya kalian belinya Rolls Royce, karena mereka masih pakai tenaga manusia, alias padat karya. Ini memang yang sudah seharusnya, setiap skill yang dimiliki oleh manusia akan dihargai lebih mahal dibandingkan yang dihasilkan oleh robot.

    Balik ke Industri 5.0, inilah tujuan yang sesungguhnya: bagaimana membuat produk yang bisa membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik, kepada lebih banyak manusia. Di sinilah peran Industri 5.0, peran robot. Sekali lagi, jangan pernah salahkan perkembangan teknologi. Manusia punya otak, kita cerdas. Berpikirlah, bagaimana supaya kita bisa tetap relevan terlepas dari perkembangan jaman yang terus maju dengan pesat.

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    14/11/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.