Category: Premium

  • Pilih Mana: IDX atau Nasdaq

    Pilih Mana: IDX atau Nasdaq

    #BBNote24

    Baru sejak work from home di pertengahan Maret 2020 (karena covid) akhirnya saya serius mendaftarkan diri masuk ke Bursa Efek Indonesia (IDX). Saya juga langsung luangin waktu untuk mulai belajarin istilah-istilah di bursa. Saya terdaftar resmi untuk bisa memulai investasi/trading di IDX per awal Mei 2020. Saat itu, semua stok masih terpuruk. Ada yang sudah mulai naik, tapi ada yang masih benar-benar jeblok. Hingga Bulan Juni, saya merasakan gampangnya dapet duit/profit dari IDX.

    Seperti yang saya lakukan ketika belajarin suatu hal, saya akan belajar bukan cuma dari yang bisa saya pelajari di Indonesia, tapi juga dunia. Saya akhirnya resmi buka akun trading untuk di Nasdaq dan NYSE. Ini adalah dua bursa di Amerika yang merupakan bursa saham terbesar di dunia. Semua perusahaan ngetop yang akrab di telinga kita, kemungkinan besar terdaftar di salah satu dari dua bursa ini. Nasdaq dipenuhi sama perusahaan-perusahaan teknologi, sementara NYSE (New York Stock Exchange) lebih didominasi sama perusahaan-perusahaan non-tech. Ketika saya masuk di awal Juli, semua stok sudah rebound dari titik terendahnya di tanggal 20-an Maret 2020.

    Hingga Oktober 2020, dana yang saya investasikan di IDX sekitar 60%, sementara di Nasdaq/NYSE sekitar 40%. Tapi, sekarang, terbalik. Dan kedepannya, dana investasi saya akan 10% di IDX dan 90% di Nasdaq/NYSE. Kenapa saya lebih memilih untuk berinvestasi di Nasdaq/NYSE?

    Jawabannya simple; karena dalam berinvestasi di sebuah perusahaan baik secara langsung maupun via bursa saham, seorang investor harus benar-benar tahu visi perusahaan, kredibilitas manajemennya, dan kinerja perusahaannya secara keseluruhan. Ini fundamental dalam berinvestasi. Saya ngga bahas soal trading loh ya. Kalau trading itu “beli pas murah, jual pas mahal.” Kalau investasi itu ya taro duit kita (diinvestasikan) di sebuah perusahaan yang berkinerja baik, sehingga sejalannya dengan waktu, maka nilai uang kita akan ikut naik akibat dari kenaikan nilai perusahaan tersebut.

    Nah, di Indonesia, saya cuma tahu dan yakin dengan kinerja Bank BRI. Memang agak bias, karena saat saya menulis ini, saya masih sebagai Advisor aktif untuk Direksi Bank BRI (sejak Februari 2020). Memang kebetulan, BBRI termasuk dalam ‘blue chip’. Selebihnya, saya benar-benar ngga kenal perusahaan-perusahaan yang ada di IDX. Dan entah kenapa, saya ngga punya ketertarikan untuk mengetahui atau mencari tahu tentang perusahaan-perusahaan yang ada. Saya ngga ngerasa connected secara emosional. Entah kenapa, mungkin karena saya menganggap perusahaan-perusahaan ini kurang bisa bikin brand yang nyambung sama diri saya.

    Sementara di Nasdaq dan NYSE, saya benar-benar ngikutin perusahaan-perusahaan seperti: Tesla, Apple, Facebook, Microsoft, Google, Amazon. Saya juga sering cari-cari informasi soal perusahaan-perusahaan teknologi yang hype seperti Square, Zoom, Draft Kings, Nikola, dan Palantir. Kalau yang non-tech, saya ngikutin Bank of America dan JP Morgan, juga Nike (brand favorit), Coca Cola, McDonald, Starbucks, Wallmart, dan Beyond Meat. Bukan berarti saya beli semua saham perusahaan-perusahaan yang saya sebut ini loh ya.

    Saya tidak menyarankan untuk kalian mengikuti apa yang saya lakukan ini loh ya. Kalau kalian ngerasa lebih pengen berinvestasi atau trading di IDX, silahkan. Mau di IDX dan di Nasdaq dan NYSE juga silahkan. Hanya mau di Nasdan dan NYSE, terserah. Yang pasti, seperti pesan saya di banyak kesempatan, kalo kalian masuk ke bursa saham, pastikan hanya memakai uang nganggur ya. Pastikan kalian sudah punya Dana Darurat dan tabungan dulu.

    Oh ya, saya sering ditanya untuk trading di Nasdaq dan NYSE saya pakai sekuritas (applikasi) apa? Saya pakai Interactive Brokers (IBKR).

    Yuk investasi. Jangan hura-hura. Inget, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian. Selagi muda, invest sebanyak-banyaknya, jadi nanti pas mau beli ini itu, belinya pake profit yang dihasilkan dari investasi yang kita punya. Asik kan?

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    11/11/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

  • 16 Orang yang Menginspirasi Saya dan Alasannya

    16 Orang yang Menginspirasi Saya dan Alasannya

    #BBCNote22

    Mau tau siapa aja 16 orang yang menginspirasi saya selain my Dad? Karena saya adalah tipe orang yang suka belajar dan gampang penasaran sama banyak hal, maka jangan kaget kalau orang-orang yang menginspirasi saya dari berbagai industri. Langsung aja ya, here you go (urutannya berantakan, bukan berdasarkan dari yang paling saya kagumi loh ya):

    • Sir Richard Branson. Pemilik Virgin Group. Saya terinspirasi sama dia sebelum dia datang ke Jakarta sekitar 10 tahun lalu. Saya kagum sama dia karena dia waktu itu bisa punya grup yang membawahi sekitar 350 perusahaan. Meski pada akhirnya banyak perusahaannya yang tutup, dia tetep seorang billionare. Yang saya kagumi: keberaniannya dalam mencoba. Ngga gampang bisa sampe punya 360 perusahaan, dari toko musik, minuman bersoda, sampe ke airlines. Apa yang saya pelajari? Sebaiknya kalo bikin perusahaan, yang bisa disinergikan, jangan asal ambil kesempatan yang ada. Susah jalanin perusahaan yang bisnisnya sangat beda-beda industrinya.
    • Bill Gates. Founder Microsoft. Cerita dia yang saya kagumi adalah ketika dia jual software Microsoft ke IBM, padahal softwarenya belum dibuat. Dia ngecap. What a salesman. Entrepreneur itu harus pede, kalo sekali-kali harus ngecap demi dapet project, do it. I did this, ketika GDILab baru didirikan. Saya ngecap depan Pak Hary Tanoe, dan dipercaya untuk yang ngebikinin dan ngehandle sosial medianya Pak HT dari awal selama 6 bulan. he he he.
    • Ryan Seacrest. Dia ‘orang radio’. Dia sudah puluhan tahun punya acara “On Air with Ryan Seacrest”. Dia juga adalah orang yang bikin keluarga Kardashian jadi terkenal, karena dia adalah Executive Producernya “Keeping Up with The Kardashian”. Selain tentunya mungkin dia terkenalnya sebagai Host di “American Idol”. Dunia entrepreneurship saya bermula ketika saya nulis buku YOT di April 2009, dan tau apa yang saya lakuin di November 2009? Saya bikin program radio “YOT Live”. Yes, saya yang produce dan host. Saat itu, saya ‘orang radio’ dengan bayaran tertinggi per jamnya, dibandingin sama semua selebriti radio yang ada saat itu. My income dari siaran radio 4 jam per bulan adalah Rp60,000,000,- dari sponsor. Per jam Rp15 juta di tahun 2009. Not bad. Thanks Ryan, for inspiring me to have my very own radio show yang jalan sampe saat ini dengan nama “Smart YOT Radio” yang sejak Februari 2020 dihosted oleh Alexander Zulkarnain, Brand & Partnership YOT/CCO hipwee.
    • Elon Musk. Yang gedein PayPal. Pendiri SpaceX, Tesla, dan Solar City yang sekarang sudah dibeli sama Tesla. Apa yang saya kagumi dari Elon? Dia emang trully jenius dan gila. Puluhan tahun Amerika, Rusia, Cina bikin roket untuk ke luar angkasa. Ekspedisi ke luar angkasa mahal banget karena roket yang dibuat hanya untuk sekali terbang. Elon dengan SpaceXnya, duit pribadi hasil exit dari PayPal yang dia jual ke eBay, berhasil bikin roket yang bisa dipake berulang-ulang! Solar City yang merupakan perusahaan solar panel, sekarang sudah dilebur ke Tesla. Tesla sendiri adalah perusahaan otomotif listrik yang sekarang pegang sekitar 25% pasar mobil elektrik di seluruh dunia! Padahal dia ngga ada background otomotif. Dia juga ngga punya background roket. Sekarang dia punya Neuralink, perusahaan yang akan taro nano chip di otak manusia untuk nyembuhin banyak penyakit. Dia juga yang menginisiasi Hyperloop, terowongan cepat antar kota atau antar benua (idaman dia). Dia juga buat The Boring Company, perusahaan pembuatan terowongan khusus untuk ngangkut mobil, supaya orang-orang di kota besar ngga kena macet berjam-jam lagi. Gila. Kagum banget.
    • Warren Buffet (Berkshire Hathaway), Bill Ackman (Pershing Square), Chamath Palihapitiya (Social Capital), Ray Dalio (Bridgewaters Associates), Cathy Woods (ARK Invest). Investor. Saya lagi belajar banyak dari orang-orang ini, via youtube dan google, dan bukunya. Memang yang mereka ngomongin beda-beda. Warren ngga percaya sama bitcoin, sementara Chamat sangat percaya dengan bitcoin. Chamath dan Cathy juga sangat bullish sama Tesla. Bill dan Chamat sama-sama baru launching SPAC (special acquisition company) atau yang sering disebut dengan ‘blank check company’, perusahaan yang terlisted di bursa untuk beli/invest di perusahaan private yang kemudian mereka bawa jadi perusahaan publik. Menarik konsepnya. Sementara dari Ray, saya lagi belajarin cara pandang dan mindset investingnya sampe dia bisa punya the biggest hedge fund in the world.
    • David Rubenstein. Pemilik The Carlyle Group dan Host “Peer-to-Peer Conversation” di Bloomberg. Dia punya acara tv sendiri, dimana dia sebagai hostnya. Dia sudah interview semua orang-orang hebat, politisi, orang-orang sukses. Dan seringkali, yang dia interview kalah kaya dari dirinya. Dia sekarang ini net worthnya $3.2 billion! Cara nanyanya asik, karena bukan kaya jurnalis biasa. Dia lebih kayak lagi ngobrol sama temen-temen tajirnya, cuma direkam dan disiarin di tv aja. This has been my talkshow concept di 2012-2014 “YOT MetroTv”. So i kinda clicked kalo nonton si David bawain tv programnya.
    • Satya Nadella. CEO Microsoft. Saya kagum sama dia karena dia bisa bikin Microsoft sebagai perusahaan yang masih tetap relevan dengan dunia saat ini. Setelah ditinggal Bill Gates, digantiin sama Steve Balmer, Microsoft redup. Sekarang ini Microsoft menjadi salah satu perusahaan di atas $1 trilion, bareng Apple dan Amazon. Saya sudah baca bukunya yang berjudul “Hit Refresh”. Bagus banget. Dia yang bikin Microsoft sekarang bukan cuma mikirin entreprise aja, tapi harus punya empathy dan ini yang jadi engine untuk selalu mengempower perusahaan dan individu menjadi lebih baik. Ngga heran, kalau Microsoft bisa seperti sekarang.
    • Oprah Winfrey. Semua tau dia adalah talkshow host terbaik di dunia. Tapi setelah dia retired, dia sempat stres karena OWN (perusahaannya) banyak dicemooh. Dia ngga give up. Dia terus usaha, sampe sekarang akhirnya OWNnya bisa berkembang dan makin hebat. Yang saya belajarin dari dia: talkshownya dia pake untuk sebagai platform berbagi kebaikan.
    • Elen Degeneres. Meski dia dapet banyak kritikan dari banyak orang, tapi saya tetap suka ngeliat dia pake talkshownya juga sebagai platform untuk “be kind to one another”, untuk berbagi senyum dan kebaikan bagi yang nonton. Bersama para sponsornya, dia selalu memberikan hadiah bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. This is amazing, encouraging people to do good. Aren’t we all should do that? Everyday?
    • Tim Cook. CEO Apple, penerus Steve Jobs. Semua orang bilang, kalau Steve Jobs meninggal, Apple bakal hancur. NOPE! Apple malah terbang dan jadi perusahaan terbesar di dunia, berkat kehebatan Tim ngelanjutin mimpinya Steve Jobs. Ngga gampang sama sekali untuk bisa pegang pucuk pimpinan tertinggi, apalagi ngambil alihnya dari seorang legendaris founder bernama Steve Jobs. Salut.
    • Dana White. CEO UFC. Dia pekerja keras. Dia yang buat UFC menjadi sport pertama yang jalan lagi sejak covid memaksa semua sport berhenti. Dia sempat dicela dan dikritik hebat. Tapi dia buktiin dengan bikin UFC jalan di Mei dengan protokol covid yang super sangat ketat sehingga sampe detik ini ngga ada covid outbreak karena UFC. Ngga gampang pastinya ngebikin UFC hanya break selama 1 bulan (April). Di belakang layarnya entah kayak gimana, pasti jungkir baliknya gila-gilaan. Jadi ngingetin tim YOT yang jungkir balik selama 2 minggu belajarin bikin webinar terbaik di Indonesia sehingga di April langsung dapet banyak sponsor, dan YOT bisa survive bahkan thriving di era covid. (Thank to my team!)
    • Andy Noya. Satu-satunya orang Indonesia yang bisa saya sejajarkan sama mereka yang saya kagumi di kelas dunia. Selain karena mas Andy yang suruh saya bikin YOT menjadi perusahaan supaya bisa tetap ada melebihi umur saya, dia yang ngajarin saya untuk tetap humble: “Bill, di depan tv sama di belakang tv (di keseharian) kamu harus sama persis.” Ini pesan dia persis sebelum saya bikin “YOT MetroTv” tahun 2012. Makanya, hingga detik ini, Billy yang di tv sama Billy yang doyan makan warteg, ya Billy yang sama. Ketika my Dad masih hidup, dia senang banget ketika saya masuk ke “Kick Andy Show” di tahun 2009 pas abis luncurin buku YOT. My Dad bilang, “Kamu harus belajar banyak dari Andy Noya.” Yes, Dad… i’ve learned a lot from him. And now he is my business partner di YOT Holding dan di TopKarir… is surely a blessing for me.

    Siapa saja orang-orang yang menginspirasi kamu?

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    10/10/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

     

  • Investasi Sekarang: Properti atau Saham?

    Investasi Sekarang: Properti atau Saham?

    #BBCNote21

    Di era covid sekarang ini, mana yang lebih baik, investasi di properti yang katanya semua harganya lagi pada turun atau di bursa saham?

    Sejak WFH di pertengahan Maret, kalau ada 2 area yang saya paling pelajari dari buku, google, youtube, ya 2 hal ini: properti dan bursa saham. Dan saya bukan cuma belajarin 2 area ini sebatas di Indonesia, atau di Asia Tenggara, atau Asia Pacific. Saya pelajari pemikiran-pemikiran orang-orang hebat dan melihat secara global. Kalau properti, saya sampai lihat Australia, Eropa, dan Amerika. Kalau bursa saham, yang saya perhatikan setiap hari hingga sekarang ini adalah: Nasdaq dan NYSE yang dua-duanya merupakan bursa saham terbesar di dunia, yang berlokasi di kota New York.

    Kenapa saya kalo pelajari sesuatu, ngga terbatas cuma di Indonesia aja? Karena melihat dari sejarahnya, negara kita itu seringkali berada beberapa tahun dibelakang Amerika dan Eropa. Kalau sekarang secara global kita sudah lebih terkoneksi karena teknologi, tetap saja… pemikiran rakyat kita masih seringkali “beberapa bulan” di belakang Amerika dan Eropa.

    Balik ke judul tulisan ini, mana yang sebaiknya dipilih? Properti atau saham?

    Tergantung. Yang pasti kalau alokasi uang untuk berinvestasinya terbatas, ya kemungkinan besar ngga bisa invest di properti. Ngga ada kan properti yang dijual Rp300,000 (kayak 1 lot saham di bursa)? Jadi kalau duitnya terbatas, ya di saham (atau kalau mau yang lebih aman, ya beli emas).

    Tapi, kalau duitnya ada dan bisa keduanya, ya jalanin keduanya. 🙂 Tapi, kalau harus milih salah satu, pilih yang mana? Disclaimer ya, bahwa apa yang saya tulis di sini BUKAN WAJIB untuk diikuti. Ini hanya pemikiran saya dan yang memang saya lakukan.

    1. Bursa saham saat ini lagi menarik. Sejak crashed di Maret/April 2020, banyak saham yang belum balik ke harga normal sebelum crash. Artinya, kalau berinvestasi sekarang ini, kemungkinan harganya akan naik dalam jangka menengah, apalagi dalam jangka panjang. Dan, enaknya di saham, kalau yang dibeli itu blue chip (perusahaan dengan manajemen bagus), saham yang kita beli itu sangat likuid. Kalau mau kita jual, bisa langsung terjual. Hati-hati, jangan beli saham gorengan dengan asal-asal ikut-ikutan karena harganya kayaknya lagi bagus atau sedang meroket. Bisa jadi saham ini ngga ada yang mau beli di keesokan harinya. Yes, ini bisa terjadi.
    2. Untuk properti, kecuali bisa dapetin harga rumah/tanah/apt dari orang lokal atau tetangga atau teman… dan dijualnya karena butuh uang, sebaiknya belinya nanti aja. Kenapa? Karena semakin lama, semakin banyak orang yang akan butuh uang karena efek dari covid. Semakin sulit untuk orang-orang bayar cicilan rumah/aptnya. Banyak yang kena PHK dan tabungan menipis bahkan habis, makanya mereka harus jual rumah/tanah/apartemennya. Di sinilah saat kamu yang punya uang lebih untuk investasi masuk. Kapan? Saran saya: antara Januari hingga Juni 2021.

    Semoga bermanfaat. Tapi inget ya, soal Dana Darurat. Baca dulu tulisan saya itu sebelum kamu mulai berinvestasi di manapun.

    Berbahagialah kalian yang selama ini ngga hedon, ngga beli-beli barang demi gengsi dan sekarang punya tabungan banyak bahkan punya alokasi untuk investasi. Siapin mindset dan mental kamu dari sekarang, sehingga ketika covid hilang dari muka bumi, kamu sudah siap. Seperti apa Life After Covid, silahkan dibaca.

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    9/10/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

  • Perbedaan Startup dan UMKM

    Perbedaan Startup dan UMKM

    #BBCNote20

    Saya masih ingat betul, di tahun 2009-2010, Pemerintah lagi giat-giatnya galakin UMKM. Pemerintah sadar kalo jumlah entrepreneur di Indonesia itu sangat jauh tertinggal dibanding negara-negara lain. Kalau ngga salah, waktu itu angkanya menurut Bappenas: 0.18% = ngga sampe seperempat persen. Sementara Singapore, Thailand, Malaysia udah di 3-5%.

    Waktu itu, infrastruktur teknologi belum semaju sekarang, jadi waktu itu yang dipromosiin sama Pemerintah: UMKM. Semua berubah ketika di tahun 2013-2014, mendadak dunia startup muncul karena berita Tokopedia dapet pendanaan $100juta = Rp1.3T saat itu. Ditambah Gojek yang juga meledak popularitasnya. ‘Sekejap’, dunia wirausaha naik daun. Tapi yang naik daun: startup, bukan UMKM. Anak-anak muda langsung berharap bisa kayak William Tanuwijaya, tajir melintir.

    Meski akhirnya ratusan atau bahkan ribuan startup yang lahir di tahun 2015-2015 banyak yang berguguran dan menyadarkan para founder startup bahwa bikin usaha itu ngga gampang (bukan cuma bermodalkan powerpoint presentation dan dapetin modal usaha dari angel investor dan VC). VC yang berjamuran di tahun itu juga mulai sadar bahwa bikin VC itu bukan soal keren-kerenan, dan ngga bisa invest di startup yang pake strategi hyper growth untuk penetrasi pasar secepat-cepatnya (mungkin lebih dikenal dengan ‘bakar duit’).

    Nah, jadi apa bedanya startup dan UMKM?

    Pada dasarnya, startup itu adalah perusahaan baru. Tapi startup memang dibuat dengan tambahan arti disamping hanya sebagai perusahaan baru: bergerak di teknologi dan (hyper) growth adalah faktor yang sangat penting bukan sekedar untuk profitable atau bertahan.

    Jadi kalau ada pengusaha yang jualan baju secara online, itu bukan startup. Itu UMKM yang sudah go-online. Kalau ada pengusaha yang bikin platform (marketplace) untuk para pengusaha fashion jualan baju di platformnya, nah itu bisa dikategorikan sebagai startup.

    Jenis investor seperti apa yang suka dengan startup dan UMKM? Venture Capital (VC) pada umumnya suka sama startup, yang bisa dapetin return on investment (ROI)nya berkali-kali lipat. Kalau Private Equity, biasanya suka sama perusahaan (baik itu startup maupun UMKM) yang punya potensial ROI-nya bagus; ngga mesti berkali-kali lipat. PE juga biasanya fokus untuk benerin manajemennya sehingga valuasi perusahaan yang diinvestnya jadi lebih baik karena kinerjanya jadi lebih baik. VC juga ada yang kayak gitu, namanya Active VC (seperti Kejora-SBI Orbit yang saya pimpin saat ini). Active VC ngga cuma taro duit trus ngarep/berdoa. Active VC bantu para founder dan manajemennya bikin kinerja startupnya jadi lebih baik.

    Nah, sekarang kamu udah tau apa bedanya startup dan UMKM, kalo pengen bikin usaha, pilih yang mana? Apakah sudah siap ngadepin kenyataan setelah covid? Nih baca tulisan sy: “Life After Covid”

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    4/10/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

  • Merdekain Pikiran Lo

    Merdekain Pikiran Lo

    #BBCNote18

    Hari Kemerdekaan Indonesia, dirayain seluruh warga negara. Pertanyaan: “Apa arti merdeka buat kamu?” banyak dipertanyakan. Kita pun rame-rame menjawab arti merdeka menurut diri kita masing-masing. Semua jawaban, apapun itu, ngga ada yang salah. Bebas, merdeka, untuk siapapun mau mengartikan kata “merdeka” baginya.

    Di kesempatan ini, saya cuma mau ngajak kalian untuk bukan mengartikan kata “merdeka”, tapi untuk merenungkan Kemerdekaan Republik Indonesia yang memungkinkan kamu untuk berasa “merdeka”.

    Kebayang ngga kalau negara kita ini belum merdeka? Kebayang ngga kalau negara kita ini masih perang? Tembak-tembakan, bom-bom-an, bunuh-bunuhan? Kita setiap detik, pagi siang malam harus was-was (amit-amit) ada rudal yang akan hancurin tempat tinggal kita, kebayang ngga? Andai, kamu yang perempuan, masih ngga bebas ke luar rumah, ngga boleh sekolah, ngga boleh kerja meniti karir. Kebayang ngga? Kamu ngga boleh mengungkapkan pendapat, ngga bebas. Kebayang ngga?

    Tujuan saya nulis satu paragraf di atas adalah untuk ngajak kamu untuk #bersyukurterus. Karena percaya deh, kalau kita masih ngerasain semua hal di atas, arti “merdeka” bagi kamu pasti ngga jauh-jauh dari harapan untuk bisa ngga ngerasain hal-hal di atas dulu. Itu emang makna “merdeka” yang sesungguhnya. Nah, sekarang kita berada di negara yang sudah merdeka beneran. Apa yang bisa dan sebaiknya kita lakuin?

    MERDEKAIN PIKIRAN LO!

    Gimana caranya? Tau apa tujuan lo hidup di dunia ini, kenalin diri lo sendiri, dan lakuin hal-hal yang bisa bikin lo mencapai apa yang jadi tujuan hidup lo. As simple as that!

    Jangan pernah jalanin hidup tanpa tujuan yang jelas. Jangan jalanin hidup untuk lakuin rutinitas tanpa tujuan yang ingin dicapai. Kalo golnya ngga jelas, atau bahkan ngga punya gol, kamu akan muter-muter aja, ngga akan kemana-mana. Kalau kamu udah tau apa yang kamu mau capai dalam hidup ini, jangan males untuk belajar. Terus perluas wawasan, terus cari ilmu, terus perluas pertemanan, dan jangan jadi ‘katak dalam tempurung’. Jangan ngerasa udah jadi yang paling hebat, paling pinter, paling paling paling. Orang yang udah ngerasa paling paling paling, ujung-ujungnya pasti dilewatin sama orang-orang yang selalu humble dan ngerasa pengen belajar terus.

    Kalau kamu bisa baca tulisan ini, berarti kamu adalah segelintir anak muda yang memang udah punya karakter pengen sukses dan pengen bermanfaat untuk Tanah Air. Kenapa? Karena butuh effort lebih untuk bisa baca tulisan ini sampai paragraf terakhir ini. So, Congrats! Ayo MERDEKAIN PIKIRAN KITA!

    See you ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    17/8/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.