#BBNote24
Baru sejak work from home di pertengahan Maret 2020 (karena covid) akhirnya saya serius mendaftarkan diri masuk ke Bursa Efek Indonesia (IDX). Saya juga langsung luangin waktu untuk mulai belajarin istilah-istilah di bursa. Saya terdaftar resmi untuk bisa memulai investasi/trading di IDX per awal Mei 2020. Saat itu, semua stok masih terpuruk. Ada yang sudah mulai naik, tapi ada yang masih benar-benar jeblok. Hingga Bulan Juni, saya merasakan gampangnya dapet duit/profit dari IDX.
Seperti yang saya lakukan ketika belajarin suatu hal, saya akan belajar bukan cuma dari yang bisa saya pelajari di Indonesia, tapi juga dunia. Saya akhirnya resmi buka akun trading untuk di Nasdaq dan NYSE. Ini adalah dua bursa di Amerika yang merupakan bursa saham terbesar di dunia. Semua perusahaan ngetop yang akrab di telinga kita, kemungkinan besar terdaftar di salah satu dari dua bursa ini. Nasdaq dipenuhi sama perusahaan-perusahaan teknologi, sementara NYSE (New York Stock Exchange) lebih didominasi sama perusahaan-perusahaan non-tech. Ketika saya masuk di awal Juli, semua stok sudah rebound dari titik terendahnya di tanggal 20-an Maret 2020.
Hingga Oktober 2020, dana yang saya investasikan di IDX sekitar 60%, sementara di Nasdaq/NYSE sekitar 40%. Tapi, sekarang, terbalik. Dan kedepannya, dana investasi saya akan 10% di IDX dan 90% di Nasdaq/NYSE. Kenapa saya lebih memilih untuk berinvestasi di Nasdaq/NYSE?
Jawabannya simple; karena dalam berinvestasi di sebuah perusahaan baik secara langsung maupun via bursa saham, seorang investor harus benar-benar tahu visi perusahaan, kredibilitas manajemennya, dan kinerja perusahaannya secara keseluruhan. Ini fundamental dalam berinvestasi. Saya ngga bahas soal trading loh ya. Kalau trading itu “beli pas murah, jual pas mahal.” Kalau investasi itu ya taro duit kita (diinvestasikan) di sebuah perusahaan yang berkinerja baik, sehingga sejalannya dengan waktu, maka nilai uang kita akan ikut naik akibat dari kenaikan nilai perusahaan tersebut.
Nah, di Indonesia, saya cuma tahu dan yakin dengan kinerja Bank BRI. Memang agak bias, karena saat saya menulis ini, saya masih sebagai Advisor aktif untuk Direksi Bank BRI (sejak Februari 2020). Memang kebetulan, BBRI termasuk dalam ‘blue chip’. Selebihnya, saya benar-benar ngga kenal perusahaan-perusahaan yang ada di IDX. Dan entah kenapa, saya ngga punya ketertarikan untuk mengetahui atau mencari tahu tentang perusahaan-perusahaan yang ada. Saya ngga ngerasa connected secara emosional. Entah kenapa, mungkin karena saya menganggap perusahaan-perusahaan ini kurang bisa bikin brand yang nyambung sama diri saya.
Sementara di Nasdaq dan NYSE, saya benar-benar ngikutin perusahaan-perusahaan seperti: Tesla, Apple, Facebook, Microsoft, Google, Amazon. Saya juga sering cari-cari informasi soal perusahaan-perusahaan teknologi yang hype seperti Square, Zoom, Draft Kings, Nikola, dan Palantir. Kalau yang non-tech, saya ngikutin Bank of America dan JP Morgan, juga Nike (brand favorit), Coca Cola, McDonald, Starbucks, Wallmart, dan Beyond Meat. Bukan berarti saya beli semua saham perusahaan-perusahaan yang saya sebut ini loh ya.
Saya tidak menyarankan untuk kalian mengikuti apa yang saya lakukan ini loh ya. Kalau kalian ngerasa lebih pengen berinvestasi atau trading di IDX, silahkan. Mau di IDX dan di Nasdaq dan NYSE juga silahkan. Hanya mau di Nasdan dan NYSE, terserah. Yang pasti, seperti pesan saya di banyak kesempatan, kalo kalian masuk ke bursa saham, pastikan hanya memakai uang nganggur ya. Pastikan kalian sudah punya Dana Darurat dan tabungan dulu.
Oh ya, saya sering ditanya untuk trading di Nasdaq dan NYSE saya pakai sekuritas (applikasi) apa? Saya pakai Interactive Brokers (IBKR).
Yuk investasi. Jangan hura-hura. Inget, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian. Selagi muda, invest sebanyak-banyaknya, jadi nanti pas mau beli ini itu, belinya pake profit yang dihasilkan dari investasi yang kita punya. Asik kan?
See You ON TOP!
Billy Boen
Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen
11/11/2020
***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.




