Tag: yot

  • Life After Covid

    Life After Covid

    #BBCNote9

    Terlepas dari saat ini kita ngga ada satupun yang tau kapan Covid akan berakhir, topik yang paling saya minati saat ini adalah soal “the future”, “the new normal”, dan “the life after Covid”. Setiap hari, saya sengaja cari berita global, dari kantor-kantor berita terkenal (biar ngga baca hoax). Saya sengaja daftar berbagai webinar supaya bisa dapetin info baik dari jurnalis, dari CEO, dari expert di berbagai bidang (investasi, banking, consumer product, esports, online gaming, retail, real estate, automotive, oil and gas, renewable energy, consumer behavior, HR, leadership, brand, management, dll), tentang apa yang mereka pikir soal masa depan dunia.

    (Baca juga tulisan saya tentang Bisnis Masa Kipan)

    Ternyata, semua memprediksi bahwa kita ngga akan kembali ke seperti sebelum Covid. Berikut beberapa list yang perlu untuk kita renungkan, karena bisa aja ini semua akan terjadi setelah Covid:

    • Bioskop ngga ‘mati’. Semua orang sudah terbiasa nonton live streaming/on demand movies di rumah. Bisa dipaused, bisa sambil makan/minum, bisa distop dan dilanjutin besok.
    • Yang tadinya punya 2 mobil, akan cuma punya 1 mobil. Yang tadinya punya 1 mobil, akan jual mobilnya. Karena kebutuhan untuk mobile menjadi lebih sedikit.
    • Meeting yang tadinya janjian harus di sebuah kantor atau di cafe/resto, akan lebih banyak via video call.
    • Sepatu mahal, jam tangan mahal, perhiasan, baju mahal ngga akan lagi jadi prioritas. Karena semakin jarang keluar rumah, barang-barang untuk dipamerin ini menjadi ngga berguna.
    • Kalau bisa belajar dari laptop, ngapain dateng ke seminar/offline events?
    • Akan disiapin 1 pojokan di rumah/kosan untuk WFH (ditata lebih rapih, biar ngga malu-maluin).
    • Rumah makan akan transformasi menjadi “Dapur”, prioritasin delivery. Ngga perlu sewa lokasi yang besar, strategis dan mahal. Catering akan menjamur.
    • Perusahaan ngga perlu lagi kantor besar. Gedung kantoran akan jadi apa nantinya?
    • Lokasi tempat tinggal ngga lagi penting dan harus di tengah kota karena karyawan ngga lagi harus ke kantor setiap hari. Harga tanah di pinggir kota akan mulai menyusul harga tanah di tengah kota.
    • Mall isinya akan lebih banyak untuk ‘experience’ dibandingin untuk shopping.
    • Restoran yang masih akan hidup: fine dining karena yang dikedepankan bukan cuma soal rasa tapi soal ‘experience’nya. 1% orang kaya atau 10% orang kaya, masih akan bersedia untuk bayar mahal untuk makan di restoran meskipun online food delivery sudah menjadi norma baru dikeseharian.
    • Perabotan rumah akan booming, karena semakin sering di rumah, semakin banyak perabotan yang mau dibeli.

    Dan masih ada banyak lagi. Ada prediksi perilaku baru di kehidupan setelah Covid yang kamu tau? Please share ya, biar kita bisa belajar bareng.

    See you On Top!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    8/5/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

  • “The Last Dance”

    “The Last Dance”

    #BBCNote8

    Saya sedang nonton dan sangat terinspirasi sama documented series “The Last Dance” tentang masa emasnya Chicago Bulls dan Michael Jordan yg diproduksi sama ESPN dan Netlix.

    Di series ini, diceritain tentang semua yang terjadi di belakang layar dari kesuksesan Bulls dan Jordan, both kesuksesan mereka dan kegagalan mereka. Kalau di lapangan, kita bisa nonton di tv kala itu. Menarik ketika bagaimana cara Jordan sebagai rookie (pemain yang baru gabung di NBA) untuk dapetin respect dan trust dari pelatihnya dan temen-temen satu klubnya. Jordan jadi pemain yang ngga minum-minum/party, dia yang paling rajin latihan. Sampai akhirnya dia ditunjuk jadi Kapten dan bantuin Phil Jackson sang pelatih untuk mengkoordinir semua temen-temennya di Bulls.

    Jordan bisa menjadi Legend, karena dia sangat kompetitif. Kalau ada yang komentator tv yg bilang si A itu sama jagonya atau mirip sama Jordan, maka Jordan akan mati-matian berusaha untuk ngebuktiin (bukan dengan omongan) di lapangan bahwa kemampuan si A itu ngga ada apa-apanya dibanding dia. Bulls ngga selalu menang. Ketika mereka kalah, ini bener-bener jadi motivasi Jordan untuk latihan lebih keras lagi dan untuk bawa timnya menang next time ketemu tim yang ngalahin mereka itu.

    Apakah yang bikin Bulls menjadi satu-satunya tim NBA yang bisa juara NBA 3x berturut itu kehebatan Jordan seorang diri di lapangan? Ngga! Yang bikin Bulls itu hebat adalah teamworknya! Yes, Jordan sangat sangat sangat hebat di lapangan. Tapi, Dennis Rodman jadi yang paling hebat rebound (rebut bola), Scottie Pipen jadi orang yang paling hebat assist (memberikan bola ke yg bakal ngeskor), Steve Kerr jadi orang yang jago three pointer. It’s all about teamwork. Jadi kalau dari nonton series ini, saya lihat sumbangsih Jordan itu yg terbesar bukan cuma di lapangan, tapi di luar lapangan, ketika dia menjadi “assistent coach”, jadi leader buat temen-temennya. Dia yang paling sering ngomel-ngomel ketika liat temen-temennya ngga berikan yang terbaik ketika latihan. Secara konsisten, dia berusaha untuk naikin kemampuan dan mental temen-temennya di Bulls.

    Yes, yang sering saya bilang, “Leader itu ngga akan pernah nurunin standarnya supaya sama dengan timnya. Leader itu akan selalu berusaha ngangkat timnya supaya sama levelnya sama dia.” That’s what Jordan did for Bulls.

    Tau ngga kalau Jordan itu dulunya sukanya Adidas? Dia ketika diundang ke Nike, dia ngga mau dateng. Akhirnya dateng karena diomongin sama kedua orang tuanya, nothing to lose… explore aja, liat aja apa yang Nike bakal tawarin. That one decision dia dateng ke Nike Campus dan tanda tangan deal dengan Nike yang buat dia menjadi satu-satunya atlet yang Net Worth kekayaannya melebihi $1 miliar dollar. Saat note ini saya tulis, kekayaan dia $2.1 miliar! Untuk perbandingan, Tiger Woods, Roger Federer, Christiano Ronaldo, Lionel Messi, ngga ada yang nyampe $1 miliar Net Worthnya.

    Explore. Try new things. Jangan pernah nutup opportunity di depan mata sampai kita tau 100% apa yang ada di depan mata. Seringkali saya ketemu anak muda yang dari awal kayak Jordan di awal: udah bilang ngga mau duluan. Kita ngga pernah tau, di depan kita itu kayak gimana. Selagi masih ada waktu, selagi masih ada tenaga, coba aja. It may be your billion dollar thing.

    Wanna be like Mike?

    See you On Top!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    2/5/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

  • 5 Kendala yang Dihadapi Entrepreneur

    5 Kendala yang Dihadapi Entrepreneur

    #BBCNote7

    Banyak banget yang pengen jadi entrepreneur. Jadi entrepreneur itu erat dengan image: sukses, kaya, keren, dan bebas waktunya. Kenapa image ini yang melekat di otak kita? Karena memang ketika kita lihat entrepeneur sukses, mereka itu kaya, keren, dan waktunya terlibat bebas (bisa liburan kapan aja, ngga usah nunggu liburan Lebaran dan Natal/Tahun Baru). Tapi kata kunci dari kalimat saya barusan: sukses. Artinya, entrepreneur harus sukses dulu untuk bisa ngerasain itu semua. Dan kita semua tau bahwa sukses itu ngga ada yang instan. Butuh waktu, butuh perjuangan. Nah, yang ngga keliatan sama orang-orang itu adalah perjalanan dan perjuangan yang harus dilaluin oleh entrepreneur, sampai dia meraih sukses. Begitu sukses, baru deh kita bisa baca kisahnya dimana-mana.

    (Baca tulisan saya: Kenapa Entrepreneurs Bisa Kaya)

    Sama persis dengan atlet. Pelari sprint 100 meter di Olimipiade, kita semua lihat mereka beraksi di tv selama 10 detik. Trus kita bilang, wah hebat ya, dia dapet medali emas, perak, dan perunggu. Hebat ya mereka bisa lari dibawah 10 detik. Kita hanya ngeliat suksesnya doang. Kita ngga tau bahwa selama 4 tahun mereka latihan setiap hari, dan latihannya bukan cuma latihan lari, tapi latihan macem-macem, termasuk jaga makan. Mereka ngga bisa tuh makan nasi goreng, bakmi, gorengan, mi instan, KFC, McDonald, dan semua makanan yang sering kita makan setiap hari. Inilah perjuangan seorang atlet yang kita ngga tau.

    Jadi, apakah bener, jadi entrepreneur itu enak? Kendala apa aja yang hampir pasti dihadapi sama entrepreneur yang masih berjuang untuk meraih sukses?

    • Memilih partner bisnis yang tepat itu kayak nyari jodoh. Gampang-gampang susah. Untuk dapetin partner bisnis mah gampang, tinggal tunjuk jadi. Tapi apakah nyari yang tepat yang susah. Beneran deh, persis banget kayak cari pasangan hidup. Yang pasti, harus ada chemistrynya, punya value yang sama, dan punya purpose mendirikan bisnisnya sama. Jangan misal kamu maunya bisnis yang kamu dirikan untuk supaya bisa bantu banyak orang, sementara partner kamu mikirnya cuma duit doang. Ini pasti berantem di tengah jalan, dan bubar.
    • Ngga ada tuh kerja ‘hanya’ Senin-Jumat, jam 8-5 sore. Semua entrepreneur yang masih merintis bisnisnya diwajibkan untuk muterin otaknya 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 365 hari setahun. Ngga kenal weekdays dan weekends. Ngga kenal liburan. Kalaupun di akhir tahun maksain liburan sama keluarga, otaknya tetap nempel sama bisnisnya.
    • Bayar gaji karyawan dan THR seringkali jadi kendala yang hampir wajib ditemuin sama semua entrepreneur baru. Saya pernah ngerasain bangun tengah malam, keringetan dan dalam keadaan air mata sudah mengalir ke pipi saya. Saya pernah ngerasain stres ngga bisa bayar gaji karyawan saya, di masa saya sendiri belum gajian selama berbulan-bulan dan kartu kredit saya sudah mentok untuk nalangin gaji karyawan.
    • Belum dipercaya sama klien, belum bisa dapetin sales yang cukup untuk nutupin biaya operasional kantor. Ketika bisnis baru dibuat, susah banget dapetin klien. Karena kita pasti harus bersaing sama produk yang sudah duluan ada di pasar, apalagi kalau produk-produknya itu sudah lama di pasaran, artinya mereka sudah punya banyak klien, sudah dapetin trust dari pasar.
    • Perjuangan bisnis baru itu bukan cuma hitungan hari atau bulan. Kebayang ngga kalau kamu harus berjuang setiap hari selama 7 tahun non stop dan ngga boleh nyerah? Itu yang saya hadapi ketika membangun YOT dari nol. Selama 7 tahun keuangan YOT minus, dan keuangan saya pribadi juga minus. Gimana supaya ngga give up, dan untuk bisa terus memotivasi diri sendiri itu juga yang jadi kendala besar yang harus dihadapi. Salah satu tricknya: berteman dan bertukar cerita susah/sukses sama entrepreneur lain (harus jujur, jangan jaga image), baca buku-buku orang sukses (karena semua bercerita tentang kegagalan mereka yang seringkali malah lebih besar daripada yang kita sedang hadapi), nonton video-video tips sukses di youtube.

    Susah? Iya,.. tapi kalau kamu bisa lewatin ini semua, the reward is amazing. Sekarang pertanyaannya: Apakah kamu mau jadi entrepreneur? Siap mentalnya?

    See you On Top!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    30/4/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

     

  • Kenapa Entrepreneur (bisa) Kaya?

    Kenapa Entrepreneur (bisa) Kaya?

    #BBCNote 6

    Dulu ketika baru lulus kuliah, karena dari kecil saya ngga pernah disuruh jadi pengusaha sama orang tua, saya berpikirnya: pengen jadi CEO biar gajinya gede. Beruntung di kerjaan pertama saya handle brand Nike, saya jadi satu-satunya karyawan yang dipromosiin jatabannya setiap tahun, selama 4 tahun berturut-turut. Setiap promosi jabatan, of course, gaji naik. Setelah itu saya pindah ke Oakley, gaji saya naik lagi. Ketika saya gabung di MRA Group, gaji saya naik lagi. Yang ada di benak saya saat itu: gaji bulanan dan bonus harus naik terus setiap tahun.

    Sekarang gimana? Udah 11 tahun saya jadi entrepreneur.

    Anehnya, saya malah udah ngga ‘semata-duitan’ dulu. “Ah masa sih, mas Bill? Buktinya apa?”

    Selama 7 tahun pertama saya bangun Young On Top dari nol, finansial pribadi saya selalu minus. Sampe harus berhutang ke temen-temen udah jadi hal yang biasa. Rasa malu, harus ditelen demi YOT bisa terus ada dan berkembang. Itu dulu… sekarang? Yang pasti, kerja keras ngga akan pernah sia-sia. 🙂

    Jadi, sebenernya, gimana income di mata entrepreneur? Kok mereka bisa kaya?

    Mungkin ngga semua entrepreneur sama loh ya pemikirannya sama saya. Tapi, yang menjadi prioritas utama bagi seorang entrepreneur itu adalah kelangsungan dan perkembangan perusahaan. Kenapa? Apakah supaya si entrepreneur bisa dapet gaji gede? Itu iya, tapi bukan jadi yang prioritas. Entrepreneur yang baik akan selalu mikir jangka panjang: seberapa besar dampak positif yang bisa diberikan oleh perusahaan kepada masyarakat. Kenapa? Karena semakin besar dampaknya, semakin besar pula nilai perusahaannya secara Rupiah. Contoh: Kenapa Google bisa segede hari ini? Karena mayoritas penduduk dunia yang ada lebih dari 7 miliar orang, gunain jasanya Google. Jadi jangan heran kalau Google jadi salah satu perusahaan terbesar di dunia.

    Dengan kata lain, entrepreneur lebih mengedepankan nilai perusahaan dibandingkan pendapatan pribadinya.

    Pernah denger High Net Worth Individuals? Kalau dibahasa Indonesiainnya: Orang Tajir Melintir. Nah mereka yang dianggap super atau ultra rich ini, dasar perhitungannya bukan sebatas pendapatan mereka (gaji dan bonus), tapi lebih kepada nilai kekayaan (aset) yang mereka punya, termasuk nilai perusahaan yang mereka miliki.

    Lalu, apakah income ngga penting bagi entrepreneur? Jelas, penting! Trus gimana cara pandang entrepreneur terhadap pendapatan? Gimana cara entrepreneur memperkaya diri sendirinya (sambil membesarkan perusahaannya)?

    Mereka melakukannya dengan memiliki multiple sources of income. Yes, rata-rata, entrepreneur itu pendapatannya ngga cuma dari satu sumber. Kalau karyawan biasanya sumber pendapatannya ya dari gaji yang diterima setiap bulan, kalau entrepreneur ngga.

    Ketika saya banting setir jadi entrepreneur fokus ngebangun YOT, dan YOT-nya minus setiap tahun, gimana cara saya hidup selain sampai harus berhutang sana sini? Saya dapet royalti dari hasil penjualan buku YOT meski (dapet duit), saya sharing pengalaman bekerja dan berbisnis di berbagai seminar (dapet duit), saya jadi Host program mingguan di Metro Tv: “Young On Top” selama 2 tahun (dapet duit), saya jadi Produser dan Host di program talkshow radio mingguan di Kis fm, kemudian pindah ke Sindo Trijaya, Global, dan terakhir di Smart Fm (dapet duit dari sponsor). Ini contoh nyata yang saya lakukan untuk bisa punya multiple income sources.

    Apakah jadi karyawan bisa kaya? Bisa, dengan catatan, kamu harus punya pendapatan lain dari gaji yang kamu dapet setiap bulan. Gaji itu active income alias uang yang kamu dapat dari waktu dan kontribusi yang kamu hasilkan. Kalau kamu hanya ngarep kaya dari gaji, sah-sah aja, tapi ini kayak kamu mimpi di tengah siang bolong. “Mas Bill, kalau punya gaji Rp200juta sebulan, bisa kaya juga kan?” Tergantung kamu mengartikan kaya itu dengan punya berapa duit. Rp200juta per bulan, artinya Rp2.4M per tahun. Dikali 10 tahun = Rp24M. Itu kalau kamu ngga makan sama sekali, ngga beli barang sama sekali. Anggaplah kamu irit orangnya, di akhir 10 tahun, yang berhasil kamu tabung Rp15M. Apakah kamu kaya? Balik lagi, tergantung seberapa kamu mengartikan kata “kaya”.

    Tapi gini… poin yang saya mau tekankan: Bayangkan kalau gaji kamu Rp200juta per bulan, dan sebagiannya kamu investasiin. Yes, ada investasi yang gagal, ada yang berhasil. Ini juga tergantung dari kepinteran kamu milih duitnya kamu mau puterin kemana. Tapi kalau ini yang kamu lakukan dengan awalnya sedikit-dikit, dan tentunya dengan hati-hati dan tidak rakus, saya cukup yakin di akhir 10 tahun, nilai kekayaan kamu akan jauh di atas Rp15M, bisa Rp50M, mungkin Rp100M? Nah ini baru kaya.

    Jadi, di mata entrepreneur, income itu penting, tapi bukan yang terpenting. Dan entrepreneur, biasanya punya lebih dari satu sumber penghasilan.

    Ada berapa sumber penghasilanmu saat ini?

    See you On Top!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    26/4/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

  • Yang Saya Perhatikan Ketika Invest di Startup

    Yang Saya Perhatikan Ketika Invest di Startup

    #BBCNote5

    Suatu saat, saya akan nulis tentang investasi di bursa saham, but not today. Di note kali ini, saya mau nulis tentang apa yang ada di benak saya dan apa yang saya perhatikan sebelum saya mengambil keputusan untuk invest di sebuah perusahaan startup berbasis digital/technology.

    Perusahaan startup digital pertama saya: GDILab, perusahaan yang awalnya bergerak di social media analytic. GDILab lahir tanggal 1 Desember 2013. Sejak GDILab, saya ngga cuma tertarik, malah sampe passionate di digital technology. Fast forward ke hari ini, perusahan-perusahaan startup yang saya terlibat di dalamnya: topkarir.com (career platform), bizhare.id (equity crowd funding platform), dan maingame.com (game platform). Young On Top pun, yang awalnya adalah perusahaan yang fokusnya untuk pengembangan karakter anak-anak muda Indonesia secara offline, sejak umurnya memasuki dekade kedua, sudah fokus ke digital, YOT2.0.

    Pertanyaannya, apa yang ada di benak saya ketika saya memutuskan mau terlibat dan invest di perusahaan-perusahaan tersebut?

    1. Startupnya harus bisa menguatkan ekosistem YOT. Karena purpose YOT: to create stronger next generations of Indonesia, maka startup yang saya lirik haruslah startup yang peduli dan diharapkan mampu untuk mengempower anak-anak muda Indonesia. Trus, maingame.com kan perusahaan game, bisa mengempower kayak gimana? Makanya, cobain main game-gamenya maingame.com dong, di situ sudah ‘disuntik’ value-value YOT: ajakan untuk ngga gampang give up, dst. Dan, kalau mau diperhatikan, main game itu sebenernya ngajak pemainnya untuk berpikir kreatif, untuk ngga gampang give up dan persistent. Coba lagi, coba lagi, sampai berhasil.
    2. Foundernya harus punya kesamaan value dengan saya (value-valuenya YOT), diantaranya: mau belajar, ngga sok tahu, humble, punya purpose yang jelas kenapa dia mendirikan perusahaannya, dan bisa respect semua orang. Kenapa value-value ini penting? Karena saya percaya, orang yang sukses bukan orang yang pinter doang, tapi orang yang punya karakter baik.

    Kedepannya, apakah saya akan terus investasi di dunia digital? Untuk sementara waktu ke depan, kemungkinan tidak. Saya harus memastikan perusahaan-perusahaan yang ada di dalam ekosistem YOT harus bisa berkembang dan bermanfaat untuk banyak orang. Selain juga karena kesibukan saya sebagai Advisor Bank BRI saat ini. Tapi, apakah perusahaan-perusahaan yang ada di ekosistem YOT akan invest di perusahaan startup lainnya? Why not? Kalau bisa menguatkan ekosistem YOT, saya pasti merestui. Tapi, meski saya pribadi ngga lagi jadi Angel Investor kedepannya, saya akan tetap memantau dan melirik perusahaan-perusahaan startup yang akan bisa punya impact positif yang masif bagi bangsa.

    Startup apa yang saya akan pantau dan lirik mulai saat ini? Startup yang menguatkan startup B2C. Bingung? Ngga apa, suatu hari akan saya jelasin apa maksudnya. For the time being, kalau mau invest, inget sama 2 poin di atas ya: 1) yang sesuai sama purpose/passion kamu dan 2) yang foundernya punya purpose yang jelas dan karakter baik.

    See You On Top!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    25/4/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.