Tag: yot

  • Yang Kaya Semakin Kaya. Kenapa?

    Yang Kaya Semakin Kaya. Kenapa?

    #BBCNote12

    Ada yang bilang: “Ngumpulin Rp1M pertama itu yang paling susah. Begitu udah punya Rp1M pertama, bikin jadi Rp10M itu udah lebih gampang.” Apakah benar? Kalau benar, kenapa? Kok bisa?

    Kalau dari yang saya amati, pernyataan di atas emang benar. Makanya orang yang kaya akan semakin kaya.

    Orang yang belum kaya, fokusnya ‘cuma satu’: bertahan hidup. Kalopun ada yang kedua: nabung dikit-dikit untuk biaya sekolah anak, bahagiain keluarga (traveling, belanja, nonton bioskop), dan siapin masa pensiun. Dan ini wajar, karena memang bertahan hidup adalah hal yang paling mendasar. Manusia butuh makan dan butuh tempat tinggal. Kalau kedua hal ini sudah bisa tercapai (meski tempat tinggal masih sewa), barulah hal-hal lain mulai dipikirkan.

    Tapi sadarkan ya kalau semua yang saya tulis di atas itu ngga ada hubungannya sama memultiplikasi uang yang dimiliki. Sementara, orang yang kaya, atau setidaknya yang sudah punya semua itu di atas, mikirnya sudah satu step lebih maju: Bagaimana membuat uang yang mereka sudah miliki menjadi lebih banyak lagi. Tujuannya macem-macem: biar bisa lebih banyak bersedekah, biar bisa makan lebih enak, biar bisa tinggal di rumah yang lebih besar/nyaman, biar bisa traveling ke manapun dan kapanpun mereka mau, dan supaya ngga perlu khawatir akan masa tua mereka.

    Jadi, apa yang mereka lakuin, yang bikin mereka yang sudah kaya menjadi semakin kaya?

    1. Punya multiple source of income. Oke, satu bisnis mereka berhasil. Apakah mereka puas? Apakah mereka hanya akan ambil gaji besar, ambil dividen besar, kemudian mereka foya-foya? Ngga! Mereka biasanya membuat bisnis baru.
    2. Uang yang mereka dapetin dari bisnis-bisnis yang mereka bikin itu kemudian mereka investasikan ke tempat lain: invest di startup, beli saham, beli properti (yang dalam jangka panjang nilainya pasti akan naik terus).
    3. Mereka menunda semua jenis ‘kebahagiaan’ yang dilakukan oleh banyak orang yang belum kaya. Kenapa mereka tunda? Apakah mereka ngga mau liburan dan senang-senang? Apakah mereka ngga mau punya rumah yang besar/nyaman? Mau. Tapi, mereka cerdas. Mereka akan keluarkan uang untuk liburan dan beli rumah yang megahnya bukan dari ‘hard-earned income’ (active income). Jerih payah yang mereka hasilkan dari keringat mereka, ditabung dan diinvestasikan. Nah hasil investasinya yang merupakan passive income (uang menghasilkan uang) yang mereka pake untuk liburan dan beli rumah megah, dan mereka investasikan lagi!

    Gaji ngga akan bisa bikin kamu kaya, seberapa besar gaji kamu saat ini. “Mas Bill, gaji saya Rp100 juta per bulan, saya bisa kaya.” Ya ya ya. 10 tahun dari sekarang, coba lihat uang yang ada di bank, saya jamin NGGA MUNGKIN Rp12 miliar (Rp100 juta x 12 bulan x 10 tahun). Ngga mungkin. Karena gaji kamukan pasti kepotong biaya untuk hidup. Kalau biaya hidup kamu Rp10 juta per bulan dan kamu hidupnya super irit, berarti biaya hidup kamu 10 tahun itu = Rp1.2M. Artinya, kekayaan kamu Rp10.8M. Apakah ini kaya? Tergantung penilaian kamu.

    Tapi, bayangkan kalau dari gaji kamu Rp100 juta per bulan, biaya hidup kamu Rp10 juta per bulan, 60-70%nya kamu tabung, dan 30-40%nya kamu investasikan. Jangan kaget kalau investasi yang kamu pilih tepat, setelah 10 tahun, kekayaan kamu bisa lebih dari Rp50M. Yes, kuncinya: berinvestasi di instrumen yang tepat. Saya akan bahas di tulisan lain di lain kesempatan. At least, you get my point ya.

    So, udah tau ya mindset orang-orang kaya gimana dan kenapa mereka bisa semakin kaya? Now, apakah kamu pengen jadi orang kaya? Atau pengennya gini-gini aja? Apapun pilihan kamu, ngga ada yang salah. That’s your life. Up to you.

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    20/6/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

  • Bedanya Orang Kaya dan yang Belum Kaya

    Bedanya Orang Kaya dan yang Belum Kaya

    #BBCNote12

    Meskipun ngga semua orang pengen kaya (katanya), di dalam hatinya, mereka pengen bisa hidup nyaman (berkecukupan), dan ini berhubungan sama uang yang dimilikinya. Kita hidup di dunia yang modern, bukan lagi di jaman barter kalau kita mau suatu barang, harus kita tukar dengan barang yang kita punya. Masih tukar menukar sih, tapi dengan alat pembayaran yang namanya uang. Ketika terjadi tukar menukar barang dengan uang, itulah yang kita sebut dengan transaksi.

    Jadi, pada dasarnya, saya percaya bahwa hampir semua orang sebenarnya sadar bahwa memiliki uang yang cukup itu penting. Betul, bahwa uang ngga bisa membeli kebahagiaan. Tapi, uang bisa membeli barang, uang bisa membuat kita lebih bebas (memilih), uang bisa membuat kita lebih banyak berbagi, dan ini bisa mengacu kepada kebahagiaan kita. Ada kebahagiaan yang sifatnya sementara, ada yang selamanya.

    Inilah list beberapa perbedaan orang kaya dengan orang yang belum kaya:

    • Perspektif orang kaya terhadap uang: positive. Orang yang belum kaya seringkali berpikir uang adalah sumber segala negatif (rakus, perang, kapitalisme yg menyebabkan kemiskinan, dst)
    • Orang kaya sudah mengajarkan anak-anaknya dari kecil dengan perspektif baik tentang uang, sehingga ketika mereka dewasa, mereka “bersahabat” dengan ide untuk dekat dengan uang yg membuat mereka kemudian menjadi kaya. Sementara orang yang belum kaya, jelas ngga bisa ngajarin anaknya tentang uang, karena mereka ngga punya uang atau masih berjuang untuk punya uang.
    • Orang kaya punya beberapa atau banyak sumber pendapatan. Orang yang belum kaya, biasanya cuma punya satu sumber pendapatan.
    • Orang kaya selalu bisa memotivasi dirinya sendiri. Orang yang belum kaya ngerasa perlu dimotivasi oleh motivator.
    • Orang kaya punya rasa penasaran yang sangat tinggi, dan kalau dia sudah penasaran, dia akan pelajari hal tersebut sesering mungkin dan dari sumber yang bermacam-macam sampai dia merasa ngerti. Meski sudah ngerasa ngertipun, dia akan terus belajar karena dia ngerasa ilmunya masih belum cukup. Orang yang belum kaya ngga punya rasa penasaran yang tinggi, dan memilih untuk terus berada di comfort zone, dengan pemikiran: “Saya udah nyaman di sini, ngapain harus pelajari hal baru, males ah.”
    • Orang kaya sadar bahwa punya teman yang banyak itu penting, karena baginya teman = network dan network bisa mendatangkan kesempatan baru. Orang yang belum kaya jumlah temannya ya segitu-segitu aja karena merasa ngga nyaman kalau harus kenalan sama orang baru, karena enakan ngobrol dan hangoutnya sama yang udah kenal aja.
    • Orang kaya ketika membeli barang, bukan lagi untuk gengsi tapi untuk fungsi dan emang beneran karena dia suka sama brand dan kualitas produknya. Orang yang belum kaya, beli barang mahal untuk dipamerin ke teman-temannya karena masih haus sama pujian.
    • Orang kaya makan makanan yang dia suka, yang sehat, bukan makan suatu mahakan karena mahalnya dan gengsinya. Kalau dia ke restoran mewah, karena memang suka sama suasananya, kualitas makanannya, dan kualitas pelayanannya. Kalau orang yang belum kaya, akan mengatakan bahwa mereka ngga ke restoran yang mahal, karena berbagai alasan… tapi sebenarnya karena dia ngga punya duit dan ngga sanggup untuk makan di resto mahal tersebut.
    • Orang kaya selalu menghargai waktu dan kesal sama orang yang ngga ngehargain waktu. Orang yang belum kaya, karena ngga punya karya, ngga punya perusahaan, dan masih kerja hanya kalau disuruh… ya jelas yang dia punya cuma waktu, dan karena ngerasa waktunya banyak, maka dia take it for granted. Seringkali mikirnya: “Ah telat-telat dikit okelah”, yang mana ini adalah hal tabu buat orang kaya. Kenapa? Karena orang kaya ngerasa satu-satunya hal yang terbatas dan ngga bisa di-rewind adalah waktu.
    • Pas resesi, orang kaya senang karena yang dia lihat adalah kesempatan untuk beli-beliin stok, sementara orang yang belum kaya akan fokus kehilangan nilai saham yang dia sudah beli sebelum resesi.

    Saya masih bisa kasih “sejuta list” lainnya yang membedakan orang kaya vs. orang yang belum kaya. Tapi semoga apa yang saya tulis ini, bisa ngebuka pikiran kalian semua. Untuk yang mau nambahin, silahkan tulis di kolom komen ya. Let’s share pemikiran kita untuk orang lain.

    See you On Top!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    16/6/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

  • Berapa Dana Darurat yang Harus Kita Siapkan?

    Berapa Dana Darurat yang Harus Kita Siapkan?

    #BBCNote10

    Saya pertama kali dengar istilah “Dana Darurat” dari Financial Planner/Expert. Orang tua saya ngga pernah ngajarin saya pentingnya punya dana darurat. Yang ditekankan ke saya sejak saya kecil: Harus kerja keras. Kalau mau punya uang lebih, kerja lebih keras lagi.

    My Dad malah bilang: “Ketika gaji kamu masih kecil, nikmatin aja. Kamu nabung 50%, ngirit-ngirit, Rupiah yang ditabung dikit. Mending dinikmatin aja, sambil kerja keras. Kalau gaji kamu udah agak gede, kalau kamu nabung 20% aja, Rupiah yang ditabung udah besar.”

    Jadi, saya sempat ngga pernah nabung sama sekali meskipun jabatan dan gaji saya tinggi ketika dulu sebagai profesional kerja di korporasi. Yang ada di benak saya, persis seperti ajaran my Dad: “Kerja untuk bisa dapetin lebih terus. Nabung, nanti aja.”

    Tapi semakin ke sini, saya juga ikutin ajaran my Dad sih… dan bener banget, ketika penghasilan kita makin gede, nabung secara prosentase kecil aja, Rupiah yg ditabung lumayan.

    Apakah saya setuju dengan ajaran my Dad? Well, kalau saya bisa sarankan kalian… nabung sejak kalian penghasilannya kecil ngga apa-apa. Malah bagus, karena nabung itu soal disiplin. Kalau sejak penghasilan kamu kecil, kamu sudah terbiasa nabung, maka ketika penghasilan kamu besar nanti, kamu sudah terbiasa nabung.

    Nah, now let’s talk about “Dana Darurat”. Berapa dana darurat yang perlu kita siapkan?

    Banyak Financial Planner/Expert bilang: Dana Darurat harus sebesar 3-4 bulan biaya hidup kita. Jadi kalau misal setiap bulan untuk kita bayar sewa rumah, biaya bensin, biaya makan Rp10juta, artinya Dana Darurat yang harus kita siapkan minimum sebesar Rp30-40juta. Tolong “3-4 bulan” ini jangan dijadikan patokan dan ditelan mentah-mentah bahwa kita harus siapkan 3-4 bulan.

    Saya di twitter baru-baru ini bilang, siapkan Dana Darurat 12 bulan. Ditanya, “Kok 12 bulan? Bukan 3-4 bulan?” Inilah yang menginspirasi saya untuk nulis BBCNote ini.

    Jadi gini, dasar pemikiran Dana Darurat adalah dana yang disiapkan untuk kalau kita di-PHK atau ngga punya lagi penghasilan. Nah berapa yang mau disiapkan, tergantung masing-masing orang. Di jaman normal dulu (sebelum Covid19), kenapa banyak Financial Planner/Expert yang menganjurkan 3-4 bulan? Pertimbangannya, kalau kamu dipecat, masa sih dalam 3-4 bulan kamu ngga bisa dapet kerjaan baru? Itu dasarnya.

    Kenapa saya menganjurkan 12 bulan? Karena di era Covid19 ini, apakah kamu yakin, kalau kamu di-PHK hari ini, kamu akan bisa dapetin kerjaan baru dalam 3-4 bulan kedepan? Pengangguran lagi gede-gedenya, banyak banget yang kena PHK, dan lulusan universitas dan SMK juga nambah terus setiap tahun, artinya: yang cari kerja lagi banyak-banyaknya, sementara perusahaan lagi ngga ada yang buka lowongan kerja saat ini. Semua perusahaan lagi berusaha seefisien mungkin. Jadi, bersiaplah untuk 12 bulan kedepan kamu ngga ada penghasilan. That’s why saya menyarankan Dana Daruratnya 12 bulan.

    Ngerti ya?

    Kalau untuk entrepreneur gimana? Sama aja dasar pemikirannya: Berapa Rupiah yang kamu butuhkan untuk bertahan hidup (termasuk biaya hidup keluarga, kalau kamu sudah berkeluarga; atau kalau kamu menyokong kehidupan orang tua) DIKALIKAN berapa bulan sampe kamu yakin kamu bisa punya penghasilan lagi. Kalau kamu yakinnya 6 bulan lagi baru usaha kamu bisa kembali, ya Dana Daruratnya 8 bulan, kalau kamu mengira-ngira bisa balik lagi usaha kamunya 12 bulan lagi, ya siapin Dana Daruratnya 14 bulan. Kasih cadangan 2 bulan kalau perlu, biar aman. Anyway, yang mau jadi pengusaha, silahkan baca kedua tulisan ini: “Entrepreneurs Bisa Kaya” dan “5 Kendala Entreprenerus”.

    Good luck! Semoga kita semua baik-baik aja, secara kesehatan, dan juga secara finansial. Amin.

    See you On Top!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    28/5/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

  • “Berpuasalah” Untuk Menang

    “Berpuasalah” Untuk Menang

    Pertama-tama, saya ucapkan Selamat Idul Fitri untuk semua teman-teman Muslim. Semoga semua amal ibadah teman-teman selama Bulan Suci Ramadhan, diterima olehNYA.

    Saya seorang Katolik. Apa yang saya tahu soal berpuasa?

    Di Katolik, selama 40 hari sebelum Paskah (Kebangkitan Yesus), ada masa Pra-Paskah. Selama inilah, Umat Katolik di seluruh dunia diminta untuk berpuasa dan berpantang. Karena saya bukan seorang Muslim, maka saya tidak akan membahas arti berpuasa di Agama Islam. Tapi kalau dari yang saya tahu, maksud dan tujuan utama berpuasa di Katolik adalah untuk kita menahan nafsu, untuk kita menjalankan kontrol terhadap diri sendiri.

    Dulu, saya puasanya bolong-bolong, dengan berjuta alasan. Tapi, sudah beberapa tahun terakhir, saya bukan saja berusaha untuk memenuhi kewajiban berpuasa dan berpantang yang diminta oleh Gereja, tapi saya melakukan hal “extra mile”, alias saya berpuasa dan berpantang selama 40 hari penuh. Kenapa? Karena saya ingin menantang diri saya: Apakah saya bisa untuk mengontrol diri saya sendiri? Selain hanya makan kenyang 1x selama setiap 24 jam, saya juga berpantang makan segala jenis daging dan berpantang membuka media sosial.

    Susah? Sebelum saya melakukannya, saya sempat berpikir bahwa berpantang media sosial akan sangat sulit karena saya kan biasanya harus posting untuk menginspirasi orang lain, saya juga harus posting promosi-promosi event dan program-programnya YOT. Tapi, ternyata, sejak hari pertama saya lakukan puasa dan pantang (pada Hari Rabu Abu), saya ngga ngerasa susah sama sekali.

    Kalau niatnya jelas dari awal, semua hal bisa kita lakukan. Saya malah merasa lebih punya banyak waktu untuk melakukan hal lain, diantaranya menulis notes di youngontop.com, dan juga akhirnya berlanjut di billyboen.com ini. Saya juga berhasil membaca beberapa buku. Saya juga merasa punya waktu lebih banyak untuk mencari berita lewat google. Saya jadi punya banyak waktu untuk ngobrol dan menghabiskan waktu bersama wifey.

    Paskah untuk Umat Katolik sama dengan Idul Fitri untuk Umat Muslim; sama-sama dirayakan sebagai Hari Kemenangan, dan menjadi akhir dari masa berpuasa.

    Apa maksud judul tulisan saya ini?

    Dulu, ketika saya masih ngga berpuasa dan berpantang, ketika Paskah, saya ngerasa biasa aja. Ngga ada yang istimewa. Ke Gereja, ya gitu deh rasanya: hampa. Ngga ngerasa ada arti khusus.

    Tapi, sejak saya berpuasa dan berpantang melebihi dari apa yang Gereja Katolik wajibkan, saya benar-benar merasa hepi dan bisa merayakan Hari Kemenangan dengan penuh rasa syukur. Paskah menjadi hari yang saya tunggu-tunggu. Ketika Paskah, saya hepi banget dan merasa lega. Saya yakin, teman-teman Muslim juga pasti merasakan hal yang kira-kira sama. Rasa hampa bagi mereka yang puasanya asal-asalan, tapi rasa syukur dan bahagia pasti menyelimuti mereka yang berpuasa penuh selama Bulan Suci Ramadhan.

    Saya percaya, melatih diri untuk bisa mengontrol diri sendiri sangatlah penting. Tau ngga kalau semua orang sukses itu punya kemampuan yang luar biasa dalam mengontrol dirinya. Mereka biasanya mampu untuk menahan diri, bersabar, dan bersyukur. Hmmm… Mau sukses? Baca tulisan saya “Kenapa Entrepreneur (bisa) Kaya”.

    “Berpuasalah”, untuk menang.

    See You ON TOP!
    Billy Boen

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    24/5/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.

  • Honoring a Great Man

    Honoring a Great Man

    – Tulisan ini saya dedikasikan untuk Henry Boen, my Dad (3 Oktober 1944 – 16 Mei 2020) –

    Ada jutaan hal yang bisa saya tulis, yang saya pelajari dari my Dad. Saya akan tuangkan dalam sebuah buku… suatu hari nanti.

    My Dad kembali ke RumahNYA 16 Mei 2020 lalu, setelah masuk ICU selama 2 minggu, bermula dari sakit prostat hingga terdeteksi macem-macem sakitnya. Puji Tuhan, ketika ditest covid19, hasilnya negatif, sehingga 1 minggu terakhir di ICU, keluarga bisa ngunjungin my Dad, dan di hari terakhirnya, semua bisa ngumpul dan said “I love you, Dad/Opa”.

    Sekeluarga tau banget kalau my Dad itu orang yang paling ngga mau nyusahin/ngerepotin orang lain. Dia dinyatakan meninggal pukul 15.47, kemudian jam 21.00 ditransfer ke rumah duka. Besokannya jam 14.00 sudah dikremasi, jam 16.00 selesai proses kremasinya. Kami cuma bikin 1x Misa untuk my Dad. Super simple, super fast. Sampe saya nanya dan bahas sama Mom dan kakak-adik, “Prosesnya cepet dan simple banget ya? Kita tetep hormatin Dad kan ya?” Kakak saya bilang, “Iya, kan memang setiap tindakan sepanjang proses, kita selalu berpikir apa yang Dad mau.”

    FYI, my Dad paling ngga mau dinyanyiin “Happy Birthday” kalau ngerayain ultahnya di restoran. Segitunya. Ngga pengen rame-rame, ngga pengen yang ribet-ribet. Makanya di rumah duka ngga perlu nunggu temen-temennya dateng. Yang penting untuk keluarga inti (ngga nunggu sodara-sodara juga) bisa berdoa dan melepas dia dengan cinta dan hormat.

    Anyway,… hingga detik ini, saya ngga merasa berduka. Semua orang bingung. Kremasi hari Minggu, hari Seninnya saya full zoom meeting dari pagi, siangnya taping UNLOCK with Billy Boen di Metro Tv, dan malamnya sampai jam 21.00 meeting bareng shareholder maingame.com. Selasa banyak meeting, Rabu juga sama. Dan di Hari Kamis pagi ini, saya nulis note ini, to honor my Dad. Kenapa saya ngga berduka, kok malah bersuka cita?

    1. Saya dari dulu sering denger ada orang yang penuh penyesalan; “Andai saya lebih care ke orang tua”, “Andai saya bilang i love you ke orang tua”, “Andai… andai… andai”, dan penyesalan itu terjadi ketika orang yang kita cintai sudah pergi meninggalkan kita selamanya. PERCUMA. Oleh karena itu, dari dulu, saya sering banget untuk kasih tau ke orang-orang yang saya cintai bahwa saya mencintai mereka: dengan tindakan dan dengan perkataan. Yes, i said “I love you, Dad” jutaan kali selama hidup saya, dan saya katakan “I love you, Dad. Thank you so much for everything” puluhan kali di 1 minggu terakhir hidupnya.
    2. Saya percaya bahwa orang yang meninggal itu, akan berada di tempat yang lebih baik. I trully believe that. Jadi, ketika my Dad sudah di ICU, doa saya (dan keluarga) bukan untuk memohon Tuhan untuk menyembuhkan my Dad, tapi berserah pada Tuhan, silahkan Tuhan yang memutuskan apakah my Dad akan dipanggil ke RumahNYA atau diperbolehkan pulang ke rumah my Mom Dad untuk ditake care sama kami sekeluarga. Jadi, ketika Tuhan memanggil my Dad ke RumahNYA, kami semua ikhlas dan bersuka cita.
    3. Saya tau kalau my Dad had lived his fullest life. Sebagai seseorang yang merantau dari Pontianak ke Jakarta untuk kuliah di UI dengan modal 1 koper baju, sampai bisa menjadi Direktur di beberapa perusahaan besar dan menjadi Country Manager sebuah brand asal Amerika (Polaroid), punya rumah 1,200 sqm dengan kolam renang dan “pool house”, modalin my Mom bisnis Doggie, dan nyekolahin 3 anaknya hingga semuanya lulus MBA (S2) dari Amerika tanpa beasiswa… yes, he has accomplished A LOT.

    Di tahun 1998, ketika Indonesia lagi mencekam, my Dad bilang ke kami sekeluarga, “Kita ngga akan kabur dari Indonesia. Kita lahir di Indonesia, kita akan mati di Indonesia” (meski kita WNI keturunan Cina). My Dad dan my Mom telah berhasil menanamkan nilai keberagaman dalam keluarga kami. My Dad akhirnya dibabtis Katolik, My Mom Katolik, saya dan James Katolik, istri saya Budha, Kakak saya beserta istri dan anak-anaknya Muslim, adik saya beserta suami dan anak-anaknya Kristen. Setiap Natal kami berkumpul, setiap Lebaran kami berkumpul dan merayakan. Istri saya orang Thailand. Kakak ipar saya keturunan Dayak. Adik ipar saya Batak. Jangan heran kalau saya bisa menjadi individu yang sangat berpikiran terbuka dan bisa menerima perbedaan dengan tulus. Jangan heran kalau YOT seperti ini dan berniat untuk bisa terus ada untuk ambil andil terus Menyatukan Indonesia. Benihnya, dari my Dad.

    Sampai napas terakhirnya, dia telah menjadi role model buat kami semua yang kenal dia.

    He loved my Mom. He loved his family so much. Dia sumbang sana sini, dia sekolahin entah berapa anak. Dan khusus untuk saya, dia selalu ada di setiap saya mencapai milestone dalam hidup saya. Dia yang nganterin saya interview di Nike (Feb 2001), dia berikan speech di peluncuran buku “Young On Top” (April 2009), dia dengerin YOT radio talkshow di Kis Fm (Nov 2009), dia dateng setiap tahun ke YOT National Conference (2011-2019), dia dateng ke peluncuran buku “Y” (2019), dia nonton YOT Metro Tv (2012), dia nonton UNLOCK with Billy Boen (2019), dan dia selalu excited ketika saya cerita perkembangan bisnis-bisnis saya: YOT, GDILab, TopKarir, Bizhare, Maingame, dan Ternak Kambing. Saya sempat infokan bahwa saya ditunjuk jadi Advisor Bank BRI, dan i could see how proud he was.

    So, Dad, i know you can read this… once again:

    “I LOVE YOU, THANK YOU SO MUCH FOR EVERYTHING. I HOPE I HAVE MADE YOU PROUD. I AM LUCKY, PROUD, AND HONORED TO BE YOUR SON. WITHOUT YOU, THERE’S NO YOUNG ON TOP. YOUR VALUES LIVE IN ME. I WILL KEEP SPREADING THEM FOR INDONESIA. YOUR LEGACY LIVES ON, DAD.”

    LOVE,

    “BILLY THE KID”

    Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

    21/5/2020

    ***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBCNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.